Bersepeda menyusuri Ciletuh Geopark

Prolog

Bukan perkara yang mudah untuk mencapai Ciletuh yang eksotis itu. Perjalanan dari Jakarta akan memakan waktu sekitar 8 jam, sedangkan dari Bandung sekitar 7 jam.

Akan tetapi, bagi orang-orang yang berimajinasi tinggi seperti pecinta geopark, masalah waktu dan buruknya infrastruktur yang ada saat ini bukanlah tantangan besar.

Anda cukup meluangkan waktu 3 atau 4 hari untuk menjelajah kawasan geopark atau taman bumi yang superkomplit ini.

Tiga paragraf dari sebuah artikel berjudul “Teluk Ciletuh, Sukabumi – Sepenggal kisah pembentukan pulau Jawa”, benar-benar mewakili deskripsi tentang Ciletuh. Inilah salah satu trek gowes yang paling jauh, paling lama dan paling melelahkan perjalanan ke lokasinya. Berangkat dari Cikarang Barat pada pukul 22:45 kami langsung berhadapan dengan kemacetan di jalan tol plus melibas jalan alternatif di Bogor untuk menghindari kemacetan di Caringin sehingga waktu tempuh bertambah. Jam 09:00 kami baru sampai di Paninjauan.

Kami bukanlah orang-orang yang berimajinasi tinggi seperti dilukiskan paragraf kedua, tetapi kami juga bukan orang-orang yang buta akan keindahan alam. Suguhan tebing-tebing batu menjulang vertikal dengan deretan curug dan lembah berbentuk tapal kuda di bawah tebing dengan latar Samudera Indonesia `pasti akan menggoda siapa saja, termasuk kami.

Jika di paragraf ketiga mengatakan diperlukan 3-4 hari untuk menjelajah maka kami mampatkan menjadi 1 hari saja dengan target mengunjungi 9 curug. Serakah dan ambisius mungkin itu kata yang paling tepat. Well, keserakahan dalam mengagumi keindahan alam tidak seburuk keserakahan dalam mengumpulkan kekayaan materi yang seringkali harus menghalalkan segala cara.

Pemandangan Ciletuh Geopark dari arah Paninjauan

Pemandangan Ciletuh Geopark dari arah Paninjauan

The Trip

Dari sebuah villa sederhana yang berada di puncak tebing vertikal berketinggian 200 meter dari dasar lembah kami mengawali gowesan pada hari Sabtu, 16 November 2013. Rasa kantuk karena tidur yang kurang nyenyak dan nyaman selama perjalanan langsung hilang begitu kami menyaksikan pemandangan indah amfiteater alam Teluk Ciletuh.

Di belakang villa ada sebuah hotspot berupa bongkahan batu persis di tepi tebing yang sering dijadikan tempat untuk mengambil gambar Teluk Ciletuh dari arah Paninjauan. Perempuan cantik akan tetap menarik meski tanpa kosmetik. Begitu juga Ciletuh, tetap mempesona dalam keremangan cahaya pagi akibat cahaya matahari tertutup awan tebal.</pIMG_2706>

Setelah melakukan sesi foto keluarga di pinggir tebing dan seremoni  kecil kami bergegas mengayuh sepeda karena sudah meleset tiga jam dari planning. Sepeda digeber pada jalan beraspal kasar. Mungkin marshall terlalu bersemangat sehingga powernya keluar berlebihan sampai memutuskan rantai. Parahnya, rantai yang putus tersangkut ke RD sehingga dropout sampai bengkok. Beruntung, operasi kecil-kecilan mampu mengembalikan dropout ke bentuk semula.

Sprint dengan latar lembah Ciletuh

Sprint dengan latar lembah Ciletuh

Loss time beberapa menit justru memompa semangat para goweser. Sprint dan kejar-kejaran berulang kali terjadi pada lintasan dengan latar lembah dan tebing di seberang.

Regrouping terjadi secara alami ketika bertemu lintasan makadam terjal di areal perkebunan sawit. Lintasan rolling dengan makadam runcing dan tanah yang becek membuat handling menjadi sulit. Bahkan saat turunan banyak yang memilih untuk menuntun sepeda karena tidak bernyali dengan intaian makadam runcing yang siap menyobek setiap bagian tubuh yang jatuh ke atasnya. Tak ada lagi sprint dan kejar-kejaran ketika bertemu dengan model lintasan yang sulit digowes seperti ini.

TTB di tanjakan

TTB di tanjakan

Makadam runcing, jalanan becek dan licin, ban donat plus trek yang naik turun menjadi tantangan berat trek ini. TTB yang biasanya menjadi barang aib tiba-tiba menjadi hal lumrah. Beberapa orang masih malu-malu tertangkap kamera sedang menuntun sepeda sehingga menundukkan kepada sementara yang lain nothing to lose, pasang senyum lebar J.

Memandang Samudera Indonesia dari atas bukit

Memandang Samudera Indonesia dari atas bukit

Tantangan berikutnya adalah menyeberangi Cikanteh dengan cara shortcut. Mengambil jalur normal akan terlalu jauh memutar sedangkan kami harus menghemat waktu. Single track miring segera menyambut kami. Sadel diturunkan konsentrasi ditambah. Jalur yang biasa sepi tiba-tiba ramai dengan bunyi gesekan brakepad dengan rotor. Mendekati sungai single track semakin curam dan licin. Yang tidak bernyali memilih untuk TTB.

Bermain air di Cikanteh

Bermain air di Cikanteh

Kesegaran aliran Cikanteh segera menyambut kami. Kesegaran sungai memberi efek sugesti kepada kesegaran tubuh. Narsis, membersihkan sepeda, merendam kaki atau  bahkan bersepeda di di aliran sungai dengan dasar yang rata.

Dasar sungai yang rata merupakan batuan yang masif. Sepertinya bukan batu padas tetapi kami tidak tahu apa jenisnya, granit? Ketika kami menengok kembali tebing sungai yang baru kami turuni terlihat bahwa ia juga sebuah bongkahan batu raksasa. Mungkinkah ini yang dimaksud kerak samudera yang terangkat ke permukaan? Andai ada geologist di rombongan ini pasti akan banyak cerita ilmiah sepanjang jalan.

Kesegaran dan keceriaan yang diperoleh dari aliran deras sungai jernih tidak berlangsung lama. Tanjakan curam di seberang sungai langsung menghadang. Ya..ya.., kami lupa bahwa tebing sungai biasanya simetris ketinggiannya. Jika kita baru saja melewati turunan curam di satu sisi sungai maka tanjakan curam akan menghadang di seberang sungai.

DDB alias dorong-dorong bike. Mendorong sepeda menaiki tebing Cikanteh

DDB alias dorong-dorong bike. Mendorong sepeda menaiki tebing Cikanteh

Inilah salah satu segmen yang paling menguras tenaga. Stamina yang menurun karena dihajar tanjakan semakin tersedot dengan acara DDB, dorong-dorong bike. Untuk tanjakan curam seperti ini TTB tidak akan bisa membawa sepeda ke atas. Sepeda harus didorong dengan posisi goweser agak kebelakang.

Segmen DDB ini seperti menguji kesabaran kami. Cuaca yang sebelumnya mendung tiba-tiba menjadi terik selama beberapa saat. Tak lama kemudian rintik hujan tiba-tiba datang. Bergegas kami memakai raincoat. Raincoat di tanjakan curam dengan posisi DDB sebenarnya bukan ide bagus. Orang-orang segera kepanasan dan kegerahan. Setelah bersusah payah mendrong sepeda dalam kondisi kegerahan terbungkus raincoat, tak berapa lama kemudian hujan mereda. What a funny weather!!??

Ecekeble gokil

Ecekeble gokil

Kebun sawit yang terbuka dengan cuaca panas segera menyambut kami. Roda-roda yang menjadi donat segera menarik berbagai macam pelepah dan batang-batang rumput. Sampah-sampah tersebut menyangkut di frame . Di sebuah punggung bukit terbuka kami memutar ke kanan. Aku berharap ada yang mengambil gambar-gambar di posisi ini karena bentang alamnya bagus.  Aku sibuk memikirkan kemungkinan terburuk karena QR roda depan jebol, tak sempat lagi mengeluarkan kamera.

Orang-orang yang kelaparan dan kehausan adalah rejeki nomplok bagi pemilik warung. Seringkali warung-warung yang kami singgahi langsung kehabisan stok minuman. Bahkan air minum pemilik warung pun akhirnya dikeluarkan untuk memenuhi dahaga kami.

Orang-orang yang berkostum (sok) pembalap dengan helem unik berlobang-lobang, kacamata keren, sepeda-sepeda cakep dan mulus dan jersey warna-warni  adalah daya tarik bagi anak-anak. Kami menjadi hiburan sesaat bagi mereka. Beberapa orang bahkan berlari-lari beriringan dengan kami J. Mereka bergerombol di halaman sekolah memandangi kami yang sedang melepas lelah di sebuah warung.

Kabut tebal dan hujan deras menjelang Cimarinjung

Kabut tebal dan hujan deras menjelang Cimarinjung

Menjelang jam tiga sore, dengan perut keroncongan karena belum terisi nasi kami melanjutkan perjalanan menuju Cimarinjung. Langit menjadi gelap, angin berhembus kencang diiringi kabut tebal. Hujan deras membuat jalanan menjadi sangat licin.

Ada sebuah bukit dengan view lepas ke arah laut. Beruntung masih ada goweser yang berani mengeluarkan kamera sehingga barbuk dengan latar Teluk Ciletuh bisa kami peroleh. Menjelang Cimarinjung terdapat segmen jalan yang belum diperkeras sehingga sangat licin. Turunan yang sangat curam semakin menambah tingkat kesulitan medan.

Begitu sampai di dasar lembah kami segera menyusuri tepi saluran air menuju curug. Dari kejauhan gemuruh curug sudah terdengar. Kami harus melewati sebuah celah sempit di antara bebatuan sebelum sampai di dasar curug. Beberapa goweser bersusah payah membawa sepedanya melalui celah sempit tersebut. Mereka tidak ingin kehilangan momen berpose bersama tunggangan kesayangan.

The Curug

Luar biasa! Menakjubkan. Derasnya air yang jatuh dari ketinggian 45 meter menimbulkan suara gemuruh dengan hembusan butiran air yang menyebar di dasar curug. Sebelum terjun ke bawah ada sebuah sub-curug dengan ketinggian sekitar 10 meter. Artinya energi potensial air ini sudah mengalami reduksi . Andai air ini langsung terjun bebas tanpa ada sub-curug pasti akan lebih dahsyat lagi.

Ecekeble @ Curug Cimarinjung

Ecekeble @ Curug Cimarinjung

IMG_2751

Kemegahan curug ini masih ditambah dengan bebatuan berwarna coklat kemerahan dengan motif garis-garis. Bongkahan-bongkahan batu besar di dasar curug menjadi bukti bahwa batu-batu besar tersebut pernah jatuh dari tebing yang mengelilingi curug. Rasa was-was kadang menerpa manakala menyaksikan sebuah bongkahan batu yang sangat besar terlihat menonjol dan menggantung di bagian atas dinding curug.

Beberapa orang mengambil resiko dengan tetap mengeluarkan kameranya untuk mengabadikan momen langka ini.

Orang-orang kelaparan

Orang-orang kelaparan

Setelah puas menikmati curug di sebuah dangau kami menikmati makan siang yang sudah bergeser 4 jam. Potongan daun pisang digelar di bale-bale dangau dengan arah memanjang. Nasi dibagi-bagi menjadi beberapa porsi. Sore itu menu kami adalah nasi agak pera dengan ayam goreng, abon ikan, sambal bajak dan lalap timun. Menu ala kadarnya terasa nikmat bagi goweser yang kelaparan.

Kembali ke basecamp

Suasana semakin remang-remang akibat mendung dan hujan rintik. Kami harus rela untuk melewati pantai Cimarinjung yang hanya berjarak 50 meter dari lintasan gowes. Kami hanya bisa memandang komplek curug Cikanteh dan Sodong dari kejauhan. Ini salah satu bagian perjalanan yang membuat “gelo”. Saya sempat mengumpat kemacetan yang membuat perjalanan kami molor selama beberapa jam. Andai….andai..  Hanya bisa berandai-andai….

Berpose dengan latar kemegahan Curug Cimarinjung

Berpose dengan latar kemegahan Curug Cimarinjung

Halusnya aspal Cimarinjung ternyata hanya beberapa ratus meter saja. Setelah itu kami harus melibas jalan aspal yang rusak parah dengan kubangan-kubangan.

Lagi-lagi kami kurang beruntung. Hujan deras memutuskan aliran listrik. Jalanan menjadi gelap gulita. Dengan penerangan seadanya dari beberapa lampu sepeda kami meraba-raba jalanan berusaha menemukan lintasan yang paling mulus dan aman. Di depan sana kami harus keluar lembah ini dengan mendaki tanjakan terakhir.

Mau muntah rasanya setelah kenyang dengan tanjakan makadam yang terjal masih juga disuguhi tanjakan edan dengan rolling-rolling penipu sebelumnya. Beberapa kali kami terkecoh ketika bertemu tanjakan dan beranggapan bahwa inilah tanjakan pamungkas.

Selama bertahun-tahun gowes dengan rute yang cukup berat, menurutku ini salah satu segmen terseram dan terberat. .tanjakan sekitar 200 meter saja. Tetapi stamina kami ketika melibasnya sudah terkuras di etape sebelumnya. Beberapa orang berusaha menaklukkan tanjakan dengan sempurna. Rombongan depan terpecah menjadi beberapa grup kecil dengan dua orang di bagian terdepan.

Gelap gulita, rimbunnya pepohonan, tebing-tebing yang terjal menghitam seolah-olah akan menelan kami. Ditambah dengan kejadian penangkapan macan tutul di sekitar lokasi tersebut beberapa waktu lalu semakin menciutkan nyali. Betis kiri terasa linu. Aku berdoa semoga tidak terserang kram dan berharap tanjakan segera berakhir. Kombinasi dari rasa takut dan keinginan kuat untuk menaklukkan tanjakan membuat beberapa orang sukses menaklukkan tanjakan dengan sempurna.

Epilog

Puas karena akhirnya kami bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan panorama amfiteater alami Ciletuh. Puas karena kami berkesempatan menyaksikan atraksi curug yang dahsyat. Puas karena lokasi-lokasi yang kami lewati masih jarang dikunjungi orang, masih perawan.

Trip plan (Biru) vs actual (merah)

Trip plan (Biru) vs actual (merah)

Bersyukur karena tidak ada insiden berarti selama perjalanan. Bersyukur karena beberapa masalah teknis bisa diatasi.

Di keremangan sore hari kami hanya bisa menyaksikan curug-curug dari kejauhan.Penasaran dan “gelo” karena masih banyak curug tersisa yang belum disaksikan dengan mata kepala sendiri, belum didengar gemuruhnya dengan telinga kepala sendiri . Penasaran karena kami belum sempat memandang deretan curug dari tepian pantai.

Mungkin ini isyarat agar kami ke sana lagi (masih “gelo”).

IMG_2703

Jika anda bertanya-tanya di mana letak Ciletuh, silahkan periksa peta berikut ini.

Peta lokasi Ciletuh Geopark

Peta lokasi Ciletuh Geopark

Peta lokasi Ciletuh Geopark

Peta lokasi Ciletuh Geopark

 

19 responses to “Bersepeda menyusuri Ciletuh Geopark

    • mungkin karena kita kecapekan di jalan maka tripnya terasa berat. andai tiba lebih pagi dan naik bus eksekutif ceritanya bakal lain😀. bagaimanapun ane bersyukur bisa gowes ke sana. bisa jadi kita salah satu dari sedikit goweser yang pernah menyusuri bagian atas Ciletuh

      kapan-kapan kita ulang lagi🙂 menabung dari sekarang buat sewa bus AC dengan air suspension xixixi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s