Setahun bersama Polygon Premier 5 edisi 2020

Polygon Premier 5 ini adalah sepeda termahal yang pernah kumiliki. Sebelumnya memakai Maverick (800 ribu), Astroz (1,6 juta), Xtrada 4 (3,2 juta) dan Premier 5 (4,5 juta). Kecuali Maverick yang digondol orang ketika disimpan di tempat parkir kos, semua sepeda berikutnya adalah proses naik kelas karena menemukan medan yang menantang dan membutuhkan sepeda yang mumpuni.

Ketika memakai Astroz dan melibas trek Curug Cigentis – Karawang, V-brake sama sekali tidak pakem, tidak mampu melakukan pengereman sehingga bonus turunan tidak bisa dinaiki. TTB di turunan itu menjengkelkan sekali.

Saat memakai Xtrada 4.0 dan mengikuti gowes kolozal Cikarang MTB dengan rute Tahura Juanda (Bandung) – Cipunagara (Subang), jari jemari menjadi kaku karena dihajar turunan panjang dan cukup curam. Mechanical discbrake berarti daya pengereman berbanding lurus dengan cengkeraman tangan ke tuas rem.

Tidak mengherankan jika Premier 5 meski usianya baru setahun tetapi mileage-nya sudah mencapai hampir 10.000 km. Sepeda ini mewakili upgrade/kenaikan kelas dari sepeda-sepeda sebelumnya. Peningkatan paling signifikan adalah 9-speed dan Hydraulic discbrake. Dua fitur ini membuat tanjakan lebih mudah dilibas dan turunan menjadi lebih enjoy karena tidak terlalu capek mengerem.

Bagi kita yang memakai sepeda biasa-biasa saja, atau belum memiliki kesempatan memiliki sepeda yang lebih mumpuni, mileage Xtrada 4 dan Premier 5 ini seharusnya menjadi penyemangat.

Syte Instinct – Sadel bagus harga murah

Seringkali komponen cakep dan fungsional tidak harus mahal.

Karena merasa kurang puas dengan geometri dan ergonomi sadel Entity bawaan Premier 5, saya coba menggantinya dengan sadel Syte. Ternyata pas. Nyaman di pantat. Modelnya tidak terlalu tebal dan bersudut tajam.

Harganya hanya 115.000 di Serba Sepeda Lippocikarang.

Ini adalah sadel Syte kedua setelah sadel pertama jebol setelah sepeda saya terbang, juga penunggangnya, di depan District 1 Meikarta.

Overall, saya puas dengan performa dan harganya 🙂

Sadel Syte Instinct
Syte Instinct – Harga 115.000

Gowes ke Curug Cilalay via (Jalur Brutal) Antajaya

Gowes bareng bersama rombongan GAS (Gowes Asyik Syahdu) kali ini cukup banyak pesertanya. Total ada 14 goweser. Tikum @ Gerbang Meikarta, wakum @ 5:30. Seperti biasa molor dengan beragam alasan. Termasuk diriku yang harus menyelesaikan siklus harian di pagi alias BAB. Akhirnya jam 6:05 kami berangkat menyusuri track Deltamas – Karangkitri – Cariu. Track yang sangat terkenal bagi para pemburu elevation gain karena adanya rolling perbukitan Bojongmangu. Lumayan untuk menambah EG.

Seperti yang sudah terlihat sebelumnya di sepanjang jalan raya Cariu – Tanjungsari, daerah sekitar Antajaya diguyur hujan sehari sebelumnya. Tanah masih terlihat basah dan beberapa titik masih becek. Begitu nyempal dari jalan beraspal dan memasuki perkampungan terlihat bahwa hujan sehari sebelumnya cukup deras. Menjelang Wisata Pinus Cihalimun bahkan ada segmen jalan yang menjadi sangat licin karena tertutup oleh tanah liat dari ladang yang tergerus air hujan. Belum apa-apa ban sepeda sudah menjadi donat dan sebagian tanah mulai tersangkut di RD.

Kami melakuan regrouping dan briefing di pelataran Pinus Cihalimun. Sepertinya tempat wisata ini sepi pengunjung. Kondisinya mulai kurang terawat dan semua lapak penjual makanan/minuman tutup hari itu. Setelah menganalisa bekas curah hujan sehari sebelumnya saya dan Eka sudah memprediksi bahwa ini akan menjadi trip yang berat karena medan menjadi becek, licin dan lengket. Kami menawarkan kepada rombongan jika ada yang ingin balik kanan dipersilahkan. Rupanya rombongan sudah bertekad bulat akan melibas track ini apa pun yang akan terjadi.

Selepas dari Pinus Cihalimun adalah point of no return. Tanjakan pertama berada di persimpangan antara jalur ke Curug Cialalay dan bantaran sungai Cikembar. Rontok semua di segmen ini. Goweser yang terkaget-kaget bertemu segmen curam ini harus bersusah payah untuk mengatur ritme denyut jantung. Selanjutnya tipikal dorong-dorong ini akan berlaku di sepanjang segmen, memeras keringat di tanjakan – refuelling di ujung tanjakan. Timernya adalah rokok sebatang. Awal-awal masih bisa konsisten tetapi lama kelamaan menjadi semakin molor.

Ujian Pertama – Tanjakan Pinus Cihalimun setelah persimpangan tack antara jalur ke Curug Cilalay dan bantarang sungai Cikembar

Tanjakan terjal dan licin rupanya belum seberapa. Di depan sudah menunggu beberapa tanjakan dengan track yang berbentuk huruf V akibat tergerus aliran air hujan. Tanjakan dengan track normal rata saja sudah membuat kami kerepotan apalagi dengan track model V ini. Segala macam cara dicoba agar bisa melewati segmen brutal ini. Beberapa goweser yang kesulitan untuk mendorong sepedanya harus dievakuasi atau diberi bantuan. Caranya roda depan dijinjing sementara pemilik sepeda menjaga keseimbangan sepeda agar tidak roboh. Goweser yang berjuang sendirian pasti akan mengalami selip-selip di segmen ini karena grip dari sepatu ke tanah kalah oleh gaya gravitasi terhadap badan ditambah sepeda.

Berjibaku menaklukkan medan
Gunung Kembar di kejauhan

Makin terkewer-kewer dan waktu istirahat mulai tidak beraturan. Perbekalan mulai menipis terutama air. Saya yang lupa mengecek kantong air saat di Indomaret Tanjungsari, juga mengalami hal serupa. Saya pikir bladder tersumbat karena saat mengisap air minum terasa berat dan tidak ada air setetes pun. Rupanya sudah habis. Benar-benar bermandi peluh di segmen ini sehingga harus sering-sering minum. Beberapa tanjakan di segmen ini gradiennya ada yang mencapai 46 dan 48 derajad.

Sebenarnya hari itu cukup cerah dan saya berharap bisa mengumpulkan dokumentasi sebanyak mungkin karena pada trip pertama sangat mendung sehingga tidak banyak foto yang bisa diambil. Tapi karena lebih berkonsentrasi melibas medan dan sesekali membantu goweser lain akhirnya misi itu pun terlupakan. Beruntung saya masih sempat mengabadikan perjuangan dari beberapa goweser yang sedang berjibaku di lintasan.

Dorong-dorong dengan latar Gunung Laya

Beruntung menjelang summit attack ke titik tertinggi di 530mdpl kami bertemu dengan saung pemilik kebun yang memiliki persediaan air. Satu termos air panas dan satu jerigen air matang pun langsung habis dibagi-bagi di antara semua goweser. Lokasi saung ini berasa di punggung bukit menjelang Gunung Gebang. Lokasinya relatif datar. Dari tempat ini jika kondisi sedang cerah kita bisa menyaksikan Lembah Cibeet di kejauhan. Sayang spot untuk berfoto tidak tersedia karena background banyak terdapat pohon kopi dan pisang yang mengganggu pemandangan.

Karena air melimpah dengan sendirinya bekal karbo pun langsung bermunculan. Ada Beng-Be**, Bakpia dan makanan ringan lain untuk mengembalikan kadar gula yang sudah menipis. Sebenarnya begitu sampai di saung yang berada di kaki Gunung Gebang ini 2/3 tantangan sebelum Curug Cilalay sudah kami lalui. Nanjak sedikit sisanya adalah turunan curam dengan kondisi medan yang lebih ekstrim dari saat nanjak.

Titik tertinggi 530mdpl pada segmen kali ini berada di lereng Gunung Gebang yang menghadap ke lembah Cilalay. Lokasinya rimbun sehingga sangat cocok sebagai tempat beristirahat. Di kejauhan terlihat Gunung Sulah dan Gunung Rungking. Kedua gunung ini bersama Gunung Laya memiliki bentuk sangat runcing yang berbeda dengan kebanyakan gunung lainnya di komplek Pegunungan Sanggabuana.

Meski berupa turunan, ternyata kami menghabiskan banyak waktu di sini. Turunan cukup terjal dan medannya sangat sulit karena rusak oleh aliran air hujan. Kami turun dari ketinggian 530mdpl ke ketinggian 300mdpl hanya dalam jarak 1kilometer. Begitu mencapai bantaran sungai, sepeda kami tinggal dan kami melanjutkan perjalanan ke curug. Ternyata warung di dekat curug buka. Pop Mie mejai rebutan karena stoknya terbatas beberapa goweser tidak kebagian.

Sambil menikmati teh dan kopi hangat, perbekalan pun dikeluarkan. Nasi bungkus, telur rebus, ubi rebus, Bengbeng dan roti pun dikeluarkan. Perut yang keroncongan dan kelaparan membuat apapun yang terhidang menjadi sangat nikmat. Saya pun berbagi sempat mencicipi nasi bungkus bersama Om Andy yang kebetulan membawa porsi dobel.

Di curug kami mandi sepuas-puasnya untuk menyegarkan badan dan mengembalikan stamina. Beruntung debitnya sangat besar sehingga derasnya air curug semakin terlihat megah. Beruntung ceruk sempit tempat curug tersebut berada pada saat jam 3 sore dan jika cuaca sedang cerah akan mendapat sorotan sinar matahari langsung. Golden moment. Teman2 mengumpulkan barbuk sebanyak-banyaknya.

Segarnya Curug Cilalay
Rombongan GAS (Gowes Asyik Syahdu) @ Curug Cilalay

Molor. Keasyikan mandi. Kelamaan di warung. Akhirnya jam 4 sore kami baru turun. Stamina yang pulih oleh segarnya air curug dan asupan makanan rupanya tidak bertahan lama. Dihajar medan rolling dan track rusak sepanjang 6km dari Curug Cilalay sampai Green Canyon membuat kami kembali terkewer-kewer. Sempat terjadi beberapa insiden dimana goweser nyempung ke sawah dan menabarak pohon karena terpeleset di turunan. Beruntung tidak ada yang fatal. Kami melanjutkan perjalanan di keremangan senja. Lampu-lampu mulai dinyalakan.

Karena stamina tim sudah sangat menurun akhirnya kami putuskan menjelang Green Canyon untuk mengikuti jalur sungai tidak mengikuti jalur peladang karena sangat menanjak, dikhawatirkan akan semakin kesulitan apalagi hari sudah gelap. Efeknya kami harus menyeberangi sungai yang sangat deras sampai empat kali. Harus hati-hati. Derasnya arus sungai dan bebatuan yang licin dengan mudah akan menghilangkan keseimbangan.

Jam 22:00 kami kembali mencapai Tikum @Meikarta.

Many thanks to: Om Eka, Om Bambang, Om Arifin, Om Ajat, Om Hary, Om Yoyok, Om Andy, Om Arif, Om Sigit, Om Rendra, Om Cepi, Om Yudha, Om Ucok

Gowes ke Curug Kiara Payung

Curug Kiara Payung masih berada dalam satu area dengan beberapa destinasi gowes yang sudah populer duluan a.l.: Sawah Korod Bantar Kuning, Gunung Kanaga, Gunung Laya. Ketika kita menuju Curug Kiara Payung maka kita akan selalu mendapatkan pemandangan dengan latar Gunung Laya yang ikonik karena bentuknya yang sangat runcing sehingga sangat menonjol di antara deretan gunung-gunung ain di dalam komplek Pegunungan Sanggabuana bagian barat.

Track gowes mengikuti saluran irigasi yang mengambil sumber air dari bagian bawah curug ini. Jika kita gowes mengikuti saluran irigasi bisa dipastikan tracknya relatif datar. Tanjakan hanya terdapat di awal saat keluar dari perkampungan dan di akhir track menjelang curug. Track sangat gowesable. Hanya terdapat sedikit track berbatu dan becek menjelang curug. Track sangat ramah untuk goweser pemula ataupun mereka yang memakai sepeda lipat – Seli.

Debit curug tidak terlalu besar. Ini sudah bisa kita perkirakan kalau kita mengamati peta. Bagian hulu sungai dari curug ini tidak terlalu penjang dan luas sehingga air huan yang ditangkap oleh DAS curug ini juga tidak terlalu banyak.

Akhir musim hujan, sekitar akhir Mei dan awal Juni adalah saat yang tepat untuk berkunjung. Jalan tidak terlalu becek dan air curug masih cukup besar.

Curug Kiara Payung
Salah satu segmen yang menanjak menjelang Curug Kiara Payung
Spot menarik di aliran sungai Curug Kiara Payung
Track gowes yang syahdu di sepanjang aliran irigasi menuju Curug Kiara Payung

Gowes offroad ke Curug Cilalay

Yang membuat berat track ini adalah rolling naik turun, single track dengan kondisi becek, berlumpur, rusak karena hujan, rusak karena roda motor berantai, bebatuan yang menonjol, akar-akar pohon yang menonjol. Selebihnya kita akan mendapatkan pemandangan dan kondisi alam yang masih alami, rimbun, hijau, segar, sungai berair jernih, deras dan segar.

Ada dua jalur untuk menuju Curug Cilalay. Jalur motor dan jalur pematang. Jalur motor lebih rolling karena naik turun perbukitan, tetapi banyak segmen yang bisa digowes. Jalur pematang sawah dan pinggiran sungai Ciomas relatif lebih datar tetapi sepanjang jalan bakal nuntun sepeda/TTB. Jalur motor lebih berat tetapi lebih cepat.

Dalam perjalanan pulang dari curug, rombongan terbagi dua. Sebagian memilih jalur motor, sebagian lagi memilih jalur pematang sawah. Rombongan yang memilih jalur pematang sawah 40 menit lebih cepat sampai di Green Canyon.

Rontok dihajar Tanjakan
Dorong Teruusss!!
Cihuiii!!! bisa digowes

Yang membuat jadi lebih seru, di tengah perjalanan kami bertemu rombongan dari Bekasi sehingga perjalanan ke curug menjadi lebih ramai. Total goweser yang mencapai curug menjadi 13 orang.

Menyeberang sungai berair deras

Kali ini debit sungai memang sedang besar. Terbukti ketika menyeberang sungai air sangat deras. Dan ketika di curug lebih terasa lagi besarnya debit air, selain menimbulkan suara gemuruh juga menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang.

Curug Cilalay

Gowes Heritage ke Rengasdengklok & Batujaya

Bosan nanjak. Kita cari yang datar-datar dulu tetapi targetnya tetap Grand Fondo alias 100km-an. Setelah mereka-reka track di Google Maps akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi dua lokasi yang menjadi tonggak sejarah Indonesia yaitu Rengasadengklok dan Batujaya.

Rengasdengklok merupakan mata rantai sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana kota kecil tersebut menjadi tempat pengasingan Sukarno-Hatta ketika diculik oleh para pemuda revolusioner yang menginginkan agar dwitunggal segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Alasannya Jepang kalah perang dan Sekutu belum masuk ke Indonesia. Ada kekosongan kekuasaan alias vacuum of power.

Di Rengasdengklok rumah salah satu anggota PETA, Djiauw Kie Siong dipilih sebagai tempat untuk mengasingkan Sukarno-Hatta. Selain karena lokasinya terpencil dan cukup jauh dari Jakarta. Rumah Djiauw Kie Siong dianggap cukup layak dan besar pada jamannya untuk menampung kedua tokoh pergerakan tersebut.

Batujaya merupakan lokasi ditemukannya beberapa candi dari bahan batu bata yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara yang sebelumnya hanya diketahui dari beberapa prasasti menjadi kini menjadi semakin mudah dipelajari karena beragam peninggalan yang bisa memberikan banyak informasi.

P5 @ Pasir Tanjung

Gowes datar rupanya sepi peminat. Jika gowes nanjak bisa 6-10 orang kali ini hanya berempat saja (ndilalah kersane Allah , pada hari H banyak yang berhalangan 🙂 ), saya, Om Bambang, Om Amin dan Om Arifin . Berempat kami menyusuri percabangan saluran irigasi Tarum Barat Selatan (atau yang lebih populer dengan sebutan Kalimalang) dari Pasir Tanjung ke arah Rengas Bandung.

Mencoba bermain speed karena track yang sangat datar. Terengah2 juga karena ban MTB yang berukuran besar membuat rolling resistance dengan jalan cukup berat. Dalam jangka lama rolling resistance ini akan menyedot tenaga juga. Apalagi jika bahan bakarnya hanya semangkok bubur ayam (meskipun ditambah dengan 3 tusuk sate telur puyuh 😀 ) maka akan cepat habis. Beruntung udara pagi sepanjang saluran irigasi ini masih sejuk, pemandangan menghijau, lalin tidak terlalu ramai sehingga gowesnya bisa agak santai.

Pada segmen Kedungwaringin – Rengasdengklok kami berusaha untuk menambah kecepatan atau minimal konstan karena bertemu aspal mulus. Track mulus tidak boleh disia-siakan karena kami juga mengejar waktu agar sampai rumah sebelum petang. Di track datar, karena minim tanjakan dan obyek menarik di sepanjang jalan maka sedikit alasan untuk beristirahat. Akibatnya kami dipaksa untuk bermain endurance. Salah satu tanda bahwa kami harus beristirahat adalah ketika pantat terasa panas.

Di Tugu Proklamasi dan Monumen Kebulatan Tekad (waktu itu masih dikunci) tidak banyak yang bisa diceritakan. Sedikit kumuh dan aksi grafiti pada tugu semakin mengurangi daya tariknya.

Di rumah alm. Djiauw Kie Siong kami menghabiskan waktu agak lama melihat-lihat memorabilia dan ngobrol dengan generasi ketiga yang saat ini menjaga rumah tersebut sekaligus sebagai narasumber yang mencerikan pernak-pernik penjuangan kakek moyangnya dan lika-liku sebagai minoritas yang pernah menjadi korban generalisasi akibat aksi pengkhianatan PKI. Sosok yang ramah. Kami menikmati obrolan di ruang tamu maupun beranda sambil menikmati semilir angin di pagi hari yang masih sejuk karena matahari tidak terlalu terik.

Berikutnya kami menuju Batujaya dengan menyusuri Citarum dai sebelah barat sungai yang masuk wilayah Bekasi. Track ini relatif teduh dengan pepohonan di sepanjang jalan. Cukup membantu untuk menghemat stamina. Awalnya 24km antara Rengasdengklok – Batujaya akan kami libas sekali jalan. Rupanya selepas Rengasdengklok pantat menjadi semakin tidak bersahabat, semakin cepat panas 😛 Alhasil dalam rentang 24km kami mengambil pitstop dua kali.

Tiba di Situs Batujaya kemi menuju museum dulu. Salut untuk bapak penjaga karena bisa menceritakan sejarah penemuan dan pemugaran situs di Cibuaya dan Batujaya. Kelemahannya adalah ada tiga pos yang meminta sumbangan seikhlasnya tanpa bukti pembayaran. Dalam hal ini saya salut dengan Perhutani yang mengelola Curug Cigeuntis dan Curug Tilu, ada karcisnya 🙂 .

Candi Blandongan dan Candi Jiwa yang berada di situs Batujaya berada kurang lebih 1,5 meter di bawah permukaan tanah/sawah. Konon hal tersebut diakibatkan luapan dan endapan Sungai Citarum. Sedimentasi ternyata bisa meredupkan peradaban. Selain mengubur candi-candi, sedimentasi ini mengakibatkan terbentuknya daratan baru yang membuat posisi pusat Kerajaan Tarumanegara semakin jauh dari laut sehingga aspek strategisnya dari sisi perhubungan laut semakin menurun.

Membaca sejarah peradaban Nusantara

Gowes dan kuliner dua hal yang sulit dipisahkan. Karena menjelajah dan jauh dari rumah, maka asupan kalori harus diisi dari warung di sepanjang jalan. Beruntung kami mendapatkan warung yang representatif. Warung Mak Ate. Di tempat tersebut kami menyantap sop daging. Cukup mak nyuuss!!! Apalagi kondisi lagi kelaparan.

Akhirnya setelah berjibaku sepanjang “jalur neraka” Sukatani – Pilar, lalu masuk jalur peradaban Jababeka – Lippocikarang, jam 15:15 kami sampai rumah. Dua target tercapai. Grand Fondo dan sampai rumah sebelum petang.

Cikarang – Rengasdengklok – Batujaya – Sukatani

Gowes ke Curug Arca, Sukawangi, Sukamakmur

Curug Arca (aka Curug Saridun) berada pada ketinggian sekitar 1200mdpl. Pada ketinggian tersebut membuat air curug menjadi sangat dingin sehingga tidak bisa berlama-lama mandi dengan air curug karena akan membuat badan menggigil.

Ketika kami berkunjung pada 19 September 2020, secara resmi curug sedang ditutup. Entah karena pandemi Corona atau karena sedang dalam tahap perbaikan karena di sekitar curug terdapat beberapa material bangunan.

Terdapat beberapa longsoran di jalan akses menuju curug. Jika diperhatikan tebing-tebing di sekitar curug memang terlihat mudah longsor. Bahkan di dasar curug terdapat longsoran atau material batuan terlihat dibawa aliran air sehingga bagian bawah curug yang seharusnya membentuk kubangan menjadi dangkal. Artinya di hulu curug juga terdapat longsoran.

Mengingat kondisi tersebut, jika ingin berkunjung ke Curug Arca (Curug Saridun) sebaiknya tidak di musim hujan. Khawatir ada longsoran dari atas.

Polygon Premier 5 @ Curug Arca (Curug Saridun)

Kami menuju Curug Arca (Curug Saridun) via Gunung Batu karena ingin menghindari keruwetan jalur Curug Ciherang/Cipamingkis. Jalur ini relatif sepi, pemandangan lebih bagus dan udara lebih segar akibat jarang kendaraan yang lewat.

Tantangan utama dari jalur gowes ini berada pada km 46 – 57 dimana kami harus mendaki dari ketinggian 511mdpl menuju 1180mdpl. Beberapa tanjakan grade-nya bisa mencapai 22%. Mengingat stamina yang sudah turun, tanjakan-tanjakan tersebut harus dilibas selangkah demi selangkah diselingi dengan istirahat.

Seperti halnya jalur pegunungan yang lain yang banyak rolling, meski gowes dari ketinggian 34mdol di Cikarang menuju 1200mdpl di Curug Arca (Curug Saridun) tetapi total elevasi yang kami dapatkan mencapai 2000m.

Menjelang curug dinaungi pohon pinus
Menjelang curug track menjadi rimbun dan menghijau
Kelenger setelah dihajar tanjakan grade 17%
Premier 5 dengan latar tebing gunung
Tim GAS berpose menjelang Gunung Batu
Track dan elevasi Lippocikarang – Curug Arca (Curug Saridun)

Kampus UNJ Cikarang ( 6 Sep 2020)

Berdasarkan cerita warga yang sudah lama bermukim di Taman Cibodas, Lippocikarang, pada tahun 90-an kampus UNJ di Lippocikarang sempat memiliki beberapa bangunan permanen. Ketika saya pindah ke Lippocikarang awal 2007 kondisi area kampus sudah terlantar dan bekas bangunan sudah tidak ada. Di beberapa bagian jalan aspal masih mulus dan sebagian sudah diinvasi oleh semak belukar.

Lama tidak bermain di area tersebut sore tadi saya menyempatkan diri untuk merambah lagi area kampus UNJ Cikarang. Fyi, track ini hanya bisa digowes di musim kemarau. Di musim hujan tanahnya sangat lengket ke roda sepeda. Roda akan berubah menjadi donat yang semakin lama akan semakin besar sehinggal tidak bisa digowes lagi karena mentok ke frame dan fork.

Kampus UNJ Cikarang dengan latar bekas jalan beraspal dan District 1 Meikarta
Kampus UNJ Cikarang. Tanah lio akan berubah menjadi sangat lengket di musim hujan
Kampus UNJ Cikarang. Konturnya berbukit

Jalur inspeksi pipa air Jatiluhur

Ini adalah shortcut menuju bendungan Jatiluhur dari arah Jl. Raya Industri. Sebaliknya jalur ini juga menjadi shortcut balik dari Jatiluhur menuju arah Karawang.

Jalur ini merupakan pelindung sekaligus sarana inspeksi pipa air milik PT South Pacific Viscose. Diawali dari kampung Tali Baju lalu membentang di atas sungai Cikao yang merupakan anak sungai Citarum, jalur ini berakhir di jalur kereta api cepat Jakarta Bandung.