Setahun bersama Polygon Premier 5 edisi 2020

Polygon Premier 5 ini adalah sepeda termahal yang pernah kumiliki. Sebelumnya memakai Maverick (800 ribu), Astroz (1,6 juta), Xtrada 4 (3,2 juta) dan Premier 5 (4,5 juta). Kecuali Maverick digondol orang ketika disimpan di tempat parkir kos, semua sepeda berikutnya adalah proses naik kelas karena menemukan medan yang menantang dan membutuhkan sepeda yang mumpuni.

Ketika memakai Astroz dan melibas trek Curug Cigentis – Karawang, V-brake sama sekali tidak pakem, tidak mampu melakukan pengereman sehingga bonus turunan tidak bisa dinaiki. TTB di turunan itu menjengkelkan sekali.

Saat memakai Xtrada 4.0 dan mengikuti gowes kolozal Cikarang MTB dengan rute Tahura Juanda (Bandung) – Cipunagara (Subang), jari jemari menjadi kaku karena dihajar turunan panjang dan cukup curam. Mechanical discbrake berarti daya pengereman berbanding lurus dengan cengkeraman tangan ke tuas rem.

Tidak mengherankan jika Premier 5 meski usianya baru setahun tetapi mileage-nya sudah mencapai hampir 10.000 km. Sepeda ini mewakili upgrade/kenaikan kelas dari sepeda-sepeda sebelumnya. Peningkatan paling signifikan adalah 9-speed dan Hydraulic discbrake. Dua fitur ini membuat tanjakan lebih mudah dilibas dan turunan menjadi lebih enjoy karena tidak terlalu capek mengerem.

Bagi kita yang memakai sepeda biasa-biasa saja, atau belum memiliki kesempatan memiliki sepeda yang lebih mumpuni, mileage Xtrada 4 dan Premier 5 ini seharusnya menjadi penyemangat.

Syte Instinct – Sadel bagus harga murah

Seringkali komponen cakep dan fungsional tidak harus mahal.

Karena merasa kurang puas dengan geometri dan ergonomi sadel Entity bawaan Premier 5, saya coba menggantinya dengan sadel Syte. Ternyata pas. Nyaman di pantat. Modelnya tidak terlalu tebal dan bersudut tajam.

Harganya hanya 115.000 di Serba Sepeda Lippocikarang.

Ini adalah sadel Syte kedua setelah sadel pertama jebol setelah sepeda saya terbang, juga penunggangnya, di depan District 1 Meikarta.

Overall, saya puas dengan performa dan harganya 🙂

Sadel Syte Instinct
Syte Instinct – Harga 115.000

Gowes XC Gunung Pilar, Sukamakmur – Kab. Bogor

Bogor Timur memang memiliki beragam daya tarik dengan lansekap pegunungan yang membentang mulai dari Gunung Pancar hingga Pegunungan Sanggabuana. Salah satu lokasi yang menyimpan banyak potensi wisata tersembunyi adalah Sukamakmur.

Berawal dari rasa penasaran saat beristirahat di sebuah kebun cengkeh, dimana ada bapak-bapak memakai motor masuk ke arah jalan setapak. Ketika diriku mengikuti jalan tersebut ternyata menuju ke sebuah kampung yang berada di lembah. Hasil obrolan dengan bapak-bapak menginformasikan bahwa ada jalan setapak ke kampung atas yang kini populer sebagai arena motorcross. Karena fokus dengan target menemukan akses Mulyasari – Cisoro maka rasa penasaran itu kusimpan untuk trip berikutnya.

Minggu depannya, kusampaikan ideku untuk melakukan survei jalur ke kampung atas seperti yang diinfokan bapak-bapak minggu lalu. Gayung bersambut ideku disetujui oleh sekelompok goweser yang sok-sokan menamakan dirinya Trailblazer. Berlima (diriku, On Eka, Om Urip, Om Ipin, Om Sigit) kami membelah jalanan Cikarang via Delta Silicon 8 – Warbond – Cibarusah. Di Cibarusah kami mengisi bahan bakar di sebuah wateg. Om Sigit tidak melanjutkan perjalanan karena ada urusan.

Akses masuk ke Puncak Pilar ini cukup tersamar dari jalan besar. Seandainya tidak diinfokan oleh warga sekitar, diriku pun tidak menyangka jika jalan setapak di lereng bukit dengan bekas longsoran itu menuju ke sebuah perkampungan yang cukup besar. Kemiringan yang curam membuat kami semua rontok dihajar tanjakan. Beberapa orang hanya mampu menyelesaikan seperempat dan maksimal separuh dari total tanjakan. Di ujung tanjakan bonus pemandangan lepas ke arah Cioray, Bukit Hambalang dengan kibaran benderanya yang ikonik dan pabrik semen nampak dari ujung tanjakan. Kami memanfaatkan latar pemandangan tersebut untuk mengambil beberapa pose narsis.

Rontok di tanjakan menjelang Kampung 10
Narsis di ujung tanjakan

Dari ujung tanjakan, ternyata kampung atas/Kampung 10 ternyata tidak seberapa jauh. Menjelang kampung, tracknya sangat gowesable dan relatif datar dengan pepohonan jabon dan tanaman kebun lain di sepanjang jalan. Di ujung kampung track mengarah ke sawah yang berada di sebuah lembah.

Dari pinggir sawah ini kami bisa memandang ke sebuah bendera yang berada di puncak sebuah bukit. Rupanya itu adalah Puncak Pilar. Nampak beberapa orang sedang berada di puncak. Mereka menerikan kami. bisa jadi terheran-heran karena ada goweser yang bisa nyasar sampai ke situ. Mereka pun berlarian menejmput kami ketika kami memberi isyarat bahwa kami hendak menuju puncak.

Menjelang puncak terdapat beberapa segmen yang kemiringannya cukup curam sehingga saat mendorong sepeda kami harus berada di belakang. Tidak bisa lagi mendorong sepeda dengan beriringan. Ini agar grip sepatu ke tanah mengimbangi tarikan gavitasi berata badan plus sepeda. Segemennya tidak seberapa panjang tetapi cukup menguras tenaga. Tanah gembur membuat pijakan kurang mantap dan beberapa kali terpeleset.

Dorong-dorong

Menjelang Puncak Pilar kembali kami disuguhi track miring tetapi tidak sesulit sebelumnya. Memanfaatkan rerumputan yang berada di sisi track, kami memakainya sebagai pijakan. Lumayan berhasil dibanding harus melewati track sebenarnya yang tanahnya rontok dan agak berpasir karena dihajar motor trail.

Sampai di Puncak Pilar kami langsung disambut oleh dua orang moto-crosser yang sudah sampai di puncak duluan. Mereka sedang membuat video. Begitu melihat rombongan goweser, mereka langsung berkomentar, “Elo-elo yang pakai motor trail, Lihat nih sepeda aja bisa sampai puncak masak elo-elo yang tinggal nge-gas doang pakai mesin ga berani ke sini.”

Di Puncak Pilar kami menikmati pemandangan ke segala arah. Ara Puncak Sintok dan Gunung Sanggar di Selatan. Gunung Batu dan Lembah Cipamingkis di Timur. Di sebelah Utara terdapat Cioray dan Pasir Awi. Angin bertiup cukup kencang sehingga panas terik di siang hari tidak lagi terasa. Kami berlama-lama menikmati pemandangan dari atas sekaligus mengumpulan foto-foto sebanyak-banyaknya. Kami ingin berbagi keindahan dari Puncak Pilar ke penikmat wisata outdoor non-konvensional 🙂

Summit attack ke Puncak PIlar. Menunduk bukan akting, emang tracknya miring.
Polygon Premier 5 di Puncak Pilar

Gowes XC Cibakatul – Mulyasari – Cisoro

Segmen Cibakatul – Mulyasari – Cisoro

Track yang wajib dicoba bagi pecinta gowes cross country. Kenapa? Karena sepanjang segmen Kampung Babaken Epek, Cibakatul, Mulyasari, sampai dengan Cisoro kita akan gowes di sepanjang sisi pegunungan yang menyajikan pemandangan indah. Kecuali di Kampung Cibakatul yang agak crowded, segmen lainnya minim kendaraan bermotor sehingga kita akan full menghirup udara segar.

Tanjakan-tanjakannya mulai dari pertigaan Sukamakmur sampai dengan Mulyasari akan menguji kekuatan dengkul dan jantung kita. Beberapa diantaranya memiliki grade yang cukup ekstrim sehingga meski ketinggian sadel sudah maksimal tetap akan membuat roda depan terangkat-angkat saat kita mengayuh untuk melibas tanjakan.

Oh ya, di segmen ini juga bisa dipakai sebagai alternatif yang lebih gowesable untuk ke Curug Golek. Menjelang gerbang pendakian ke Punsak Palasari terdapat pintu masuk ke Curug Golek.

Segmen Mulyasari – Cisoro adalah daya tarik utama dari track ini. Di sini kita akan menghirup udara murni bebas polusi yang dihasilkan dari tanaman perkebunan dan hutan yang ada di lereng-lereng gunung. Segmen ini dulunya akan dipakai sebagai jalur alternatif ke Puncak via Cipanas – Cianjur. Jalur ini akan bertemu dengan Curug Ciherang. Namun sekarang kondisinya terbengkalai dan tidak terawat. Di beberapa tempat makadamnya masih utuh tetapi banyak yang tertutup semak belukar dan perdu. Beruntuk beberapa petani dan peladang berinisiatif membersihkan semak dan perdu tersebut untuk mempermudah akses ke sawah dan ladang mereka.

Sawah di Kampung Babakan Epek
Menjelang Palasari
Cemoro Tunggal – Palasari
Sawah di Mulyasari
Menjelang Mulyasari
Pemandangan ke arah lembah Gunung Sanggar
Sawah di bawah Gunung Sintok
kP5 dengan latar sawah, dangau dan Gunung Sintok
Tipikal track sepanjang segmen Mulyasari – Cisoro (kebun kopi yang menyatu dengan hutan)

Gowes ke Curug Cilalay via (Jalur Brutal) Antajaya

Gowes bareng bersama rombongan GAS (Gowes Asyik Syahdu) kali ini cukup banyak pesertanya. Total ada 14 goweser. Tikum @ Gerbang Meikarta, wakum @ 5:30. Seperti biasa molor dengan beragam alasan. Termasuk diriku yang harus menyelesaikan siklus harian di pagi alias BAB. Akhirnya jam 6:05 kami berangkat menyusuri track Deltamas – Karangkitri – Cariu. Track yang sangat terkenal bagi para pemburu elevation gain karena adanya rolling perbukitan Bojongmangu. Lumayan untuk menambah EG.

Seperti yang sudah terlihat sebelumnya di sepanjang jalan raya Cariu – Tanjungsari, daerah sekitar Antajaya diguyur hujan sehari sebelumnya. Tanah masih terlihat basah dan beberapa titik masih becek. Begitu nyempal dari jalan beraspal dan memasuki perkampungan terlihat bahwa hujan sehari sebelumnya cukup deras. Menjelang Wisata Pinus Cihalimun bahkan ada segmen jalan yang menjadi sangat licin karena tertutup oleh tanah liat dari ladang yang tergerus air hujan. Belum apa-apa ban sepeda sudah menjadi donat dan sebagian tanah mulai tersangkut di RD.

Kami melakuan regrouping dan briefing di pelataran Pinus Cihalimun. Sepertinya tempat wisata ini sepi pengunjung. Kondisinya mulai kurang terawat dan semua lapak penjual makanan/minuman tutup hari itu. Setelah menganalisa bekas curah hujan sehari sebelumnya saya dan Eka sudah memprediksi bahwa ini akan menjadi trip yang berat karena medan menjadi becek, licin dan lengket. Kami menawarkan kepada rombongan jika ada yang ingin balik kanan dipersilahkan. Rupanya rombongan sudah bertekad bulat akan melibas track ini apa pun yang akan terjadi.

Selepas dari Pinus Cihalimun adalah point of no return. Tanjakan pertama berada di persimpangan antara jalur ke Curug Cialalay dan bantaran sungai Cikembar. Rontok semua di segmen ini. Goweser yang terkaget-kaget bertemu segmen curam ini harus bersusah payah untuk mengatur ritme denyut jantung. Selanjutnya tipikal dorong-dorong ini akan berlaku di sepanjang segmen, memeras keringat di tanjakan – refuelling di ujung tanjakan. Timernya adalah rokok sebatang. Awal-awal masih bisa konsisten tetapi lama kelamaan menjadi semakin molor.

Ujian Pertama – Tanjakan Pinus Cihalimun setelah persimpangan tack antara jalur ke Curug Cilalay dan bantarang sungai Cikembar

Tanjakan terjal dan licin rupanya belum seberapa. Di depan sudah menunggu beberapa tanjakan dengan track yang berbentuk huruf V akibat tergerus aliran air hujan. Tanjakan dengan track normal rata saja sudah membuat kami kerepotan apalagi dengan track model V ini. Segala macam cara dicoba agar bisa melewati segmen brutal ini. Beberapa goweser yang kesulitan untuk mendorong sepedanya harus dievakuasi atau diberi bantuan. Caranya roda depan dijinjing sementara pemilik sepeda menjaga keseimbangan sepeda agar tidak roboh. Goweser yang berjuang sendirian pasti akan mengalami selip-selip di segmen ini karena grip dari sepatu ke tanah kalah oleh gaya gravitasi terhadap badan ditambah sepeda.

Berjibaku menaklukkan medan
Gunung Kembar di kejauhan

Makin terkewer-kewer dan waktu istirahat mulai tidak beraturan. Perbekalan mulai menipis terutama air. Saya yang lupa mengecek kantong air saat di Indomaret Tanjungsari, juga mengalami hal serupa. Saya pikir bladder tersumbat karena saat mengisap air minum terasa berat dan tidak ada air setetes pun. Rupanya sudah habis. Benar-benar bermandi peluh di segmen ini sehingga harus sering-sering minum. Beberapa tanjakan di segmen ini gradiennya ada yang mencapai 46 dan 48 derajad.

Sebenarnya hari itu cukup cerah dan saya berharap bisa mengumpulkan dokumentasi sebanyak mungkin karena pada trip pertama sangat mendung sehingga tidak banyak foto yang bisa diambil. Tapi karena lebih berkonsentrasi melibas medan dan sesekali membantu goweser lain akhirnya misi itu pun terlupakan. Beruntung saya masih sempat mengabadikan perjuangan dari beberapa goweser yang sedang berjibaku di lintasan.

Dorong-dorong dengan latar Gunung Laya

Beruntung menjelang summit attack ke titik tertinggi di 530mdpl kami bertemu dengan saung pemilik kebun yang memiliki persediaan air. Satu termos air panas dan satu jerigen air matang pun langsung habis dibagi-bagi di antara semua goweser. Lokasi saung ini berasa di punggung bukit menjelang Gunung Gebang. Lokasinya relatif datar. Dari tempat ini jika kondisi sedang cerah kita bisa menyaksikan Lembah Cibeet di kejauhan. Sayang spot untuk berfoto tidak tersedia karena background banyak terdapat pohon kopi dan pisang yang mengganggu pemandangan.

Karena air melimpah dengan sendirinya bekal karbo pun langsung bermunculan. Ada Beng-Be**, Bakpia dan makanan ringan lain untuk mengembalikan kadar gula yang sudah menipis. Sebenarnya begitu sampai di saung yang berada di kaki Gunung Gebang ini 2/3 tantangan sebelum Curug Cilalay sudah kami lalui. Nanjak sedikit sisanya adalah turunan curam dengan kondisi medan yang lebih ekstrim dari saat nanjak.

Titik tertinggi 530mdpl pada segmen kali ini berada di lereng Gunung Gebang yang menghadap ke lembah Cilalay. Lokasinya rimbun sehingga sangat cocok sebagai tempat beristirahat. Di kejauhan terlihat Gunung Sulah dan Gunung Rungking. Kedua gunung ini bersama Gunung Laya memiliki bentuk sangat runcing yang berbeda dengan kebanyakan gunung lainnya di komplek Pegunungan Sanggabuana.

Meski berupa turunan, ternyata kami menghabiskan banyak waktu di sini. Turunan cukup terjal dan medannya sangat sulit karena rusak oleh aliran air hujan. Kami turun dari ketinggian 530mdpl ke ketinggian 300mdpl hanya dalam jarak 1kilometer. Begitu mencapai bantaran sungai, sepeda kami tinggal dan kami melanjutkan perjalanan ke curug. Ternyata warung di dekat curug buka. Pop Mie mejai rebutan karena stoknya terbatas beberapa goweser tidak kebagian.

Sambil menikmati teh dan kopi hangat, perbekalan pun dikeluarkan. Nasi bungkus, telur rebus, ubi rebus, Bengbeng dan roti pun dikeluarkan. Perut yang keroncongan dan kelaparan membuat apapun yang terhidang menjadi sangat nikmat. Saya pun berbagi sempat mencicipi nasi bungkus bersama Om Andy yang kebetulan membawa porsi dobel.

Di curug kami mandi sepuas-puasnya untuk menyegarkan badan dan mengembalikan stamina. Beruntung debitnya sangat besar sehingga derasnya air curug semakin terlihat megah. Beruntung ceruk sempit tempat curug tersebut berada pada saat jam 3 sore dan jika cuaca sedang cerah akan mendapat sorotan sinar matahari langsung. Golden moment. Teman2 mengumpulkan barbuk sebanyak-banyaknya.

Segarnya Curug Cilalay
Rombongan GAS (Gowes Asyik Syahdu) @ Curug Cilalay

Molor. Keasyikan mandi. Kelamaan di warung. Akhirnya jam 4 sore kami baru turun. Stamina yang pulih oleh segarnya air curug dan asupan makanan rupanya tidak bertahan lama. Dihajar medan rolling dan track rusak sepanjang 6km dari Curug Cilalay sampai Green Canyon membuat kami kembali terkewer-kewer. Sempat terjadi beberapa insiden dimana goweser nyempung ke sawah dan menabarak pohon karena terpeleset di turunan. Beruntung tidak ada yang fatal. Kami melanjutkan perjalanan di keremangan senja. Lampu-lampu mulai dinyalakan.

Karena stamina tim sudah sangat menurun akhirnya kami putuskan menjelang Green Canyon untuk mengikuti jalur sungai tidak mengikuti jalur peladang karena sangat menanjak, dikhawatirkan akan semakin kesulitan apalagi hari sudah gelap. Efeknya kami harus menyeberangi sungai yang sangat deras sampai empat kali. Harus hati-hati. Derasnya arus sungai dan bebatuan yang licin dengan mudah akan menghilangkan keseimbangan.

Jam 22:00 kami kembali mencapai Tikum @Meikarta.

Many thanks to: Om Eka, Om Bambang, Om Arifin, Om Ajat, Om Hary, Om Yoyok, Om Andy, Om Arif, Om Sigit, Om Rendra, Om Cepi, Om Yudha, Om Ucok

Gowes ke Curug Kiara Payung

Curug Kiara Payung masih berada dalam satu area dengan beberapa destinasi gowes yang sudah populer duluan a.l.: Sawah Korod Bantar Kuning, Gunung Kanaga, Gunung Laya. Ketika kita menuju Curug Kiara Payung maka kita akan selalu mendapatkan pemandangan dengan latar Gunung Laya yang ikonik karena bentuknya yang sangat runcing sehingga sangat menonjol di antara deretan gunung-gunung ain di dalam komplek Pegunungan Sanggabuana bagian barat.

Track gowes mengikuti saluran irigasi yang mengambil sumber air dari bagian bawah curug ini. Jika kita gowes mengikuti saluran irigasi bisa dipastikan tracknya relatif datar. Tanjakan hanya terdapat di awal saat keluar dari perkampungan dan di akhir track menjelang curug. Track sangat gowesable. Hanya terdapat sedikit track berbatu dan becek menjelang curug. Track sangat ramah untuk goweser pemula ataupun mereka yang memakai sepeda lipat – Seli.

Debit curug tidak terlalu besar. Ini sudah bisa kita perkirakan kalau kita mengamati peta. Bagian hulu sungai dari curug ini tidak terlalu penjang dan luas sehingga air huan yang ditangkap oleh DAS curug ini juga tidak terlalu banyak.

Akhir musim hujan, sekitar akhir Mei dan awal Juni adalah saat yang tepat untuk berkunjung. Jalan tidak terlalu becek dan air curug masih cukup besar.

Curug Kiara Payung
Salah satu segmen yang menanjak menjelang Curug Kiara Payung
Spot menarik di aliran sungai Curug Kiara Payung
Track gowes yang syahdu di sepanjang aliran irigasi menuju Curug Kiara Payung

Jalur Naga dan Rolling Sukawangi

Berangkat kesiangan karena menunggu hujan reda. Sempat berpikir untuk menunda trip tetapi keinginan untuk menyelesaikan Climbing Challenge di bulan April (menabung Elevation Gain sebelum Romadon 🙂 ) menjadi pemacu semangat untuk mengayuh sepeda.

7:28 WIB tombol Record di aplikasi Strava akhirnya kutekan. Mampir dulu ke Asem-Asem untuk sarapan karena jika sarapan di Cariu akan terlalu jauh dan sudah lewat jam sarapan.

Jalanan masih basah sehingga tidak bisa terlalu digeber. Lagi malas main kotor2an. Rupanya hujan tidak merata. Begitu sampai Bojongmangu ternyata kering. Di Cariu kembali menemukan bekas hujan meski tidak terlalu deras.

Sangat berharap agar kembali menemukan cuaca mendung dengan kabut yang sejuk seperti trip sebelumnya. Rupanya harapan tersebut tidak terkabul. Sampai Gunung Batu dan tanjakan Kandang Ayam menjelang Kampung Catang Malang cuaca sangat terik. Beruntung semua tanjakan bisa diselesaikan dengan sempurna tanpa TTB.

Di musholla Al-Maliki pit stop untuk menjamak sholat dan beristirahat. Sempat terpikir untuk balik kanan karena merasa fisik tidak sebugar minggu sebelumnya. Tetapi semilir angin yang sejuk di muholla ditambah beberapa potong roti mampu mengembalikan stamina. Target pun ditambah sampai Curug Arca dan makan siang di Warung Puncak Pinus 2.

Begitu sampai warung rupanya nasi masih dimasak. Alhasil harus menunggu 30 menit sebelum nasi siap dimasak menjadi nasi goreng. Proses menunggu ini cukup menyita waktu sementara hari semakin beranjak sore. Sempat berpikir untuk menambah target sampai Cipanas akan tetapi sepertinya bakal kemalaman. Setelah menyantap nasi akhirnya kuputuskan untuk pulang lewat Jalur Naga Tanjungsari.

Memang mayoritas turunan, akan tetapi ternyata jalur ini menyimpan rolling cukup banyak. Banyak turunan curam juga membuat tangan dan bahu menjadi pegal-pegal karena harus menahan berat badan yang pindah ke depan. Targetnya sebelum maghrib harus sudah melewati Jalur Naga. Memang sudah menyiapkan lampu-lampu untuk mengantisipasi kemalaman di jalan akan tetapi akan lebih aman jika saat malam sudah keluar dari hutan.

Istrirahat tidak perlu banyak-banyak karena harus mengejar waktu. Dan akhirnya jam 4:30 mulai summit attack Rawa Bakti Hills. Jam 5 sampai di puncak bukit dengan pemandangan yang bagus. Saya matahari lebih banyak tertutup awan sehingga pencahayaan kurang bagus . Beruntung punggung-punggung bukit masih mendapatkan cukup cahaya sehingga masih bisa menangkap liukan Jalur Naga di kejauhan. Sepertinya bakal ekstrim nih turunannya.

Benar saja. Karena malas menurunkan sadel (sehari sebelumnya sempat tergoda untuk meminang seatpost dropper) kerika berhadapan dengan turunan curam, jalan penuh batu, pasir dan gravel membuat tidak pede. Di beberapa titik harus turun karena ban kehilangan cengkeraman sehingga ngesot-ngesot tidak terkendali. Takut tidak bisa berhenti, kehilangan kendali dan nyemplung ke jurang. Di lokasi ini diriku mendapatkan sekawanan monyet hitam yang bergantungan di pepohonan.

Memandang tebing-tebing tinggi di kanan dan jurang dalam di kiri membuat nyali menjadi ciut. Takut longsor. Dan memang di berberapa segmen terdapat longsoran yang mebuat jalan menyempit ke tepi jurang. Bahkan di jalan rata karena terlalu sempit harus menuntun sepeda karena tidak pede melihat jurang di kiri jalan.

Rombongan touring motor di Jalur Naga

Menjelang kaki bukit di mana terdapat longsoran paran bertemu dengan rombongan motor touring yang nampaknya sedang kesulitan menanjakan tanjakan terjal Jalur Naga ini. Memakai kendaraan bermesin tidak selalu menjadi lebih mudah. Ketika bertemu medan sulit maka skill dan nyali akan diuji dibanding naik MTB. Dengan motor kita harus tetap di atas kendaraan, jika kita sampai kehilangan handling, alamat bakal cilaka. Sementara dengan MTB kita bisa menuntun atau memanggulnya ketika berhadapan dengan medan ekstrim.

Dan setelah memutuskan balik kanan, ketika turun pun beberapa rider motor tersebut kesulitan untuk handling sehingga harus pelan-pelan. Andai diriku melibasnya dari arah Tanjungsari, arah menanjak, pasti Jalur Naga ini akan menjadi ajang penyiksaan.

Di ujung segmen Jalur Naga bertemu dengan rambu sederhana penunjuk arah ke Curug Ciliang. Bisa menjadi cadangan trip berikutnya nih. Sempat bertanya ke pemukim di situ konon katanya masih agak jauh, harus melewati satu kampung lagi.

Segmen selanjutnya adalah turunan demi turunan yang assooy geboy sampai bertemu jembatan Cisero. Jika dilibas di pagi atau siang hari segmen tersebut pasti akan menyajikan pemandangan yang menawan.

I’ll be back!

Jalur Naga – 120km – EG 2100m
Polygon Premier 5 dan Jalur Naga
Motor dan tebing di Jalur Naga
Jalur Naga dengan track makadam, gravel dan tanah
Di pinggir jurang – Jalur Naga
Rimbun di Jalur Naga

Alon-alon asal kelakon melibas tanjakan Gunung Batu – Kampung Arca

Awalnya hanya sekedar ingin gowes santai ke Gunung Batu, Sukamakmur. Ternyata hari masih belum terlalu siang ketika sampai di Gunung Batu. Maka kuputuskan untuk menambah jarak dengan gowes ke arah Kampung Arca. Tidak ada target khusus. Bahkan sudah kuputuskan untuk balik kanan ketika sudah merasa capek. Ternyata tanjakan demi tanjakan berhasil kulewati sehingga ketika sudah sampai separuh perjalanan ke arah Kampung Arca kuputuskan untuk merubah target hingga mencapai Curug Saridun.

Selain menambah jarak kubuat sebuah target lagi. Tepatnya sebuah percobaan untuk melibas tanjakan tanpa istirahat. Sebelumnya diriku pernah sekali lewat segmen ini sehingga sudah punya gambaran tanjakan-tanjakan yang ada di depan.

Cadence kujaga sekonstan mungkin agar detak jantung tidak naik drastis. Hasilnya, diriku berhasil melibas tanjakan dari 565mdpl hingga 1125mdpl sepanjang 9km hanya dengan 2x berhenti karena buang air kecil dan mengambil foto karena tidak ingin kehilangan momen turunnya kabut menjelang pertigaan. Bagi goweser amatir seperti diriku ini adalah sebuah prestasi. Pada trip sebelumnya diriku banyak berhenti di setiap ujung tanjakan untuk beristirahat.

Terbukti jurus alon-alon asal kelakon berhasil melibas tanjakan.

Profil Gn. Batu – Kampung Arca climbing
Kabut di Sukawangi
Menyeruput teh di ketinggian 1200mdpl

Gowes offroad ke Curug Cilalay

Yang membuat berat track ini adalah rolling naik turun, single track dengan kondisi becek, berlumpur, rusak karena hujan, rusak karena roda motor berantai, bebatuan yang menonjol, akar-akar pohon yang menonjol. Selebihnya kita akan mendapatkan pemandangan dan kondisi alam yang masih alami, rimbun, hijau, segar, sungai berair jernih, deras dan segar.

Ada dua jalur untuk menuju Curug Cilalay. Jalur motor dan jalur pematang. Jalur motor lebih rolling karena naik turun perbukitan, tetapi banyak segmen yang bisa digowes. Jalur pematang sawah dan pinggiran sungai Ciomas relatif lebih datar tetapi sepanjang jalan bakal nuntun sepeda/TTB. Jalur motor lebih berat tetapi lebih cepat.

Dalam perjalanan pulang dari curug, rombongan terbagi dua. Sebagian memilih jalur motor, sebagian lagi memilih jalur pematang sawah. Rombongan yang memilih jalur pematang sawah 40 menit lebih cepat sampai di Green Canyon.

Rontok dihajar Tanjakan
Dorong Teruusss!!
Cihuiii!!! bisa digowes

Yang membuat jadi lebih seru, di tengah perjalanan kami bertemu rombongan dari Bekasi sehingga perjalanan ke curug menjadi lebih ramai. Total goweser yang mencapai curug menjadi 13 orang.

Menyeberang sungai berair deras

Kali ini debit sungai memang sedang besar. Terbukti ketika menyeberang sungai air sangat deras. Dan ketika di curug lebih terasa lagi besarnya debit air, selain menimbulkan suara gemuruh juga menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang.

Curug Cilalay

Bersepeda di Central Park Meikarta

Dari malam hujan terus sampai pagi sehingga acara gowes ke Warung Mak Rat di Jonggol terpaksa dibatalkan. Ternyata jam 8-an hujan sudah reda. Akan tetapi hati ini masih ragu untuk memakai sepatu. Takut kehujanan lagi dan keringnya lama 😛

Akhirnya kuputuskan untuk gowes sambil bersandal jepit saja 🙂 Judulnya adalah City Ride seputar Lippocikarang dan Central Park Meikarta. Lumayan dapat 45km dengan E/G 380m.

Untuk goweser gratis masuk Central Park. Hanya motor dan mobil yang dikenakan tarif parkir. Di bawah ini adalah penampakan si jadul Polygon Xtrada 4.0 2009.

Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta
Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta
Polygon Xtrada 4.0 di Central Park Meikarta