Danau Elysium oase Lippo Cikarang

Saat jogging atau bersepeda, pagi ataupun sore hari, area di sekitar Danau Elysium selalu menarik untuk menjadi tempat istirahat. Ada spot menarik di tengah taman/hutan dan di bawah jembatan.

Beberapa teman yang belum pernah bermain ke Cikarang bertanya, “Memangnya di Cikarang ada spot seperti itu?”

Bekasi bagian selatan masih menarik untuk bersepeda

Setelah kemarin hujan deras, akhirnya Xtrada 4.0 bisa keluar di Minggu pagi, 23 April 2017. Tujuan kali ini adalah Situ Rawa Bedeng. Sebuah situ yang berada di Bojongmangu. Rute kali ini sengaja dibuat melingkar. Berangkat lewat Cicau. Pulang lewat Gitet Cibatu.

Di Cicau, jalan beraspal yang dulu rusak bergelombang sudah berganti dengan beton mulus. Setelah perumahan Graha Cibenda bertemu dengan trek macadam yang menjadi pengobat bosan karena selalu bertemu jalan mulus. Setelah Cibenda maka semua trek merupakan trek beton/aspal mulus kecuali beberapa segmen sekitar Rawa Bede dan trek tengah sawah yang masih menyisakan macadam.

Meski demikian ketika kita bersepeda ke arah selatan maka kita akan mendapatkan jalan-jalan dengan traffic yang lebih sepi, pemandangan lebih hijau dan tentunya udara yang lebih segar.

Pagi itu, Cibodas – Rawa Bedeng via Cicau-Cibenda menghasilkan jarak 34km. Lumayan untuk mengeluarkan keringat dan memanaskan betis dan paha.

T. Cibodas – Rawa Bedeng, Bojongmangu

 

Bersepeda di sepanjang Irigasi Primer Bila Kalola

Celebes_Road

Rute sepajang saluran irigasi primer Bila Kalola sangat menarik untuk digowes. Karena sebagian besar berada di tengah persawahan sebaiknya dilibas pada pagi hari untuk menghindari sengatan terik mentari.

Saluran irigasi ini cukup jauh dari pemukiman sehingga berbagai jenis burung aman dari gangguan manusia. Alap-alap, elang, bangau, kuntul dan burung puyuh bisa dijumpai dengan mudah di sepanjang saluran irigasi ini. Cycling sekaligus birdwatching.

Di trek gowes ini terdapat sebuah ranch di perbukitan dengan padang rumput yang bagus untuk background foto. Andai lokasinya dekat dengan pemukiman pasi akan ramai dikunjungi orang.

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Kalola Ranch Kalola Ranch

20160911_074926 Salo (sungai) Bila

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Gowes irigasi Bila Kalola Gowes irigasi Bila Kalola

Lihat pos aslinya

Morning Ride -Singosari Beautiful Countryside

Sepeda Pacific baru yang berdiri di ruang tamu menggodaku untuk mencoba menaikinya menyusuri pedesaan Singosari. Akhirnya Minggu pagi 28 Agustus 2016 kuputuskan untuk mencobanya ke arah Stupa Sumberawan, Toyomarto.

Strava langsung kuaktifkan. Sayang, karena sinyal jelek, setelah 500m berjalan Strava baru merekam aktivitas gowes. I missed that 500m 😛

Rute kali ini akan melintasi 4 desa di kaki Gunung Arjuna, a.l. Purwoasri, Klampok, Gunungrejo dan Toyomarto. Elevasi trek berada pada kisaran 500 – 700mdpl. Tidak terlalu ekstrim. Cocok untuk gowes minggu pagi yang tidak membutuhkan waktu lama tetapi cukup menguras tenaga.

Segmen Purwoasri – Klampok sedikit menanjak dari arah Gebyak menuju Gentong. Tanjakan terjal terdapat pada jembatan penghubung antara Gentong dan Pasrepan. Selebihnya adalah trek rata sampai Gunung Rejo.

Bagian paling menarik dari trek ini terletak di Gunungrejo. Di Dusun Mbiru terdapat tanjakan yang memaksaku memindahkan rantai ke sprocket terbesar. Setelah itu terdapat tanjakan panjang sampai kantor desa Gunung Rejo. Kedua tanjakan ini merupakan daya tarik utama dari segmen ini. Selain itu segmen ini menawarkan banyak hotspot dengan latar Gunung Arjuna Gunung Kawi-Panderman dan Lembah Malang.

Gunungrejo Singosari dengan latar Gunung Arjuna

Gunungrejo Singosari dengan latar Gunung Arjuna

Selain itu di ujung segmen ini terdapat Stupa Sumberawan yang konon merupakan satu-satunya candi Budha yang ada di Jawa Timur. Stupa Sumberawan terletak di sebuah lembah yang merupakan mata air. Mata air ini merupakan sumber air bagi PDAM Singosari.

Kesimpulanya, trek gowes ini sangat recommended bagi goweser Malang Raya atau siapa saja yang ingin berkeringat dan memanaskan dengkul tetapi waktunya mepet. Trek gowes ini bisa dilibas dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Cukup 2-3 jam saja. Start point bisa dari arah Karanglo (Sekargadung), Losawi (sekitar kampus ITN) atau Mondoroko (RS Marsudi Waluyo).

Stupa (candi) Sumberawan

Stupa (candi) Sumberawan

 

Trek Gowes ke Candi Suberawan Singosari

Trek Gowes ke Candi Suberawan Singosari

Morning ride – bersepeda ke jembatan gantung Salo Bulucenrana

Jembatan gantung ini baru saja diresmikan. Jembatan gantung ini mempersingkat jarak dari Bola Bulu ke Tanrutedong yang sebelumnya harus memutar ke Bila dan Taccimpo. Jembatan gantung ini memperpendek jarak sampai 12km.

Jembatan gantung ini secara tidak sengaja kami temukan dua bulan lalu saat bersepeda menyusuri Salo Bila.

bulcen0

Sawah di Tanrutedong

bulcen1

Fokel di tengah sawah

bulcen2

Bunda melaju di atas jembatan gantung Salo Bulucenrana

Morning ride – gowes ke Waduk Kalola

Setelah beberapa kali mengunjungi Waduk Kalola dengan bermotor, akhirnya kesampaian juga untuk berkunjung dengan bersepeda. Si Emil yang sebelumnya mampu menempuh jarak 16 km ternyata mampu melibas trek sejauh 30.7 km.

Trek ke Waduk Kalola bisa ditempuh fully onroad atau campuran offroad dan onroad. Jika ingin merasakan sensasi petualangan yang agak ekstrim maka pilihan jalur ofroad sepanjang saluran primer Kalola bisa diambil. Di musim hujan jalur ini menjadi sangat becek dan beberapa segmen tertutup rerumputan tinggi maupun semak belukar.

Di musim kemarau alur sepanjang saluran primer ini justru banyak dilewati motor karena treknya mengeras dan jarak tempuh lebih pendek.

Jalur sepeda Kalosi - Waduk Kalola

Jalur sepeda Kalosi – Waduk Kalola

 

Emil, Astroz dengan latar Waduk Kalola

Emil, Astroz dengan latar Waduk Kalola

 

Rumput meninggi di sepanjang saluran primer Waduk Kalola

Rumput meninggi di sepanjang saluran primer Waduk Kalola

Gowes Delta – Salo Bila dan Salo Bulucenrana

Pagi itu ayah dan Emil menuju ke arah desa Bila. Di sebuah pertigaan, sepeda diarahkan ke kanan menuju jembatan panjang yang melintas sungai Bila. Setelah melihat-lihat pemandangan dari atas jembatan, di sebuah pertigaan setelah jembatan sepeda diarahkan ke kiri menyusuri jalan-jalan kampong.

Jalanan yang berada di tepi sungai Bila sangat rimbun oleh pepohonan dari kebun-kebun yang terletak di sepanjang aliran sungai. Logikanya jika tadi saat berangkat menyusuri sebelah kanan sungai maka jika sekarang menyusuri sebelah kiri sungai maka akan kembali ke tempat semula.

Kami masih asik menikmati jalanan kampung yang relatif datar dengan pemandangan kanan-kiri yang sangat menyejukkan. Di sebelah kanan sawah luas menghijau. Di sebelah kiri kebun-kebun rimbun dengan berbagai tanaman buah dan kelapa.

Setelah berjalan cukup jauh ayah baru ingat jika di depan ada percabangan sungai, yaitu Sungai Bulucenrana. Artinya jika tidak ada jembatan maka harus kembali ke jalan semula atau memutar sampai Dongi. Dua pilihan yang sama-sama tidak enak karena sama-sama jauh.

Si Emil mulai cemas setelah ayah menceritakan dua pilihan tersebut. Sambil meneruskan bersepeda kami menengok ke kiri berharap ada jembatan yang akan menyeberangkan kami. Tidak terlihat juga sampai kami bertemu percabangan sungai dan mulai menyusuri tepian Salo Bulucenrana.

Di sebuah pertigaan kami berhenti untuk beristirahat. Si Emil mulai kecapekan. Bekal air minum tinggal segelas. Sementara ayah belum minum sama sekali dan mulai merasa haus. Jalan yang kami lewati memang sepi dan jarang rumah. Sampai saat ini belum menemukan satu warung pun.

Ketika ada ibu-ibu sedang menyapu kami bertanya apakah ada jalan pintas menuju Tanrutedong. Si ibu bilang ada jembatan gantung sebelum kuburan. Alhamdulillah, kami tidak jadi memutar. Si Emil langsung tersenyum.

Ternyata lokasi jembatan gantung tersebut memang agak tesembunyi. Jalan aksesnya melewati pekarangan penduduk sehingga agak tersembunyi. Dannn….., jembatan tersebut ternyata masih baru sekali. Mungkin baru selesai dibangun sebulan yang lalu. Artinya jika ayah dan Emil gowes sebulan yang lalu mau tidak mau harus berputar atau kembali lagi jika ingin pulang. 😀

Rute gowes Salo Bila

 

Jembatan gantung Salobukang-Bola Bulu melintas di atas sungai Bulucenrana