Bersepeda Modal Dengkul

Modal dengkul adalah istilah populer yang berarti tanpa modal atau kalaupun memakai modal tidak besar-besar amat. Nahh istilah ini cocok sekali untuk menggambarkan hobi bersepeda. Untuk menekuni hobi ini tidak butuh modal besar-besar amat. Dengan sepeda seadanya, kostum seadanya, kalau belum sepatu memakai sandal juga tidak masalah, kita sudah bisa melanglang buana.

Kalau kita belajar ekonomi ada istilah BEP, break even point atau titik impas. Jika modal yang kita pakai sedikit maka dengan keuntungan yang sedikit dan jangka waktu yang tidak terlalu lama maka modal kita akan balik atau impas. Nah jika kita bawa ke kegiatan bersepeda maka semakin sederhana dan murah sepeda kita titik impasnya akan semakin cepat kita peroleh.

Sebaliknya sepeda-sepeda yang mahal itu titik impasnya lebih lama kita peroleh karena modalnya besar sekali. Lain halnya jika keuntungan itu tidak hanya kita hitung dari mileage tetapi juga dari pride. Pride inilah yang membuat sebagian orang cenderung untuk lebih membanggakan kecanggihan sepedanya dibanding mileage-nya. Apakah salah? Tidak juga. Setiap orang boleh merayakan keberhasilannya dengan memilih trofi/piala kesuakaannya. Ada yang berupa motor, sepeda atau bahkan mobil.

Maksud saya justru agar saya dan anda yang memakai sepeda biasa-biasa saja tidak berkecil hati. Manfaat terbesar dari bersepeda adalah fresh, relax dan health. Itu semua bisa kita peroleh dengan sepeda jenis apapun.

Ada salah satu teman gowes saya yang mengikuti aliran “rongsok”. Alias me-retrofit sepeda-sepeda jadul agar tampil lebih cantik. Salah satunya adalah sepeda Federal rongsok. Dengan sepeda tersebut dia mengikuti acara gowes kolozal Cikarang MTB yang rutenya cukup menantang di area Pengalengan, Bandung Selatan. Nyatanya ia bisa bersaing dengan sepeda-sepeda lain yang lebih canggih. Tidak tercecer di belakang apalagi sampai dievakuasi. Artinya dengkul, semangat dan skill bersepedanya lebih menentukan.

Jadi, mari kita pancal sepeda kita. Jangan biarkan teronggok di garasi dan hanya menjadi pajangan. Kecuali kita kolektor sepeda 🙂

IMG_20170917_064212

Xtrada di Meikarta

Iklan

Polygon merek sepeda Indonesia perkasa di pentas dunia

Saat mampir ke gerai Books & Beyond di Mall Lippo Cikarang, aku tertarik dengan sebuah buku berjudul Global Chaser – Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia. Buku tersebut menampilkan dan mengulas secara singkat profil 20 perusahaan Indonesia yang mendunia dengan merek sendiri.

Ada dua merek yang memiliki ikatan emosional. Pertama MAK sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan kesehatan untuk rumah sakit yang berasal dari Kalasan, Yogyakarta. Kedua Insera Sena sebuah perusahaan yang memproduksi sepeda dengan merek Polygon yang berasal dari Sidoarjo.polygon

Banyak yang belum mengetahui bahwa Polygon, salah satu merek sepeda yang paling terkenal di Indonesia juga merambah pasar sepeda di berbagai negara. Hebatnya pasar yang dimasuki bukanlah pasar sepeda di negara-negara dunia ketiga. Polygon yang mengawali pasar ekspor sepeda dari wilayah ASEAN kemudian bersain dengan merek-mereka ternama yang lebih dulu hadir di Jepang, Korea Selatan dan Eropa.

Polygon unggul dan mampu bersaing di pentas global karena mementingkan kualitas, teknologi dan craftmanship. Beberapa media internasional seperti World of MTB Germany dan Decline USA menilai Polygon memiliki orisinalitas desain. Desain-desain Polygon bukan asal comot dari merek lain. Desain Polygon otentik.

Selain dibuktikan dengan sertifikasi SNI, kualitas sepeda Polygon juga lulus sertifikasi standar Jepang (JIS) dan Eropa (EN).

 

Memanfaatkan shampoo mobil untuk mencuci sepeda

Selama ini saya selalu mencuci sepeda dengan bahan seadanya. Biasanya memakai Sunlight atau Mama-lime. Beberapa waktu lalu terbetik ide untuk memanfaatkan shampoo mobil untuk mencuci sepeda. Produk yang saya pakai adalah KIT Wash & Glow.

Setelah larutan pencuci dipakai mencuci mobil maka saya memanfaatkan sisa larutan pencuci untuk mencuci sepeda. Hasilnya, sepeda memang terlihat mengkilat (glowing). Setelah melihat hasil tersebut, kini saya selalu memanfaatkan sisa larutan pencuci mobil untuk mencuci motor dan sepeda. Sepeda dan motor terlihat lebih kinclong dibanding sebelum memakai shampoo.

kit wash & glow

Polygon Monarch 24 dan Polygon Sweetie Pink 16

Keluarga Polygon!

Ayah memakai Polygon Astroz, bunda memakai Polygon Sierra AX, Emil memakai Polygon Monarch 24 dan Kamilah memakai Polygon Sweetie Pink 16.

Sebelum memakai Polygon Monarch 24, si Emil memakai sepeda Wimcycle BMX 16. Sepeda tersebut dibeli ketika Emil masih di PAUD. Kini ketika si Emil sudah kelas 3 SD sepeda tersebut menjadi terlalu kecil. Beberapa kali teman-temannya mengolok Emil karena memakai sepeda terlalu kecil.

Awalnya ayah berencana membelikan sepeda BMX 20. Tetapi pada saat ayah sedang mengajari Rafa Kamilah bersepeda, secara tidak sengaja Emil mencoba sepeda bunda, Sierra AX 26, dan bisa!! Lalu si Emil pun mencoba sepeda MTB ayah ukuran 26 ternyata bisa juga! Dari sini si Emil mulai merasakan enaknya memakai sepeda ukuran besar.

Emil dan Polygon Monarch 24

Emil dan Polygon Monarch 24

Ketika diajak ke toko sepeda pilihannya langsung jatuh kepada sepeda MTB ukuran 24. Sepeda BMX tidak menarik perhatiannya. Dan begitu selesai dibayar sepeda itupun langsung dinaiki dari toko sepeda di Lasinrang ke BTN Pondok Indah, Soreang. Kini Polygon Monarch 24 selalu menemani Emil ke sekolah dan saat mengaji di sore hari.

Eforia sepeda baru. Beberapa kali Emil mengajak bersepeda di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Bahkan saat pulang dari sholat Jumat ia antusias ketika rute pulang dibelokkan ke arah jembatan gantung meski saat itu matahari begitu terik.

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Si cantik Rafa Kamilah juga tidak mau ketinggalan. Si nona sudah lama menginginkan sepeda berwarna pink. Di toko sepeda ada dua pilihan Sweeti dan Hello Kitty. Tetapi kondisi si Hello Kitty mulai berkarat di beberapa bagian sehingga pilihannya jatuh kepada Sweetie. Seperti halnya kakaknya, Rafa Kamilah memakai sepeda Polygon Sweetie untuk pergi ke PAUD di sore hari.

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kedua sepeda di atas dibeli di toko sepeda Aneka Sepeda, Jl. Lasinrang 229, Parepare (0421-21786). Di toko sepeda  ini juga bunda dulu membeli citybike Polygon Sierra AX.

Kehandalan lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Bertahun-tahun bergaul dengan Polygon Sierra AX saya baru menyadari bahwa lampu sepedanya sangat handal. Semua itu bermula ketika saya meminjam sepeda istri untuk pergi sholat maghrib ke masjid.

Saya yang biasanya memakai sepeda BMX malam itu tergoda untuk memakai citybike. Karena penasaran dengan adanya lampu di bagian depan maka saya menekan tombol generator sehingga generator menekan roda dan ikut berputar.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Lampu sepeda bermerek Sanyo tersebut sangat terang. Jangkauannya sampai 30 meter. Hanya dengan putaran roda yang lambat pun, misalnya saat dituntun, nyala lampu sudah cukup terang untuk menerangi jalan di depan.

Esoknya, ketika saya periksa pada bagian generator terdapat keterangan 6V-2.4W. Pada bagian headlamp terdapat tiga bundaran yang menunjukkan bahwa ia memiliki tiga lampu LED. Ya, lampu LED. Rupanya inilah kunci dari terangnya cahaya lampu Sierra AX.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Gowes napak tilas Singosari – Cangar, Batu

Dulu saya pernah melibas trek ini memakai sepeda BMX ketika masih SMP. Dengan sepeda single speed tentu saja sebagian besar tanjakan tidak gowesable karena terlalu curam. Kini aku akan mencoba menapaktilasi rute ini dengan sepeda MTB.

Jam 7:30 berangkat dari Gebyak Purwoasri. Melewati jalan tembus Singosari-Karangploso melalui Tunjungtirto aku sampai di jalan raya ke arah Batu yang sekarang menjadi lebar dan mulus. Sepeda kugeber sampai di Donowarih. Sempat berhenti beberapa kali untuk minum dan mengabadikan pemandangan di gerbang kota Batu dan Jembatan Oranye. Jembatan Oranye ini mengingatkanku kepada jembatan dengan warna serupa di Jatiluhur.

Jembatan Oranye - Bumiaji, Batu

Jembatan Oranye – Bumiaji, Batu

Di pertigaan Bendo, Batu aku mengisi ulang perbekalan dengan memberi minuman dan empat potong roti goreng. Harganya sangat murah. Hanya 1000 rupiah per biji.

Setelah mengisi perut dan memulihkan stamina aku melanjutkan perjalanan ke arah Cangar. Jalanan menanjak. Sedikit sekali jalan rata. Musim liburan mengakibatkan banyak bus yang berlalu lalang menuju kawasan wisata di Batu. Asapnya cukup mengganggu pernafasan.

Menjelang area perkebunan sayur dan apel di Junggo stamina mulai menurun. Istirahat beberapa kali di tanjakan curam. Astroz 7 speed cukup berat untuk menaklukkan tanjakan. Akan tetapi karena putaran tidak terlalu cepat maka ritme jantung selalu terjaga. Semua tanjakan dilibas tanpa TTB karena sangat gowesable.

Jam 11:40, tepat saat adzan Dzuhur sampai di Desa Sumberbrantas Batu. Setelah sholat Dzuhur perjalanan kulanjutkan ke arah Cangar. Mampir sebentar ke Arboretum Sumberbrantas milik Perum Jasatirta.

Mendung semakin tebal dan mulai rintik. Akhirnya kubatalkan target ke Cangar karena cemas dengan hujan deras dan tanah longsor. Musibah tanah longsor di Banjarnegara menciutkan nyaliku. Apalagi di sepanjang jalan setidaknya terdapat dua papan peringatan bahasa longsor.

Sepeda kuputar ke aran kanan dan aku balik ke arah Batu. Bonus turunan sepanjang 28 km kunikmati sampai rumah. Jika saat pergi membutuhkan waktu 4 jam maka baliknya hanya 1 jam 20 menit 😀

Jalur ini memang sangat cocok bagi penikmat tanjakan.

Rute gowes Singosari - Batu - Cangar

Rute gowes Singosari – Batu – Cangar

Seminggu bersama Polygon Sierra AX

Seminggu kemarin saya berkesempatan mencoba Citybike Polygon Sierra AX. Citybike dari tahun 2011 dengan swan-frame dan internal gear 3 kecepatan ini terbukti sangat cocok untuk medan yang datar beraspal mulus.

Polygon Sierra AX

Polygon Sierra AX di atas jembatan yang melintas Sungai Bila di Taccimpo

Selama 6 hari saya memakai sepeda ini sepanjang jalan beraspal Kalosi – Bila – Taccimpo. Rata-rata saya memakainya selama 40 menit di pagi hari dengan kecepatan penuh. Sepeda ini memang didesain untuk ngebut. Bahkan untuk saya yang tidak asing dengan urusan mengayuh pedal gigi nomer 3 terasa berat meski di medan yang rata.

Dengan model swan-frame, selain terlihat manis sepeda ini juga sangat stabil dikendarai. Ukuran ban 1,7 membuatnya masih terasa empuk meski melintas di atas aspal yang rusak. Berbeda sekali dengan Sierra Lite yang diameter bannya lebih kecil sehingga terasa lebih keras.

Polygon Sierra AX

Polygon Sierra AX