Gowes XC Gunung Pilar, Sukamakmur – Kab. Bogor

Bogor Timur memang memiliki beragam daya tarik dengan lansekap pegunungan yang membentang mulai dari Gunung Pancar hingga Pegunungan Sanggabuana. Salah satu lokasi yang menyimpan banyak potensi wisata tersembunyi adalah Sukamakmur.

Berawal dari rasa penasaran saat beristirahat di sebuah kebun cengkeh, dimana ada bapak-bapak memakai motor masuk ke arah jalan setapak. Ketika diriku mengikuti jalan tersebut ternyata menuju ke sebuah kampung yang berada di lembah. Hasil obrolan dengan bapak-bapak menginformasikan bahwa ada jalan setapak ke kampung atas yang kini populer sebagai arena motorcross. Karena fokus dengan target menemukan akses Mulyasari – Cisoro maka rasa penasaran itu kusimpan untuk trip berikutnya.

Minggu depannya, kusampaikan ideku untuk melakukan survei jalur ke kampung atas seperti yang diinfokan bapak-bapak minggu lalu. Gayung bersambut ideku disetujui oleh sekelompok goweser yang sok-sokan menamakan dirinya Trailblazer. Berlima (diriku, On Eka, Om Urip, Om Ipin, Om Sigit) kami membelah jalanan Cikarang via Delta Silicon 8 – Warbond – Cibarusah. Di Cibarusah kami mengisi bahan bakar di sebuah wateg. Om Sigit tidak melanjutkan perjalanan karena ada urusan.

Akses masuk ke Puncak Pilar ini cukup tersamar dari jalan besar. Seandainya tidak diinfokan oleh warga sekitar, diriku pun tidak menyangka jika jalan setapak di lereng bukit dengan bekas longsoran itu menuju ke sebuah perkampungan yang cukup besar. Kemiringan yang curam membuat kami semua rontok dihajar tanjakan. Beberapa orang hanya mampu menyelesaikan seperempat dan maksimal separuh dari total tanjakan. Di ujung tanjakan bonus pemandangan lepas ke arah Cioray, Bukit Hambalang dengan kibaran benderanya yang ikonik dan pabrik semen nampak dari ujung tanjakan. Kami memanfaatkan latar pemandangan tersebut untuk mengambil beberapa pose narsis.

Rontok di tanjakan menjelang Kampung 10
Narsis di ujung tanjakan

Dari ujung tanjakan, ternyata kampung atas/Kampung 10 ternyata tidak seberapa jauh. Menjelang kampung, tracknya sangat gowesable dan relatif datar dengan pepohonan jabon dan tanaman kebun lain di sepanjang jalan. Di ujung kampung track mengarah ke sawah yang berada di sebuah lembah.

Dari pinggir sawah ini kami bisa memandang ke sebuah bendera yang berada di puncak sebuah bukit. Rupanya itu adalah Puncak Pilar. Nampak beberapa orang sedang berada di puncak. Mereka menerikan kami. bisa jadi terheran-heran karena ada goweser yang bisa nyasar sampai ke situ. Mereka pun berlarian menejmput kami ketika kami memberi isyarat bahwa kami hendak menuju puncak.

Menjelang puncak terdapat beberapa segmen yang kemiringannya cukup curam sehingga saat mendorong sepeda kami harus berada di belakang. Tidak bisa lagi mendorong sepeda dengan beriringan. Ini agar grip sepatu ke tanah mengimbangi tarikan gavitasi berata badan plus sepeda. Segemennya tidak seberapa panjang tetapi cukup menguras tenaga. Tanah gembur membuat pijakan kurang mantap dan beberapa kali terpeleset.

Dorong-dorong

Menjelang Puncak Pilar kembali kami disuguhi track miring tetapi tidak sesulit sebelumnya. Memanfaatkan rerumputan yang berada di sisi track, kami memakainya sebagai pijakan. Lumayan berhasil dibanding harus melewati track sebenarnya yang tanahnya rontok dan agak berpasir karena dihajar motor trail.

Sampai di Puncak Pilar kami langsung disambut oleh dua orang moto-crosser yang sudah sampai di puncak duluan. Mereka sedang membuat video. Begitu melihat rombongan goweser, mereka langsung berkomentar, “Elo-elo yang pakai motor trail, Lihat nih sepeda aja bisa sampai puncak masak elo-elo yang tinggal nge-gas doang pakai mesin ga berani ke sini.”

Di Puncak Pilar kami menikmati pemandangan ke segala arah. Ara Puncak Sintok dan Gunung Sanggar di Selatan. Gunung Batu dan Lembah Cipamingkis di Timur. Di sebelah Utara terdapat Cioray dan Pasir Awi. Angin bertiup cukup kencang sehingga panas terik di siang hari tidak lagi terasa. Kami berlama-lama menikmati pemandangan dari atas sekaligus mengumpulan foto-foto sebanyak-banyaknya. Kami ingin berbagi keindahan dari Puncak Pilar ke penikmat wisata outdoor non-konvensional 🙂

Summit attack ke Puncak PIlar. Menunduk bukan akting, emang tracknya miring.
Polygon Premier 5 di Puncak Pilar

Gowes XC Cibakatul – Mulyasari – Cisoro

Segmen Cibakatul – Mulyasari – Cisoro

Track yang wajib dicoba bagi pecinta gowes cross country. Kenapa? Karena sepanjang segmen Kampung Babaken Epek, Cibakatul, Mulyasari, sampai dengan Cisoro kita akan gowes di sepanjang sisi pegunungan yang menyajikan pemandangan indah. Kecuali di Kampung Cibakatul yang agak crowded, segmen lainnya minim kendaraan bermotor sehingga kita akan full menghirup udara segar.

Tanjakan-tanjakannya mulai dari pertigaan Sukamakmur sampai dengan Mulyasari akan menguji kekuatan dengkul dan jantung kita. Beberapa diantaranya memiliki grade yang cukup ekstrim sehingga meski ketinggian sadel sudah maksimal tetap akan membuat roda depan terangkat-angkat saat kita mengayuh untuk melibas tanjakan.

Oh ya, di segmen ini juga bisa dipakai sebagai alternatif yang lebih gowesable untuk ke Curug Golek. Menjelang gerbang pendakian ke Punsak Palasari terdapat pintu masuk ke Curug Golek.

Segmen Mulyasari – Cisoro adalah daya tarik utama dari track ini. Di sini kita akan menghirup udara murni bebas polusi yang dihasilkan dari tanaman perkebunan dan hutan yang ada di lereng-lereng gunung. Segmen ini dulunya akan dipakai sebagai jalur alternatif ke Puncak via Cipanas – Cianjur. Jalur ini akan bertemu dengan Curug Ciherang. Namun sekarang kondisinya terbengkalai dan tidak terawat. Di beberapa tempat makadamnya masih utuh tetapi banyak yang tertutup semak belukar dan perdu. Beruntuk beberapa petani dan peladang berinisiatif membersihkan semak dan perdu tersebut untuk mempermudah akses ke sawah dan ladang mereka.

Sawah di Kampung Babakan Epek
Menjelang Palasari
Cemoro Tunggal – Palasari
Sawah di Mulyasari
Menjelang Mulyasari
Pemandangan ke arah lembah Gunung Sanggar
Sawah di bawah Gunung Sintok
kP5 dengan latar sawah, dangau dan Gunung Sintok
Tipikal track sepanjang segmen Mulyasari – Cisoro (kebun kopi yang menyatu dengan hutan)