Bersepeda (lagi) Lippocikarang – Curug Cigentis

Setelah 7 tahun  akhirnya berkesempatan lagi untuk bersepeda ke Curug Cigentis. Sebenarnya ini adalah rute gowes yang menarik karena di ujung trip terdapat obyek wisata dan obyek kuliner plus bisa mandi-mandi untuk membasuh keringat yang bercucuran di sepanjang jalan.

Rute yang kami pilih sengaja menghindari jalur Buper Karangkitri karena rolling dan tanjakannya cukup menguras tenaga. Kami ingin menyimpan tenaga untuk melibas 3 km tanjakan menjelang curug. Ini rombongan portugal (perkumpulan orang tua ugal-ugalan) yang tidak lagi muda, 40+ semua. Bahkan kami sering bercanda, nafsu besar tenaga kurang.

Pilihan rutenya adalah Lippocikarang – Cicau – Hutan Jati – Pasir Kupang – Rawa Bedeng – Medalkrisna – Raya Cariu-Loji. Rute ini relatif datar dengan sedikit rolling. Segmen yang agak menguras tenaga adalah sebelum dan setelah Rawa Bedeng. Meski rolling tetapi masih enjoyable untuk ukuran 40+. Secara umum trek sangat gowesable, mayoritas adalah jalan beton dengan beberap segmen yang rusak dan pecah-pecah. Andai jalannya mulus-lus pasti trek ini akan menjadi favorit teman-teman R/B.

Rute gowes Lippocikarang (Taman Cibodas) – Curug Cigentis

Jalan Raya Cariu-Loji cukup datar. Segmen ini lebih menarik dan lebih bersih (udaranya) dibanding Jalan Raya Telukjambe-Pangkalan yang banyak dilalui dumptruck pengangkut kapur dan banyaknya dapur-dapur pengolahan batu gamping yang memakai bahan bakar ban bekas yang mengeluarkan asap hitam pekat. Di segmen ini ada dua tanjakan panjang dan landai dimana salah satunya cukup curam yaitu Tanjakan Lamping. Di Tanjakan Lamping ini terdapat pos Lamping Squad yang berisi anak-anak muda yang bermaksud membantu kendaraan yang tidak kuat atau butuh ambil napas untuk melibas tanjakan ini, mirip tanjakan Sitinjau Lauik 🙂

Kami sengaja menghindari Pasar Loji yang terkenal ruwet. Kami lewat jalur belakang yang melewati perbukitan. Sejuk dan rindang tetapi cukup menguras energi karena rolling. Jalur belakang ini sudah dicor sehingga sangat gowesable. Tujuh tahun lalu, jalur belakang ini masih berupa jalan makadam dan jalan tanah. Di area ini mulai banyak dibangun obyek-obyek wisata buatan yang memanfaatkan lansekap unik perbukitan dan bebatuan penyusun bukit, salah satunya adalah Cipaga Stone Park.

Di Kampung Turis kami beristirahat untuk memulihkan stamina. 3 km berikutnya adalah summit attack. Rencananya semua tanjakan akan dilibas dengan cara estafet, alias ngaso/istirahat di ujung tanjakan lalu jalan lagi 😀 Kuncinya adalah sabar dan tidak terlalu memaksakan diri, menjaga ritme gowesan dan denyut jantung. Satu persatu tanjakan berhasil kami taklukkan. Dibanding 7 tahun lalu, treknya sangat gowesable. Sudah dicor beton semua. Ini menjadi penyemangat kami untuk sampai ke curug karena kami tahu pulangnya kami akan mendapat bonus turunan yang super-panjang.

Tiket masuk 20.000 rupiah. Debit curug tidak terlalu besar saat kemarau, tetapi justru lebih asyik berendam dan menikmati guyuran air curug. Punggung dan kepala serasa dipijit2 oleh guyuran air. Segaarrr!!

Menu makan siang di Curug Cigentis

Deretan gazebo yang eksotis

I made it!

Curug Cigentis dari kejauhan

Iklan

Tas punggung Rei – ProHike dengan Ergo Tech System

Rei yang kubeli sekitar tahun 2009 selain dipakai ke kantor juga banyak menemaniku gowes. Bahkan ketika masih bekerja di pabrik, ke kantor juga menggowes dalam rangka bike to work. Rei – ProHike dengan Ergo tech System memiliki padding empuk yang sampai sekarang masih kenyal tidak kempos seperti kebanyakan busa murahan. Ergo Tech System ini untuk mengurangi panas di bagian punggung karena memfasilitasi terjadinya sirkulasi udara.

Bersama Rei – ProHike berbagai medan cross country di sekitar Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Bogor, Sukabumi dan Bandung pernah kulibas dari atas Polygon Xtrada 4.0. Rei – ProHike terbukti andal dan useful. Karena banyak dipakai outdoor, Rei – ProHike ini sering terpanggang sinar matahari, diguyur hujan deras, belepotan lumpur tetapi tidak ada masalah. Zipper masih mudah dibuka, tidak macet. Jahitan tidak ada yang terlepas. Satu-satunya tanda keausan dan keusangan adalah lapisan reflektif yang mulai hilang. Dan, buckle yang terbuat dari plastik masih mengunci dengan rapat, tidak ada yang kendor apalagi patah.

Ketika melibas medan cross country yang cukup berat dan mengharuskan banyak manuver maka sebuah bacpak yang melekat erat di punggung, tidak naik turun atau bergoyang ke kiri ke kanan, sangat dibutuhkan. Karena jika hal-hal tersebut terjadi akan sangat mengganggu kenyamanan dan konsentrasi. Rei – Prohike dilengkapi dengan dua buah strap pengikat di bagian pinggang dan dada. Strap pengikat di bagian dada memiliki mekanisme sliding sehingga kita bisa mengatur posisi/ketinggiannya. Strap bagian bawah memiliki padding lebar yang menambah cengkeraman ke pinggang sehingga backpack tidak mudah bergeser-geser.

Ukurannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Pas. Saat cross country, pakaian ganti, sarung, botol air cadangan dan kadang-kadang snack muat ke dalam tas ini.

 

Bersepeda dari Perkebunan Teh Gunung Mas ke MM Juice Gadog

Akhirnya kembali lagi ke kawasan Puncak setelah 6 tahun tidak bersepeda di sana. Semakin ramai dan semakin macet jalan-jalan tembus karena kebijakan buka-tutup lalu lintas.

Anyway, kawasan Perkebunan Teh Gunung Mas bagaikan oase bagi para pesepeda. Segar, trek makadam, trek tanah, trek berumput, semuanya ada. Dan yang paling penting, ada warung representatif ala goweser untuk keperluan mengisi ulang kalori yang terbakar. Warung Teh Yuli yang berada di ujung perkebunan adalah favorit dari para goweser, baik yang mulai gowes dari Puncak Pass maupun dari kawasan Gunung Mas.

Ngehe 1, masih ngehe walaupun sudah dicor sampai ujung. Masih ga kuat juga nafas dan degup jantung menaklukkan tanjakan tersebut. Dan beberapa tanjakan menjelang Gadog malah TTB 🙂

Bagaimana pun juga kawasan Puncak masih menjadi tempat yang menarik bagi para goweser.

Gowes jangan sampai meninggalkan sholat

Rimbun di Perkebunan Teh

Mneyusu di Eiry Farm

Perkebunan Teh Gunung Mas

Warung Teh Yuli @ 800mdpl

Gowes XC Tanrutedong – Barukku

Beberapa tahun yang lalu dengan memakai Supra Fit kami menemukan sebuah jembatan gantung di daerah Barukku. Jembatan tersebut menyeberangi Sungai Bila menghubungkan Desa Botto dengan Barukku. Kami sempat bermain air di sungai ketika tiba-tiba permukaan air sungai naik dan menjadi keruh. Rupanya salah satu anak sungai banjir. Kemungkinan hujan deras di daerah hulu. Karena tidak sempat melanjutkan perjalanan ke seberang, maka menyisakan rasa penasaran. Penasaran dengan kondisi di seberang sungai.

Pagi itu hujan deras mengguyur Tanrutedong sehingga gowes pun ditunda. Setelah reda maka segera kuambil Sierra AX (citybike 3-speed internal gear) dan kugebeber ke arah Jalak Bila. Begitu memasuki Desa Taccimpo hujan deras kembali mengguyur. Kubulatkan tekat untuk menuntaskan misi gowes hari ini dengan menerobos hujan. Beruntung membawa kantong plastik sehingga ponsel dan uang ntidak basah oleh air hujan. Untuk melawan rasa dingin kecepatan kutambah sehinngga ritme jantung meningkat, tekanan darah naik dan badanpun  menjadi lebih hangat.

Sierra AX @ PT Berdikari United Livestock Indonesia

Begitu sampai di area peternakan PT Berdikari United Livestock Indonesia (BULI) hujan pun reda. Acara foto-foto pun dimulai. Sayang beberapa padang penggembalaan yang memiliki pemandangan bagus tertutup oleh pagar kawat berduri. Di bagian atas yang kini berubah menjadi kebun singkong terdapat spot menarik. Sempat tergoda untuk masuk lebih dalam ke area peternakan akan tetapi karena tadinya berangkat agak siang maka kuputuskan untuk menghemat waktu dengan melanjutkan perjalanan ke Barukku.

Melewati BULI terdapat bonus turunan dengan aspal mulus sehingga gigi kupindahkan ke nomer 3, ngebut. Begitu ada papan penunjuk sekolah SMP sepeda kubelokkan ke kiri ke arah jembatan gantung.

Jalan aspal mulus menjelang Barukku, Pituriase

Beruntung begitu sampai di jembatan gantung matahari yang sebelumnya tertutup awan kini bersinar cerah. Tergoda oleh jernihnya air sungai maka Sierra AX kubawa ke bawah jembatan. Seandainya tidak berangkat kesiangan maka bisa mandi-mandi dulu. Jernihnya air sangat menggoda. Di kejauhan anak-anak bermain bola air di tengah sungai.

Jembatan gantung Barukku – Botto

Dari bawah jembatan gantung Barukku – Botto

Sierra AX mencicipi segar dan jernihnya air Sungai Bila

Setelah puas berfoto-foto maka dimulailah misi sesungguhnya. Menemukan jalan tembus ke Bendungan Bila. Kuputuskan untuk mengambil arah lurus menyusuri persawahan. Setelah bertemu tanjakan dan ladang akhirnya bertemu dengan perkampungan yang memiliki tiang listrik. Artinya, dengan mengikuti tiang listrik tersebut pasti akan bertemu dengan peradaban/perkotaan 😀 . Beruntung juga singal GPS/BTS yang sebelumnya sempat hilang kini muncul lagi. Sebenarnya tanpa panduang tiang listrik pun dengan membaca Gmaps dan berpedoman dengan jalan yang nampak di peta pasti akan ketemu juga.

Jalur ini benar-benar terasa sebagai jalur cross-country. Perumahan masih jarang. Sepanjang jalan didominasi dengan ladang dan perkebunan. Dan area ini tampaknya berbatasan langsung dengan hutan rimba yang nampak tidak terlalu jauh. Jalan relatih mulus dengan dominasi makadam ala Sulawesi. Berbeda dengan makadam di kampungku, makadam di Sulawesi jauh lebih mulus karena daerah ini kaya pasir dan kerikil. Pasih halus dan kerikil ini membuat makadam terasa seperti jalan beraspal kasar.

XC track Desa Botto

Secara umum dari Botto menuju Bendungan Bila didominasi turunan. Kecuali di area PT BULI maka tidak ada lagi tanjakan ekstrim. Pilihanku untuk memakai citybike dalam gowes XC kali ini tidak salah. Sebagian besar trek masih bisa dilibas dengan citybike. Tanjakan pun tidak terlalu ekstrim meski beberapa membuat diriku harus turun dari sepeda karena jika dipaksakan takut rantai menjadi putus.

Selebihnya track ini menyusuri Sungai Bila sampai bertemua dengan Sungai Bulucenrana yang juga memiliki sebuah jembatan gantung ke arah Desa Salo Bukkang.

Track ini sangat direkomendasikan bagi para goweser di Tanrutedong, Duapitue karena komplit variasi track-nya dan viewnya sangat bagus.

 

 

 

Gowes XC Tanrutedong – Waduk Kalola

Gowes kali ini memang kurancang agar benar-benar XC dengan menghindari jalan raya Tanrutedong – Anabanua. Maka setelah berangkat dari Warung Soto Imam Saleh si Astroz kuarahkan ke Jalak Bila. Begitu bertemu saluran irigasi sepedah kuarahkan ke Timur dengan asumsi nantinya akan bertemu dengan saluran primer irigasi Bila. Benar saja setelah melewati saluran tersier dan sekunder serta menyusuri jalanan di tengah sawah, akhirnya bertemu juga dengan saluran primer tersebut. Saluran primer ini sempat kulewati beberapa kali dengan motor maupun si Astroz bersama Emil si bocah lanang.

Astroz @ Saluran Suplesi Kalola, Maniangpajo

Pemandangan di sepanjang trek ini sangat menawan dengan latar pegunungan Rante Mario yang menjadi hulu Salo Bila di kejauhan. Beberapa lintasan menjadi sangat sempit dengan menyisakan bahu saluran air sehingga sangat cocok untuk melatih keseimbangan. Jika tak seimbang? Nyemplung ke sawah!!

Begitu bertemu dengan saluran suplesi Kalola maka trek menjadi lebih menarik karena kubangan-kubangan dan cekungan-cekungan di jalan membuat sepeda terasa naik turun. Hijau dan sesekali bertemu dengan kerimbunan pohon-pohon akasia dan pohon-pohon liar di ladang. Jalur ini adalah jalur favorit. Dan diujung trek seperti biasa rumput-rumput tinggi menjulang karena jalur yang jarang dilewati akan menyambut.

Menjelang Kalola Dam makan trek menjadi jalan beraspal mulus. Kalola kali ini menjadi lebih cantik dan menarik karena rumput-rumput di bendungan dipangkas rapi. Pagar-pagar, gerbang masuk dan gedung-gedung serta sarana bendungan dicat baru dengan dominasi warna kuning dan putih.

Astroz @ Kalola Dam, Sogi, Maniangpajo

Mission accomplished!!

Akhirnya ketemu juga jalan tembus dari Sogi, Maniangpajo ke Bila, Pituriase. Selama ini jalur tersebut sudah sempat kuintip dengan Gmaps tetapi belum sempat dieksekusi. Akhirnya kemarin setelah mengunjungi Kalola Dam dalam perjalanan pulang kuputuskan untuk mencoba trek tersebut. Keputusan yang tidak akan kusesali karena jalur ini cukup menantang dan memberikan pemandangan Kalola Dam dari atas sebuah bukit. Analisis memakai Strava menunjukkan bahwa ketinggian bukit tersebut antara 90 – 100mdpl.

Astroz @ Sogi, Maniangpajo dengan latar Kalola Dam

Perbukitan ini membuat gowes kali ini menjadi lebih variatif lintasannya dengan menawarkan beberapa tanjakan yang cukup menghangatkan dengkul. Beberapa trek cukup mudah karena tanah cukup padat tetapi tanjakan pertama yang cukup tinggi menyuguhkan lintasan gravel dengan kerikil dan batu-batu kecil yang lepas.

Kalola Ranch

Duapitue dan Maniangpajo memang memiliki trek XC yang sangat bagus dengan tingkat kesulitan atau “keberatan” bervariasi. Jika ingin yang ringan-ringan bisa menyusuri jalan-jalan kampung, jalan sepanjang tanggul dan jalan-jalan di persawahan yang relatif datar. Jika ingin mendapatkan tanjakan maka bisa mengarah ke Kalola yang menawarkan trek rolling dengan beberapa perbukitan dan tanjakan.

Sayang dengan potrensi trek yang cukup lengkat tersebut rupanya hobi bersepeda cross-country belum terlalu banyak penggemarnya. Sepertinya hobi bermotor lebih populer bagi anak-anak muda dan orangtua.

Kembalinya semangat gowes

Akhir-akhir ini semangat gowes saya bangkit lagi. Awalnya karena tetangga2 sepakat membentuk komunitas gowes sehingga frekuensi dan jangkauan gowes yang sebelumnya menurun pun naik lagi.

Tidak jauh-jauh. Kisaran gowes antara 20 – 35km-an. Alasannya agar persiapannya mudah. Agar sebelum zuhur sudah sampai rumah lagi. Jika dilakuakan Sabtu – Minggu maka setidaknya 50km bisa didapatkan per minggu. Lumayan untuk menjaga stamina gowes.

Trek gowes masih seputar Cikarang terutama Cikarang Selatan, Cikarang Pusat, Cikarang Utara dan Cikarang Timur. Sesekali mampir ke tetangga seperti Telukjambe Barat dan Serang Baru. Ada rencana agar bisa sampai ke Bojongmangu, terutama Situ Abidin.

Cikarang Timur hingga Telukjambe Barat treknya relatif datar. Sawah dan perkampungan mendominasi pemandangan di sepanjang jalan. Di trek ini ada beberapa warung yang menjadi favorit para goweser.  Warung-warung ini selain sebagai tempat melepas lelah dan mengisi perut juga menjadi ajang silaturahim dengan goweser-goweser dari tempat lain.

Keliling Cikarang

 

Warung Juriah – pitstop favorit goweser Cikarang dan sekitarnya

Berkat info dari kayuhanpedal.com akhirnya trip di atas ada video-nya 🙂