Gowes Heritage ke Rengasdengklok & Batujaya

Bosan nanjak. Kita cari yang datar-datar dulu tetapi targetnya tetap Grand Fondo alias 100km-an. Setelah mereka-reka track di Google Maps akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi dua lokasi yang menjadi tonggak sejarah Indonesia yaitu Rengasadengklok dan Batujaya.

Rengasdengklok merupakan mata rantai sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana kota kecil tersebut menjadi tempat pengasingan Sukarno-Hatta ketika diculik oleh para pemuda revolusioner yang menginginkan agar dwitunggal segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Alasannya Jepang kalah perang dan Sekutu belum masuk ke Indonesia. Ada kekosongan kekuasaan alias vacuum of power.

Di Rengasdengklok rumah salah satu anggota PETA, Djiauw Kie Siong dipilih sebagai tempat untuk mengasingkan Sukarno-Hatta. Selain karena lokasinya terpencil dan cukup jauh dari Jakarta. Rumah Djiauw Kie Siong dianggap cukup layak dan besar pada jamannya untuk menampung kedua tokoh pergerakan tersebut.

Batujaya merupakan lokasi ditemukannya beberapa candi dari bahan batu bata yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara yang sebelumnya hanya diketahui dari beberapa prasasti menjadi kini menjadi semakin mudah dipelajari karena beragam peninggalan yang bisa memberikan banyak informasi.

P5 @ Pasir Tanjung

Gowes datar rupanya sepi peminat. Jika gowes nanjak bisa 6-10 orang kali ini hanya berempat saja (ndilalah kersane Allah , pada hari H banyak yang berhalangan 🙂 ), saya, Om Bambang, Om Amin dan Om Arifin . Berempat kami menyusuri percabangan saluran irigasi Tarum Barat Selatan (atau yang lebih populer dengan sebutan Kalimalang) dari Pasir Tanjung ke arah Rengas Bandung.

Mencoba bermain speed karena track yang sangat datar. Terengah2 juga karena ban MTB yang berukuran besar membuat rolling resistance dengan jalan cukup berat. Dalam jangka lama rolling resistance ini akan menyedot tenaga juga. Apalagi jika bahan bakarnya hanya semangkok bubur ayam (meskipun ditambah dengan 3 tusuk sate telur puyuh 😀 ) maka akan cepat habis. Beruntung udara pagi sepanjang saluran irigasi ini masih sejuk, pemandangan menghijau, lalin tidak terlalu ramai sehingga gowesnya bisa agak santai.

Pada segmen Kedungwaringin – Rengasdengklok kami berusaha untuk menambah kecepatan atau minimal konstan karena bertemu aspal mulus. Track mulus tidak boleh disia-siakan karena kami juga mengejar waktu agar sampai rumah sebelum petang. Di track datar, karena minim tanjakan dan obyek menarik di sepanjang jalan maka sedikit alasan untuk beristirahat. Akibatnya kami dipaksa untuk bermain endurance. Salah satu tanda bahwa kami harus beristirahat adalah ketika pantat terasa panas.

Di Tugu Proklamasi dan Monumen Kebulatan Tekad (waktu itu masih dikunci) tidak banyak yang bisa diceritakan. Sedikit kumuh dan aksi grafiti pada tugu semakin mengurangi daya tariknya.

Di rumah alm. Djiauw Kie Siong kami menghabiskan waktu agak lama melihat-lihat memorabilia dan ngobrol dengan generasi ketiga yang saat ini menjaga rumah tersebut sekaligus sebagai narasumber yang mencerikan pernak-pernik penjuangan kakek moyangnya dan lika-liku sebagai minoritas yang pernah menjadi korban generalisasi akibat aksi pengkhianatan PKI. Sosok yang ramah. Kami menikmati obrolan di ruang tamu maupun beranda sambil menikmati semilir angin di pagi hari yang masih sejuk karena matahari tidak terlalu terik.

Berikutnya kami menuju Batujaya dengan menyusuri Citarum dai sebelah barat sungai yang masuk wilayah Bekasi. Track ini relatif teduh dengan pepohonan di sepanjang jalan. Cukup membantu untuk menghemat stamina. Awalnya 24km antara Rengasdengklok – Batujaya akan kami libas sekali jalan. Rupanya selepas Rengasdengklok pantat menjadi semakin tidak bersahabat, semakin cepat panas 😛 Alhasil dalam rentang 24km kami mengambil pitstop dua kali.

Tiba di Situs Batujaya kemi menuju museum dulu. Salut untuk bapak penjaga karena bisa menceritakan sejarah penemuan dan pemugaran situs di Cibuaya dan Batujaya. Kelemahannya adalah ada tiga pos yang meminta sumbangan seikhlasnya tanpa bukti pembayaran. Dalam hal ini saya salut dengan Perhutani yang mengelola Curug Cigeuntis dan Curug Tilu, ada karcisnya 🙂 .

Candi Blandongan dan Candi Jiwa yang berada di situs Batujaya berada kurang lebih 1,5 meter di bawah permukaan tanah/sawah. Konon hal tersebut diakibatkan luapan dan endapan Sungai Citarum. Sedimentasi ternyata bisa meredupkan peradaban. Selain mengubur candi-candi, sedimentasi ini mengakibatkan terbentuknya daratan baru yang membuat posisi pusat Kerajaan Tarumanegara semakin jauh dari laut sehingga aspek strategisnya dari sisi perhubungan laut semakin menurun.

Membaca sejarah peradaban Nusantara

Gowes dan kuliner dua hal yang sulit dipisahkan. Karena menjelajah dan jauh dari rumah, maka asupan kalori harus diisi dari warung di sepanjang jalan. Beruntung kami mendapatkan warung yang representatif. Warung Mak Ate. Di tempat tersebut kami menyantap sop daging. Cukup mak nyuuss!!! Apalagi kondisi lagi kelaparan.

Akhirnya setelah berjibaku sepanjang “jalur neraka” Sukatani – Pilar, lalu masuk jalur peradaban Jababeka – Lippocikarang, jam 15:15 kami sampai rumah. Dua target tercapai. Grand Fondo dan sampai rumah sebelum petang.

Cikarang – Rengasdengklok – Batujaya – Sukatani