Saturday fullday ride

Saturday fullday ride atau Saturday morning ride?

Saturday morning ride dan Sunday morning ride adalah dua istilah yang lebih dulu populer di kalangan biker. Bagaimana dengan goweser? Secara pribadi saya lebih mennyukai Satfuri alias Saturday fullday ride. Mengapa Saturday dan mengapa bisa sampai fullday?

Tujuan gowes biasanya adalah kawasan wisata. Di hari Sabtu sebagian orang masih bekerja atau bersekolah dan kuliah sehingga kawasan wisata tidak terlalu ramai. Begitu juga jalanan di sekitar kawasan wisata biasanya tidak terlalu ramai dengan kendaraan sehingga udara lebih fresh dan bisa gowes lebih bebas tanpa harus terganggu dengan kendaraan bermotor.

Fullday karena kawasan wisata yang biasanya menjadi tujuan gowes berada di Karawang, Purwakarta atau Bogor. Lokasi-lokasi tersebut cukup jauh dari Cikarang, lebih dari 80km jika PP dan medannya tidak selalu rata. Bagi kami goweser amatir yang bernafsu besar tetapi tenaga kurang, butuh lebih banyak istirahat. Bisa jadi moving time hanya 5-6jam tergantung beratnya medan tetapi total waktu dari pagi sampai sore.

Sebab kedua, karena gowes kecepatannya tidak terlalu tinggi maka lebih mudah menemukan spot-spot cantik untuk narsis. Spot cantik ini ibarat dewa penolong karena artinya kami bisa break dengan otomatis. Kadang malu juga untuk meminta breaktime ke rombongan gowes.

Sebab ketiga, gowes atau bersepeda sangat boros dengan cairan aka minuman. Karena itu kami lebih sering singgah di warung-warung yang berada di sepanjang jalan. Saya pribadi sangat menyukai kondisi ini karena itu artinya terjadi distribusi pendapatan di sepanjang jalan. Apalagi rute gowes biasanya juga tidak lazim atau jarang dilewati oleh kendaraan bermotor artinya distribusi pendapatan itu bisa menjangkau daerah-daerah lebih pelosok. Apalagi jika gowesnya dalam rombongan besar bisa sumringah pemilik warung karena diserbu goweser yang kelaparan atau kehausan 😀

Sebab kelima, selain jarak yang cukup jauh (menurut ukuran saya), seringkali destinasi yang dituju menghasilkan elevation gain di atas 1000meter alias banyak tanjakan. Tanjakan-tanjakan tersebut membuat goweser amatir seperti saya merasa pegal-pegal di betis dan paha. Hari minggu memberi kesempatan untuk beristirahat dan melemaskan otot-otoh kaki.

Saturday fullday ride

Sekali kayuh empat destinasi terlampaui

Tujuan utama gowes kali ini adalah Penangkaran Rusa di Kec Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Sebuah lokasi wisata yang berada di kawasan Kabupaten Bogor paling timur berbatasan dengan Purwakarta dan Cianjur. Analisa rute di Google Maps menunjukkan bahwa ada beberapa destinasi yang sejalur maupun berdekatan di rute tersebut, diantaranya: Green Canyon, Kahyangan Camping Ground, dan Quiling/Heaven Memorial Park.

Agar trek tidak membosankan maka dirancang agar saat berangkat sedikit mungkin melewati jalan raya. Karena itu begitu keluar dari Bojongmangu dan bertemu Pasar Cariu Baru maka rute kami alihkan ke arah jalan-jalan desa yang berada di kaki-kaki perbukitan yang merupakan kepanjangan dari komplek Gunung Sanggabuana.

Rupanya setelah Pasar Baru Cariu kami salah mengambil belokan, Jalanan berupa gang kecil ternyata buntu berakhir di sebuah saluran irigasi dan sawah yang belum ditanami. Alih-alih kembali ke “jalan yang benar” kami memutuskan untuk menerobos pematang sawah dan mencari jalan pintas ke jalan raya. Begitu sampai di seberang sawah yang merupakan komplek makam ternyata pemandangannya sangat bagus. Episode narsis pun dimulai.

Cul de Sac – jalan buntu

Latihan handling di pematang sawah

Pemilihan rute gowes yang menghindari jalan raya ternyata tidak keliru. Bertepatan dengan awal musim hujan maka di sepanjang jalan pemandangan mulai menghijau dengan latar gunung-gunung kecil dan perbukitan yang bentuknya unik-unik. Selain itu karen rutenya berada di perbukitan dan dataran yang agak tinggi maka di sepanjang jalan kami bisa memandang ke lembah-lembah di sepanjang aliran Cibeet.

Heading to Green Cayon

Awalnya Green Canyon adalah opsional karena rutenya sedikit nyempal dari rute utama. Dari pertigaan ke arah Quiling, Green Canyon masih sejauh 5km lagi. Karena itu saya menawarkan kepada teman-teman jika mereka ingin sekalian gowes ke Green Canyon. Semua orang mengambil opsi tersebut dan kami tidak rugi. Pemandangan sepanjang jalan menuju Green Canyon dari arah Cariu sangat bagus. Beberapa titik menyajikan hamparan persawahan dengan latar gunung dan perbukitan.

Selepas dari Green Canyon, kami menuju ke arah Khayangan Camping Ground untuk selanjutnya ke Quilling. Rute ini menyajikan trek rolling yang cukup menguras energi dan keringat kami. Meski demikian kesegaran udara perbukitan dan perkebunan di sepanjang jalan dan pemendangan yang hijau menyejukkan mata sebanding dengan beratnya medan. Menjelang Kahyangan Camping Ground terdapat sebuat spot yang menarik. Berada di ujung tanjakan dan lokasi yang agak tinggi menyajikan pemandangan terbuka ke arah lembah dan perbukitan di belakangnya. Uniknya di lokasi tersebut terdapat sebuah pohon flamboyan yang sedang berbunga lebat. Warna bunganya oranye kontras dengan dedaunan hijau di sekelilingnya.

Flamboyan dan Polygon (Oranye)

Tanjakan panjang juga terdapat sebelum Kahyangan Camping Ground. Sayang begitu sampai di camping ground tersebut ternyata sedang tutup dan tidak ada penjaga yang bisa ditanya-tanya. Antara camping ground dan Quiling terdapat lagi sebuah spot menarik. Di tempat ini saya sempat mengabadikan Xtrada 4.0 dengan latar lembah Cibeet. Sepeda setia ini layak mendapatkan porsi narsis 😀

Xtrada 4.0 (2008)

Cibeet Valley

Tanjakan panjang menjelang Kahyangan Camping Ground

Kahyangan Camping ground

Di mana ada turunan setelahnya pasti ada tanjakan. Dari Quiling kami meluncur sampai bertemu dengan aliran Cibeet. Setelah Cibeet maka tanjakan landai menyambut sampai bertemu Jalan Raya Cariu – Cianjur. Di Jalan Raya Cariu – Cianjur tanjakannya justru lebih berat dibanding sebelumnya, masih ditambah lagi lalu-lintas cukup padat dengan kendaraan besar .

Melibas turunan @ Quiling

Semua terbayar tuntas ketika kami duduk-duduk di bebatuan sambil merendam kaki di aliran Cibeet atau berbaring di balai-balai di bawah naungan rindangnya pepohonan sambil menikmati gemericik air. Puncaknya ketika ikan goreng pecak disajikan bersama dengan nasi liwet berbungkus daun pisang. Menu sedehana yang terasa nikmat sekali karena energi yang terkuras dan suasana yang sangat mendukung. Kapan lagi bisa menikmati makan siang di bawah rimbunnya pepohonan dengan semilir angin dan gemericik air mengalir.

Bermain air di Cibeet @ Penangkaran Rusa

Merendam kaki

Ikan Goreng bumbu pecak

 

Gowes (lagi) ke Ciherang dan Cipamingkis

Terakhir kali bersepeda ke Ciherang adalah di tahun 2013. Saat itu kami menggowes dari Sentul City dengan tujuan akhir Kota Bunga – Cipanas.

Kali ini kami bertiga, saya, Om Bambang dan Om Yoyok, mempunyai misi menaklukkan Tembok Ratapan. Sebuah segmen menanjak dari ketinggian 500m hingga 1000m hanya dalam jarak 5km. Artinya secara rata-rata dalam 1km menanjak setinggi 100m. Di beberapa titik grade tanjakan bisa mencapai 24%. Maka jangan heran jika di titik-titik tanjakan tersebut motor dan mobil mesti didorong karena beberapa tidak kuat menanjak.

The challengers

5:30 kami berangkat dari T.Cibodas Lippocikarang. Agar lebih fresh kami lewat desa Cilangkara langsung tembus ke Cibarusah. Di Cibarusah kami bertemu dengan Om Ismail yang kemudian menemani kami hingga Sukamakmur.

Di Cibarusah, agar tidak bertemu dengan pertigaan Cibucil dan jalan raya Cileungsi – Cariu,kami mengambil jalur melewati komplek TNI AL. Pemilihan jalur ini spontan saja karena sebelumnya sempat melihat di map bahwa jalur ini bisa langsung menuju pasar Jonggol tanpa harus melewati jalan raya. Jalurnya rindang dengan suasana perkampungan yang banyak memiliki halaman dan pekarangan dengan tanaman buah-buahan. Mangga, manggis, durian, kecapi, rambutan dan pisang adalah jenis buah-buahan yang banyak kami temui.

Melewati pasar Jonggol kami menyusuri DAS Cipamingkis yang cukup landai dengan beberapa rolling yang terbentuk karena memotong punggung-punggung perbukitan. Bukit-bukit ini merupakan bagian dari formasi yang memanjang hingga ke Klapanunggal. Tujuan pertama kami adalah jembatan gantung yang ikonik, Jembatan Gantung Sukanegara.

Jembatan ini menghubungkan dua desa yang terpisah oleh aliran Cipamingkis. Sungai di bawahnya sangat lebar tetapi dangkal. Batu padas yang menjadi dasar sungai tampak menyembul di beberapa tempat berpadu dengan kepalan dan bongkahan batu-batu andesit yang terbawa aliran sungai dari gunung-gunung di atasnya. Karena dangkal dan lebar, dasar sungai menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk bermain air. Bahkan kita bisa mengayuh sepeda di sungai.

Jika ingin mendapatkan foto-foto yang bagus sebaiknya ke sini di pagi hari saat masih sepi. Di sore hari biasanya sangat ramai dengan pengunjung sehingga kita akan kesulitan mengambil foto-foto yang bersih.

Setelah pasar Dayeuh dan Jembatan Gantung Sukanegara, tanjakan mulai terasa. Dayeuh – Sukamakmur adalah segmen pemanasan. Sementara Sukamakmur – Jogjogan adalah segmen ujian. Jogjogan – Ciherang adalah segmen pembuktian. Membuktikan apakah kita akan meratap di tanjakan demi tanjakan yang akan mengantarkan kita ke ketinggian 1000mdpl.

Yang unik dari segmen Jogjogan – Ciherang ini adalah dua tanjakan ekstrim yang ada di awal dan di akhir segmen. Di awal segmen grade tanjakan adalah 23% dan di akhir segmen grade tanjakan adalah 24%. Apa artinya tanjakan dengan grade di atas 20%? Saat melibas tanjakan tersebut kita harus benar-benar membungkuk, kedua tangan sekedar handling tidak bisa lagi terlalu mencengkeram handlebar untuk membantu gowesan karena akan membuat roda depan terangkat (sepeda MTB).

Apa yang didapat setelah sampai Ciherang? Ke kanan kita akan menemukan Curug Ciherang, ke kiri kita akan menemukan Curug Cipamingkis, Jika kita sudah malas ke kedua curug tersebut maka kita bisa mendapatkan foto pemandangan ikonik dengan latar Lembah Cipamingkis, Gunung Batu dan tebing-tebing gunung.

Apakah Tembok Ratapan memang ekstrim? Ya. Karena beberapa motor dan mobil bermuatan penuh yang melewati segmen ini harus dibantu dorong atau penumpang diturunkan untuk mengurangi beban. Saat kami turunan, tanjakan curam tadi pun berubah menjadi turunan curam. Gaya pengereman harus ditambah agar sepeda tidak meluncur terlalu cepat. Gaya pengereman yang diatas rata-rata dan durasi yang lama membuat rumah rem dan cakram rem menjadi sangat panas. Saat behenti di Jogjogan, kami tergoda untuk melihat seberapa panas. Kami menuang air ke tutup botol minuman lalu kami teteskan ke cakram rem. Cess…!!! Air langsung menguap saat menyentuh permukaan cakram rem.