Gowes ke Curug Cilalay via Kebun Pinus Antajaya

Track gowes ini meminjam gpx dari Captain Atoe 🙂 Thanks, Capt.

Sudah lama saya bertanya-tanya dan menduga-duga tentang kemungkinan adanya jalur menuju Curug Cilalay dari arah Antajaya. Seminggu sebelumnya ketika gowes ke Kebun Pinus Antajaya saya mengkonfirmasi hal tersebut ke warga lokal dan mereka membenarkan adanya jalur tersebut.

Gayung bersambut ketika ngobrol dengan teman-teman Ecekeble rupanya kapten pernah melibas track tersebut. Dari gpx kapten saya coba menganalisa di mana posisi saya ketika nyasar sekaligus menandai persimpangan ke arah Curug Cilalay yang sebelumnya diinformasikan warga.

Saya berusaha mendapatkan ‘teman seperjuangan’ yang tertarik untuk melibas track yang cukup menantang ini. Dan tawaran ini bersambut dari Kiki, goweser muda dari GAS (Gowes Asyik Syahdu) yang sepak terjangnya sudah terbukti dan teruji. Pilihan ini kemudian terbukti tidak salah 🙂

5:40 kami start dari gerbang Meikarta. Meski Cikarang bagian utara tidak turun hujan ternyata di bagian selatan sebelumnya turun hujan deras. Terlihat dari jalanan yang basah dan becek di beberapa titik. Kami masih berharap agar tidak turun hujan di daerah Cariu – Tanjungsari.

Warung langganan di Babakan Raden dan Cariu tidak ada yang buka sehingga kami hanya sarapan dengan lontong sayur di samping alun-alun Cariu. Semoga energinya cukup untuk menanjak.

Memasuki Antajaya rupanya harapan kami agar tidak turun hujan tidak terkabul. Seperti halnya Bojongmangu, Cariu – Tanjungsari diguyur hujan deras sehari sebelumnya. Mendekati Kebun Pinus Antajaya mulai terlihat tantangan yang akan kami hadapi, tanah basah yang lengket. Sebelumnya sempat berdiskusi dengan Kiki, trip akan kami batalkan jika kondisi track basah. Sebelumnya kapten juga berpendapat agar tidak melibas track ini ketika sebelumnya turun hujan.

Bismillah. Setelah mengisi ulang perbekalan (air) kami membulatkan tekad untuk melibas track ini. Tidak seberapa jauh dari Kebun Pinus kami mulai bertemu tipikal track yang sesungguhnya, basah – licin – lengket – nanjak. Acara dorong mendorong dan tuntun menuntun sepeda pun dimulai.

Sempat nyasar sebentar ketika melewati tanjakan pertama tetapi kemudian kami melakukan re-route berdasarkan gpx yang sudah kami unduh. Sempat melakukan konfirmasi juga dengan petani yang sedang memikul air untuk dibawa ke pondoknya memang benar jalur yang kami lewati menuju ke Curug Cilalay.

Selanjutnya tanjakan demi tanjakanharus dilewati dengan dorong mendorong karena selain curamnya minta ampun tanahnya juga menjadi sangat licin. Konsentrasi tersedot untuk melibas tanjakan tidak ada waktu untuk membersihkan roda-roda yang menebal karena tanah menempel. Hal ini mengakibatkan sepeda menjadi lebih berat karena seolah-olah lengket ke tanah.

Keringat bercucuran, jersey basah kuyup. Acara riding berubah seketika menjadi trekking dan hiking. Beruntung vegetasi rapa menghijau dan gunung-gunung yang berada di sepanjang perjalanan menjadi pengobat capek. Rasa capek sedikit terobati oleh pemandangan indah. Di sini teman seperjalanan Kiki mulai beraksi. Ketika saya sudah tidak memikirkan untuk mengambil foto-foto sepanjang track, Kiki masih rajin mengabadikan momen-momen mendorong ataupun menggowes sehingga segmen perjalanan ini ada ‘barang bukti’nya.

Beratnya track ini bisa dilihat dari pose mendorong yang sampai harus memiringkan badan karena harus melawan gravitasi. Di banyak titik tanjakan memiliki grade antara 20 sampai 46 yang paling ekstrim.

Selain tanjakan ekstrim musuh utama kami adalah track yang basah oleh hujan. Biasanya track di pegunungan tanahnya berpasir sehingga tidak menempel ke ban. Tapi perbukitan atau pegunungan di sekitar Sanggabuana ini tanahnya adalah tanah liat. Ketika basah maka akan menjadi licin dan lengket sehingga ban menjadi donat. Saking besarnya donat yang terbentuk, tanah-tanah tersebut menyangkut di frame sepeda.

Bonus pemandangan dan track agak datar kami dapatkan ketika mencapai elevasi 450mdpl. Dari posisi tersebut kami mendapatkan pemandangan bebas ke arah Pegunungan Sanggabuana, ke arah Green Canyon dengan latar Gunung Sulah dan Gunung Rungking.

Mendekat track turunan ke arah curug kami mencoba untuk mencari jalur baru yang langsung menuju curug. Kiki berinisiatif untuk memeriksa jalur jalan setapak apakah arahnya mendekati curug, Rupanya jalur jalan setapak tersebut malah menjauhi curug, Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti track dari Capt. Atoe.

Track turunan yang ekstrim ini rupanya jarang dilewati orang. Terlihat dari tumbuh-tumbuhan di kanan dan kiri track yang menutupi track. Tumbuhan liar seperti semak dan perdu ataupun tanaman kopi semuanya menjulur ke arah track karena jarangnya orang yang lewat. Lagi-lagi karena track basah dan rusak oleh hujan serta kemiringannya ekstrim di sebagian besar segmen di turunan ini pun sebagian besar kami harus menuntun sepeda. Kami tidak bisa memanfaatkan turunan ini untuk mempersingkat waktu dan menghemat energi.

Sekitar setengah jam disiksa oleh turunan edan ini akhirnya kami mendengar genericik air dan sungai yang mengarah ke Curug Cilalay. Kami memutuskan untuk meninggal kan sepeda di dekat sebuah dangau. Kami meanjutkan perjalanan ke curug dengan trekking. Pilihan yang tepat. Jika kami membawa sepeda maka akan semakin banyak energi terbuang dan sangat merepotkan. 

Jadawal makan siang terlewat. Perut keroncongan. Lupa membawa bekal makanan berat. Beruntung bertemu sebuah warung yang menyediakan minuman hangat dan makanan ringan. Saya menghabiskan dua gelas kopi instan dan beberapa bungkus snack. Lumayan untuk menghangatkan badan dan mengganjal perut.

Selain Curug Mariuk, Curug Cilalay inilah curug terindah yang pernah saya kunjungi. Yang membuat Curug Cilalay terlihat sangat indah adalah airnya yang jernih, strukturnya yang bertingkat-tingkat, bebatuan besar di aliran sungainya, vegetasi yang msih lebat dan terjaga dan minim pengunjung.

Curug Cilalay

Kami tidak melewatkan kesempatan untuk mandi-mandi membersihkan cucuran keringat dan menyegarkan badan. karena berada pada elevasi 400mdpl-an airnya tidak terlalu dingin sehingga membuat siapa saja betah untuk berlama-lama berendam. Segarnya air curug membuat badan terasa lebih fresh dan mengurangi rasa capek.

Perjalanan kembali ke arah Green Canyon rupanya masih menyisakan beberapa tantangan. Medan yang rolling, berbatu-batu besar, becek dan berlumpur di beberapa segmen dengan sawah dan kebun, beberapa kali menyeberangi aliran sungai. Pemandangan di segmen ini juga tidak kalah indah dibanding pemandangan dari segmen pegunungan.

Sungai, sawah dan Gunung Sulah

Premier 5 menyeberang sungai

Menjelang Green Canyon saya menyerah. Kalori benar-benar sudah habis akibat tidak makan siang dan beratnya medan. Bahkan untuk menuntun sepeda pun sempoyongan. Menjelang tanjakan terakhir di samping Green Canyon saya pun dievak. Sepeda diambil Kiki saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kurang lebih 300meter panjang tanjakan ini. Selanjutnya saya bisa menaiki sepeda lagi karena tracknya menjadi gowesable karena sudah dicor.

Satu ekor ayam bakar dan sepiring nasi akhirnya bisa disantap di Green Canyon untuk mengembalikan energi. Beruntung ketika tiba di warung kemudian turun hujan deras.

18:30 akhirnya saya sampai di rumah. badan dan sepeda sama belepotannya oleh lumpur. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Insyaallah di musim kemarau akan menjajal lagi track tersebut 🙂

Curug Cilalay via Antajaya