Gowes di Bojongmangu – Bekasi Selatan

Apa yang menarik dari Bojongmangu? Trek yang rimbun karena banyak kebun dan ladang. Banyak di antaranya ditanami dengan tanaman keras seperti mahoni, jati, jabon dan bambu. Beberapa area yang datar menjadi persawahan terutama di musim hujan.

Beberapa tujuan yang bisa disinggahi adalah Bumi Perkemahan Karangmulya, Situ Abidin dan Situ Rawa Bedeng. Atau jika kita ingin merasakan sensasi menyeberang sungai dengan eretan melintasi Cibeet bisa juga dicoba karena penyeberangan ini tidak jauh dari jalan utama.

Setelah dibuka kawasan industri GIIC Deltamas maka semakin banyak rute alternatif menuju Bojongmangu. Sebelumnya dari arah Cikarang hanya bisa diakses melalui Gardu Induk Cibatu atau Cicau via Pasir Kupang.

Rimbun rumpun bambu

Tanaman keras dan ladang

Situ Abidin

Tanjakan dari arah GIIC Deltamas

Iklan

Bersepeda Modal Dengkul

Modal dengkul adalah istilah populer yang berarti tanpa modal atau kalaupun memakai modal tidak besar-besar amat. Nahh istilah ini cocok sekali untuk menggambarkan hobi bersepeda. Untuk menekuni hobi ini tidak butuh modal besar-besar amat. Dengan sepeda seadanya, kostum seadanya, kalau belum sepatu memakai sandal juga tidak masalah, kita sudah bisa melanglang buana.

Kalau kita belajar ekonomi ada istilah BEP, break even point atau titik impas. Jika modal yang kita pakai sedikit maka dengan keuntungan yang sedikit dan jangka waktu yang tidak terlalu lama maka modal kita akan balik atau impas. Nah jika kita bawa ke kegiatan bersepeda maka semakin sederhana dan murah sepeda kita titik impasnya akan semakin cepat kita peroleh.

Sebaliknya sepeda-sepeda yang mahal itu titik impasnya lebih lama kita peroleh karena modalnya besar sekali. Lain halnya jika keuntungan itu tidak hanya kita hitung dari mileage tetapi juga dari pride. Pride inilah yang membuat sebagian orang cenderung untuk lebih membanggakan kecanggihan sepedanya dibanding mileage-nya. Apakah salah? Tidak juga. Setiap orang boleh merayakan keberhasilannya dengan memilih trofi/piala kesuakaannya. Ada yang berupa motor, sepeda atau bahkan mobil.

Maksud saya justru agar saya dan anda yang memakai sepeda biasa-biasa saja tidak berkecil hati. Manfaat terbesar dari bersepeda adalah fresh, relax dan health. Itu semua bisa kita peroleh dengan sepeda jenis apapun.

Ada salah satu teman gowes saya yang mengikuti aliran “rongsok”. Alias me-retrofit sepeda-sepeda jadul agar tampil lebih cantik. Salah satunya adalah sepeda Federal rongsok. Dengan sepeda tersebut dia mengikuti acara gowes kolozal Cikarang MTB yang rutenya cukup menantang di area Pengalengan, Bandung Selatan. Nyatanya ia bisa bersaing dengan sepeda-sepeda lain yang lebih canggih. Tidak tercecer di belakang apalagi sampai dievakuasi. Artinya dengkul, semangat dan skill bersepedanya lebih menentukan.

Jadi, mari kita pancal sepeda kita. Jangan biarkan teronggok di garasi dan hanya menjadi pajangan. Kecuali kita kolektor sepeda 🙂

IMG_20170917_064212

Xtrada di Meikarta

Karet rem, kabel rem, kabel shifter murah

Bersepeda tidak usah memaksakan dengan yang mahal-mahal. Kalau kemampuan dan kebutuhan kita yang murah meriah buat apa beli yang mahal. Contoh komponen-komponen murah meriah seperti di bawah ini.

Karet rem harga per buah 5.000. Kabel rem + selongsong harga per set 10.000. Kabel shifter harga per buah 10.000. Total belanjaan hanya 60.000 saja. Ini untuk dua sepeda, Polygon Monarch dan Polygon Astroz.

Kabel rem, karet rem, kabel shifter murah

Beli di mana? Toko Nusantara Makmur, Cikarang Baru, telepon: 021-29083338

Danau Elysium oase Lippo Cikarang

Saat jogging atau bersepeda, pagi ataupun sore hari, area di sekitar Danau Elysium selalu menarik untuk menjadi tempat istirahat. Ada spot menarik di tengah taman/hutan dan di bawah jembatan.

Beberapa teman yang belum pernah bermain ke Cikarang bertanya, “Memangnya di Cikarang ada spot seperti itu?”

Bekasi bagian selatan masih menarik untuk bersepeda

Setelah kemarin hujan deras, akhirnya Xtrada 4.0 bisa keluar di Minggu pagi, 23 April 2017. Tujuan kali ini adalah Situ Rawa Bedeng. Sebuah situ yang berada di Bojongmangu. Rute kali ini sengaja dibuat melingkar. Berangkat lewat Cicau. Pulang lewat Gitet Cibatu.

Di Cicau, jalan beraspal yang dulu rusak bergelombang sudah berganti dengan beton mulus. Setelah perumahan Graha Cibenda bertemu dengan trek macadam yang menjadi pengobat bosan karena selalu bertemu jalan mulus. Setelah Cibenda maka semua trek merupakan trek beton/aspal mulus kecuali beberapa segmen sekitar Rawa Bede dan trek tengah sawah yang masih menyisakan macadam.

Meski demikian ketika kita bersepeda ke arah selatan maka kita akan mendapatkan jalan-jalan dengan traffic yang lebih sepi, pemandangan lebih hijau dan tentunya udara yang lebih segar.

Pagi itu, Cibodas – Rawa Bedeng via Cicau-Cibenda menghasilkan jarak 34km. Lumayan untuk mengeluarkan keringat dan memanaskan betis dan paha.

T. Cibodas – Rawa Bedeng, Bojongmangu

 

Bersepeda di sepanjang Irigasi Primer Bila Kalola

Celebes_Road

Rute sepajang saluran irigasi primer Bila Kalola sangat menarik untuk digowes. Karena sebagian besar berada di tengah persawahan sebaiknya dilibas pada pagi hari untuk menghindari sengatan terik mentari.

Saluran irigasi ini cukup jauh dari pemukiman sehingga berbagai jenis burung aman dari gangguan manusia. Alap-alap, elang, bangau, kuntul dan burung puyuh bisa dijumpai dengan mudah di sepanjang saluran irigasi ini. Cycling sekaligus birdwatching.

Di trek gowes ini terdapat sebuah ranch di perbukitan dengan padang rumput yang bagus untuk background foto. Andai lokasinya dekat dengan pemukiman pasi akan ramai dikunjungi orang.

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Kalola Ranch Kalola Ranch

20160911_074926 Salo (sungai) Bila

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Lihat pos aslinya

Morning Ride -Singosari Beautiful Countryside

Sepeda Pacific baru yang berdiri di ruang tamu menggodaku untuk mencoba menaikinya menyusuri pedesaan Singosari. Akhirnya Minggu pagi 28 Agustus 2016 kuputuskan untuk mencobanya ke arah Stupa Sumberawan, Toyomarto.

Strava langsung kuaktifkan. Sayang, karena sinyal jelek, setelah 500m berjalan Strava baru merekam aktivitas gowes. I missed that 500m 😛

Rute kali ini akan melintasi 4 desa di kaki Gunung Arjuna, a.l. Purwoasri, Klampok, Gunungrejo dan Toyomarto. Elevasi trek berada pada kisaran 500 – 700mdpl. Tidak terlalu ekstrim. Cocok untuk gowes minggu pagi yang tidak membutuhkan waktu lama tetapi cukup menguras tenaga.

Segmen Purwoasri – Klampok sedikit menanjak dari arah Gebyak menuju Gentong. Tanjakan terjal terdapat pada jembatan penghubung antara Gentong dan Pasrepan. Selebihnya adalah trek rata sampai Gunung Rejo.

Bagian paling menarik dari trek ini terletak di Gunungrejo. Di Dusun Mbiru terdapat tanjakan yang memaksaku memindahkan rantai ke sprocket terbesar. Setelah itu terdapat tanjakan panjang sampai kantor desa Gunung Rejo. Kedua tanjakan ini merupakan daya tarik utama dari segmen ini. Selain itu segmen ini menawarkan banyak hotspot dengan latar Gunung Arjuna Gunung Kawi-Panderman dan Lembah Malang.

Gunungrejo Singosari dengan latar Gunung Arjuna

Gunungrejo Singosari dengan latar Gunung Arjuna

Selain itu di ujung segmen ini terdapat Stupa Sumberawan yang konon merupakan satu-satunya candi Budha yang ada di Jawa Timur. Stupa Sumberawan terletak di sebuah lembah yang merupakan mata air. Mata air ini merupakan sumber air bagi PDAM Singosari.

Kesimpulanya, trek gowes ini sangat recommended bagi goweser Malang Raya atau siapa saja yang ingin berkeringat dan memanaskan dengkul tetapi waktunya mepet. Trek gowes ini bisa dilibas dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Cukup 2-3 jam saja. Start point bisa dari arah Karanglo (Sekargadung), Losawi (sekitar kampus ITN) atau Mondoroko (RS Marsudi Waluyo).

Stupa (candi) Sumberawan

Stupa (candi) Sumberawan

 

Trek Gowes ke Candi Suberawan Singosari

Trek Gowes ke Candi Suberawan Singosari