Paranoid dan phobia setelah meng-upgrade sepeda

Sepeda-sepeda mahal itu didesain memiliki kekuatan tinggi. Dia dirancang agar mampu melewati medan dengan kondisi ekstrim. Kekuatan dan keunggulannya itu hanya bisa dirasakan jika kita melintasi trek yang sesungguhnya.

Dengan ban ukuran besar dan grip yang bagus bisa melibas trek licin, becek bahkan belumpur. Susupensi yang bagus dengan travel panjang bisa meredam kejutan saat jumping atao melewati gundukan-gundukan. Bahkan jika sepedanya bertipe full-sus bisa melibas lintasan curam yang memiliki dropoff. Belum lagi model link yang rumit (penyempurnaan dari sistem single pivot) yang didesain agar efisiensi genjotan tetap tinggi karena efek bobbing bisa dieliminasi. Sehingga anda tetap bisa bersepeda di lintasan offroad dangan empuk tetapi tidak terlalu capek karena efek bobbing.

RD 9-speed memungkinkan melibas tanjakan terjal yang akan membuat ngos-ngosan jika hanya 7-speed. Disc brake hidrolik memungkinkan kita berkonsentrasi sepenuhnya pada handling sementara braking cukup disentil saja dengan beberapa ruas jari, tidak perlu mencengkeram seperti V-brake. RD dan FD yang presisi memungkin perpindahan gigi secara halus, tepat dan cepat sehingga shifting sangat nyaman. Sehingga kasus pada beberapa sepeda entry level (atau yang minim perawatan) dimana respon FD/RD kurang cepat sehingga mengakibatkan late shifting pasti tidak terjadi.

Masihkah anda menyia-nyiakan semua keunggulan di atas dengan hanya bersepeda di sekitar perumahan (onroad) dan ber-funbike saja? Kalaupun tempat tinggal anda jauh dari trek offroad anda bisa memakainya untuk aktivitas yang lain, misalnya bike to shop dan bike to work sehingga sepeda tersebut tidak terlalu menganggur. Semakin jauh mileage anda berarti semakin anda mendapatkan manfaat dari sepeda (mahal) anda.

Pengamatan dari beberapa orang yang telah mengupgrade sepedanya justru menjadi sangat sayang dengan sepedanya dan menjadi malas untuk ber-offroad lagi. Tiba-tiba mereka berubah orientasi dari olahraga menjadi kolektor. Sepeda itu berubah dari alat berolahraga menjadi koleksi/simbol status. Mereka menjadi phobia dan paranoid terhadap lumpur, semak-semak, jalan berbatu dan kondisi-kondisi ekstrim lain yang bisa membuat sepeda tergores atau belepotan.

Hal serupa juga sering terjadi pada mereka yang baru pertama kali bersepeda dan langsung memakai sepeda mahal. Mereka membeli sepeda MTB (mountain bike) tetapi alergi dengan lintasan-lintasan MTB. Maunya di jalan beraspal melulu.

Mereka cukup puas dengan tampang sepeda yang gahar tetapi akhirnya lupa/kendor semangatnya  untuk mengupgrade skill dan dengkulnya.

Bagaimana dengan anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s