Danau Elysium oase Lippo Cikarang

Saat jogging atau bersepeda, pagi ataupun sore hari, area di sekitar Danau Elysium selalu menarik untuk menjadi tempat istirahat. Ada spot menarik di tengah taman/hutan dan di bawah jembatan.

Beberapa teman yang belum pernah bermain ke Cikarang bertanya, “Memangnya di Cikarang ada spot seperti itu?”

Iklan

Bersepeda di sepanjang Irigasi Primer Bila Kalola

Celebes_Road

Rute sepajang saluran irigasi primer Bila Kalola sangat menarik untuk digowes. Karena sebagian besar berada di tengah persawahan sebaiknya dilibas pada pagi hari untuk menghindari sengatan terik mentari.

Saluran irigasi ini cukup jauh dari pemukiman sehingga berbagai jenis burung aman dari gangguan manusia. Alap-alap, elang, bangau, kuntul dan burung puyuh bisa dijumpai dengan mudah di sepanjang saluran irigasi ini. Cycling sekaligus birdwatching.

Di trek gowes ini terdapat sebuah ranch di perbukitan dengan padang rumput yang bagus untuk background foto. Andai lokasinya dekat dengan pemukiman pasi akan ramai dikunjungi orang.

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Kalola Ranch Kalola Ranch

20160911_074926 Salo (sungai) Bila

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Lihat pos aslinya

Trek sepeda di sepanjang Sungai Bila (Kampale, Kalosi, Taccimpo, Salobukkang)

Celebes_Road

Di sepanjang aliran Sungai Bila dan anak sungainya Sungai Bulucenrana terdapat tanggul sungai yang juga berfungsi sebagai jalan. Jalan tersebut kondisinya bervariasi mulai dari tanah yang belum diperkeras, berkerikil, makadam dan beraspal. Di bagian hillir ada trek Desa Kampale, di bagian tengah ada trek Desa Kalosi. Di bagian hulu ada trek Desa Salobukkang dan Taccimpo.

Bersepeda menyusuri saluran irigasi Desa Kampale Bersepeda menyusuri saluran irigasi Desa Kampale

Sebagian besar tanggul tersebut berada di tepi sawah di tengah kebun dan ladang. Beberapa kebun didominasi tanaman keras yang agak rapat sehingga mirip suasana hutan terutama di sepanjang trek di Desa Taccimpo.

Bersepeda menyusuri tanggul sungai di Desa Taccimpo Bersepeda menyusuri tanggul sungai di Desa Taccimpo

Di musim hujan kondisinya semakin rimbun dan rapat. Kondisi ini terasa agak seram apalagi ditambah dengan banyaknya anjing-anjing penjaga kebun atau rumah yang dipelihara penduduk sekitar. Beruntung di sepanjang banyak terdapat ranting-ranting kayu kering yang bisa dijadikan senjata atau alat untuk menakut-nakuti anjing.

Bersepeda menyusuri tanggul sungai di Desa Salobukkang Bersepeda menyusuri tanggul sungai di Desa Salobukkang

Lihat pos aslinya

Bersepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jarak secukupnya, nanjak secukupnya, istirahat secukupnya, makan secukupnya. Konon ini akan menjadi acara gowes Ecekeble yang paling pas porsinya. Apalagi ini adalah gowes silaturahim dan pemanasan setelah sekian lama vakum alias tunatrip. Bagi sebagian goweser, trip kali ini juga sebagai ajang ujicoba tunggangan baru.

Basecamp mengambil tempat di area parkir sebuah pasar. Jam 9 pagi acara gowes pun dimulai.

Sprint di tanjakan

Sprint di tanjakan

Lima ratus meter dari basecamp langsung dihajar tanjakan. Dengkul yang lama ga menggowes nanjak masih berusaha mencari ritme yang pas dengan denyut jantung dan helaan nafas. Beruntung trek melipir yang sengaja dirancang untuk menghindari jalur utama yang berdebu, rimbun oleh pepohonan. Sengatan matahari dan panasnya udara di ketinggian 200 mdpl-an menjadi kurang terasa. Ditambah lagi treknya sangat gowesable sehingga semua goweser berlomba-lomba melibas tanjakan demi tanjakan dengan sempurna.

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Mungkin karena terlalu lama vakum. Porsi pas ini masih terasa kebanyakan. Di ujung tiap tanjakan harus diselingi dengan istirahat untuk menurunkan detak jantung. Waktu istirahat menjadi semakin panjang karena kami harus menunggu goweser yang kram memulihkan kondisinya. Ditambah lagi ada yang masuk angin sehingga harus kerokan.

Sayangnya timing acara gowes kali ini kurang pas dengan musim tanam di sana. Sawah terasering berundak-undak nampak gersang hanya menyisakan pangkal rumpun padi berwarna kecoklatan karena sudah dipanen.

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Menjelang tambang batu kami melewati track di bawah bukit dengan tebing sangat terjal. Dari bawah kami mendengar gemuruh suara excavator dan dumptruck yang hilir mudik. Sebuah poster berbunyi, “Awas Hati-Hati!! Bahaya Longsor dan Ledakan Batu!!!”

Matahari terasa menyengat di sekitar tambang batu yang minim vegetasi. Ditambah lagi dengan debu dan pasir yang tumpah dari truk-truk pengangkutnya membuat jalur ini sangat tidak nyaman. Beruntung segmen neraka tersebut tidak seberapa panjang. Selepas tambang batu trek berupa jalan beraspal mulus di pesawahan.

Marshal & track builder Ecekeble

Marshal & track builder Ecekeble

Summit attack dimulai. Kami mendaki ke ketinggian 694 mdpl. Menurut saya ini adalah segemen paling oke dari trek gowes ini. Pepohonan rimbun di sepanjang jalan. Di antara helaan nafas yang tersengal dan denyut jantung yang semakin cepat kami masih sempat menikmati hijaunya lereng-lereng bukit berupa hutan yang rimbun.

Di tepi jalan di antara rimbunnya pepohonan kami melihat banyak rumpun Lengkuas. Mungkin ini tanaman yang ditumpangsarikan. Salah satu metode bertanam yang sustainable. Sementara di kejauhan kami banyak melihat batang-batang pohon aren/sagu menjulang. Ini salah satu jenis pohon yang paling bagus menyimpan dan menyerap air hujan.

Mendekati ketinggian 690 wangi gunung mulai terasa. Saya menyebutnya wangi gunung karena aroma ini biasanya mulai tercium di ketinggian 700 mdpl-an. Jika tidak salah aroma ini berasal dari perdu dan semak yang biasanya tumbuh di pegunungan.

Summit attack 694 mdpl

Summit attack 694 mdpl

Selepas titik tertinggi. Vegetasi didominasi hutan bambu yang monoton. Beruntung karena bertemu turunan maka pemandangan yang agak membosankan tersebut menjadi tidak terasa. Menjelang Badega, Gunung Parang, pemandangan didominasi persawahan yang menghijau. Batu-batu andesit seukuran kerbau sampai sebesar rumah terlihat menyembul di antara hijaunya rumpun pagi.

Sawah-sawah ini memperoleh sumber airnya dari hutan yang berada di pegunungan di sebelah selatan. Semoga saja gunung-gunung tersebut tidak ditambang seperti beberapa gunung di sekitarnya. Mestinya ia tetap menjadi paru-paru dan sumber mata air bagi kawasan sekitarnya.

Sawah dengan latar gunung batu

Sawah dengan latar gunung batu

Akhirnya sampai juga di Badega. Gunung Parang menjulang persis di samping saung-saung bambu yang kami gunakan untuk beristirahat. Gunung yang bentuk dari batu andesit ini terlihat kokoh dan masif. Saat kami tiba, berikutnya menyusul 1 rombongan climber yang akan mendaki tiga tower Gunung Parang.

Cairan elektrolit dari kelapa muda segar mampu mengembalikan kesegaran dan stamina yang sebelumnya terkuras. Aroma wangi tikar pandan, semilir angin yang berhembus plus udara yang lebih sejuk dibanding Cikarang membuat kami menjadi ngantuk.

Kelapa muda

Kelapa muda

Menu makan siang

Menu makan siang

Saung bambu

Saung bambu

mengantuk

Rasa kantuk menjadi sirna begitu hidangan utama dihidangkan. Makan berjamaah dengan alas tampah memang berkah. Satu tampah dirancang untuk porsi 4~5 orang. Lalapannya melimpah. Sambalnya sedap menggigit. Tahu tempe maknyuss. Ikan goreng yummy tetapi porsinya kurang banyak 🙂

Saung bambu

Saung bambu

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Jam 2:30 kami melanjutkan perjalanan. Karena terlalu lama ngadem matahari terasa lebih menyengat. Kami mengambil jalur melingkar di sisi barat Gunung Parang. Trek merupakan kombinasi dari makadam dan aspal rusak.

???????????????????????????????

Gunung Parang sisi barat

Gunung Parang sisi barat

Ujian terakhir adalah sebuah shorcut yang mengharuskan kami mendaki lagi. Jika menghindari shortcut ini maka kami haru melingkar jauh ke arah Cirata. Trek ini cantik dan menantang akan tetapi karena stamina sudah sisa-sisa maka terasa kurang enjoy. Dari trek ini kami bisa memandang ke arah lembah dan Jatiluhur. Segmen ini kembali memakan korban. Salah satu goweser mengalami kram kaki.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitu shortcut selesai dilibas maka kami mendapatkan turunan panjang sampai basecamp. Beruntung di sore hari sedikit trup pasir yang melintas sehingga jalanan tidak terlalu berdebu. Saat kami melibas jalur neraka ini maka kami menyadari keputusan untuk me-melipirkan jalur keberangkatan ke perbukitan di seberang jalan. Andai kami melibasnya dari bawah bisa-bisa terkena ISPA.

16:34 akhirnya sampai kembali di basecamp.

Bersepeda di Pulau Tidung – Kepulauan Seribu

Inilah wilayah Indonesia dimana jumlah sepedanya melebihi jumlah penduduknya. Pulau Tidung di Kepulauan Seribu mengalahkan Belanda yang terkenal dengan penduduknya yang gila bersepeda. Sepeda-sepeda di Pulau Tidung merupakan fasilitas yang diberikan untuk pelancong. Jika anda menginap di salah satu homestay di pulau ini maka secara otomatis anda berhak memakai sepeda yang disediakan pemilik homestay tanpa batasan waktu. Selama anda belum checkout maka sepeda-sepeda yang disediakan bisa anda gunakan sepuasnya.

Sepeda-sepeda di Pulau Tidung pada sebuah homestay

Kebanyakan sepeda yang disediakan di Pulau Tidung berjenis citybike kecepatan tunggal. Mengingat tingginya kadar garam di udara, tanah dan air maka pemakaian derailleur akan rentan macet akibat karat. Maka jangan heran jika komponen-komponen sepeda yang terbuat dari baja berkarat semua mulai dari poros, rantai hingga mur dan baut.

Bersepeda di Pulau Tidung

Sebagian besar sepeda disetel pada posisi sadel terendah. Hal ini tentu membuat kaki menjadi cepat lelah karen posisi mengayuh tidak ideal. Sebelum anda bersepeda pilihlah sepeda-sepeda yang memiliki quick-release pada seatpost (batang sadel)-nya.

Menginat Pulau Tidung cukup panjang maka tersedianya sepeda ini sangat menunjang mobilitas kita yang ingin menyusuri pulau. Tujuan favorit adalah beberapa cafe yang terdapat di ujung timur pulau dan jembatan cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Pulau Tidung Kecil hanya bisa disusuri dengan berjalan kaki karena semua sepeda harus diparkir sebelum jembatan cinta.

Selamat jalan Kang Ashol

Bagi teman-teman di Cikarang yang gemar bermain sepeda (cross country) di Deltamas tentu kenal Kang Asol (Agus Solihin) yang merupakan juru kunci trek tersebut. Meskipun tidak terlalu sering beberapa kali saya mampir ke toko sepedanya. Terakhir ketemu pada acara Rally Perang untuk memperingati Ultah AA Bike ke-3.

Kang Asol orang yang sangat ramah, senang berbagi ilmu dan info seputar pergowesan. Trek gowes ke Situ Abidin-Bojongmangu dan Curug Cigentis via Bojongmangu yang pernah saya libas salah satunya berkat info dari beliau. Jika anda pernah atau sering mampir ke AA Bike pasti akan mengakui keramahannya. Beliau juga tidak segan-segan mengajak siapapun untuk bergabung dengan acara gowes bareng.

Saya berkesempatan sekali menyaksikan aksinya ketika secara tidak sengaja bertemu rombongan beliau yang sedang memandu teman-teman dari Bekasi Barat. Kang Asol yang biasa low profile ternyata cukup garang saat melibas trek Deltamas. Sampai ngos-ngosan saya membuntutinya.

Lalu ada kabar bahwa beliau terkena kanker otak. Teman-teman CMTB mengadakan beberapa kali gowes charity untuk men-support beliau. Menyesal sekali bahwa saya tidak pernah sekalipun berkesempatan mengikutinya.

Setelah dioperasi saya berpikir bahwa kondisi beliau membaik. Lalu secara tidak sengaja saya menanyakan kondisi beliau kepada rekan dari CMTB. Saya terkejut ketika mendapat kabar bahwa beliau sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.

Selamat jalan Kang Asol. Semoga Allah swt. menerima semua amal baik dan mengampuni dosa-dosa Kang Asol.

Keramahan dan kerendah-hatian Kang Asol akan selalu teringat oleh kami.

Yang masih waras mengalah saja

Akhirnya kuputuskan untuk mengalah saja. Selama ini aku masih bertahan untuk tidak berjalan walaupun di belakang sudah ribut dan mengklakson berkali-kali. Beberapa dari mereka malah berani memelototi aku. Itulah anehnya sebagian besar dari mereka. Sudah jelas-jelas bersalah tetapi masih berani menebar ancaman kepada pihak yang benar. Aku hanya tersenyum melihat ketidakwarasan (sesaat) mereka.

Begitu masuk ke jalan raya mereka seolah-olah menjadi predator bernyawa rangkap dan buta warna. Lupa akan keselamatan dirinya dan pengguna jalan lainnya. Mungkin juga mereka lupa bahwa mereka tulang punggung keluarga dimana hilangnya nyawa mereka kemungkinan akan melemparkan keluarganya ke jurang kemiskinan karena hilangnya sumber penghasilan utama.

Untuk menghadapi mereka sebaiknya kita berada jauh-jauh di belakang garis putih yang melintang di jalan raya. Begitu anda berada paling depan maka anda akan menerima tekanan untuk menerobos. Baris paling depan adalah pionir (lebih tepatnya martir). Merekalah yang akan dihajar pengguna jalan dari arah samping atau depan yang memang masih memiliki hak berjalan tetapi tidak sempat mengerem.

Seringkali para penerobos itu adalah mereka yang paling lantang mengecam dan mengkutuk praktik korupsi. Padahal mereka sendiri melakukan praktik korupsi setiap hari. Mungkin hanya 3 detik, tetapi ia merampas hak pengguna jalan lainnya bahkan bisa jadi hak keluarganya untuk mendapatkan penghidupan yang layak jika ia sampai celaka.