Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB (unofficial trip report)

Awalnya saya agak meremehkan trek gowes Kolozal #13 ini. Cuma 28 kilometer kenapa diberi slot waktu antara jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Mungkin ini salah satu trek gowes kolosal yang paling pendek. Ternyata pemberian slot waktu gowes selama 9 jam tersebut memang beralasan.

Basecamp gowes bertempat di masjid Raudhatul Faizin atau biasa dikenal dengan nama Masjid Kubah Hijau, Cariu. Fyi, Kecamatan Cariu sudah dimekarkan dan masjid tersebut kini berada di Kecamatan Tanjungsari.

Briefing singkat diberikan sebelum acara gowes dimulai. Trek gowes ini dibagi menjadi 4 segmen. Masing-masiing segmen panjangnya 7 kilometer. Tujuh kilometer pertama adalah indikator bagi kemampuan fisik dan semangat. Jika merasa tidak kuat dan kurang bersemangat menyelesaikan, bisa mengambil jalur cepat ke arah kanan, alias separo piring saja.

Dipimpin oleh Captain Atoe , 150+ orang goweser mulai menyusuri jalan raya Cariu – Cikalongkulon lalu berbelok ke arah Quiling. Baru 3 km menggowes kami sudah dihajar oleh tanjakan Quiling. Sebuah tanjakan panjang dari pintu gerbang Heaven Memorial Park (Quiling) sampai dengan pertigaan makadam di bagian belakang atas memorial park ini. Peserta gowes langsung berguguran di segmen ini. Meski demikian trek masih gowesable karena berupa jalan aspal dan paving block.

Heaven Memorial Park aka Taman Makan Quiling

Heaven Memorial Park aka Taman Makan Quiling

Setelah istirahat dan mendapat pembagian jatah makan siang maka gowes dilanjutkan menyusuri trek campuran tanah dan makadam. Jalan yang rusak karena hujan deras hanya menyisakan single track yang bisa dilewati sehingga kadang harus bergantian dengan motor yang datang dari kampung di atas. Harus diakui segmen ini cukup berat dan menguras tenaga. Saya terengah-engah mencoba menaklukkan beberapa tanjakan. Badan kurang fit dan ritme gowesan belum ketemu. Di ujung tanjakan saya KO.

KO

KO

Bertemu dengan jalan beton mestinya merupakan kenikmatan tersendiri akan tetapi kemiringannya yang tidak lumrah membuat kami harus menyerah. Beberapa kali saya harus berhenti untuk menurunkan frekuensi detak jantung. Belum 5 kilometer sudah ngos-ngosan seperti ini. Ketika kembali bertemu dengan tanjakan plus bekas longsoran yang merusak jalan saya harus menyerah. Sambil beristirahat saya memandang ke bawah menyaksikan para goweser rontok dihajar tanjakan dengan latar lembah Cibeet yang terlihat menghijau di kejauhan.

Rontok di tanjakan

Rontok di tanjakan

Setelah bersusah payah menyelesaikan etape pertama sepanjang 7 kilometer, di ujung tanjakan terjal terakhir kami disambut dengan pisang segar dan pisang goreng. Mirip dengan etape Sentul – KM0šŸ™‚ Karena berpikir pisang segar yang digantung BDD saya langsung mengambil dua buah. Setelah dua pisang mengisi perut saya mengambil pisang segar ketiga. Rupanya pisang ini bagian dari servis yang disediakan panitia alias gratis. Waduhh… saya mengambil jatah orang dong. Merasa bersalah sampai akhirnya saya teringat dua orang rekan kami yang tidak jadi berangkat. Saya menghibur diri, dua pisang itu adalah jatah dua orang rekan yang tidak jadi berangkat.

Pitstop etape 1

Pitstop etape 1

Sementara itu beberapa goweser yang sampai duluan memberi semangat bagi rekan-rekannya yang masih di bawah untuk menaklukkan tanjakan terakhir. Momen ini semakin fun ketika dari atas tiba-tiba muncul gerombolan sapi yang hendak digembalakan. Beberapa sapi yang masih kecil tampak ketakutan dan tidak familiar dengan banyaknya orang dan sepeda di sepanjang jalan. Goweser di bawah tanjakan pun sama kagetnya dengan gerombolan sapi yang agak liar. Beberapa orang harus menepi selain untuk memberi jalan juga takut keseruduk sapišŸ˜€

Selah cukup beristirahat Captain Atoe memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalanan. Bonus turunan menjelang perkampungan. Di sebuah pertigaan dipasang rambu penunjuk arah. Selepas kampung kami mulai bertemu dengan single track yang menyusuri perkebunan dan hutan milik Perhutani. We love this segment karena sebagian besar berupa turunan.

Turunan

Turunan

Turunan lagi

Turunan lagi

Merasa sayang melewatkan pemandangan yang menghijau dan rimbun, beberapa kaliĀ  saya menyempatkan diri untuk turun dari sepeda dan mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan maupun goweser yang sedang melintas. Akhirnya saya semakin tertinggal dari rombongan terdepan. Turunan masih mendominasi tek ini sampai akhirnya bertemu dengan sebuah sungai kecil. Di seberang sungai tanjakan panjang siap menanti.

Turunan sungai kecil

Turunan sungai kecil

Maskot trek gowes ini adalah segmen antara sungai besar berbatu dengan pondok di hutan pinus. Sembilan puluh persen segmen ini dilalui dengan TTB karena kemiringannya sangat curam dan trek yang sulit digowes. Selain licin karena sisa hujan belum kering akibat rimbunnya pepohonan menghalangi sinar matahari, bekas air hujan yang mengalir membuat trek menjadi rusak menyisakan semacam parit yang tidak bisa digowes. Entah berapa kali saya dan teman-teman seperjalanan beristirahat untuk mengumpulkan dan memulihkan sisa tenaga yang dikuras tanjakan.

Sungai deras berbatu besar

Sungai deras berbatu besar

GGB dan TTB menyeberang sungai

GGB dan TTB menyeberang sungai

GGB dan TTB

GGB dan TTB

Segmen ini merupakan hutan produksi dan lindung milik Perhutani. Vegetasinya cukup rapat. Kadang mengingatkan saya dengan Taman Hutan Raya Juanda di Bandung. Tentu saja kondisinya lebih perawan. Hutan ini berada di sisi selatan dari Gunung Sanggabuana. Bahkan puncak dari segmen ini yaitu pondok hutan pinus tepat berada di sebelah selatan dari Cigentis.

Karena terfokus pada bagaimana melewati tiap tanjakan tidak banyak momen dan pemandangan yang bisa diabadikan di sepanjang trek ini. Mengambil gambar memang merepotkan dan memakan waktu.

Semangat bro!

Semangat bro!

Semangat om!

Semangat om!

Menjelang hutan pinus vegetasi semakin rapat dan rimbun. It’s a truly tropical rain forest. Ternyata tidak seberapa jauh dari Cikarang masih tersisa sepetak hutan hujan tropis yang sebagian besar hanya bisa ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Pulau Jawa ini memang sudah terlalu sumpek. Tidak banyak lagi petak hutan hijau dan rimbun yang tersisa.

Hutan hujan troips

Hutan hujan tropis

Hutan hujan tropis

Hutan hujan tropis

Para pemenang yang berhasil menaklukkan tanjakan panjang berhak mendapatkan reward berupa makan siang yang sangat nikmat di atas hijaunya rerumputan dan rimbunnya hutan pinus yang beraroma segar. Sesekali bau getah pinus yang sedang disadap memberikan aroma spicy.

Jersey yang basah kuyup oleh keringat menjadi tidak nyaman ketika dipakai beristirahat dan makan siang. Saya dan beberapa goweser memilih untuk bertelanjang dada dan menjemur jersey. Beberapa goweser yang membawa jersey cadangan memilih untuk berganti dengan jersey baru yang masih kering. Keputusan yang tepat karena inilah titik tertinggi. Segmen berikutnya pasti tidak seberat dan sesadis ini.

Makan siang

Makan siang

Setelah titik tertinggi 600+ mdpl, segmen berikutnya didominasi oleh turunan dan trek rolling. Kami menyusuri single track yang berada di punggung-punggung bukit. Single track didominasi oleh tanah padat dan tanah berlumpur di beberapa bagian. Lumpur berasal dari sisi hujan di hari sebelumnya yang tidak kering karena rimbunnya pepohonan atau berupa cekungan yang selalu basah.

Asyiknya turunan sering kali memakan korban. Di rombongan saya setidaknya dua orang goweser nyungsep ke semak-semak karena pengereman yang terlalu kuat sehingga roda depan mengunci. Andai tenaga tidak terkuras di segmen sebelumnya kami pasti lebih enjoy di segmen ini. Sebagian besar lintasannya gowesable.

Turunan asyik

Turunan asyik

Salah satu segmen paling menarik berada di sebuah bekas longsoran di lereng bukit. Sebuah single track sempit dibuat di bekas longsoran dengan penahan longsor seadanya. Andai turun hujan deras pasti single track ini akan hilang terkikis oleh air hujan dari atas bukit. Rolling cantik dan landai berujung di puncak bukit yang memberikan akses pemandangan ke sisi selatan Gunung Sanggabuana.

Single track melintasi bekas tanah longsor di lereng bukit

Single track melintasi bekas tanah longsor di lereng bukit

A beautiful rolling track

A beautiful rolling track

Segmen turunan terkahir menjelang kampung Cibeureum ditempuh ketika hujan rintik. Turunan makadam yang curam dan licin oleh lumpur dan air hujan membuat ban sering kehilangan grip. Ngeri-ngeri sedap saat melibas trek ini. Jika tidak pandai-pandai memilih lintasan dan menyesuaikan braking power dengan cengkeraman ban terhadap lintasan pasti akan slip lalu terjatuh dari sepeda. Beberapa goweser yang ciut nyali termasuk saya memilih untuk menuntun sepeda pada beberapa segmen dengan kemiringan yang ekstrim.

Setelah kampung Cibeureum terdapat ujian terakhir berupa tanjakan panjang menjelang Puncak Pass Cikalongkulon. Ambisi untuk melibas tanjakan ini dengan sempurna gagal total karena stamina sudah menurun meski sebelumnya sempat beristirahat. Begitu bertemu dengan jalan raya Cikalongkulon – Cariu maka bonus turunan sepanjang 7 kilometer tersedia di depan mata.

Kacamata yang sebelumnya di lepas kini dipasang lagi. Lampu belakang dinyalakan. Bag cover untuk menahan lumpur dirapikan. Hujan semakin deras membuat jalan menjadi berlumpur karena di sepanjang jalan banyak penambangan batu dan tanah. Sesekali lumpur melewati celah di bagaian bawah kacamata. Kecepatan dijaga tidak melebihi 40 km/jam karena selain jalan licin juga khawatir kehilangan kendali. Bahu, lengan dan jari-jari tangan terasa kaku dan pegal-pegal karena braking dalam jangka waktu yang lama.

Alhamdulillah, jam 15:45 sampai dengan sehat dan selamat di masjid Raudhatul Faizin Tanjungsari, Kab. Bogor. Segera mengambil baju ganti dan mandi untuk membersihkan diri. Ganasnya tek ini membuat peserta terakhir baru sampai di garis finish jam 19:30. Tiga jam empat puluh lima menit di belakang saya. Sementara peserta tercepat di bawah komando Captain Atoe sampai finish jam 14:30. Edan!!

Trek Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB

Trek Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB

Epilog

Di kelompok gowes saya, Ecekeble, ada sebuah trek gowes yang dijuluki “trek gowes kelas olimpiade” karena kemiringan dan lintasannya yang berat sehingga sulit digowes yakni trek Gobang, Rumpin, Bogor. Begitu selesai melibas trek gowes Kolozal #13 ini maka saya berani mengatakan bahwa trek gowes Kolozal #13 ini di atas trek kelas olimpiade Gobang. Trek gowes Kolozal #13 ini merupakan gabungan dari trek KM0 Sentul, Gobang dan Kampung Awan.

Terima kasih kepada teman-teman dari komunitas sepeda Cikarang MTB yang rutin menyelenggarakan acara gowes kolosal dan selalu menyajikan trek-trek cross country baru yang menantang, memacu adrenalin dan menyenangkan (menyiksa tetapi membuat ketagihan).

2 responses to “Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB (unofficial trip report)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s