Gowes pulang kampung Makassar – Parepare

Tidak ada penerbangan dinihari dari Surabaya ke Makassar. Jam 06:00 pesawat lepas landas dari Bandara Juanda menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Jam 8:30 pesawat mendarat. Jam 09:00 bagasi sampai. Ukurannya yang besar membuat ia tersangkut di ban berjalan. Aku meminta bantuan tukang ojek untuk membawa kardus besar berisi sepeda ke lapangan parkir karena tidak ada jalur trolley ke sana.

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Satu jam kuperlukan untuk merangkai dan men-setting sepeda. Jam 10:00 Polygon Astroz kunaiki ke arah jalan trans-Sulawesi. Mentari sangat terik siang itu. Aku yang masih memakai celana jeans langsung bermandi keringat. Di sebuah masjid aku berganti pakaian dengan jersey dan celana pendek.

Polygon Astroz kukayuh menyusuri padatnya jalan raya Maros. Susah payah mencari udara segar diantara padatnya kendaraan. Belum seberapa lama mengayuh perutku terasa keroncongan karena tidak sempat sarapan. Untungnya di tasku terdapat bekal untuk 2x makan.

Astros di depan masjid raya Maros

Astros di depan masjid raya Maros

Sambil mengayuh mencari tempat rindang, samar-samar kudengar suara berisik dari sepedaku. Rupanya beban yang terlalu berat membuat pannier tertekan ke arah roda dan bergesekan dengan ban. Pantas gowesan terasa semakin berat.

Di bawah rimbunnya pohon akasia aku beristirahat untuk makan siang dan mencari sesuatu untuk menahan pannier agar menjauh dari roda. Boncengan sepedaku memang tidak dirancang untuk touring. Boncengan tersebut kuambil dari sepeda Polygon Sierra lalukupasangkan di Astroz. Beruntung Astroz memiliki eyelet untuk memasang boncengan.

Dua batang dahan kering yang terdapat di tepi jalan kujadikan horisontal bar untuk menahan pannier. Dahan tersebut kuikat dengan tali rafia pengikat bontot. Kedua dahan tersebut mampu menahan pannier dan menjauhkannya dari roda.

Astroz kembali kukayuh menyusur jalan raya Pangkajene. Teriknya matahari terasa menusuk ubun-ubun dan membuat keringatku semakin bercucuran. Cuaca yang sangat panas menurukan daya tahan dan ritme gowesan. Tiap 30 menit aku mencari-cari tempat beristirahat untuk berteduh dan memulihkan stamina.

Segmen terberat adalah saat berada di areal tambak Pangkajene. Panasnya luar biasa. Karena tidak ada penerbangan dinihari aku kehilangan golden time antara jam 6:00 ~ 10:00. Akibatnya aku berada di areal pertambakan Pangkajene ketika matahari sedang terik. Andai bisa berangkat lebih pagi tentu akan melewati area ini saat mentari tidak terlalu panas.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s