Kenapa kita harus menulis trip report gowes?

Pertama sebagai arsip bagi kita sebagai pelaku gowes. Ketika kita menua, salah satu harta terbaik yang bisa menemani kita adalah kenangan. Padahal kita tahu semakin tua semakin lemah ingatan kita sehingga semakin sedikit kenangan yang bisa kita ingat. Arsip tertulis berupa trip report membantu kita untuk mengingat kembali kenangan-kenangan (gowes) kita di masa lalu.

Kedua sebagai portofolio gowes kita. Meskipun bagi saya ini tidak terlalu penting tetapi ada kalanya kita juga perlu untuk memiliki portofolio gowes yang tersusun rapi. Misalnya saja saat kita meracuni seseorang untuk ikutan gowes, jika kita memiliki portofolio gowes maka kita bisa mengarahkan orang tersebut untuk melihat trip report kita. Kasarnya tidak asal ngecep bahwa kita pernah ke sana-sini tetapi bukti otentiknya ada.

Ketiga sebagai referensi bagi orang lain. Saat pertama kali memulai hobi menggowes saya merasa sangat terbantu dengan trip report goweser lain dalam menentukan trip plan. Nawit dan Warung Bondol, Curug Cigentis, Bojongmangu (Situ Abidin) adalah nama-nama lokasi yang saya temukan dan saya libas berkat trip report dari orang lain.

Di Indonesia Book Fair, saya pernah terkagum-kagum melihat trip report dari seorang pelaut Australia yang menjelajah Nusantara bagian timur di akhir tahun 1700-an. Salah satu tempat yang disinggahi pelaut terebut adalah kota Kupang. Pelaut tersebut mendeskripsikan keadaan kota Kupang di akhir tahun 1700-an.

Pelaut ini mewariskan trip reportnya kepada keturunannya dan catatan perjalannya itu masih terjaga dengan baik. Anak cucunya yang mewarisi catatan perjalanan tersebut berinisiatif membuat salinan lalu memberikan salinan tersebut ke perpustakaan-perpustakaan dan salah satunya adalah Perpustakaan Umum Kupang sebagai salah satu lokasi yang dulu ia singgahi. Ketika orang-orang ingin mempelajari sejarah kota Kupang maka catatan perjalanan pelaut tersebut menjadi salah satu referensi.

Bukan tidak mungkin jika catatan-catatan perjalanan para goweser yang bertebaran di berbagai blog di dunia maya itu suatu saat nanti akan menjadi referensi bagai anak cucu kita ketika mereka ingin mempelajari sejarah maupun geografi tempat tinggalnya di masa lalu. Kenapa bisa begitu? Karena biasanya trip report goweser sangat dekat atau menyatu dengan lingkungan sekelilingnya. Kecepatan sepeda yang tidak terlalu tinggi memungkinkan mereka merekam kondisi di sepanjang jalan dengan detil. Plus kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan orang-orang di sepanjang jalan.

Menulis, yuukk?!!

 

Iklan

SKB alias Sentul – Kota Bunga

Konon IPDN menjadikan trek Sentul – Kota Bunga (SKB) ini sebagai mata kuliah wajib mereka. Menurut pendapat saya trek ini memang layak dijadikan mata kuliah wajib spesialis nanjak.

Tidak sekedar nanjak, trek ini memiliki banyak roller coaster pada segmen Karang Tengah – Cibadak. Sementara maskot tanjakannya ada pada segmen pertigaan Jogjogan (Tanjakan BTS) sampai pertigaan Curug Ciherang. Ini adalah tanjakan terpanjang dengan sedikit sekali rerimbunan di sepanjang jalan karena didominasi persawahan dan ladang.

Tanjakan paling adem terdapat pada segmen Ciherang – Kampung Arca – Warung yang terletak di ujung tanjakan menjelang Curug Cibeet. Pada segmen tersebut masih terdapat kerimbunan hutan hujan tropis dengan pepohonan tinggi menjulang.

Jika anda melibas trek ini pada akhir pekan bisa dipastikan anda tidak akan sendiri. Kepopuleran trek ini membuat banyak goweser ingin mencoba melibasnya. Mereka yang melibasnya separuh botol biasanya menjadikan Gunung Batu dan Curug Ciherang/Cipamingkis sebagai tujuan akhir.