Gowes XC Tanrutedong – Barukku

Beberapa tahun yang lalu dengan memakai Supra Fit kami menemukan sebuah jembatan gantung di daerah Barukku. Jembatan tersebut menyeberangi Sungai Bila menghubungkan Desa Botto dengan Barukku. Kami sempat bermain air di sungai ketika tiba-tiba permukaan air sungai naik dan menjadi keruh. Rupanya salah satu anak sungai banjir. Kemungkinan hujan deras di daerah hulu. Karena tidak sempat melanjutkan perjalanan ke seberang, maka menyisakan rasa penasaran. Penasaran dengan kondisi di seberang sungai.

Pagi itu hujan deras mengguyur Tanrutedong sehingga gowes pun ditunda. Setelah reda maka segera kuambil Sierra AX (citybike 3-speed internal gear) dan kugebeber ke arah Jalak Bila. Begitu memasuki Desa Taccimpo hujan deras kembali mengguyur. Kubulatkan tekat untuk menuntaskan misi gowes hari ini dengan menerobos hujan. Beruntung membawa kantong plastik sehingga ponsel dan uang ntidak basah oleh air hujan. Untuk melawan rasa dingin kecepatan kutambah sehinngga ritme jantung meningkat, tekanan darah naik dan badanpun  menjadi lebih hangat.

Sierra AX @ PT Berdikari United Livestock Indonesia

Begitu sampai di area peternakan PT Berdikari United Livestock Indonesia (BULI) hujan pun reda. Acara foto-foto pun dimulai. Sayang beberapa padang penggembalaan yang memiliki pemandangan bagus tertutup oleh pagar kawat berduri. Di bagian atas yang kini berubah menjadi kebun singkong terdapat spot menarik. Sempat tergoda untuk masuk lebih dalam ke area peternakan akan tetapi karena tadinya berangkat agak siang maka kuputuskan untuk menghemat waktu dengan melanjutkan perjalanan ke Barukku.

Melewati BULI terdapat bonus turunan dengan aspal mulus sehingga gigi kupindahkan ke nomer 3, ngebut. Begitu ada papan penunjuk sekolah SMP sepeda kubelokkan ke kiri ke arah jembatan gantung.

Jalan aspal mulus menjelang Barukku, Pituriase

Beruntung begitu sampai di jembatan gantung matahari yang sebelumnya tertutup awan kini bersinar cerah. Tergoda oleh jernihnya air sungai maka Sierra AX kubawa ke bawah jembatan. Seandainya tidak berangkat kesiangan maka bisa mandi-mandi dulu. Jernihnya air sangat menggoda. Di kejauhan anak-anak bermain bola air di tengah sungai.

Jembatan gantung Barukku – Botto

Dari bawah jembatan gantung Barukku – Botto

Sierra AX mencicipi segar dan jernihnya air Sungai Bila

Setelah puas berfoto-foto maka dimulailah misi sesungguhnya. Menemukan jalan tembus ke Bendungan Bila. Kuputuskan untuk mengambil arah lurus menyusuri persawahan. Setelah bertemu tanjakan dan ladang akhirnya bertemu dengan perkampungan yang memiliki tiang listrik. Artinya, dengan mengikuti tiang listrik tersebut pasti akan bertemu dengan peradaban/perkotaan 😀 . Beruntung juga singal GPS/BTS yang sebelumnya sempat hilang kini muncul lagi. Sebenarnya tanpa panduang tiang listrik pun dengan membaca Gmaps dan berpedoman dengan jalan yang nampak di peta pasti akan ketemu juga.

Jalur ini benar-benar terasa sebagai jalur cross-country. Perumahan masih jarang. Sepanjang jalan didominasi dengan ladang dan perkebunan. Dan area ini tampaknya berbatasan langsung dengan hutan rimba yang nampak tidak terlalu jauh. Jalan relatih mulus dengan dominasi makadam ala Sulawesi. Berbeda dengan makadam di kampungku, makadam di Sulawesi jauh lebih mulus karena daerah ini kaya pasir dan kerikil. Pasih halus dan kerikil ini membuat makadam terasa seperti jalan beraspal kasar.

XC track Desa Botto

Secara umum dari Botto menuju Bendungan Bila didominasi turunan. Kecuali di area PT BULI maka tidak ada lagi tanjakan ekstrim. Pilihanku untuk memakai citybike dalam gowes XC kali ini tidak salah. Sebagian besar trek masih bisa dilibas dengan citybike. Tanjakan pun tidak terlalu ekstrim meski beberapa membuat diriku harus turun dari sepeda karena jika dipaksakan takut rantai menjadi putus.

Selebihnya track ini menyusuri Sungai Bila sampai bertemua dengan Sungai Bulucenrana yang juga memiliki sebuah jembatan gantung ke arah Desa Salo Bukkang.

Track ini sangat direkomendasikan bagi para goweser di Tanrutedong, Duapitue karena komplit variasi track-nya dan viewnya sangat bagus.

 

 

 

Iklan

Gowes XC Tanrutedong – Waduk Kalola

Gowes kali ini memang kurancang agar benar-benar XC dengan menghindari jalan raya Tanrutedong – Anabanua. Maka setelah berangkat dari Warung Soto Imam Saleh si Astroz kuarahkan ke Jalak Bila. Begitu bertemu saluran irigasi sepedah kuarahkan ke Timur dengan asumsi nantinya akan bertemu dengan saluran primer irigasi Bila. Benar saja setelah melewati saluran tersier dan sekunder serta menyusuri jalanan di tengah sawah, akhirnya bertemu juga dengan saluran primer tersebut. Saluran primer ini sempat kulewati beberapa kali dengan motor maupun si Astroz bersama Emil si bocah lanang.

Astroz @ Saluran Suplesi Kalola, Maniangpajo

Pemandangan di sepanjang trek ini sangat menawan dengan latar pegunungan Rante Mario yang menjadi hulu Salo Bila di kejauhan. Beberapa lintasan menjadi sangat sempit dengan menyisakan bahu saluran air sehingga sangat cocok untuk melatih keseimbangan. Jika tak seimbang? Nyemplung ke sawah!!

Begitu bertemu dengan saluran suplesi Kalola maka trek menjadi lebih menarik karena kubangan-kubangan dan cekungan-cekungan di jalan membuat sepeda terasa naik turun. Hijau dan sesekali bertemu dengan kerimbunan pohon-pohon akasia dan pohon-pohon liar di ladang. Jalur ini adalah jalur favorit. Dan diujung trek seperti biasa rumput-rumput tinggi menjulang karena jalur yang jarang dilewati akan menyambut.

Menjelang Kalola Dam makan trek menjadi jalan beraspal mulus. Kalola kali ini menjadi lebih cantik dan menarik karena rumput-rumput di bendungan dipangkas rapi. Pagar-pagar, gerbang masuk dan gedung-gedung serta sarana bendungan dicat baru dengan dominasi warna kuning dan putih.

Astroz @ Kalola Dam, Sogi, Maniangpajo

Mission accomplished!!

Akhirnya ketemu juga jalan tembus dari Sogi, Maniangpajo ke Bila, Pituriase. Selama ini jalur tersebut sudah sempat kuintip dengan Gmaps tetapi belum sempat dieksekusi. Akhirnya kemarin setelah mengunjungi Kalola Dam dalam perjalanan pulang kuputuskan untuk mencoba trek tersebut. Keputusan yang tidak akan kusesali karena jalur ini cukup menantang dan memberikan pemandangan Kalola Dam dari atas sebuah bukit. Analisis memakai Strava menunjukkan bahwa ketinggian bukit tersebut antara 90 – 100mdpl.

Astroz @ Sogi, Maniangpajo dengan latar Kalola Dam

Perbukitan ini membuat gowes kali ini menjadi lebih variatif lintasannya dengan menawarkan beberapa tanjakan yang cukup menghangatkan dengkul. Beberapa trek cukup mudah karena tanah cukup padat tetapi tanjakan pertama yang cukup tinggi menyuguhkan lintasan gravel dengan kerikil dan batu-batu kecil yang lepas.

Kalola Ranch

Duapitue dan Maniangpajo memang memiliki trek XC yang sangat bagus dengan tingkat kesulitan atau “keberatan” bervariasi. Jika ingin yang ringan-ringan bisa menyusuri jalan-jalan kampung, jalan sepanjang tanggul dan jalan-jalan di persawahan yang relatif datar. Jika ingin mendapatkan tanjakan maka bisa mengarah ke Kalola yang menawarkan trek rolling dengan beberapa perbukitan dan tanjakan.

Sayang dengan potrensi trek yang cukup lengkat tersebut rupanya hobi bersepeda cross-country belum terlalu banyak penggemarnya. Sepertinya hobi bermotor lebih populer bagi anak-anak muda dan orangtua.

Gocik gowes to Serang Baru

Naik lagi 2km dari trip sebelumnya. Jika sebelumnya total jarak adalah 25km, trip kali ini menempuh jarak 27km. Sengaja dibuat trip yang tidak terlalu jauh dan bisa diselesaikan dalam waktu maksimal 4 jam agar sebelum zuhur sudah sampai di rumah.

Trip kali ini melintasi desa-desa di kawasan Cikarang Selatan, Serang Baru dan Cikarang Pusat, a.l.: Cibatu, Cicau, Cilangkara, Pasir Kupang, Nagasari dan Sukamanah.

Cilangkara – Serang Baru

Hutan Jati – Serang Baru

GIIC – Cikarang Pusat

Rute gowes ke-3 – Gocik

Gowes bloe shoe can’t Cikarang Timur

Gowes bareng tetangga-tetangga yang tergabung dalam Cibodas Gowes Club. Menu wajibnya adalah dua tanjakan flyover (tol dan kalimalang), stadion Wibawa Mukti, sawah di Pasir Tanjung dan warung bubur ayam. Warung bubur ayam ini adalah tujuan utama karena sebagian besar belum sarapan 🙂

PP 25km saja dengan rute pulang menyusuri Kalimalang. Kecuali segmen Kalimalang, segmen lainnya merupakan jalan perkampungan, sawah dan irigasi. Bisa dibilang ini adalah secuil oase di tengah hiruk pikuknya Cikarang yang padat pemukiman dan penuh dengan kawasan industri.

Persiapan

pitstop stadion Wibawa Mukti

sawah

Central Park

finish at Cibodas Hill

Manfaat bersepeda – Tahu lokasi warung-warung enak dan murah – Warung Ar Rafa, Cicau

Salah satu manfaat bersepeda, terutama cross-country, adalah mengetahui lokasi warung-warung enak dan murah. Predikat kedua, ‘murah’, hukumnya wajib bukan sunnah bagi buruh pabrik seperti saya.

Kemarin saat balik dari arah Delta Silicon 8 melewati Jl Raya Kodam- Cicau (dinamakan jalan raya kodam karena ada sebidang tanah milik Kodam Jaya) setelah melewati Kantor Desa Cicau ada sebuah warung bernama Ar Rafa. Tertarik dengan namanya dan bentuk warung yang unik (berdinding anyaman bambu hitam dan berlantai epoksi) dan bersih maka mampir lah saya untuk mengisi perut yang kosong belum sarapan.

Kesannya? Enak, bersih, dan cocok di kantong.

Bagi anda yang sering bersepeda melewati Kantor Desa Cicau bisa mencoba mampir ke warung ini.

Gowes di Bojongmangu – Bekasi Selatan

Apa yang menarik dari Bojongmangu? Trek yang rimbun karena banyak kebun dan ladang. Banyak di antaranya ditanami dengan tanaman keras seperti mahoni, jati, jabon dan bambu. Beberapa area yang datar menjadi persawahan terutama di musim hujan.

Beberapa tujuan yang bisa disinggahi adalah Bumi Perkemahan Karangmulya, Situ Abidin dan Situ Rawa Bedeng. Atau jika kita ingin merasakan sensasi menyeberang sungai dengan eretan melintasi Cibeet bisa juga dicoba karena penyeberangan ini tidak jauh dari jalan utama.

Setelah dibuka kawasan industri GIIC Deltamas maka semakin banyak rute alternatif menuju Bojongmangu. Sebelumnya dari arah Cikarang hanya bisa diakses melalui Gardu Induk Cibatu atau Cicau via Pasir Kupang.

Rimbun rumpun bambu

Tanaman keras dan ladang

Situ Abidin

Tanjakan dari arah GIIC Deltamas

Bekasi bagian selatan masih menarik untuk bersepeda

Setelah kemarin hujan deras, akhirnya Xtrada 4.0 bisa keluar di Minggu pagi, 23 April 2017. Tujuan kali ini adalah Situ Rawa Bedeng. Sebuah situ yang berada di Bojongmangu. Rute kali ini sengaja dibuat melingkar. Berangkat lewat Cicau. Pulang lewat Gitet Cibatu.

Di Cicau, jalan beraspal yang dulu rusak bergelombang sudah berganti dengan beton mulus. Setelah perumahan Graha Cibenda bertemu dengan trek macadam yang menjadi pengobat bosan karena selalu bertemu jalan mulus. Setelah Cibenda maka semua trek merupakan trek beton/aspal mulus kecuali beberapa segmen sekitar Rawa Bede dan trek tengah sawah yang masih menyisakan macadam.

Meski demikian ketika kita bersepeda ke arah selatan maka kita akan mendapatkan jalan-jalan dengan traffic yang lebih sepi, pemandangan lebih hijau dan tentunya udara yang lebih segar.

Pagi itu, Cibodas – Rawa Bedeng via Cicau-Cibenda menghasilkan jarak 34km. Lumayan untuk mengeluarkan keringat dan memanaskan betis dan paha.

T. Cibodas – Rawa Bedeng, Bojongmangu