Jalur Naga dan Rolling Sukawangi

Berangkat kesiangan karena menunggu hujan reda. Sempat berpikir untuk menunda trip tetapi keinginan untuk menyelesaikan Climbing Challenge di bulan April (menabung Elevation Gain sebelum Romadon 🙂 ) menjadi pemacu semangat untuk mengayuh sepeda.

7:28 WIB tombol Record di aplikasi Strava akhirnya kutekan. Mampir dulu ke Asem-Asem untuk sarapan karena jika sarapan di Cariu akan terlalu jauh dan sudah lewat jam sarapan.

Jalanan masih basah sehingga tidak bisa terlalu digeber. Lagi malas main kotor2an. Rupanya hujan tidak merata. Begitu sampai Bojongmangu ternyata kering. Di Cariu kembali menemukan bekas hujan meski tidak terlalu deras.

Sangat berharap agar kembali menemukan cuaca mendung dengan kabut yang sejuk seperti trip sebelumnya. Rupanya harapan tersebut tidak terkabul. Sampai Gunung Batu dan tanjakan Kandang Ayam menjelang Kampung Catang Malang cuaca sangat terik. Beruntung semua tanjakan bisa diselesaikan dengan sempurna tanpa TTB.

Di musholla Al-Maliki pit stop untuk menjamak sholat dan beristirahat. Sempat terpikir untuk balik kanan karena merasa fisik tidak sebugar minggu sebelumnya. Tetapi semilir angin yang sejuk di muholla ditambah beberapa potong roti mampu mengembalikan stamina. Target pun ditambah sampai Curug Arca dan makan siang di Warung Puncak Pinus 2.

Begitu sampai warung rupanya nasi masih dimasak. Alhasil harus menunggu 30 menit sebelum nasi siap dimasak menjadi nasi goreng. Proses menunggu ini cukup menyita waktu sementara hari semakin beranjak sore. Sempat berpikir untuk menambah target sampai Cipanas akan tetapi sepertinya bakal kemalaman. Setelah menyantap nasi akhirnya kuputuskan untuk pulang lewat Jalur Naga Tanjungsari.

Memang mayoritas turunan, akan tetapi ternyata jalur ini menyimpan rolling cukup banyak. Banyak turunan curam juga membuat tangan dan bahu menjadi pegal-pegal karena harus menahan berat badan yang pindah ke depan. Targetnya sebelum maghrib harus sudah melewati Jalur Naga. Memang sudah menyiapkan lampu-lampu untuk mengantisipasi kemalaman di jalan akan tetapi akan lebih aman jika saat malam sudah keluar dari hutan.

Istrirahat tidak perlu banyak-banyak karena harus mengejar waktu. Dan akhirnya jam 4:30 mulai summit attack Rawa Bakti Hills. Jam 5 sampai di puncak bukit dengan pemandangan yang bagus. Saya matahari lebih banyak tertutup awan sehingga pencahayaan kurang bagus . Beruntung punggung-punggung bukit masih mendapatkan cukup cahaya sehingga masih bisa menangkap liukan Jalur Naga di kejauhan. Sepertinya bakal ekstrim nih turunannya.

Benar saja. Karena malas menurunkan sadel (sehari sebelumnya sempat tergoda untuk meminang seatpost dropper) kerika berhadapan dengan turunan curam, jalan penuh batu, pasir dan gravel membuat tidak pede. Di beberapa titik harus turun karena ban kehilangan cengkeraman sehingga ngesot-ngesot tidak terkendali. Takut tidak bisa berhenti, kehilangan kendali dan nyemplung ke jurang. Di lokasi ini diriku mendapatkan sekawanan monyet hitam yang bergantungan di pepohonan.

Memandang tebing-tebing tinggi di kanan dan jurang dalam di kiri membuat nyali menjadi ciut. Takut longsor. Dan memang di berberapa segmen terdapat longsoran yang mebuat jalan menyempit ke tepi jurang. Bahkan di jalan rata karena terlalu sempit harus menuntun sepeda karena tidak pede melihat jurang di kiri jalan.

Rombongan touring motor di Jalur Naga

Menjelang kaki bukit di mana terdapat longsoran paran bertemu dengan rombongan motor touring yang nampaknya sedang kesulitan menanjakan tanjakan terjal Jalur Naga ini. Memakai kendaraan bermesin tidak selalu menjadi lebih mudah. Ketika bertemu medan sulit maka skill dan nyali akan diuji dibanding naik MTB. Dengan motor kita harus tetap di atas kendaraan, jika kita sampai kehilangan handling, alamat bakal cilaka. Sementara dengan MTB kita bisa menuntun atau memanggulnya ketika berhadapan dengan medan ekstrim.

Dan setelah memutuskan balik kanan, ketika turun pun beberapa rider motor tersebut kesulitan untuk handling sehingga harus pelan-pelan. Andai diriku melibasnya dari arah Tanjungsari, arah menanjak, pasti Jalur Naga ini akan menjadi ajang penyiksaan.

Di ujung segmen Jalur Naga bertemu dengan rambu sederhana penunjuk arah ke Curug Ciliang. Bisa menjadi cadangan trip berikutnya nih. Sempat bertanya ke pemukim di situ konon katanya masih agak jauh, harus melewati satu kampung lagi.

Segmen selanjutnya adalah turunan demi turunan yang assooy geboy sampai bertemu jembatan Cisero. Jika dilibas di pagi atau siang hari segmen tersebut pasti akan menyajikan pemandangan yang menawan.

I’ll be back!

Jalur Naga – 120km – EG 2100m
Polygon Premier 5 dan Jalur Naga
Motor dan tebing di Jalur Naga
Jalur Naga dengan track makadam, gravel dan tanah
Di pinggir jurang – Jalur Naga
Rimbun di Jalur Naga

Alon-alon asal kelakon melibas tanjakan Gunung Batu – Kampung Arca

Awalnya hanya sekedar ingin gowes santai ke Gunung Batu, Sukamakmur. Ternyata hari masih belum terlalu siang ketika sampai di Gunung Batu. Maka kuputuskan untuk menambah jarak dengan gowes ke arah Kampung Arca. Tidak ada target khusus. Bahkan sudah kuputuskan untuk balik kanan ketika sudah merasa capek. Ternyata tanjakan demi tanjakan berhasil kulewati sehingga ketika sudah sampai separuh perjalanan ke arah Kampung Arca kuputuskan untuk merubah target hingga mencapai Curug Saridun.

Selain menambah jarak kubuat sebuah target lagi. Tepatnya sebuah percobaan untuk melibas tanjakan tanpa istirahat. Sebelumnya diriku pernah sekali lewat segmen ini sehingga sudah punya gambaran tanjakan-tanjakan yang ada di depan.

Cadence kujaga sekonstan mungkin agar detak jantung tidak naik drastis. Hasilnya, diriku berhasil melibas tanjakan dari 565mdpl hingga 1125mdpl sepanjang 9km hanya dengan 2x berhenti karena buang air kecil dan mengambil foto karena tidak ingin kehilangan momen turunnya kabut menjelang pertigaan. Bagi goweser amatir seperti diriku ini adalah sebuah prestasi. Pada trip sebelumnya diriku banyak berhenti di setiap ujung tanjakan untuk beristirahat.

Terbukti jurus alon-alon asal kelakon berhasil melibas tanjakan.

Profil Gn. Batu – Kampung Arca climbing
Kabut di Sukawangi
Menyeruput teh di ketinggian 1200mdpl

Gowes offroad ke Curug Cilalay

Yang membuat berat track ini adalah rolling naik turun, single track dengan kondisi becek, berlumpur, rusak karena hujan, rusak karena roda motor berantai, bebatuan yang menonjol, akar-akar pohon yang menonjol. Selebihnya kita akan mendapatkan pemandangan dan kondisi alam yang masih alami, rimbun, hijau, segar, sungai berair jernih, deras dan segar.

Ada dua jalur untuk menuju Curug Cilalay. Jalur motor dan jalur pematang. Jalur motor lebih rolling karena naik turun perbukitan, tetapi banyak segmen yang bisa digowes. Jalur pematang sawah dan pinggiran sungai Ciomas relatif lebih datar tetapi sepanjang jalan bakal nuntun sepeda/TTB. Jalur motor lebih berat tetapi lebih cepat.

Dalam perjalanan pulang dari curug, rombongan terbagi dua. Sebagian memilih jalur motor, sebagian lagi memilih jalur pematang sawah. Rombongan yang memilih jalur pematang sawah 40 menit lebih cepat sampai di Green Canyon.

Rontok dihajar Tanjakan
Dorong Teruusss!!
Cihuiii!!! bisa digowes

Yang membuat jadi lebih seru, di tengah perjalanan kami bertemu rombongan dari Bekasi sehingga perjalanan ke curug menjadi lebih ramai. Total goweser yang mencapai curug menjadi 13 orang.

Menyeberang sungai berair deras

Kali ini debit sungai memang sedang besar. Terbukti ketika menyeberang sungai air sangat deras. Dan ketika di curug lebih terasa lagi besarnya debit air, selain menimbulkan suara gemuruh juga menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang.

Curug Cilalay

Bersepeda di Central Park Meikarta

Dari malam hujan terus sampai pagi sehingga acara gowes ke Warung Mak Rat di Jonggol terpaksa dibatalkan. Ternyata jam 8-an hujan sudah reda. Akan tetapi hati ini masih ragu untuk memakai sepatu. Takut kehujanan lagi dan keringnya lama 😛

Akhirnya kuputuskan untuk gowes sambil bersandal jepit saja 🙂 Judulnya adalah City Ride seputar Lippocikarang dan Central Park Meikarta. Lumayan dapat 45km dengan E/G 380m.

Untuk goweser gratis masuk Central Park. Hanya motor dan mobil yang dikenakan tarif parkir. Di bawah ini adalah penampakan si jadul Polygon Xtrada 4.0 2009.

Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta
Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta
Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta

Gowes ke Curug Cilalay via Green Canyon

Single track sepanjang 6km, rolling naik turun, sebagian basah dan berlumpur, rusak karena dilewati trail, tanjakan/turunan curam, menyeberang sungai berbatu-batu licin, track sangat sempit, minim warung (hanya ada di awal dan ujung track), banyak serangga, adalah sebagian dari tantangan yang akan kita temui ketika akan menuju Curug Cilalay.

Akan tetapi perjuangannya sebanding dengan keindahan di sepanjang jalan dan di Curug Cilalay sendiri. Bisa dibilang ini adalah salah satu ekosistem hutan hujan tropis yang cukup terjaga. Rimbunnya hutan dan pepohonan bisa kita intip terlebih dahulu melalui aplikasi Google Maps. Begitu kita merasakan sendiri maka kita tidak akan menyesal karena memutuskan melibas track ini.

Bawa bekal air yang banyak karena track ini sangat menguras cairan tubuh. Elevasinya yang tidak terlalu tinggi membuat udara sekitar cukup panas. Udara panas akan membuat metabolisme tubuh lebih tinggi akibatnya keringat akan mengucur deras. Jangan sampai dehidrasi dan lemas di tengah perjalanan. Sangat disarankan membawa bekal makanan berat dan sarapan sebelum melibas track. Energi dari sarapan akan dipakai menuju curug. Energi dari bekal yang dimakan di curug akan dipakai untuk perjalanan pulang. Bekal yang cukup akan membuat kita lebih bertenaga dan fun saat melibas track.

Tracknya agak brutal, karena itu yang masih takut sepedaya lecet tidak disarankan melibas track ini. Sepedanya dipajang di rumah saja. Ke curug bisa dengan berjalan kaki 😛

Di musim hujan track menjadi sangat brutal karena licin dan berlumpur. Juga dikhawatirkan ada potensi longsor di jalan. Jika di hulu hujan deras dan debit sungai naik maka kita akan kesulitan menyeberangi sungai. Paling bagus dilibas di akhir musim hujan. Atau di tengah musim hujan tetapi sudah 3-4 hari tidak turun hujan. Track yang sedikit basah justru membantu traksi ban sehingga handling dan pedaling menjadi lebih mudah.

Idealnya kita berangkat pagi-pagi sehingga sampai curug sekitar jam 10 – 12. Agar tersisa banyak waktu untuk bersenang-senang di curug. Jika dirasa akan segera turun hujan maka kita harus segera turun.

Polygon Premier 5 di Curug Cilalay
Menyeberang aliran sungai Curug Cilalay
Single track menuju Curug Cilalay
Single track menuju Curug Cilalay
Indahnya pemandangan di sepanjang jalan menuju Curug Cilalay
Musim tanam padi di jalan menuju Curug Cilalay
Sungai berair jernih menjelang Curug Cilalay
Sungai berbatu-batu dalam perjalanan menuju Curug Cilalay

Gowes Heritage ke Rengasdengklok & Batujaya

Bosan nanjak. Kita cari yang datar-datar dulu tetapi targetnya tetap Grand Fondo alias 100km-an. Setelah mereka-reka track di Google Maps akhirnya kita putuskan untuk mengunjungi dua lokasi yang menjadi tonggak sejarah Indonesia yaitu Rengasadengklok dan Batujaya.

Rengasdengklok merupakan mata rantai sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana kota kecil tersebut menjadi tempat pengasingan Sukarno-Hatta ketika diculik oleh para pemuda revolusioner yang menginginkan agar dwitunggal segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Alasannya Jepang kalah perang dan Sekutu belum masuk ke Indonesia. Ada kekosongan kekuasaan alias vacuum of power.

Di Rengasdengklok rumah salah satu anggota PETA, Djiauw Kie Siong dipilih sebagai tempat untuk mengasingkan Sukarno-Hatta. Selain karena lokasinya terpencil dan cukup jauh dari Jakarta. Rumah Djiauw Kie Siong dianggap cukup layak dan besar pada jamannya untuk menampung kedua tokoh pergerakan tersebut.

Batujaya merupakan lokasi ditemukannya beberapa candi dari bahan batu bata yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Tarumanegara, salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara yang sebelumnya hanya diketahui dari beberapa prasasti menjadi kini menjadi semakin mudah dipelajari karena beragam peninggalan yang bisa memberikan banyak informasi.

P5 @ Pasir Tanjung

Gowes datar rupanya sepi peminat. Jika gowes nanjak bisa 6-10 orang kali ini hanya berempat saja (ndilalah kersane Allah , pada hari H banyak yang berhalangan 🙂 ), saya, Om Bambang, Om Amin dan Om Arifin . Berempat kami menyusuri percabangan saluran irigasi Tarum Barat Selatan (atau yang lebih populer dengan sebutan Kalimalang) dari Pasir Tanjung ke arah Rengas Bandung.

Mencoba bermain speed karena track yang sangat datar. Terengah2 juga karena ban MTB yang berukuran besar membuat rolling resistance dengan jalan cukup berat. Dalam jangka lama rolling resistance ini akan menyedot tenaga juga. Apalagi jika bahan bakarnya hanya semangkok bubur ayam (meskipun ditambah dengan 3 tusuk sate telur puyuh 😀 ) maka akan cepat habis. Beruntung udara pagi sepanjang saluran irigasi ini masih sejuk, pemandangan menghijau, lalin tidak terlalu ramai sehingga gowesnya bisa agak santai.

Pada segmen Kedungwaringin – Rengasdengklok kami berusaha untuk menambah kecepatan atau minimal konstan karena bertemu aspal mulus. Track mulus tidak boleh disia-siakan karena kami juga mengejar waktu agar sampai rumah sebelum petang. Di track datar, karena minim tanjakan dan obyek menarik di sepanjang jalan maka sedikit alasan untuk beristirahat. Akibatnya kami dipaksa untuk bermain endurance. Salah satu tanda bahwa kami harus beristirahat adalah ketika pantat terasa panas.

Di Tugu Proklamasi dan Monumen Kebulatan Tekad (waktu itu masih dikunci) tidak banyak yang bisa diceritakan. Sedikit kumuh dan aksi grafiti pada tugu semakin mengurangi daya tariknya.

Di rumah alm. Djiauw Kie Siong kami menghabiskan waktu agak lama melihat-lihat memorabilia dan ngobrol dengan generasi ketiga yang saat ini menjaga rumah tersebut sekaligus sebagai narasumber yang mencerikan pernak-pernik penjuangan kakek moyangnya dan lika-liku sebagai minoritas yang pernah menjadi korban generalisasi akibat aksi pengkhianatan PKI. Sosok yang ramah. Kami menikmati obrolan di ruang tamu maupun beranda sambil menikmati semilir angin di pagi hari yang masih sejuk karena matahari tidak terlalu terik.

Berikutnya kami menuju Batujaya dengan menyusuri Citarum dai sebelah barat sungai yang masuk wilayah Bekasi. Track ini relatif teduh dengan pepohonan di sepanjang jalan. Cukup membantu untuk menghemat stamina. Awalnya 24km antara Rengasdengklok – Batujaya akan kami libas sekali jalan. Rupanya selepas Rengasdengklok pantat menjadi semakin tidak bersahabat, semakin cepat panas 😛 Alhasil dalam rentang 24km kami mengambil pitstop dua kali.

Tiba di Situs Batujaya kemi menuju museum dulu. Salut untuk bapak penjaga karena bisa menceritakan sejarah penemuan dan pemugaran situs di Cibuaya dan Batujaya. Kelemahannya adalah ada tiga pos yang meminta sumbangan seikhlasnya tanpa bukti pembayaran. Dalam hal ini saya salut dengan Perhutani yang mengelola Curug Cigeuntis dan Curug Tilu, ada karcisnya 🙂 .

Candi Blandongan dan Candi Jiwa yang berada di situs Batujaya berada kurang lebih 1,5 meter di bawah permukaan tanah/sawah. Konon hal tersebut diakibatkan luapan dan endapan Sungai Citarum. Sedimentasi ternyata bisa meredupkan peradaban. Selain mengubur candi-candi, sedimentasi ini mengakibatkan terbentuknya daratan baru yang membuat posisi pusat Kerajaan Tarumanegara semakin jauh dari laut sehingga aspek strategisnya dari sisi perhubungan laut semakin menurun.

Membaca sejarah peradaban Nusantara

Gowes dan kuliner dua hal yang sulit dipisahkan. Karena menjelajah dan jauh dari rumah, maka asupan kalori harus diisi dari warung di sepanjang jalan. Beruntung kami mendapatkan warung yang representatif. Warung Mak Ate. Di tempat tersebut kami menyantap sop daging. Cukup mak nyuuss!!! Apalagi kondisi lagi kelaparan.

Akhirnya setelah berjibaku sepanjang “jalur neraka” Sukatani – Pilar, lalu masuk jalur peradaban Jababeka – Lippocikarang, jam 15:15 kami sampai rumah. Dua target tercapai. Grand Fondo dan sampai rumah sebelum petang.

Cikarang – Rengasdengklok – Batujaya – Sukatani

Gowes ke Curug Cilalay via Kebun Pinus Antajaya

Track gowes ini meminjam gpx dari Captain Atoe 🙂 Thanks, Capt.

Sudah lama saya bertanya-tanya dan menduga-duga tentang kemungkinan adanya jalur menuju Curug Cilalay dari arah Antajaya. Seminggu sebelumnya ketika gowes ke Kebun Pinus Antajaya saya mengkonfirmasi hal tersebut ke warga lokal dan mereka membenarkan adanya jalur tersebut.

Gayung bersambut ketika ngobrol dengan teman-teman Ecekeble rupanya kapten pernah melibas track tersebut. Dari gpx kapten saya coba menganalisa di mana posisi saya ketika nyasar sekaligus menandai persimpangan ke arah Curug Cilalay yang sebelumnya diinformasikan warga.

Saya berusaha mendapatkan ‘teman seperjuangan’ yang tertarik untuk melibas track yang cukup menantang ini. Dan tawaran ini bersambut dari Kiki, goweser muda dari GAS (Gowes Asyik Syahdu) yang sepak terjangnya sudah terbukti dan teruji. Pilihan ini kemudian terbukti tidak salah 🙂

5:40 kami start dari gerbang Meikarta. Meski Cikarang bagian utara tidak turun hujan ternyata di bagian selatan sebelumnya turun hujan deras. Terlihat dari jalanan yang basah dan becek di beberapa titik. Kami masih berharap agar tidak turun hujan di daerah Cariu – Tanjungsari.

Warung langganan di Babakan Raden dan Cariu tidak ada yang buka sehingga kami hanya sarapan dengan lontong sayur di samping alun-alun Cariu. Semoga energinya cukup untuk menanjak.

Memasuki Antajaya rupanya harapan kami agar tidak turun hujan tidak terkabul. Seperti halnya Bojongmangu, Cariu – Tanjungsari diguyur hujan deras sehari sebelumnya. Mendekati Kebun Pinus Antajaya mulai terlihat tantangan yang akan kami hadapi, tanah basah yang lengket. Sebelumnya sempat berdiskusi dengan Kiki, trip akan kami batalkan jika kondisi track basah. Sebelumnya kapten juga berpendapat agar tidak melibas track ini ketika sebelumnya turun hujan.

Bismillah. Setelah mengisi ulang perbekalan (air) kami membulatkan tekad untuk melibas track ini. Tidak seberapa jauh dari Kebun Pinus kami mulai bertemu tipikal track yang sesungguhnya, basah – licin – lengket – nanjak. Acara dorong mendorong dan tuntun menuntun sepeda pun dimulai.

Sempat nyasar sebentar ketika melewati tanjakan pertama tetapi kemudian kami melakukan re-route berdasarkan gpx yang sudah kami unduh. Sempat melakukan konfirmasi juga dengan petani yang sedang memikul air untuk dibawa ke pondoknya memang benar jalur yang kami lewati menuju ke Curug Cilalay.

Selanjutnya tanjakan demi tanjakanharus dilewati dengan dorong mendorong karena selain curamnya minta ampun tanahnya juga menjadi sangat licin. Konsentrasi tersedot untuk melibas tanjakan tidak ada waktu untuk membersihkan roda-roda yang menebal karena tanah menempel. Hal ini mengakibatkan sepeda menjadi lebih berat karena seolah-olah lengket ke tanah.

Keringat bercucuran, jersey basah kuyup. Acara riding berubah seketika menjadi trekking dan hiking. Beruntung vegetasi rapa menghijau dan gunung-gunung yang berada di sepanjang perjalanan menjadi pengobat capek. Rasa capek sedikit terobati oleh pemandangan indah. Di sini teman seperjalanan Kiki mulai beraksi. Ketika saya sudah tidak memikirkan untuk mengambil foto-foto sepanjang track, Kiki masih rajin mengabadikan momen-momen mendorong ataupun menggowes sehingga segmen perjalanan ini ada ‘barang bukti’nya.

Beratnya track ini bisa dilihat dari pose mendorong yang sampai harus memiringkan badan karena harus melawan gravitasi. Di banyak titik tanjakan memiliki grade antara 20 sampai 46 yang paling ekstrim.

Selain tanjakan ekstrim musuh utama kami adalah track yang basah oleh hujan. Biasanya track di pegunungan tanahnya berpasir sehingga tidak menempel ke ban. Tapi perbukitan atau pegunungan di sekitar Sanggabuana ini tanahnya adalah tanah liat. Ketika basah maka akan menjadi licin dan lengket sehingga ban menjadi donat. Saking besarnya donat yang terbentuk, tanah-tanah tersebut menyangkut di frame sepeda.

Bonus pemandangan dan track agak datar kami dapatkan ketika mencapai elevasi 450mdpl. Dari posisi tersebut kami mendapatkan pemandangan bebas ke arah Pegunungan Sanggabuana, ke arah Green Canyon dengan latar Gunung Sulah dan Gunung Rungking.

Mendekat track turunan ke arah curug kami mencoba untuk mencari jalur baru yang langsung menuju curug. Kiki berinisiatif untuk memeriksa jalur jalan setapak apakah arahnya mendekati curug, Rupanya jalur jalan setapak tersebut malah menjauhi curug, Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti track dari Capt. Atoe.

Track turunan yang ekstrim ini rupanya jarang dilewati orang. Terlihat dari tumbuh-tumbuhan di kanan dan kiri track yang menutupi track. Tumbuhan liar seperti semak dan perdu ataupun tanaman kopi semuanya menjulur ke arah track karena jarangnya orang yang lewat. Lagi-lagi karena track basah dan rusak oleh hujan serta kemiringannya ekstrim di sebagian besar segmen di turunan ini pun sebagian besar kami harus menuntun sepeda. Kami tidak bisa memanfaatkan turunan ini untuk mempersingkat waktu dan menghemat energi.

Sekitar setengah jam disiksa oleh turunan edan ini akhirnya kami mendengar genericik air dan sungai yang mengarah ke Curug Cilalay. Kami memutuskan untuk meninggal kan sepeda di dekat sebuah dangau. Kami meanjutkan perjalanan ke curug dengan trekking. Pilihan yang tepat. Jika kami membawa sepeda maka akan semakin banyak energi terbuang dan sangat merepotkan. 

Jadawal makan siang terlewat. Perut keroncongan. Lupa membawa bekal makanan berat. Beruntung bertemu sebuah warung yang menyediakan minuman hangat dan makanan ringan. Saya menghabiskan dua gelas kopi instan dan beberapa bungkus snack. Lumayan untuk menghangatkan badan dan mengganjal perut.

Selain Curug Mariuk, Curug Cilalay inilah curug terindah yang pernah saya kunjungi. Yang membuat Curug Cilalay terlihat sangat indah adalah airnya yang jernih, strukturnya yang bertingkat-tingkat, bebatuan besar di aliran sungainya, vegetasi yang msih lebat dan terjaga dan minim pengunjung.

Curug Cilalay

Kami tidak melewatkan kesempatan untuk mandi-mandi membersihkan cucuran keringat dan menyegarkan badan. karena berada pada elevasi 400mdpl-an airnya tidak terlalu dingin sehingga membuat siapa saja betah untuk berlama-lama berendam. Segarnya air curug membuat badan terasa lebih fresh dan mengurangi rasa capek.

Perjalanan kembali ke arah Green Canyon rupanya masih menyisakan beberapa tantangan. Medan yang rolling, berbatu-batu besar, becek dan berlumpur di beberapa segmen dengan sawah dan kebun, beberapa kali menyeberangi aliran sungai. Pemandangan di segmen ini juga tidak kalah indah dibanding pemandangan dari segmen pegunungan.

Sungai, sawah dan Gunung Sulah

Premier 5 menyeberang sungai

Menjelang Green Canyon saya menyerah. Kalori benar-benar sudah habis akibat tidak makan siang dan beratnya medan. Bahkan untuk menuntun sepeda pun sempoyongan. Menjelang tanjakan terakhir di samping Green Canyon saya pun dievak. Sepeda diambil Kiki saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kurang lebih 300meter panjang tanjakan ini. Selanjutnya saya bisa menaiki sepeda lagi karena tracknya menjadi gowesable karena sudah dicor.

Satu ekor ayam bakar dan sepiring nasi akhirnya bisa disantap di Green Canyon untuk mengembalikan energi. Beruntung ketika tiba di warung kemudian turun hujan deras.

18:30 akhirnya saya sampai di rumah. badan dan sepeda sama belepotannya oleh lumpur. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Insyaallah di musim kemarau akan menjajal lagi track tersebut 🙂

Curug Cilalay via Antajaya

Gowes ke Curug Arca, Sukawangi, Sukamakmur

Curug Arca (aka Curug Saridun) berada pada ketinggian sekitar 1200mdpl. Pada ketinggian tersebut membuat air curug menjadi sangat dingin sehingga tidak bisa berlama-lama mandi dengan air curug karena akan membuat badan menggigil.

Ketika kami berkunjung pada 19 September 2020, secara resmi curug sedang ditutup. Entah karena pandemi Corona atau karena sedang dalam tahap perbaikan karena di sekitar curug terdapat beberapa material bangunan.

Terdapat beberapa longsoran di jalan akses menuju curug. Jika diperhatikan tebing-tebing di sekitar curug memang terlihat mudah longsor. Bahkan di dasar curug terdapat longsoran atau material batuan terlihat dibawa aliran air sehingga bagian bawah curug yang seharusnya membentuk kubangan menjadi dangkal. Artinya di hulu curug juga terdapat longsoran.

Mengingat kondisi tersebut, jika ingin berkunjung ke Curug Arca (Curug Saridun) sebaiknya tidak di musim hujan. Khawatir ada longsoran dari atas.

Polygon Premier 5 @ Curug Arca (Curug Saridun)

Kami menuju Curug Arca (Curug Saridun) via Gunung Batu karena ingin menghindari keruwetan jalur Curug Ciherang/Cipamingkis. Jalur ini relatif sepi, pemandangan lebih bagus dan udara lebih segar akibat jarang kendaraan yang lewat.

Tantangan utama dari jalur gowes ini berada pada km 46 – 57 dimana kami harus mendaki dari ketinggian 511mdpl menuju 1180mdpl. Beberapa tanjakan grade-nya bisa mencapai 22%. Mengingat stamina yang sudah turun, tanjakan-tanjakan tersebut harus dilibas selangkah demi selangkah diselingi dengan istirahat.

Seperti halnya jalur pegunungan yang lain yang banyak rolling, meski gowes dari ketinggian 34mdol di Cikarang menuju 1200mdpl di Curug Arca (Curug Saridun) tetapi total elevasi yang kami dapatkan mencapai 2000m.

Menjelang curug dinaungi pohon pinus
Menjelang curug track menjadi rimbun dan menghijau
Kelenger setelah dihajar tanjakan grade 17%
Premier 5 dengan latar tebing gunung
Tim GAS berpose menjelang Gunung Batu
Track dan elevasi Lippocikarang – Curug Arca (Curug Saridun)

Kampus UNJ Cikarang ( 6 Sep 2020)

Berdasarkan cerita warga yang sudah lama bermukim di Taman Cibodas, Lippocikarang, pada tahun 90-an kampus UNJ di Lippocikarang sempat memiliki beberapa bangunan permanen. Ketika saya pindah ke Lippocikarang awal 2007 kondisi area kampus sudah terlantar dan bekas bangunan sudah tidak ada. Di beberapa bagian jalan aspal masih mulus dan sebagian sudah diinvasi oleh semak belukar.

Lama tidak bermain di area tersebut sore tadi saya menyempatkan diri untuk merambah lagi area kampus UNJ Cikarang. Fyi, track ini hanya bisa digowes di musim kemarau. Di musim hujan tanahnya sangat lengket ke roda sepeda. Roda akan berubah menjadi donat yang semakin lama akan semakin besar sehinggal tidak bisa digowes lagi karena mentok ke frame dan fork.

Kampus UNJ Cikarang dengan latar bekas jalan beraspal dan District 1 Meikarta
Kampus UNJ Cikarang. Tanah lio akan berubah menjadi sangat lengket di musim hujan
Kampus UNJ Cikarang. Konturnya berbukit