Gowes tanpa bel. Sangat tidak nyaman.

Lintasan tanah di sepanjang hutan pinus Wanayasa ternyata sangat licin karena basah dan ditumbuhi lumut.

Bermaksud untuk mengambil gambar dari rombongan di belakang aku melesat duluan. Aku yang kurang waspada dan tidak memperhitungkan licinnya lintasan akhirnya kehilangan kendali. Roda depan terpeleset sehingga sepeda terlempar. Bel kompas patah dan bracket cyclocomputer terlepas. Akhirnya aku gowes tanpa bel.

Bel sepeda kompas

Rasanya tidak nyaman sekali karena tanpa bel aku tidak bisa memberi isyarat ke sesama goweser ataupun pengguna jalan lain. Sepeda yang senyap karena tidak menimbulkan “polusi suara” seringkali tidak disadari kehadirannya oleh pengguna jalan yang lain terutama pejalan kaki. Dengan adanya bel kita bisa memberitahukan posisi maupun kehadiran kita sehingga mereka waspada.

Tanpa bel sepeda kita akan kesulitan dalam bertegur sapa dengan sesama goweser yang ketemu atau berpapasan di tengah jalan. Cukup dengan “ting, ting!!” lalu membuat kontak mata kita sudah memberikan sapaan yang akrab. Ini lebih praktis dan aman dibanding misalnya melambaikan tangan.

Bel sepeda kompas ini sangat nyaring dibanding model kubah. Selain itu karena memakai sistem rotari maka sekali colek akan menghasilkan bunyi “kriiing” dibanding hanya bunyi “tiing” dari model kubah.

Memang ukurannya cukup besar tetapi bisa diatasi dengan pemasangan sejajar dengan stang. Lalu untuk membunyikannya dengan memakai jari jempol.

Jangan lupa memasang bel di sepeda kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s