Efek gowes kolosal

Sambil berjalan ke masjid untuk sholat subuh saya menatap langit yang tampak bersih dari awan. Bintang-bintang bersinar terang. Pagi ini sepertinya cocok sekali untuk bike to work. Jam 5:15 saya berkemas menyiapkan peralatan mandi dan baju ganti. Tak lupa toolkit dan ban cadangan masuk ke dalam bacpack.

Sebenarnya si Xtrada4.0 masih perlu recovery (dilumasi) karena setelah dicuci kemarin tidak sempat dirawat lagi. Terbukti ketika digowes bunyi tikus mengikuti. Kemungkinan dari pedal dan rantai yang kering dan yang sudah pasti dari suspensi depan.

Saya merasa gowesan terasa lebih ringan dari biasanya. Ketika sampai di depan Mall Lippo Cikarang saya menegok ke cyclocomp kecepatan menunjukkan angka 30. Biasanya angka tersebut saya peroleh saat pulang ketika jalanan agak menurun.

Begitu menyeberang getek shifter saya geser ke gigi teringan. Masih terasa agak berat meski berhasi melibas tanjakan pertama yang paling curam. Karena terasa berat saya curiga dan melirik indikator shifter di sebelah kiri. Indikator menunjukkan angka 2! Rupanya saya melibas tanjakan dengan posisi sproket depan nomer 2.

Biasanya saya melibas tanjakan ini dengan sproket nomer 1 dan gir nomer 8. Apakah ini efek (euforia) dari gowes kolosal #10 kemarin sehingga tanjakan ini terasa lebih ringan?? Saya tak sempat berfikir lagi karena motor di belakang antri untuk bisa menyalip sepeda saya yang tertatih-tatih di ujung tanjakan.

 

Iklan

Celana sepeda merek The Executive

Sebenarnya ini adalah celana formal mereka The Executive dengan model slim fit. Karena usianya sudah lama maka warnanya memudar dan teksturnya sedikit berubah. Akhirnya celana ini tidak terlihat formal lagi.

Saya selalu kurang nyaman dengan celana sepeda yang ber-padding. Terasa ada yang mengganjal. Bagi sebagian orang padding itu mungkin berfungsi sebagai bantalan untuk meredam getaran dari sadel sepeda. Tapi saya merasa bahwa sadel sudah pas sehingga padding tidak diperlukan lagi.

Nampang dengan celana sepeda The Executive 🙂

Ketika event gowes kolosal semakin dekat saya pusing dengan urusan celana ini. Dicari ke toko pun jarang ada yang pas baik model, ukuran, bentuk dan seringkali harganya. Akhirnya dibawalah celana bulukan ini ke tukang permak. Dengan modal 5000 rupiah jadilah celana sepeda yang tiada duanya. Bahkan The Excutive sendiri mungkin tidak pernah berpikir bahwa celana mereka bisa dipakai untuk bersepeda 🙂

 

Gowes kolozal #10 Cikarang MTB|THR Juanda-Maribaya-Cikidang-Cipunagara-Cisalak (unofficial trip report)

Akhirnya kesampaian juga ikut acara Gowes Kolosal Cikarang MTB. Kami yang biasa gowes belakang rumah dengan track seadanya berkesempatan mencicipi track racikan dari master track builder Cikarang MTB , Om Hanif Marga.

Antri untuk foto keluarga dan memasuki Gua Belanda di dalam THR Juanda

Ibarat kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dari THR Juanda kami bersakit-sakit dahulu membawa sepeda ini dari elevasi 922 mdpl ke 1384 mdpl untuk kemudian bersenang-senang menggelindingkan sepeda sepanjang 20 km ke elevasi 413 mdpl di Cisalak – Subang.

Rute kolosal #10 Cikarang MTB (sumber: http://www.bikemap.net/user/hmarga)

Meski total segmen tanjakan hanya 12 km tetapi ternyata tidak mudah untuk menyelesaikannya dengan sempurna (tanpa TTB). Selain kendala medan yang licin seperti dalam THR Juanda, juga jalan makadam runcing yang masih ditambah dengan aliran air karena hujan sangat deras.

Melintir di tanjakan makadam runcing berair deras

Soal ujian terlalu sulit

 

Beberapa orang juga kurang beruntung karena terhalang oleh goweser di depannya yang TTB padahal ia sudah memasang target lulus di beberapa segmen ujian (tanjakan). Ada juga yang tertipu oleh perubahan track mendadak sehingga terlambat shifting. Misalnya di Maribaya ketika rute tiba-tiba berbelok ke kiri dan langsung disambut tanjakan tajam berkelak-kelok.

Tanjakan di kejauhan menjelang titik tertinggi

Salah satu titik tertinggi antara Bandung-Subang, 1384 mdpl

Apa yang disebut bersenang-senang menggelindingkan sepeda sepanjang 20 km tidak berarti minim tantangan. Turunan curam di jalan makadam runcing dan diguyur hujan menjadi tantangan cukup berat. Bahkan seandainya jatuh dengan kecepatan rendah di track seperti ini pasti akan menjadi malapetakan.

Bagi yang memakai mechanical discbrake dijamin jari-jarinya bakal kaku karena braking tiada habisnya.Saya tidak tahu apakah mereka yang memakai fullsus juga merasakan pegal-pegal di bahu seperti saya yang memakai hardtail dengan travel depan hanya 100 mm. Hentakan handlebar dari jalanan makadam yang tidak sepenuhnya diredam suspensi depan membuat bahu ini linu-linu. Ditambah lagi tangan-tangan ini jarang berada dalam posisi rileks karena sibuk handling.

Andai di segmen turunan kemarin dalam kondisi cerah pasti akan lebih indah lagi. Jalan makadam yang meliuk-liuk dengan belasan (mungkin puluhan ) tikungan berbentuk S dipayungi kanopi hutan hujan tropis yang sangat rindang. Kerindangan itu kadang agak menyeramkan bagi saya karena harus gowes sendiri akibat sibuk mengambil gambar-gambar sehingga tertinggal dari rombongan. Sialnya karena sebelumnya terguyur hujan beberapa kali saat mengambil gambar di tanjakan, kontak-kontak microSD yang basah membuat beberapa gambar di segmen hutan lebat tidak terekam atau rusak.

Antara KM 23-25 saya berhenti cukup lama di tengah hutan lebat menunggu rombongan belakang menyusul. Saat itu ada beberapa goweser yang nyempal dari jalan makadam dan mengambil single track yang berada di kanan jalan. Awalnya saya kira mereka rombongal Kolosal #10 tetapi saya ragu karena info yang saya dapat tidak menyebutkan adanya single track. Ditambah lagi ada penunjuk jalan berwarna merah yang mengarah ke single track tersebut dan pada jalan makadam ada tanda silang berwarna merah.

Ternyata sendirian di tengah hutan lebat dalam kondisi medung gelap, hujan rintik-rintik diiringi bunyi berbagai hewan atau burung yang asing di telinga cukup menyeramkan. Meski demikian segmen hutan lebat itu adalah favorit saya. Andai ada yang mengajak kembali saya masih berminat.

Beruntung setelah kira-kira menunggu selama 20 menit ada rombongan belakang yang menyusul dan mereka memang mengambil jalan makadam. Setelah itu rutenya menjadi sangat gowesable dan mudah ditebak tinggal mengikuti jalan beraspal sampai di sebuah pemancingan. Tapi ada juga yang bablas dan menambah porsi 5 km :).

Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum ada hutan lebat yang masih tersisa di daerah Subang. Dua jempol untuk Cikarang MTB yang sudah meracik dan menyajikan suguhan gowes dengan menu komplit dan lezat.  Meminjam istilah Om Rommy, “Ada cerita yang bisa dibawa pulang.”

Finish. Berendam, mencuci jersey dan membasuh sepeda di Cipunagara (Cisalak)

*Tim LG Gowess : Irawan, Agung, Andi, Rommy, Andre, Eka Atoe (agen ganda merangkap CMTB)

Sepeda baru bunda – Polygon Sierra AX edisi 2011

Lebih tepatnya baru dibeli dari toko. Karena edisi 2011 ini sebenarnya sudah usang. Bahkan sebentar lagi edisi 2013 akan segera keluar.

Setelah dipandu dari jarak 2000 km akhirnya bunda berhasil mendapatkan sepeda impiannya. Sebuah Polygon Sierra AX edisi 2011 berwarna biru. Sebenarnya warna edisi 2012 lebih bagus dan feminin dibanding edisi 2012 tetapi karena kondisinya kurang bagus (ada beberapa baret pada frame) akhirnya pilihan dijatuhkan pada si biru dari tahun 2011.

Polygon Sierra AX edisi 2011

Sierra AX 2011 ini didapatkan di sebuah toko sepeda di kota Parepare. Bisa jadi sepeda-sepeda edisi lama yang berada di luar Pulau Jawa tidak pernah ditarik dari peredaran oleh Polygon meskipun edisi-edisi terbaru sudah bermunculan.

Memiliki sepeda citybike dengan internal gear sebenarnya merupakan salah satu impian saya. In my opinion it’s the real citybike because it offers reliability and simplicity. It’s almost maintenance free compared to rear derailleur that needs periodical adjustment.

Selamat untuk bunda yang akhirnya memutuskan untuk bersepeda. Sore tadi si bungsu Rafa Kamilah menjadi orang pertama yang dibonceng sepeda ini. Selanjutnya si sulung Muhammad Emil Lutfi juga minta dibonceng. Bunda yang tidak pernah bersepeda selama belasan tahun merasakan pegal-pegal di kaki.

Rencananya sepeda ini nanti akan dipakai untuk ke kantor dan mengantar si Emil ke sekolah dimana jarak keduanya tidak begitu jauh.

Polygon Sierra AX edisi 2012

Gowes Tangkuban Perahu-Cikole-Lembang-Sabuga

Ada dua segmen paling menarik dari rute gowes ini. Yang pertama adalah pada segmen Kawah Ratu – Lembang. Setelah zigzag di jalan beraspal dari Kawah Ratu hingga Jayagiri maka kita akan memasuki jalan aspal rusak dan makadam. Setelah itu kita akan melewati single track hutan pinus dan hutan hujan tropis. Track ini permukaan lintasannya banyak yang berbentuk huruf U dan V karena dilewati motor trail. Sedikit merepotkan tetapi juga menjadi tantangan tersendiri.

Gowes Tangkuban Perahu – Lembang. Melibas turunan.

Gowes Tangkuban Perahu – Lembang

Di beberapa lokasi bentuk U dan V ini cukup dalam sehingga jika digowes penuh pedal akan tersangkut. Bagian terseru adalah track setelah warung. Sebagian orang menyebutnya mini-DH. Turunannya cukup curam. Lintasannya zigzag dengan banyak sekali drop-off yang terbentuk dari akar-akar pinus.

Gowes Tangkuban Perahu – Lembang

Yang kedua segmen Boscha – Villa Eldorado. Track ini didominasi single track berumput yang lurus sehingga menggoda siapa saja untuk membiarkan sepedanya menggelinding dengan kecepatan tinggi. Ada satu turunan yang cukup curam dan licin menjelang perkampungan.

Gowes Tangkuban Perahu – Lembang

Secara keseluruhan track ini sangat menarik dan menantang. Kalau selama ini bagian tubuh yang pegal-pegal setelah menggowes adalah kaki. Maka jika kita melibas trek ini bagian tubuh yang pegal-pegal adalah lengan dan bahu akibat handling dan braking yang cukup berat.

Single track hutan pinus Tangkuban Perahu Lembang

Kenda Nevegal 120 ribu

Inilah keanehan di Indonesia. Mencari barang biasa/murah lebih sulit dibanding mencari barang bagus/mahal. Ini kualami ketika ban belakang sepedaku sudah halus.

Kebanyakan yang ditawarkan dan diiklankan adalah ban-ban mahal tipe folding. Jarang yang menawarkan ban dengan wire beading alias berpenguat kawat baja. Alasannya ban model ini proses pemasangan dan pelepasannya dari rim cukup sulit.

Berkat bantuan temanku akhirnya bisa juga kudapatkan Kenda Nevegal (Wire Bead). Harganya cukup ramah di kantong, 120 ribu.

Kenda Nevegal (wire bead) seharga 120 ribu

Menurut majalah Mountain Bike Action Magazine ini adalah salah satu ban terbaik untuk segala medan.