Jalur Naga dan Rolling Sukawangi

Berangkat kesiangan karena menunggu hujan reda. Sempat berpikir untuk menunda trip tetapi keinginan untuk menyelesaikan Climbing Challenge di bulan April (menabung Elevation Gain sebelum Romadon 🙂 ) menjadi pemacu semangat untuk mengayuh sepeda.

7:28 WIB tombol Record di aplikasi Strava akhirnya kutekan. Mampir dulu ke Asem-Asem untuk sarapan karena jika sarapan di Cariu akan terlalu jauh dan sudah lewat jam sarapan.

Jalanan masih basah sehingga tidak bisa terlalu digeber. Lagi malas main kotor2an. Rupanya hujan tidak merata. Begitu sampai Bojongmangu ternyata kering. Di Cariu kembali menemukan bekas hujan meski tidak terlalu deras.

Sangat berharap agar kembali menemukan cuaca mendung dengan kabut yang sejuk seperti trip sebelumnya. Rupanya harapan tersebut tidak terkabul. Sampai Gunung Batu dan tanjakan Kandang Ayam menjelang Kampung Catang Malang cuaca sangat terik. Beruntung semua tanjakan bisa diselesaikan dengan sempurna tanpa TTB.

Di musholla Al-Maliki pit stop untuk menjamak sholat dan beristirahat. Sempat terpikir untuk balik kanan karena merasa fisik tidak sebugar minggu sebelumnya. Tetapi semilir angin yang sejuk di muholla ditambah beberapa potong roti mampu mengembalikan stamina. Target pun ditambah sampai Curug Arca dan makan siang di Warung Puncak Pinus 2.

Begitu sampai warung rupanya nasi masih dimasak. Alhasil harus menunggu 30 menit sebelum nasi siap dimasak menjadi nasi goreng. Proses menunggu ini cukup menyita waktu sementara hari semakin beranjak sore. Sempat berpikir untuk menambah target sampai Cipanas akan tetapi sepertinya bakal kemalaman. Setelah menyantap nasi akhirnya kuputuskan untuk pulang lewat Jalur Naga Tanjungsari.

Memang mayoritas turunan, akan tetapi ternyata jalur ini menyimpan rolling cukup banyak. Banyak turunan curam juga membuat tangan dan bahu menjadi pegal-pegal karena harus menahan berat badan yang pindah ke depan. Targetnya sebelum maghrib harus sudah melewati Jalur Naga. Memang sudah menyiapkan lampu-lampu untuk mengantisipasi kemalaman di jalan akan tetapi akan lebih aman jika saat malam sudah keluar dari hutan.

Istrirahat tidak perlu banyak-banyak karena harus mengejar waktu. Dan akhirnya jam 4:30 mulai summit attack Rawa Bakti Hills. Jam 5 sampai di puncak bukit dengan pemandangan yang bagus. Saya matahari lebih banyak tertutup awan sehingga pencahayaan kurang bagus . Beruntung punggung-punggung bukit masih mendapatkan cukup cahaya sehingga masih bisa menangkap liukan Jalur Naga di kejauhan. Sepertinya bakal ekstrim nih turunannya.

Benar saja. Karena malas menurunkan sadel (sehari sebelumnya sempat tergoda untuk meminang seatpost dropper) kerika berhadapan dengan turunan curam, jalan penuh batu, pasir dan gravel membuat tidak pede. Di beberapa titik harus turun karena ban kehilangan cengkeraman sehingga ngesot-ngesot tidak terkendali. Takut tidak bisa berhenti, kehilangan kendali dan nyemplung ke jurang. Di lokasi ini diriku mendapatkan sekawanan monyet hitam yang bergantungan di pepohonan.

Memandang tebing-tebing tinggi di kanan dan jurang dalam di kiri membuat nyali menjadi ciut. Takut longsor. Dan memang di berberapa segmen terdapat longsoran yang mebuat jalan menyempit ke tepi jurang. Bahkan di jalan rata karena terlalu sempit harus menuntun sepeda karena tidak pede melihat jurang di kiri jalan.

Rombongan touring motor di Jalur Naga

Menjelang kaki bukit di mana terdapat longsoran paran bertemu dengan rombongan motor touring yang nampaknya sedang kesulitan menanjakan tanjakan terjal Jalur Naga ini. Memakai kendaraan bermesin tidak selalu menjadi lebih mudah. Ketika bertemu medan sulit maka skill dan nyali akan diuji dibanding naik MTB. Dengan motor kita harus tetap di atas kendaraan, jika kita sampai kehilangan handling, alamat bakal cilaka. Sementara dengan MTB kita bisa menuntun atau memanggulnya ketika berhadapan dengan medan ekstrim.

Dan setelah memutuskan balik kanan, ketika turun pun beberapa rider motor tersebut kesulitan untuk handling sehingga harus pelan-pelan. Andai diriku melibasnya dari arah Tanjungsari, arah menanjak, pasti Jalur Naga ini akan menjadi ajang penyiksaan.

Di ujung segmen Jalur Naga bertemu dengan rambu sederhana penunjuk arah ke Curug Ciliang. Bisa menjadi cadangan trip berikutnya nih. Sempat bertanya ke pemukim di situ konon katanya masih agak jauh, harus melewati satu kampung lagi.

Segmen selanjutnya adalah turunan demi turunan yang assooy geboy sampai bertemu jembatan Cisero. Jika dilibas di pagi atau siang hari segmen tersebut pasti akan menyajikan pemandangan yang menawan.

I’ll be back!

Jalur Naga – 120km – EG 2100m
Polygon Premier 5 dan Jalur Naga
Motor dan tebing di Jalur Naga
Jalur Naga dengan track makadam, gravel dan tanah
Di pinggir jurang – Jalur Naga
Rimbun di Jalur Naga

Alon-alon asal kelakon melibas tanjakan Gunung Batu – Kampung Arca

Awalnya hanya sekedar ingin gowes santai ke Gunung Batu, Sukamakmur. Ternyata hari masih belum terlalu siang ketika sampai di Gunung Batu. Maka kuputuskan untuk menambah jarak dengan gowes ke arah Kampung Arca. Tidak ada target khusus. Bahkan sudah kuputuskan untuk balik kanan ketika sudah merasa capek. Ternyata tanjakan demi tanjakan berhasil kulewati sehingga ketika sudah sampai separuh perjalanan ke arah Kampung Arca kuputuskan untuk merubah target hingga mencapai Curug Saridun.

Selain menambah jarak kubuat sebuah target lagi. Tepatnya sebuah percobaan untuk melibas tanjakan tanpa istirahat. Sebelumnya diriku pernah sekali lewat segmen ini sehingga sudah punya gambaran tanjakan-tanjakan yang ada di depan.

Cadence kujaga sekonstan mungkin agar detak jantung tidak naik drastis. Hasilnya, diriku berhasil melibas tanjakan dari 565mdpl hingga 1125mdpl sepanjang 9km hanya dengan 2x berhenti karena buang air kecil dan mengambil foto karena tidak ingin kehilangan momen turunnya kabut menjelang pertigaan. Bagi goweser amatir seperti diriku ini adalah sebuah prestasi. Pada trip sebelumnya diriku banyak berhenti di setiap ujung tanjakan untuk beristirahat.

Terbukti jurus alon-alon asal kelakon berhasil melibas tanjakan.

Profil Gn. Batu – Kampung Arca climbing
Kabut di Sukawangi
Menyeruput teh di ketinggian 1200mdpl