Bike to work & TTB sepanjang 5 kilometer

Rabu, 28 Maret 2012, sehari setelah gajian πŸ™‚ ketika melintas di depan Mall Lippo Cikarang samar terdengar seperti bunyi “cessss”, lalu genjotan Siti terasa semakin berat. Saat itu lagi ngebut karena turun hujan dan jalanan sedikit menurun. Begitu sampai di Waterboom Lippo Cikarang ban belakang benar-benar kempes sehingga tidak bisa dinaiki lagi.

Tak ada tools, ban cadangan ataupun kit penambal ban. Ting…! 700 meter lagi kan ada Rodalink. Dengan kondisi bayah kuyup tak beralas kaki (sepatu sudah dibungkus dan masuk tas) aku memasuki RL berharap ada ban dalam ukuran 26 inci untuk Sitibaik. Rupanya aku belum beruntung. Stok habis, hanya tersisa ban dalam ukuran 24 inci.

Akhirnya aku mesti menuntun sepeda sampai rumah yang masih berjarak 5 km. Jadilah ini TTB terpanjang yang pernah kulakukan. Bukan karena tidak kuat melibas tanjakan tetapi karena memang tidak ada persiapan untuk mengantisipasi ban bocor.

Fokus, menikmati setiap langkah di bawah guyuran hujan sambil mencoba merasakan beratnya penjual gorengan yang biasa mendorong gerobaknya dari City Center sampai Taman Cibodas. Hi…3x, Sitibaik dengan berat sekitar 15 kilogram tidak ada apa-apanya dibanding gerobak penjual goreangan. Akhirnya jam 19:00 sampai juga di rumah. Berangkat dari pabrik jam 17:20. Untuk jarak 13 km memerlukan waktu tempuh 1 jam 40 menit gara-gara TTB πŸ™‚

Suwer aku ga kapok bike to work πŸ™‚

Iklan

Gowes Sentul City-KM 0-Sirnagalih-Highland-Kampung Awan

Jam 7:30 kami sampai di SPBU Petronas-Sentul CIty di mana banyak goweser sudah mempersiapkan diri melibas trek seputaran Sentul.

Akhirnya berdelapan kami melibas trek Sentul City – KM 0 yangΒ  sangat kondang itu. Saling susul dan mendahului terjadi di separuh trek. Latihan diam-diam yang dilakukan oleh beberapa goweser tampaknya membuahkan hasil. Setelah itu rombongan delapan orang itu pun terpisah-pisah sesuai dengan kekuatan napas dan dengkulnya. Waktu tercepat 58 menit 30 detik. Sementara peserta paling bontot mencatat waktu dua jam.

Setelah beristirahat cukup lama menunggu goweser terakhir dan disambi dengan mencuci mata menikmati penampilan berbagai sepeda anjrit, makan pisang, pesta durian dan mengisi ulang perbekalan kami melanjutkan perjalanan ke arah Kampung Awan. Karena belum pernah ke lokasi tersebut sementara peta kasar yang sebelumnya diintip melalui bikemap dan wikimapia hanya disimpan diotak, tidak dicetak, maka dimulailah awal dari petualangan N11.

Sejak awal sudah ada gambaran bahwa kami akan mendaki dari ketinggian 600 mdpl ke 850 mdpl, karena itu ketika kami menemukan turunan panjang maka kami pun curiga. Jika tidak tersesat maka pasti kami akan disambut oleh tanjakan curam. Benar saja, kami menemukan dua-duanya. Kami salah arah dan setelah menikmati turunan curam itu kamipun disambut tanjakan ngehe yang panjang.

Ngehe

Meski tersesat single track yang berada di tengah-tengah kebun singkong sangat mengasikkan. Rupanya kami semakin mendekati jalan raya Puncak. Namun titik terang muncul saat dua orang goweser teringat bahwa ia pernah melibas rute tersebut saat gowes TW beberapa bulan yang lalu. Dengan menyusuri jalan perkampungan kami pun menuju ke arah Curug Panjang.

Sempat bimbang apakah waktu dan tenaga kami yang sudah terkuras masih cukup untuk sampai ke Curug Panjang. Ketika sampai di sebuah pertigaan di Sirnagalih kami pun memutuskan untuk naik ke Kampung Awan saja. Apalagi di lokasi tersebut ada penunjuk arah dan jarak ke lokasi Kampung Awan, hanya 5 km.

Setelah kenyang dengan tanjakan sepanjang 11 km dari Sentul City ke KM 0, rupanya kami kembali menyantap menu tanjakan panjang. Sepanjang rute ke Kampung Awan ini kami sering beristirahat untuk mengembalikan detak jantung ke angka normal ataupun mendinginkan dengkul yang mulai ngebul. Beberapa orang mulai tidak mempercayai penunjuk arah dan jarak yang selalu ditemui di sepanjang tanjakan. Tanjakan semakin sulit ditaklukkan karena jalanan rusak tergerus air. Aspal yang terkelupas menyisakan batu-batu makadam.

The weekend warriors

Semangat kami kembali berkobar setelah ada supporter yang menyemangati kami yakni si Blacky. Beruntung 500 meter menjelang Kampung Awan treknya relatif datar. Villa ini memang layak menyandang nama Kampung Awan mengingat lokasinya yang berada di puncak bukit/punggung gunung dan memiliki pemandangan lepas ke arah Ciawi, Bogor dan Sentul. Sementara di kejauhan tampak Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak.

Mengingat GPS dan MPS tidak berfungsi di puncak, kami melakukan orientasi arah untuk menentukan jalan pulang. Dari sebuah area lapang di puncak kami melihat gunung Pancar, dan voila!! … pengolahan air minum milik Perhutani. Artinya kami bisa kembali ke KM 0 dari atas gunung ini tanpa harus kembali menyusuri rute keberangkatan kami.

Kampung Awan-Bogor

Setelah diamati ternyata deretan punggung bukit dari KM 0 mengarah ke lokasi puncak ini. Kami memutuskan untuk melewati single track yang berada di sisi selatan bukit. Kami memang mendapatkan jalan tanah di sebelah utara bukit. Tetapi untuk menuju ke sana tampaknya kami harus kembali naik ke hutan pinus.

Kampung Awan-Bogor

Rupanya single track yang kami lewati memang sangat menarik. Lintasannya curam, licin (di pagi hari pasti lebih licin, kami melibasnya jam 2 sore), rimbun dengan vegetasi, kami harus berhati-hati dan menurunkan seatpost. Keasyikan yang diperoleh dari trek ini langsung membuat kami melupakan rasa capek. Setelah bertemu dengan jalan tanah dan berhenti di sebuah warung kami semakin yakin berada di trek yang benar. Apalagi setelah pemilik warung mengatakan bahwa pengolahan air minum Perhutani tidak jauh lagi.

Single track di lereng bukit (rute balik ke KM0)

Dan ketika kami sampai di pertigaan Villa Prabowo di mana kami salah mengambil arah semua orang bersorak. Tak perlu lagi mengayuh . sepeda. Tinggal digelindingkan saja sampai Sentul City πŸ™‚ Total jarak tempuh 39 km saja, tetapi tanjakannya membuat angkat tangan :))

Rute gowes Sentul City-KM 0-Kampung Awan

Citra satelit - Lokasi Kampung Awan