Gowes cadas trek Cibeber – Curug Cikondang – Gunung Padang

6 Juli 2013
Belasan orang memasang alarm jam 3 pagi agar bisa berangkat pagi-pagi ke Cianjur. Cibeber – Cikondang – Gunung Padang adalah trek gowes yang akan kami libas pada hari itu. Tampaknya ada sebuah skenario kepada kami ketika planning yang sudah dibuat secermat mungkin berantakan karena kemacetan di tiga titik (tol Jakarta-Cikampek, Cibarusah dan Cibeber). Rencana start gowes dari jam 7 pagi molor sampai jam 10 karena kami juga harus carbo loading dulu untuk melibas trek yang berat ini.

0 Warung Ampera

Setelah carbo loading di Warung Ampera kami tiba di Koramil Cibeber jam 9:30. Sepeda diseting ulang, perbekalan dicek, hasil metabolisme ginjal yang sudah penuh dibuang dulu di toilet. 10:20 semua goweser dan sepeda sudah siap. Doa dipanjatkan. Kami berharap trip kali ini dipermudah dan diperlancar.

Etape 1 – The Race

Sepeda digeber di atas jalan aspal poros Cibeber- Sindangbarang. Salip menyalip terjadi. Sepertiga perjalanan goweser masih berada pada rombongan besar. Di dua pertiga perjalanan regrouping mulai terjadi. Om Alex yang sudah teruji dan terbukti genjotannya selalu memimpin di depan. Gabungan dari fisik dan sepeda yang prima membuatnya leading dari awal etape. Bahkan setelah sempat berhenti sebentar karena membetulkan sadel ia masih mampu menyusul ke barisan terdepan dan kembali memimpin.

Ngerace @ Cibeber

Ngerace @ Cibeber

Beruntung ada Red Giant yang mempu menempel ketat. Ecekebe tidak kehilangan muka. Karena spesifikasi sepeda berbeda jauh, bolehlah kami berkilah bahwa tercecernya Ecekeble karena faktor sepeda. Klasemen lima besar menghasilkan urutan Alex, Atoe, Nyoman, Irawan, Agung. 12 km dengan elevasi xxx meter dilibas dalam waktu 1 jam.

Profil etape 1 ini mirip dengan Km0 dengan tanjakan yang lebih landai tetapi trek lebih panjang. Trek menyusuri sisi perbukitan yang memisahkan Cianjur Utara dan Selatan. Pemandangan lebih bagus. Semakin ke atas pemandangan semakin bagus dan jika kita menengok ke kanan maka akan tampak Cianjur yang berada di kejauhan. Sayang, karena fokus pada race maka tidak banyak barbuk yang bisa kami kumpulkan dari etape ini.

Etape 2- Curug Cikondang

diawali dari rambu penunjuk arah situs megalit Gunung Padang. Etape ini merupakan perjalanan napak tilas trip teman-teman dari Cikarang MTB. Rombongan terdepan sempat bablas dan memperoleh bonus tanjakan. RC  memberikan pelajaran bagi goweser yang suka ngebut. Perkebunan teh menyediakan banyak spot untuk narsis. Begitu banyak sampai etape ini terasa sangat lambat karena keseringan mengambil gambar.

RC kembali memberikan pelajaran ketika rute normal dibelokkan menuju sebuah tanjakan terjal sehingga goweser dipaksa untuk PGB. Ketika banyak orang terengah-engah memanggul sepedanya RC datang dari rute normal.

Tea labyrinth

Tea labyrinth

RC kembali memainkan rute ketika jalur normal dibelokkan ke dalam kebun teh dengan trek makadam. Kami diarahkan ke sebuah turunan panjang di sisi bukti yang terjal dan licin sebelum akhirnya menyeberang jembatan bambu.

Curug Cikondang

Curug Cikondang

Gemuruh air terdengar dari kejauhan dan di kiri jalan tampak sebuah air terjun. Etape 2 berakhir di sebuah warung yang berada di atas Cikondang Waterfall. Sebenarnya bisa saja kami meninggalkan sepeda di warung atau pintu masuk curug tetapi RC ingin memberi materi single track dengan turunan tajam puls TTB berjamaah sesudahnya.

Etape 3 -The real challenge

Setelah puas bernarsis ria dan mengumpulkan barbuk sebanyak-banyaknya perjalanan dilanjutkan ke Gunug Padang. Profil trek tidak bohong. Jalan makadam full rolling membentang di sepanjang etape. Tanjakan makadam sulit dilibas karena banyaknya kubangan di sepanjang jalan. Roda-roda yang basah menjadi licin dan kehilangan grip. Selip menyulitkan penaklukan tanjakan dan tentu saja membuang energi yang mulai tiris. Tanjakan di etape ini sungguh sadis.

Sebuah mobil minibus yang penuh dengan wisatawan terheran-heran melihat gerombolan kami sore-sore blusukan di kebun teh terpencil. Hari yang semakin gelap, stamina yang menurun, plus kamera ponsel yang kurang mumpuni mengakibatkan sedikit barbuk pada trek ini. Orang-orang lebih berkonsentrasi untuk melibas satu demi satu tanjakan yang menghadang dibanding mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan.

Dihajar tanjakan makadam

Dihajar tanjakan makadam

Trek ini memakan tiga korban. Dua orang terserang kram kaki dan seorang lagi cidera karena tersangkut rumpun teh. Cukup parah karena lengan dan bahu lecet-lecet.

Menjelang magrib rombongan sempat terpecah menjadi tiga di dalam labirin kebun teh. Satu rombongan terlanjur melibas jalan normal dua rombogan lainnya melibas jalur main-main. Teror anjing galak membuat nyali menciut. Jalan bercabang membuat beberapa orang salah jalan dan terlanjur melibas turunan yang berakibat dengan tanjakan di rute baliknya. Beruntung ada warga yang melihat RC melintas. Berbekal info tersebut maka teriakan dikumandangkan kepada goweser yang terlanjur salah jalan.

Trek makadam

Trek makadam

Hari semakin gelap dan adzan maghrib berkumandang ketika kami melewati rumpun bambu dan aren. “Singup” kata orang Jawa.

Setelah terpisah menjadi beberapa rombongan regrouping berhasil dilakukan di sebuah areal terbuka. Perbekalan yang tersisa dibagi-bagi karena perut sudah keroncongan. Lampu-lampu sepeda dikeluarkan dan dinyalakan. Udara menjadi dingin dan kabut mulai turun.

Rombongan merapat agar cahaya lampu dari masing-masing sepeda saling menerangi. Kondisi medan yang sangat gelap membuat RC sempat salah jalan. Anjing-anjing galak menyalak bersaut-sautan. Setelah melakukan re-orientasi akhirnya didapatkan belokan yang terlewatkan. Maka dimulailah braking session.

Ecekeble memang songong. Setelah berhasil mencapai Warung Daweung pada kondisi turunan (artinya gowes ke tempat yang lebih tinggi dulu di belakang Warung daweung), kami ingin melakukan hal serupa di Gunung Padang. Begitu memasuki belokan tadi maka dimulailah turunan curam single track makadam dengan kondisi gelap yang panjang. Rumpun bambu terasa singup.

Jari-jari kaku karena braking terus menerus. Rotor menjadi panas karena gesekan dengan brakepad tiada henti. Dua orang terjatuh di trek ini. Beruntung tidak cedera. Perasaan bercampur antara takut dan tertantang. Kuncinya adalah hati-hati, cermat dan pelang-pelan. Turunan etape ini sadis.

Menjelang jam 7 malam akhirnya kami sampai di Gunung Padang. Kami memutuskan untuk mampir ke gerbang situs saja. Beberapa goweser mencoba untuk mengambil barbuk dengan latar gerbang situs megalit Gunung Padang.

Gerbang Situs Megalit Gunung Padang

Gerbang Situs Megalit Gunung Padang

Etape 4 – Formasi kunang-kunang

Etape ini di luar gowes plan dan lebih banyak mengandalkan MPS dari penduduk di sepanjang perjalanan. MPS diaktifkan dan clue yang diberikan adalah Warung Kondang. Beruntung sebagian besar trek merupakan turunan dengan aspal yang cukup mulus. Ini saatnya bersenang-senang.

Sepeda digeber dengan formasi kunang-kunang. Beberapa goweser yang memiliki lampu sangat terang menjadi penerang bagi goweser yang tidak memiliki lampu ataupun lampunya redup. Kecepatan dijaga agar tidak terlalu tinggi karena jarak pandang terbatas, jalanan meliuk-liuk, banyak tikungan tajam dan kubangan-kubangan serta aspal bolong yang menjebak.

Semua goweser sepakat sangat menikmati etape ini. Kemacetan yang menimpa saat keberangkatan inilah yang saya maksud sebagai skenario agar kami bisa merasakan sensasi gowes gelap-gelapan saat di turunan menjelang Gunung Padang maupun trek ini.

Etape 5 – Exhausted

Etape ini dilalui dengan sisa-sisa energi. Gowes paling kompak dalam sejarah ecekeble. Rombongan selalu berada dalam kelompok besar. Om Daniel yang merupakan bintang tamu dari Tangerang menjadi sweeper sepanjang etape ini. Bukan karena tidak kuat tetapi sengaja memposisikan diri di belakang.

Melewati perkampungan dan perbukitan yang berada di sisi utara rel kereta api Bandung – Sukabumi. Sepanjang perjalanan kami banyak disuguhi aroma tahi ayam dan kandang-kandang ayam yang banyak terdapat di sepanjang jalan. Menjelang jalan raya Cibeber terdapat ujian terakhir berupa turunan makadam curam nan panjang. Akhirnya sampai juga kami di Koramil Cibeber setelah menempuh jarak 55 km.  Lega.

Loading sepeda, mandi, mengisi perut dan pulang. Jam 02:00 dini hari mobil ELF akhirnya sampai di Lippo Cikarang setelah napak tilas rute SKB dengan arah terbalik.

Goweser :

Agung

Alex

Andi

Andre

Bagus

Budi

Daniel

Eka

Irawan

Julian

Nyoman

Rommy

Teddy

Tjipto

Trubus

Wawan

3 responses to “Gowes cadas trek Cibeber – Curug Cikondang – Gunung Padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s