Bersepeda untuk hidup|Bike for life

Dalam perjalanan pulang kampung ke Tanrutedong, Sidenreng Rappang di bulan Oktober 2013, mobil yang kutumpangi singgah di sebuah warung di tengah sawah setelah kota Pangkajene, Sidrap. Kesempatan itu kulakukan untuk mengamati dan mengabadikan mobil-mobil angkutan umum yang melintasi Trans-Sulawesi.

Ketika sedang asyik mengamati mobil-mobil yang lalu lalang mataku tertuju kepada sebuah pemandangan menarik. Sebuah becak gerobak yang penuh dengan barang-barang bekas dengan seorang anak kecil di atasnya melintas di depanku dengan dikawal sebuah sepeda butut yang dikayuh seorang perempuan dengan membonceng anak perempuan.

Bike for life - Bersepeda memburu rejeki

Bike for life – Bersepeda memburu rejeki

It’s definitely bike for life. Aktifitas bersepedaku dengan jargon bike to work menjadi tidak ada apa-apanya dibanding kegigihan mereka dalam mengayuh pedal untuk mengumpulkan keping-keping demi keping, lembar demi lembar dan onggok demi onggok barang-barang bekas yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Di saat banyak orang memilih jalan pintas dengan bermalas-malasan dengan menadahkan tangan meskipun harus menggadaikan izzah/kehormatan dengan meminta-minta, mereka gigih untuk mengumpulkan rejeki dengan cara yang terhormat. Sungguh aku kagum dengan semangat, kegigihan dan perjuangan mereka dalam menjemput rejeki.

De Javu

Akhir Desember 2013 aku kembali pulang ke Tanrutedong. Malam itu aku mengeluarkan motor dari garasi bergegas ke masjid agar tidak ketinggalan sholat Maghrib berjamaah. Di sebuah tanjakan pendek di pertigaan Bila dalam keremangan senja aku menyaksikan sebuah pemandangan yang mengagetkan.

Seorang anak kecil sedang berjuang mendorong gerobak yang sarat muatan di tanjakan tersebut. Aku kembali terkejut karena mereka adalah keluarga pengumpul barang bekas yang pernah kulihat dua bulan yang lalu. Luar biasa daerah jelajah mereka karena lokasi sekarang berjarak 30 km dengan lokasi ketika aku pertama kali melihat mereka.

Aku benar-benar  terkejut karena bisa melihat kembali aksi kegigihan mereka. Dan yang paling mengejutkan adalah bocah kecil yang duduk kulihat membonceng di atas gerobak kali ini bertukar posisi menjadi si pendorong gerobak. Sementara si ibu dengan setia menjadi pengawal di belakang dengan anak perempuannya.

Sampai di masjid aku masih terbayang-bayang dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Begitu selesai sholat motor kugeber pulang. Sarung kulepas dan kuambil dompet. Motor kupacu untuk menyusul rombongan tersebut. Di depan Puskesmas Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Segera motor kuputar ke arah Alfamidi. Dua buah Sariroti rasa keju dan coklat serta sebungkus Oreo kini berada dalam kantong plastik.

Motor kembali kugeber untuk kembali mengejar rombongan tersebut. Di depan SPBU Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Si ibu yang berada di belakang kupepet dengan motor. Kantong plastik kuberikan ke si ibu sambil berkata, “Silahkan, Bu”. Si ibu menjawab, “Terima kasih, Pak. Aku menimpali,”Hati-hati, Bu”. Motor kembali kuputar arah dan bergegas pulang.

Dua bungkus roti dan sebungkus Oreo adalah apresiasiku atas kegigihan mereka. Bukan karena kasihan.

3 responses to “Bersepeda untuk hidup|Bike for life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s