Gowes kolozal #10 Cikarang MTB|THR Juanda-Maribaya-Cikidang-Cipunagara-Cisalak (unofficial trip report)

Akhirnya kesampaian juga ikut acara Gowes Kolosal Cikarang MTB. Kami yang biasa gowes belakang rumah dengan track seadanya berkesempatan mencicipi track racikan dari master track builder Cikarang MTB , Om Hanif Marga.

Antri untuk foto keluarga dan memasuki Gua Belanda di dalam THR Juanda

Ibarat kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dari THR Juanda kami bersakit-sakit dahulu membawa sepeda ini dari elevasi 922 mdpl ke 1384 mdpl untuk kemudian bersenang-senang menggelindingkan sepeda sepanjang 20 km ke elevasi 413 mdpl di Cisalak – Subang.

Rute kolosal #10 Cikarang MTB (sumber: http://www.bikemap.net/user/hmarga)

Meski total segmen tanjakan hanya 12 km tetapi ternyata tidak mudah untuk menyelesaikannya dengan sempurna (tanpa TTB). Selain kendala medan yang licin seperti dalam THR Juanda, juga jalan makadam runcing yang masih ditambah dengan aliran air karena hujan sangat deras.

Melintir di tanjakan makadam runcing berair deras

Soal ujian terlalu sulit

 

Beberapa orang juga kurang beruntung karena terhalang oleh goweser di depannya yang TTB padahal ia sudah memasang target lulus di beberapa segmen ujian (tanjakan). Ada juga yang tertipu oleh perubahan track mendadak sehingga terlambat shifting. Misalnya di Maribaya ketika rute tiba-tiba berbelok ke kiri dan langsung disambut tanjakan tajam berkelak-kelok.

Tanjakan di kejauhan menjelang titik tertinggi

Salah satu titik tertinggi antara Bandung-Subang, 1384 mdpl

Apa yang disebut bersenang-senang menggelindingkan sepeda sepanjang 20 km tidak berarti minim tantangan. Turunan curam di jalan makadam runcing dan diguyur hujan menjadi tantangan cukup berat. Bahkan seandainya jatuh dengan kecepatan rendah di track seperti ini pasti akan menjadi malapetakan.

Bagi yang memakai mechanical discbrake dijamin jari-jarinya bakal kaku karena braking tiada habisnya.Saya tidak tahu apakah mereka yang memakai fullsus juga merasakan pegal-pegal di bahu seperti saya yang memakai hardtail dengan travel depan hanya 100 mm. Hentakan handlebar dari jalanan makadam yang tidak sepenuhnya diredam suspensi depan membuat bahu ini linu-linu. Ditambah lagi tangan-tangan ini jarang berada dalam posisi rileks karena sibuk handling.

Andai di segmen turunan kemarin dalam kondisi cerah pasti akan lebih indah lagi. Jalan makadam yang meliuk-liuk dengan belasan (mungkin puluhan ) tikungan berbentuk S dipayungi kanopi hutan hujan tropis yang sangat rindang. Kerindangan itu kadang agak menyeramkan bagi saya karena harus gowes sendiri akibat sibuk mengambil gambar-gambar sehingga tertinggal dari rombongan. Sialnya karena sebelumnya terguyur hujan beberapa kali saat mengambil gambar di tanjakan, kontak-kontak microSD yang basah membuat beberapa gambar di segmen hutan lebat tidak terekam atau rusak.

Antara KM 23-25 saya berhenti cukup lama di tengah hutan lebat menunggu rombongan belakang menyusul. Saat itu ada beberapa goweser yang nyempal dari jalan makadam dan mengambil single track yang berada di kanan jalan. Awalnya saya kira mereka rombongal Kolosal #10 tetapi saya ragu karena info yang saya dapat tidak menyebutkan adanya single track. Ditambah lagi ada penunjuk jalan berwarna merah yang mengarah ke single track tersebut dan pada jalan makadam ada tanda silang berwarna merah.

Ternyata sendirian di tengah hutan lebat dalam kondisi medung gelap, hujan rintik-rintik diiringi bunyi berbagai hewan atau burung yang asing di telinga cukup menyeramkan. Meski demikian segmen hutan lebat itu adalah favorit saya. Andai ada yang mengajak kembali saya masih berminat.

Beruntung setelah kira-kira menunggu selama 20 menit ada rombongan belakang yang menyusul dan mereka memang mengambil jalan makadam. Setelah itu rutenya menjadi sangat gowesable dan mudah ditebak tinggal mengikuti jalan beraspal sampai di sebuah pemancingan. Tapi ada juga yang bablas dan menambah porsi 5 km🙂.

Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum ada hutan lebat yang masih tersisa di daerah Subang. Dua jempol untuk Cikarang MTB yang sudah meracik dan menyajikan suguhan gowes dengan menu komplit dan lezat.  Meminjam istilah Om Rommy, “Ada cerita yang bisa dibawa pulang.”

Finish. Berendam, mencuci jersey dan membasuh sepeda di Cipunagara (Cisalak)

*Tim LG Gowess : Irawan, Agung, Andi, Rommy, Andre, Eka Atoe (agen ganda merangkap CMTB)

9 responses to “Gowes kolozal #10 Cikarang MTB|THR Juanda-Maribaya-Cikidang-Cipunagara-Cisalak (unofficial trip report)

  1. Gilaa…mantab benernih treknya lengkap bgt, aplg turunan asoy menantangnya:D, kapan kesana lagi om?boleh ikutan gaknih?(baca liputannya aj udah ngiler nih….:D

    • awal musim kemarau sepertinya cocok tuh. cuma angkutannya agak ribet. mengantar sampai Dago, Bandung lalu menjemput di Cisalak, Subang. klo ke sana mesti bawa laras panjang agar hasil jepretannya bagus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s