Bersepeda Lippocikarang – Jonggol – Sodong

Inginnya berangkat pagi-pagi, apa daya beberapa peserta harus mengatasi berbagai persoalan di pagi hari. Mulai bangun kesiangan, siklus alam, si bocah yang nempel ga mau lepas, dlsb.

Alasan kita ingin berangkat pagi-pagi karena ingin menghemat tenaga, agar di trek tanjakan ga terlalu panas. Apalagi beberapa minggu terakhir ini suhu udara di Cikarang dan sekitarnya bisa mencapai 37 derajad Celcius.

Jalur berangkat dilewatkan Cicau Cilangkara untuk menghindari pertemuan dengan angkot, truk dan dump-truck. Nyatanya karena segmen jalan raya Cikarang- Cibarusah ada yang dicor dan dilakukan buka tutup maka jalur belakan via Cicau ini pun ramai oleh berbagai kendaraan yang menghindari kemacetan. Tidak sesepi yang kita bayangkan sebelumnya dan ngebul karena kemarau.

Hangatnya cuaca mulai terasa saat kami melibas segmen Cibarusah – Mengker via saluran irigasi. Segmen ini minim vegetasi karena memang merupakan persawahan. Separuh segmen masih makadam sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk melibasnya, butuh effort lebih :D. Sengaja dilewatkan segmen ini untuk menghindari ruwetnya pasar Cibarusah.

Selanjutnya segemen Alun-alun Jonggol – Jonggol Garden menawarkan tanjakan yang agak landai tetapi panjang. Beberapa peserta mulai overheat, rehat dan mengisi cairan pendingin pun tak terelakkan. Untungnya di segmen ini vegetasi cukup rapat dan minim kendaraan. Menjelang Jonggol Garden beberapa peserta mengalai kram kaki. Cukup lama kami beristirahat sebelum sampai di Jonggol Garden yang ternyata tidak sekeren yang kami bayangkan.

Jonggol Garden – Sodong adalah segmen hura-hura. Turunan panjang, rimbun, minim kendaraan sehingga kami bebas menggelindingkan sepeda. Menjelang gapura Jonggol Kota Santri kami putuskan untuk mengambil jalan pintas menembus persawahan dengan single track. Benar-benar single jalannya sampai akhirnya kami menemukan jembatan bambu darurat. Benar-benar darurat karena batang-batang bambu digeletakkan begitu saja. Juga  tanpa anyaman/gedek yang memudahkan pejalan kaki. Saat kami melwatinya satu persatu jembatan terasa mentul-mentul, bergoyang-goyang.

Awalnya kami menempuh segmen di atas untuk menghindari tanjakan ternyata menjelang Sodong kami masih harus melahap beberapa tanjakan yang membuat beberapa peserta overheat lagi 🙂 Untungnya track berupa jalan cor beton sehingga effort yang dikeluarkan menjadi lebih ringan. Kami sering bercanda ini adalah goweser yang “nafsu besar tenaga kurang” 😀 Hahaha.. mentertawakan diri sendiri adalah ciri orang sehat (mental).

Sampai mata air Sodong kok ga mandi? Rugi banget!!!

Gowes jangan sampai meninggalkan sholat

Setelah menyeberang jembatan bambu

Sawah menghijau, Sodong

Otw to Jonggol Garden

TTB di tanjakan, Sodong

Warung sticker, Sodong

Gapura Jonggol Kota Santri

Cul de Sac – Jembatan bambu bergoyang, Sodong

Bersepeda (lagi) Lippocikarang – Curug Cigentis

Setelah 7 tahun  akhirnya berkesempatan lagi untuk bersepeda ke Curug Cigentis. Sebenarnya ini adalah rute gowes yang menarik karena di ujung trip terdapat obyek wisata dan obyek kuliner plus bisa mandi-mandi untuk membasuh keringat yang bercucuran di sepanjang jalan.

Rute yang kami pilih sengaja menghindari jalur Buper Karangkitri karena rolling dan tanjakannya cukup menguras tenaga. Kami ingin menyimpan tenaga untuk melibas 3 km tanjakan menjelang curug. Ini rombongan portugal (perkumpulan orang tua ugal-ugalan) yang tidak lagi muda, 40+ semua. Bahkan kami sering bercanda, nafsu besar tenaga kurang.

Pilihan rutenya adalah Lippocikarang – Cicau – Hutan Jati – Pasir Kupang – Rawa Bedeng – Medalkrisna – Raya Cariu-Loji. Rute ini relatif datar dengan sedikit rolling. Segmen yang agak menguras tenaga adalah sebelum dan setelah Rawa Bedeng. Meski rolling tetapi masih enjoyable untuk ukuran 40+. Secara umum trek sangat gowesable, mayoritas adalah jalan beton dengan beberap segmen yang rusak dan pecah-pecah. Andai jalannya mulus-lus pasti trek ini akan menjadi favorit teman-teman R/B.

Rute gowes Lippocikarang (Taman Cibodas) – Curug Cigentis

Jalan Raya Cariu-Loji cukup datar. Segmen ini lebih menarik dan lebih bersih (udaranya) dibanding Jalan Raya Telukjambe-Pangkalan yang banyak dilalui dumptruck pengangkut kapur dan banyaknya dapur-dapur pengolahan batu gamping yang memakai bahan bakar ban bekas yang mengeluarkan asap hitam pekat. Di segmen ini ada dua tanjakan panjang dan landai dimana salah satunya cukup curam yaitu Tanjakan Lamping. Di Tanjakan Lamping ini terdapat pos Lamping Squad yang berisi anak-anak muda yang bermaksud membantu kendaraan yang tidak kuat atau butuh ambil napas untuk melibas tanjakan ini, mirip tanjakan Sitinjau Lauik 🙂

Kami sengaja menghindari Pasar Loji yang terkenal ruwet. Kami lewat jalur belakang yang melewati perbukitan. Sejuk dan rindang tetapi cukup menguras energi karena rolling. Jalur belakang ini sudah dicor sehingga sangat gowesable. Tujuh tahun lalu, jalur belakang ini masih berupa jalan makadam dan jalan tanah. Di area ini mulai banyak dibangun obyek-obyek wisata buatan yang memanfaatkan lansekap unik perbukitan dan bebatuan penyusun bukit, salah satunya adalah Cipaga Stone Park.

Di Kampung Turis kami beristirahat untuk memulihkan stamina. 3 km berikutnya adalah summit attack. Rencananya semua tanjakan akan dilibas dengan cara estafet, alias ngaso/istirahat di ujung tanjakan lalu jalan lagi 😀 Kuncinya adalah sabar dan tidak terlalu memaksakan diri, menjaga ritme gowesan dan denyut jantung. Satu persatu tanjakan berhasil kami taklukkan. Dibanding 7 tahun lalu, treknya sangat gowesable. Sudah dicor beton semua. Ini menjadi penyemangat kami untuk sampai ke curug karena kami tahu pulangnya kami akan mendapat bonus turunan yang super-panjang.

Tiket masuk 20.000 rupiah. Debit curug tidak terlalu besar saat kemarau, tetapi justru lebih asyik berendam dan menikmati guyuran air curug. Punggung dan kepala serasa dipijit2 oleh guyuran air. Segaarrr!!

Menu makan siang di Curug Cigentis

Deretan gazebo yang eksotis

I made it!

Curug Cigentis dari kejauhan