Emil bersepeda ke sekolah

Hari ini tepat seminggu Emil bersepeda ke sekolah. Kata bunda, sejak bersepeda uang sakunya sisa banyak karena jarang singgah di warung-warung yang terdapat di sepanjang jalan :). Karena bersepeda lebih cepat daripada berjalan kaki maka keinginan untuk mampir ke- dan godaan dari- warung berkurang.

Ayah berharap Emil bisa memecahkan rekor ayah 5,5 tahun bersepeda ke kampus. JIka ayah adalah pengikut gerakan bike to work maka Emil pengikut gerakan bike to school.

Bersepeda ke sekolah

Bersepeda ke sekolah

Iklan

Bersepeda untuk hidup|Bike for life

Dalam perjalanan pulang kampung ke Tanrutedong, Sidenreng Rappang di bulan Oktober 2013, mobil yang kutumpangi singgah di sebuah warung di tengah sawah setelah kota Pangkajene, Sidrap. Kesempatan itu kulakukan untuk mengamati dan mengabadikan mobil-mobil angkutan umum yang melintasi Trans-Sulawesi.

Ketika sedang asyik mengamati mobil-mobil yang lalu lalang mataku tertuju kepada sebuah pemandangan menarik. Sebuah becak gerobak yang penuh dengan barang-barang bekas dengan seorang anak kecil di atasnya melintas di depanku dengan dikawal sebuah sepeda butut yang dikayuh seorang perempuan dengan membonceng anak perempuan.

Bike for life - Bersepeda memburu rejeki

Bike for life – Bersepeda memburu rejeki

It’s definitely bike for life. Aktifitas bersepedaku dengan jargon bike to work menjadi tidak ada apa-apanya dibanding kegigihan mereka dalam mengayuh pedal untuk mengumpulkan keping-keping demi keping, lembar demi lembar dan onggok demi onggok barang-barang bekas yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Di saat banyak orang memilih jalan pintas dengan bermalas-malasan dengan menadahkan tangan meskipun harus menggadaikan izzah/kehormatan dengan meminta-minta, mereka gigih untuk mengumpulkan rejeki dengan cara yang terhormat. Sungguh aku kagum dengan semangat, kegigihan dan perjuangan mereka dalam menjemput rejeki.

De Javu

Akhir Desember 2013 aku kembali pulang ke Tanrutedong. Malam itu aku mengeluarkan motor dari garasi bergegas ke masjid agar tidak ketinggalan sholat Maghrib berjamaah. Di sebuah tanjakan pendek di pertigaan Bila dalam keremangan senja aku menyaksikan sebuah pemandangan yang mengagetkan.

Seorang anak kecil sedang berjuang mendorong gerobak yang sarat muatan di tanjakan tersebut. Aku kembali terkejut karena mereka adalah keluarga pengumpul barang bekas yang pernah kulihat dua bulan yang lalu. Luar biasa daerah jelajah mereka karena lokasi sekarang berjarak 30 km dengan lokasi ketika aku pertama kali melihat mereka.

Aku benar-benar  terkejut karena bisa melihat kembali aksi kegigihan mereka. Dan yang paling mengejutkan adalah bocah kecil yang duduk kulihat membonceng di atas gerobak kali ini bertukar posisi menjadi si pendorong gerobak. Sementara si ibu dengan setia menjadi pengawal di belakang dengan anak perempuannya.

Sampai di masjid aku masih terbayang-bayang dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Begitu selesai sholat motor kugeber pulang. Sarung kulepas dan kuambil dompet. Motor kupacu untuk menyusul rombongan tersebut. Di depan Puskesmas Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Segera motor kuputar ke arah Alfamidi. Dua buah Sariroti rasa keju dan coklat serta sebungkus Oreo kini berada dalam kantong plastik.

Motor kembali kugeber untuk kembali mengejar rombongan tersebut. Di depan SPBU Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Si ibu yang berada di belakang kupepet dengan motor. Kantong plastik kuberikan ke si ibu sambil berkata, “Silahkan, Bu”. Si ibu menjawab, “Terima kasih, Pak. Aku menimpali,”Hati-hati, Bu”. Motor kembali kuputar arah dan bergegas pulang.

Dua bungkus roti dan sebungkus Oreo adalah apresiasiku atas kegigihan mereka. Bukan karena kasihan.

CLBK|Polygon Astroz

Kadang ada semacam perasaaan tidak enak ketika memakai X4 untuk bike to work karena seolah-olah memperkuat pendapat umum bahwa bersepeda ke tempat kerja mesti memakai “sepeda gunung bagus”. Walaupun sebenarnya Xtrada 4.0 juga belum bisa dikategorikan sepeda bagus 🙂 .

Perasaan itu merupakan salah satu faktor yang mendorongku membeli citybike, Polygon Sierra. Sayang, citybike-ku sangat boros ban. Sampai saat ini sudah menghabiskan tiga ban dalam. Bannya yang kecil dan tipis rentan tertusuk di sepanjang jalan. Malangnya, sampai saat ini di Rodalink Cikarang belum ada ban dalam ukuran 1 3/8 inci.

Akhirnya pilihanku jatuh pada Polygon Astroz yang lama dikandangkan. Astroz lebih humble dibanding Xtrada 4.0 tetapi lebih cepat dibanding Sierra. Sepeda ini adalah kompromi antara kerendahhatian dan kecepatan.

Gowes, yuukk!

Bike to work dengan Polygon Astroz @ PT LGEIN

Bike to work dengan Polygon Astroz @ PT LGEIN

Kisah bike to school|Tertolong oleh sepeda

Kisah ini terjadi saat diriku masih kuliah di Universitas Brawijaya. Selain perpustakaan kampus, masjid kampus – masjid Raden Patah, merupakan salah satu tempat favoritku untuk menghabiskan jeda waktu menunggu jadual kuliah berikutnya. Seringkali aku mengerjakan PR mata kuliah Kalkulus di situ.

Waktu itu aku baru saja membeli sepatu baru. Sebuah sepatu semi-formal warna hitam yang agak mengkilat karena memang masih baru. Seperti biasa sepatu kutaruh di atas paving block selasar masjid. Memang ada rak khusus sepatu terbuka tetapi aku jarang menaruh sepatuku di situ. Tokh tempatnya terbuka. Siapapun yang berniat mengambil sepatu orang lain pasti bisa melakukannya.

Ketika aku sudah menyelesaikan aktivitas di masjid dan hendak pulang aku terkejut ketika sepatuku sudah tidak berada di tempatnya lagi. Kucari-cari ke sana kemari siapa tahu aku lupa menaruhnya di tempat lain. Kemungkinan tertukar kecil sekali karena sepatu-sepatu yang ada di sekitar sepatuku tidak ada yang mirip. Rupanya seseorang telah mengambil sepatuku baruku yang baru kupakai tidak berapa lama.

Untungnya saat itu aku sudah selesai kuliah dan membawa sepeda (lima tahun kuliah full memakai sepeda, jarang sekali naik angkot). Well, the show must go on. Tak akan ada orang yang memelototiku. Kalaupun mereka melotot bukan urusanku. Akhirnya dengan bertelanjang kaki aku mengayuh sepeda ke arah Singosari. Untungnya lagi pedal sepeda jengki sangat nyeker friendly. Permukaan pedalnya rata terbuat dari karet keras sehingga tidak sakit di telapak kaki.

Hitam (gosong) separo karena gowes – ATIMA

Di sebuah obrolan ringan tentang bersepeda, seorang teman dari Jogja bertanya, “Kamu dari mana?” Ada yang menjawab, “Sumedang, Depok, Malang.”

Lalu ia menimpali, “Orang Jogja itu dari kecil sampai besar sudah kenyang bersepeda. Ketika jauh-jauh merantau ke Jakarta masak harus bersepeda lagi? Bahkan di Jogja banyak orang-orang yang wajahnya hitam sebelah, yaitu orang-orang Bantul. Ketika berangkat (bekerja di Jogja) pipi kanannya terkena sinar matahari pagi. Saat pulang di sore hari pipi kanannya kembali terkena sinar matahari sore. Akibatnya pipi kanan orang-orang Bantul lebih hitam dari pipi kirinya.”

Sebaliknya saya dulu memiliki pipi kiri lebih hitam dari pipi kanan karena saat berangkat kuliah (Singosari – Malang) pipi kiri terkena sinar matahari pagi dan saat pulang pipi kiri kembali terkena sinar matahari sore. Beruntung kini poros gowes saya berada diarah Timur – Barat. Jadi yang gosong adalah tengkuk saya.

Bagian mana dari tubuh anda yang gosong karena rajin bersepeda? 😀

ATIMA – awas tulisan ini mengandung anekdot

rambu sepeda

rambu sepeda

Efek gowes kolosal

Sambil berjalan ke masjid untuk sholat subuh saya menatap langit yang tampak bersih dari awan. Bintang-bintang bersinar terang. Pagi ini sepertinya cocok sekali untuk bike to work. Jam 5:15 saya berkemas menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti. Tak lupa toolkit dan ban cadangan masuk ke dalam bacpack.

Sebenarnya si Xtrada4.0 masih perlu recovery (dilumasi) karena setelah dicuci kemarin tidak sempat dirawat lagi. Terbukti ketika digowes bunyi tikus mengikuti. Kemungkinan dari pedal dan rantai yang kering dan yang sudah pasti dari suspensi depan.

Saya merasa gowesan terasa lebih ringan dari biasanya. Ketika sampai di depan Mall Lippo Cikarang saya menegok ke cyclocomp kecepatan menunjukkan angka 30. Biasanya angka tersebut saya peroleh saat pulang ketika jalanan agak menurun.

Begitu menyeberang getek shifter saya geser ke gigi teringan. Masih terasa agak berat meski berhasi melibas tanjakan pertama yang paling curam. Karena terasa berat saya curiga dan melirik indikator shifter di sebelah kiri. Indikator menunjukkan angka 2! Rupanya saya melibas tanjakan dengan posisi sproket depan nomer 2.

Biasanya saya melibas tanjakan ini dengan sproket nomer 1 dan gir nomer 8. Apakah ini efek (euforia) dari gowes kolosal #10 kemarin sehingga tanjakan ini terasa lebih ringan?? Saya tak sempat berfikir lagi karena motor di belakang antri untuk bisa menyalip sepeda saya yang tertatih-tatih di ujung tanjakan.

 

Gowes sendiri? Why not?

Bike to work sendiri? Why not?

Motivasi dan kesempatan orang tidak selalu sama dan ajeg. Mungkin pada suatu masa aktivitas B2W demikian ramainya. Bisa jadi karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya sebagian meninggalkan aktivitas bersepeda ke tempat kerja. Sebagian dari mereka mesti menghemat waktu yang terbuang di jalan akibat bersepeda. It’s fine.

Manakala masa-masa booming-bike to work itu lewat sebagian dari kita mesti tetap menjaga semangat kita bersepeda with or without them.

Ayo gowess 🙂

X4.0 nangkring di parkir sepeda