Yang masih waras mengalah saja

Akhirnya kuputuskan untuk mengalah saja. Selama ini aku masih bertahan untuk tidak berjalan walaupun di belakang sudah ribut dan mengklakson berkali-kali. Beberapa dari mereka malah berani memelototi aku. Itulah anehnya sebagian besar dari mereka. Sudah jelas-jelas bersalah tetapi masih berani menebar ancaman kepada pihak yang benar. Aku hanya tersenyum melihat ketidakwarasan (sesaat) mereka.

Begitu masuk ke jalan raya mereka seolah-olah menjadi predator bernyawa rangkap dan buta warna. Lupa akan keselamatan dirinya dan pengguna jalan lainnya. Mungkin juga mereka lupa bahwa mereka tulang punggung keluarga dimana hilangnya nyawa mereka kemungkinan akan melemparkan keluarganya ke jurang kemiskinan karena hilangnya sumber penghasilan utama.

Untuk menghadapi mereka sebaiknya kita berada jauh-jauh di belakang garis putih yang melintang di jalan raya. Begitu anda berada paling depan maka anda akan menerima tekanan untuk menerobos. Baris paling depan adalah pionir (lebih tepatnya martir). Merekalah yang akan dihajar pengguna jalan dari arah samping atau depan yang memang masih memiliki hak berjalan tetapi tidak sempat mengerem.

Seringkali para penerobos itu adalah mereka yang paling lantang mengecam dan mengkutuk praktik korupsi. Padahal mereka sendiri melakukan praktik korupsi setiap hari. Mungkin hanya 3 detik, tetapi ia merampas hak pengguna jalan lainnya bahkan bisa jadi hak keluarganya untuk mendapatkan penghidupan yang layak jika ia sampai celaka.