Bersepeda (lagi) Lippocikarang – Curug Cigentis

Setelah 7 tahun  akhirnya berkesempatan lagi untuk bersepeda ke Curug Cigentis. Sebenarnya ini adalah rute gowes yang menarik karena di ujung trip terdapat obyek wisata dan obyek kuliner plus bisa mandi-mandi untuk membasuh keringat yang bercucuran di sepanjang jalan.

Rute yang kami pilih sengaja menghindari jalur Buper Karangkitri karena rolling dan tanjakannya cukup menguras tenaga. Kami ingin menyimpan tenaga untuk melibas 3 km tanjakan menjelang curug. Ini rombongan portugal (perkumpulan orang tua ugal-ugalan) yang tidak lagi muda, 40+ semua. Bahkan kami sering bercanda, nafsu besar tenaga kurang.

Pilihan rutenya adalah Lippocikarang – Cicau – Hutan Jati – Pasir Kupang – Rawa Bedeng – Medalkrisna – Raya Cariu-Loji. Rute ini relatif datar dengan sedikit rolling. Segmen yang agak menguras tenaga adalah sebelum dan setelah Rawa Bedeng. Meski rolling tetapi masih enjoyable untuk ukuran 40+. Secara umum trek sangat gowesable, mayoritas adalah jalan beton dengan beberap segmen yang rusak dan pecah-pecah. Andai jalannya mulus-lus pasti trek ini akan menjadi favorit teman-teman R/B.

Rute gowes Lippocikarang (Taman Cibodas) – Curug Cigentis

Jalan Raya Cariu-Loji cukup datar. Segmen ini lebih menarik dan lebih bersih (udaranya) dibanding Jalan Raya Telukjambe-Pangkalan yang banyak dilalui dumptruck pengangkut kapur dan banyaknya dapur-dapur pengolahan batu gamping yang memakai bahan bakar ban bekas yang mengeluarkan asap hitam pekat. Di segmen ini ada dua tanjakan panjang dan landai dimana salah satunya cukup curam yaitu Tanjakan Lamping. Di Tanjakan Lamping ini terdapat pos Lamping Squad yang berisi anak-anak muda yang bermaksud membantu kendaraan yang tidak kuat atau butuh ambil napas untuk melibas tanjakan ini, mirip tanjakan Sitinjau Lauik 🙂

Kami sengaja menghindari Pasar Loji yang terkenal ruwet. Kami lewat jalur belakang yang melewati perbukitan. Sejuk dan rindang tetapi cukup menguras energi karena rolling. Jalur belakang ini sudah dicor sehingga sangat gowesable. Tujuh tahun lalu, jalur belakang ini masih berupa jalan makadam dan jalan tanah. Di area ini mulai banyak dibangun obyek-obyek wisata buatan yang memanfaatkan lansekap unik perbukitan dan bebatuan penyusun bukit, salah satunya adalah Cipaga Stone Park.

Di Kampung Turis kami beristirahat untuk memulihkan stamina. 3 km berikutnya adalah summit attack. Rencananya semua tanjakan akan dilibas dengan cara estafet, alias ngaso/istirahat di ujung tanjakan lalu jalan lagi 😀 Kuncinya adalah sabar dan tidak terlalu memaksakan diri, menjaga ritme gowesan dan denyut jantung. Satu persatu tanjakan berhasil kami taklukkan. Dibanding 7 tahun lalu, treknya sangat gowesable. Sudah dicor beton semua. Ini menjadi penyemangat kami untuk sampai ke curug karena kami tahu pulangnya kami akan mendapat bonus turunan yang super-panjang.

Tiket masuk 20.000 rupiah. Debit curug tidak terlalu besar saat kemarau, tetapi justru lebih asyik berendam dan menikmati guyuran air curug. Punggung dan kepala serasa dipijit2 oleh guyuran air. Segaarrr!!

Menu makan siang di Curug Cigentis

Deretan gazebo yang eksotis

I made it!

Curug Cigentis dari kejauhan

Gowes ke peternakan sapi – Bila River Ranch

Pagi-pagi, 1 Januari 2015, Astroz kugeber menyusuri aspal mulus jalan Bila. Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala saat sepedaku melintasi persawahan.

Karena terlalu pagi dan mungkin jarang melihat orang bersepeda di pagi hari, anjing-anjing penjaga yang banyak dipelihara selalu menggonggong saat aku lewat. Seperti kata pepatah, anjing menggonggong – goweser berlalu. Sempat sprint dengan 3 ekor anjing galak yang mencoba mengejarku. Well, kamu melawan goweser veteran Makassar-Parepare 😛

Memasuki desa Bila Riase hari mulai terang tetapi mentari masih tersembunyi di balik awan. Udara terasa segar karena sepanjang jalan penuh dengan pepohonan.

Memasuki kawasan peternakan PT Berdikari United Livestock Indonesia (BULI) angin segar mulai berhembus. Sapi-sapi mulai merumput di padang penggembalaan. Beberapa pintu masuk ke padang rumput sudah ditutup sehingga aku kesulitan mengambil gambar.

Melewati kantor PT BULI terdapat gerbang ke padang rumput yang tertutup tetapi tidak terkunci. Aku memberanikan diri memasuki padang rumput. Rupanya ini jalur penambang pasir yang melewati area penggembalaan.

Wow!! Bukit-bukit berumput di sini mirip sekali dengan bukit Teletubbies. Di seberang bukit terhampar lembah sungai Bila dengan sawah menghijau. Nun jauh di sana pegunungan Rantemario dan Rantekombola menjadi latar bagi padang rumput ini. What a perfect nature composition!

Dua buah puncak bukit yang terbuka sempat kusinggahi untuk mengambil gambar-gambar. Berikut adalah gambar-gambarnya.

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

 

 

Bersepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jarak secukupnya, nanjak secukupnya, istirahat secukupnya, makan secukupnya. Konon ini akan menjadi acara gowes Ecekeble yang paling pas porsinya. Apalagi ini adalah gowes silaturahim dan pemanasan setelah sekian lama vakum alias tunatrip. Bagi sebagian goweser, trip kali ini juga sebagai ajang ujicoba tunggangan baru.

Basecamp mengambil tempat di area parkir sebuah pasar. Jam 9 pagi acara gowes pun dimulai.

Sprint di tanjakan

Sprint di tanjakan

Lima ratus meter dari basecamp langsung dihajar tanjakan. Dengkul yang lama ga menggowes nanjak masih berusaha mencari ritme yang pas dengan denyut jantung dan helaan nafas. Beruntung trek melipir yang sengaja dirancang untuk menghindari jalur utama yang berdebu, rimbun oleh pepohonan. Sengatan matahari dan panasnya udara di ketinggian 200 mdpl-an menjadi kurang terasa. Ditambah lagi treknya sangat gowesable sehingga semua goweser berlomba-lomba melibas tanjakan demi tanjakan dengan sempurna.

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Mungkin karena terlalu lama vakum. Porsi pas ini masih terasa kebanyakan. Di ujung tiap tanjakan harus diselingi dengan istirahat untuk menurunkan detak jantung. Waktu istirahat menjadi semakin panjang karena kami harus menunggu goweser yang kram memulihkan kondisinya. Ditambah lagi ada yang masuk angin sehingga harus kerokan.

Sayangnya timing acara gowes kali ini kurang pas dengan musim tanam di sana. Sawah terasering berundak-undak nampak gersang hanya menyisakan pangkal rumpun padi berwarna kecoklatan karena sudah dipanen.

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Menjelang tambang batu kami melewati track di bawah bukit dengan tebing sangat terjal. Dari bawah kami mendengar gemuruh suara excavator dan dumptruck yang hilir mudik. Sebuah poster berbunyi, “Awas Hati-Hati!! Bahaya Longsor dan Ledakan Batu!!!”

Matahari terasa menyengat di sekitar tambang batu yang minim vegetasi. Ditambah lagi dengan debu dan pasir yang tumpah dari truk-truk pengangkutnya membuat jalur ini sangat tidak nyaman. Beruntung segmen neraka tersebut tidak seberapa panjang. Selepas tambang batu trek berupa jalan beraspal mulus di pesawahan.

Marshal & track builder Ecekeble

Marshal & track builder Ecekeble

Summit attack dimulai. Kami mendaki ke ketinggian 694 mdpl. Menurut saya ini adalah segemen paling oke dari trek gowes ini. Pepohonan rimbun di sepanjang jalan. Di antara helaan nafas yang tersengal dan denyut jantung yang semakin cepat kami masih sempat menikmati hijaunya lereng-lereng bukit berupa hutan yang rimbun.

Di tepi jalan di antara rimbunnya pepohonan kami melihat banyak rumpun Lengkuas. Mungkin ini tanaman yang ditumpangsarikan. Salah satu metode bertanam yang sustainable. Sementara di kejauhan kami banyak melihat batang-batang pohon aren/sagu menjulang. Ini salah satu jenis pohon yang paling bagus menyimpan dan menyerap air hujan.

Mendekati ketinggian 690 wangi gunung mulai terasa. Saya menyebutnya wangi gunung karena aroma ini biasanya mulai tercium di ketinggian 700 mdpl-an. Jika tidak salah aroma ini berasal dari perdu dan semak yang biasanya tumbuh di pegunungan.

Summit attack 694 mdpl

Summit attack 694 mdpl

Selepas titik tertinggi. Vegetasi didominasi hutan bambu yang monoton. Beruntung karena bertemu turunan maka pemandangan yang agak membosankan tersebut menjadi tidak terasa. Menjelang Badega, Gunung Parang, pemandangan didominasi persawahan yang menghijau. Batu-batu andesit seukuran kerbau sampai sebesar rumah terlihat menyembul di antara hijaunya rumpun pagi.

Sawah-sawah ini memperoleh sumber airnya dari hutan yang berada di pegunungan di sebelah selatan. Semoga saja gunung-gunung tersebut tidak ditambang seperti beberapa gunung di sekitarnya. Mestinya ia tetap menjadi paru-paru dan sumber mata air bagi kawasan sekitarnya.

Sawah dengan latar gunung batu

Sawah dengan latar gunung batu

Akhirnya sampai juga di Badega. Gunung Parang menjulang persis di samping saung-saung bambu yang kami gunakan untuk beristirahat. Gunung yang bentuk dari batu andesit ini terlihat kokoh dan masif. Saat kami tiba, berikutnya menyusul 1 rombongan climber yang akan mendaki tiga tower Gunung Parang.

Cairan elektrolit dari kelapa muda segar mampu mengembalikan kesegaran dan stamina yang sebelumnya terkuras. Aroma wangi tikar pandan, semilir angin yang berhembus plus udara yang lebih sejuk dibanding Cikarang membuat kami menjadi ngantuk.

Kelapa muda

Kelapa muda

Menu makan siang

Menu makan siang

Saung bambu

Saung bambu

mengantuk

Rasa kantuk menjadi sirna begitu hidangan utama dihidangkan. Makan berjamaah dengan alas tampah memang berkah. Satu tampah dirancang untuk porsi 4~5 orang. Lalapannya melimpah. Sambalnya sedap menggigit. Tahu tempe maknyuss. Ikan goreng yummy tetapi porsinya kurang banyak 🙂

Saung bambu

Saung bambu

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Jam 2:30 kami melanjutkan perjalanan. Karena terlalu lama ngadem matahari terasa lebih menyengat. Kami mengambil jalur melingkar di sisi barat Gunung Parang. Trek merupakan kombinasi dari makadam dan aspal rusak.

???????????????????????????????

Gunung Parang sisi barat

Gunung Parang sisi barat

Ujian terakhir adalah sebuah shorcut yang mengharuskan kami mendaki lagi. Jika menghindari shortcut ini maka kami haru melingkar jauh ke arah Cirata. Trek ini cantik dan menantang akan tetapi karena stamina sudah sisa-sisa maka terasa kurang enjoy. Dari trek ini kami bisa memandang ke arah lembah dan Jatiluhur. Segmen ini kembali memakan korban. Salah satu goweser mengalami kram kaki.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitu shortcut selesai dilibas maka kami mendapatkan turunan panjang sampai basecamp. Beruntung di sore hari sedikit trup pasir yang melintas sehingga jalanan tidak terlalu berdebu. Saat kami melibas jalur neraka ini maka kami menyadari keputusan untuk me-melipirkan jalur keberangkatan ke perbukitan di seberang jalan. Andai kami melibasnya dari bawah bisa-bisa terkena ISPA.

16:34 akhirnya sampai kembali di basecamp.

Bersepeda ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta (masih rencana)

Lama gak nge-trip jadi kangen membuat trip report. Karena kesibukan anggotanya, jadwal yang tidak pernah match, beberapa rencana trip jadi tertunda-tunda. Setelah Lebaran nanti ada rencana untuk nge-trip ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta. Tema gowesnya bisa macam-macam. Gowes halah bi halal (momen setelah Lebaran), gowes merah putih (momen Agustus-an), gowes kuliner (makan enak adalah tujuan utama gowes kali ini 😀 ).

Konon, ini bakal jadi trip Ecekeble “paling bener”. Paling enak makannya. Paling gampang treknya. Intinya paling tidak menantang. Tetapi semoga menjadi trip paling mengakrabkan. Karena treknya full beton (kecuali mo nyempal dikit) maka semua jenis sepeda bakal bisa “bertanding” di trek ini. Mau citybike, rigid, hardtail, fullsuss, bahkan kalau mau membawa sepeda DJ atau DH juga ga masalah.

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Gunung Parang adalah gunung yang terbentuk dari batuan andesit.  Gunung ini terlihat masif berwarna hitam. Sementara lingkungannya yang menghijau dengan kebun dan sawah memberikan kesan kontras. Curamnya gunung ini terlihat dari peta topografi di bawah ini. Garis kontur atau isoline yang padat menunjukkan kecuraman.

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Kalau anda belum paham cara membaca peta topografi, ilustrasi di bawah ini menunjukkan cara membaca topografi/garis kontur. Garis kontur menunjukkan ketinggian yang sama. Semakin padat atau semakin pendek jarak antar garis maka kecuramannya semakin tinggi.

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Jika anda tertarik dan ingin berwisata ke Gunung Parang, pranala berikut ini akan membantu anda menemukan informasi lebih detil dan lengkap:

http://kampungcihuni.blogspot.com/

https://id-id.facebook.com/kampungcihuni

Jargon wisata yang selalu saya ulang-ulang, “Berwisata/berlibur tidak harus ke mall”.

Ayo berpetualang!

 

 

Bersepeda|Salah satu cara paling benar menikmati sore yang cerah

Sejak Sabtu pagi hingga Minggu siang hari ini hujan rajin mengguyur Cikarang. Beruntung ba’da Dhuhur matahari mulai mengintip dari balik awan. Menjelang sore sinarnya semakin terik dan pas dore hari cuaca benar-benar cerah. Jalan-jalan pun menjadi ramai oleh orang-orang yang gagal keluar pada hari Sabtu.

Sore yang cerah sayang sekali jika dilewatkan hanya dengan duduk-duduk. Ayo bergerak. Jogging, running, skating atau cycling silahkan pilih yang penting metabolisme tubuh meningkat, denyut jantung berpacu, paru-paru mengembang  dan keringat mengucur. Sore ini saya menempuh jarak 12 km dengan sepeda.11

Mungkin olahraga memang belum menjadi budaya kita. Maka jangan heran jika taman-taman dan jalur hijau sepi di pagi hari dari orang yang berolahraga tetapi ramai di sore hari. Ramai di sore hari pun bukan oleh orang yang berolahraga tetapi cangkruk alias duduk-duduk.

Duduk-duduk alias cangkruk

Duduk-duduk alias cangkruk

Gobang|Trek gowes cross-country kelas olimpiade

Sohib kami yang pernah melibas trek ini memberi julukan trek cross-country kelas olimpiade untuk jalur gowes yang melintasi perbukitan dari ketinggian 100 hinggal 600 mdpl ini. Lebay! Pikir kami, apa sih yang bisa diharapkan dari sebuah trek yang berada di Bogor yang bukan merupakan jalur pegunungan?

Rute gowes Kampung Sawah - Cijambe - Panunggangan - Gobang (Rumpin, Bogor)

Rute gowes Kampung Sawah – Cijambe – Panunggangan – Gobang (Rumpin, Bogor)

Satu2nya kekurangan dari trek yang kami tuju adalah adanya beberapa simpul kemacetan menuju lokasi. Yang paling parah di pasar Parung, selanjutnya di perempatan Alfamart Ciseeng. Andai saja trek ini dekat dengan jalan tol pasti akan sangat populer. Tetapi biarlah. Terlalu banyak pengunjung justru akan mengurangi eksotismenya.

Basecamp kami menempati sebuah lahan kosong di samping sebuah warung. Tepat di depannya ada warung jajanan di mana kami melakukan carboloading dengan beberapa buah gorengan karena merasa bubur yang kami santap di Ciputat tidak cukup mengganjal.

Jam 8:50 kami mulai menggowes. Tanjakan landai mengucapkan selamat datang. Selanjutnya adalah dataran dengan persawahan di kiri kanan-jalan. Lalu kami bertemu perkampungan asri di bantaran sungai. Awas jangan meleng. Banyak godaan dari arah sungai.

Jalan makadam

Jalan makadam

Perkampungan berakhir di sebuah kaki bukit. Lalu jalan menyusuri sisi bukit yang rimbun. Air merembes dari bagian atas bukit sehingga jalan menjadi becek. Rimbunnya pepohonan rupanya membuat perbukitan ini menyimpan curahan air hujan dengan baik. Trek  makadam menyambut kami. Lalu dimulailah petualangan yang sebenarnya.

Jalan makadam becek

Jalan makadam becek

Kami tidak menyangka bahwa kami akan bertemu dengan rimbunnya hutan secepat ini. Mungkin ini salah satu ekosistem hutan dataran rendah yang masih tersisa dan terjaga dengan baik.

Jalan makadam di tengah hutan

Jalan makadam di tengah hutan

Tanjakan curam menghadang di depan. Tiap orang berlomba-lomba menaklukkan tantangan pertama ini. Jalanan yang becek karena hujan dan rembesan air dari bukit menyulitkan kami untuk melibasnya. Saking bersemangatnya melibas tanjakan, crank-arm salah satu sepeda sampai lepas. Kami sudah biasa dengan menu makadam seperti ini. Sejauh ini belum ada kejutan.

Trek makadam berakhir di sebuah kampung. Di sini seolah2 merupakan jalur buntu dan hanya terdapat jalan-jalan kecil denga lebar maksimum 1,5 meter. Ternyata, oh ternyata. That’s the main road whose width is only 1,5 meter. Jadilah kami bermain slalom di antara rumah-rumah penduduk melintasi halaman, samping rumah, samping kamar, samping dapur.

Anak-anak kecil bersorak-sorak menyambut rombongan kami. Macam-macam komentarnya.

“Sepeda! Sepeda balap!”

“Hallo! Hallo!”

“Inggris!” (mungkin maksudnya bule atau orang asing)

Sambil bersorak-sorak mereka melambai-lambaikan tangannya. Ketika lambaian tangan mereka dibalas oleh tangan-tangan kami mereka kegirangan.

Single track. Saat berpapasan salah satu pemakai jalan harus mengalah

Single track. Saat berpapasan salah satu pemakai jalan harus mengalah

Melewati kampung yang sangat padat itu kami bertemu dengan tipikal trek yang sebanarnya. Single track dengan kemiringan yang curam dan panjang. Kami saling menyemangati. Yang tidak kuat langsung minggir agar tidak menghalangi goweser di belakangnya. Putaran crank dibuat serendah mungkin. Power ditransfer ke pedal seperlunya. Semua itu dilakukan untuk menghemat tenaga dan menjaga agar detak jantung stabil.

Di awal tanjakan semua trik di atas masih manjur. Begitu melewati separuh tanjakan maka sampailah kami pada limit dari seorang goweser amatir. Perlahan paru-paru semakin cepat memompa oksigen. Volume udara dari hidung tidak mencukupi sehingga harus memakai turbocharger alias bernafas dari mulut. Detak jantung semakin cepat.

Tanjakan semakin terjal sampai ban depan terangkat-angkat ketika kaki menekan pedal. Telapak tangan hanya ditaruh di atas handlebar untuk mencegah ban depan terangkat. Keseimbangan dijaga karena kecepatan yang sangat rendah rawan untuk kehilangan keseimbangan. Lintasan dipilih yang paling mudah karena kami sadar gundukan atau lubang kecil bisa membuyarkan perjuangan menaklukkan tanjakan ini.

Berjuang di ujung tanjakan

Berjuang di ujung tanjakan

Meski sudah mengerahkan segala kemampuan sampai ngos-ngosan dan kembang kempis akhirnya kami harus mengakui ganasnya tanjakan ini. Satu per satu goweser berguguran di tanjakan. Gowesan terjauh di tanjakan masih dipegang oleh kapten Ecekeble, The Red Giant. Perlahan kami mulai mengakui tantangan dari trek olimpiade ini.

Setelah itu trek menjadi semakin sulit untuk digowes kontinyu. Kemiringannya tidak masuk akal. Hanya bisa ditaklukkan oleh kendaraan bermotor yang titik beratnya rendah sehingga tidak terjengkang ke belakang. Sebagus apapun gaya yang kami pakai dan serendah apapun kami merebahkan diri di handlebar bahkan sampai tidur pulas pun tidak akan bisa melawan kemiringan tanjakan.

Menanjak dan licin pada segmen jalan beton

Menanjak dan licin pada segmen jalan beton

Ditambah lagi lintasannya banyak memiliki belokan tajam yang mengharuskan kami menurunkan kaki untuk mengurangi radius putar. Jika kendaraan bermotor masih bisa berjalan meski kaki pengendaranya turun maka turunnya kaki goweser dari pedal berarti TTB. Stop and Go adalah satu2nya cara melibas tanjakan edan ini. Berhenti dan TTB kala bertemu tanjakan curam dan menggowes lagi ketika tanjakan melandai.

Aksi TTB ini mengundang anak-anak menjadi supporter kami. Mereka menawarkan diri untuk mendorong sepeda atau bahkan menuntunnya untuk kami. Mereka belajar dari beberapa goweser yang menyerah di tanjakan dan minta dibawakan sepedanya. Anak-anak itu berharap imbalan sekedarnya.

Supporter gowes

Supporter gowes

Mereka pantang menyerah. Meski sudah dicegah dan dilarang berkali-kali mereka masih keukeuh dan ngeyel untuk mendorong sepeda kami. Setelah berkali-kali diberi tahu bahwa kami masih kuat dan tidak akan memberi imbalan sebagian dari mereka menyerah. Meski demikian mereka masih mengikuti kami sampai di perbatasan hutan di atas bukit.

Lintasan di dalam hutan yang berada punggung bukit ini lebih gowesable dibanding sebelumnya. Tanah liat yang masih basah justru memberikan grip kepada ban. Kendala melibasnya adalah energi kami sudah terkuras untuk TTB di lereng bukit. Beberapa lintasan yang beralur karena bekas ban motor menambah kesulitan trek ini. Lintasan berpenampang huruf U dan V mudah membuat roda depan selip sehingga menghilangkan keseimbangan.

Jalan tanah licin beralur

Jalan tanah licin beralur

Beberapa lubang menganga yang cukup dalam terdapat di tepi lintasan. Ketika melongok ke lubang tersebut dan menemukan konstruksi tiang-tiang penyangga dari kayu kami menyadari bahwa itu adalah galian dari penambang emas tradisional, gurandil. Beruntung mereka tidak mengusik hutan dan pepohonan di sekitarnya.

Ketika bertemu dengan bunyi gemeretak yang berisik sampailah kami di titik tertinggi dari trip kami hari itu, 560 mdpl. Sebuah perkampungan dari para pendulang emas tradisional. Ribut dan berisiknya kampung itu berasal dari suara puluhan Gelundungan yang memutar tanah dan pasir untuk memisahkan bijih emas.

Meskipun mereka tidak mengusik hutan dan pepohonan tetapi bahan-bahan kimia ataupun logam pengikat bijih emas yang dipakai dalam proses penambangan berpotensi mencemari sungai-sungai dan sumber air di bawahnya. Proses pencemaran itu mungkin sudah terjadi karena saat melintasi perkampungan di bawah kami menjumpai anak-anak dan orang-orang yang memiliki kelainan fisik maupun mental (berdasarkan pengamatan kami).

Lubang gurandil

Lubang gurandil

Gelundungan - Alat pemisah bijih emas pada tambang tradisional

Gelundungan – Alat pemisah bijih emas pada tambang tradisional

Ibarat perlombaan, ketinggian 560 mdpl ini adalah podium bagi para pemenang yang menaklukkan tanjakan. Setelah dzuhur dan carboloading kami bersiap menyongsong hadiah berupa turunan panjang yang mengasyikkan.

Berbekal energi dari semangkok bakso kami mulai menggeber sepeda di sepanjang trek makadam. Masih menantang karena lintasannya merupakan kombinasi dari jalan tanah dan makadam yang becek dan licin. Lumpur- lumpur yang berada di lintasan dilibas tanpa ragu sehingga sepeda pun belepotan.gb10

Setelah mendaki sebuah bukit prosesi bersenang-senang pun dimulai. Kami kembali mendapatkan single track. Lintasan yang berada di tengah-tengah kebun maupun hutan membuat kami melupakan segala penat saat di tanjakan. Semerbak harum bunga kopi banyak tercium di sepanjang lintasan.

Melibas turunan

Melibas turunan

Turunan eksotis dengan rolling di beberapa segemen memberi variasi sehingga tidak membosankan. Seperti halnya tanjakan di awal perjalanan, di beberapa segmen curamnya turunan memakasa kami untuk turun dari sepeda. Lintasan yang basah dan licin membuat nyali semakin ciut. Hasrat ngebut kembali mendapatkan pelampiasan ketika menemukan trek makadam dan tanah di hutan bambu sebelum berakhir di sebuah ranch penggemukan sapi.

Keluar dari kebun durian

Keluar dari kebun durian

Di sebuah jembatan menjelang jalan raya Rumpin-Leuwiliang kami sempatkan untuk berfoto keluarga. Jam 16:10 kami tiba kembali di basecamp. Teh botol dengan es batu menjadi pelepas dahaga plus ubi goreng menjadi pengganjal perut yang belum terisi nasi.

The Ecekeble

The Ecekeble

Silahkan mencoba trek ini. Saya berharap siapapun yang pernah melibas trek ini menyadari ketika lingkungan (hutan) dijaga dan dirawat maka ia akan memberikan balasan setimpal. Mulai dari sumber air, suplai oksigen, hasil hutan (pangan, buah, kayu, obat-obatan, madu, getah) dan tentu saja trek yang menyenangkan bagi mereka yang memiliki hobi bersepeda, lintas alam maupun mendaki.

hutan