Jembatan Gantung Ridogalih Cibarusah

Jembaran Gantung Ridogalih berada di Desa Ridogalih Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi. Dari Pasar Cibarusah jaraknya sekitar 8,5km. Lokasinya berada tidak jauh dari poros jalan Cibarusah-Sukabungah atau jalan akses menuju Buper Karangkitri.

Salah satu sisi jembatan ini buntu, tidak ada jalan yang bisa dilewati kendaraan bermotor roda dua tau empat. Sisi yang buntuk merupakan area persawahan. Bisa diduga pembangunannya adalah untuk memberi kemudahan akses bagi petani saat menggarap dan memanen hasil sawah.

Daya tarik Jembatan Gantung Ridogalih adalah lingkungan sekitarnya masih asri dan rimbun. Sangat instagramable. Momen terbaik untuk mengunjunginya adalah saat pagi hari dan ketika musim tanam sampai menjelang panen.

Di pagi hari, sinar matahari akan mewarnai pepohonan dan rumpun bambu yang menaungi jembatan ini. Beberapa liana dan epifit yang menempel di pohon selain menambah kesan alami juga memberikan aksen merah dan kecoklatan. Di musin tanam kita akan mendapatkan backgroun atau foregound menghijau semntara menjelang musim panan kita akan mendapatkan latar kuning keemasan.

wp-1593292338936.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih

wp-1593292679849.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih dan sawah dengan padi yang menguning siap panen

wp-1593292413563.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih dengan rumpun bambu dan pepohonan yang menaunginya

Lokasi Jbt Ridogalih

Lokasi Jembatan Gantung Ridogalih dari Pasar Cibarusah

Gowes dengan misi menemukan jalur ke Mulyasari

Setelah gagal menuju Mulyasari dari arah Tenjolaut, kali ini saya mencoba menuju Mulyasari dari arah Kb. Danas. Track-nya mengambil jalur ke Curug Ciherang melalui pertigaan Sukamakmur. Clue-nya setelah SMA negeri Sukamakmur belok kanan ke jalur jalan beton yang tidak seberapa lebar. Berbeda dengan jalur Tenjolaut yang segera menemukan persawahan, jalur ini melalui perkampungan yang cukup padat dengan jalan-jalan sempit. Pemandangan bagus baru kita dapatkan di ujung kampung. Dari sini kita akan mendapatkan pemandangan ke arah Gunung Batu.

Setelah melewati kebun-kebung cengkeh/kopi/durian kita akan sampai di sebuah tempat yang agak datar dengan beberapa poon pinus di sekelilingnya. Dari lokasi ini kita akan mendapatpan pemandangan yang bebas ke Selatan, Timur dan Barat. Masing-masing akan memberikan background yang cakep. Ke Selatan akan bertemu punggung gunung, ke Timur akan bertemu Gunung Batu dan ke Barat akan bertemu Gunung “Sukamakamur”. Entah apa nama resmi dari Gunung “Sukamakmur” ini. Saya namakan demikian karena gunung ini merupakan marka tanah dari Sukamakmur.

Gunung “Sukamakmur”

Setelah melewati jalan setapak persawahan kita akanmendapatkan apa yang disebut Jalur Beko. Dinamakan demikian karena dulu jalan ini dibuat dengan Beko (Backhoe) alias Ekskavator. Awalnya jalan ini akan dijadikan sebagai jalan alternatif ke Puncak akan tetapi kemudian tidak ada pembangunan lebih lanjut sehingga mejadi terlantar dan rusak. Di beberapa ruas terjadi longsor dan tergerus oleh aliran air. Jalan ini sudah dimakadam tetapi banyak yang tertutupi oleh semak dan perdu.

Saya pun mampir ke sebuah dangau dimana ada suami-isteri sedang mengikat sayur-sayuran yang ternyata adalah poh-pohan (Pilea Melastomoides). Ini adalah sayuran atau tepatnya lalapan yang agak langka. Jika beruntung kita akan mendapatkannya di warung Sunda. Yang membuatnya agak jarang adalah karena ia tumbuh subur di tempat yang dingin pada ketinggian 600mdpl ke atas.

Petani sedang panen sayur poh-pohan (pilea melastomoides) dan kopi

Saya mengobrol dengan suami-isteri tersebut tentang jalus distribusi sayuran dan kopi yang sedang panen. Untuk sayuran kebanyakan dijual ke Cileungsi sementara kopi dijual ke Jonggol. Masing-masing sudah ada pedagang pengepulnya. Yang disayangkan, kopi yang dipanen tidak benar-benar dipetik yang masak. Bahkan yang berwarna hijau pun ikut dipanen. Mungkin mereka menghemat tenaga karena lokasi kebun kopi ini tidak mudah sehingga memanennya pun memerlukan usaha yang lebih.

Bapak tersebut menginformasikan bawah jalur ke Mulyasari hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam. Awalnya masih pede untuk mengikuti jalur makadam ini tetapi setelah ketemu segmen yang rusak parah dan mengharuskan menggotong sepeda saya putuskan untuk balik kanan saja. Minimal sudah terkonfirmasi bahwa jalur ini memang ada akan tetapi untuk digowes cukup berat dan mengharuskan waktu dan stamina yang ekstra.

Jalan tembus ke Mulyasari. Rusak parah

Setelah kembali ke tempat datar ada perasaan mengganjal dan penasaran. Penasaran dengan Jalur Beko sepeda saya titipkan di seuah dangau. Saya menginspeksi Jalur Beko dengan berjalan kaki karena single track sempit melalui pemaang sawah tidak memungkinkan digowes maupun dituntun. Setelah sampai di atas, saluran air mengalihkan tujuan dari Jalur Beko. Saluran ini sudah diperkeras dengan beton sehingga memudahkan untuk melintasinya. Rupanya di atas ada pintu air tepat di kaki sebuah tebing. Di sampingnya ada jalur trekking.

Jalur trekking di samping mata air

Saya mencoba untuk mengikuti jalur trekking yang sangat menguras tenaga karena sangat miring dan melewati punggung tebing. Dari atas tebing ini kita akan mendapakan pemandangan lepas ke arah lembah Cipamingkis. Dari atas tebing kita bisa melihat alur Cipamingkis yang terlihat mengular.

Tidak ada yang sia-sia. Meski gagal melibas jalur ke Mulyasari setidaknya sat mendapatkan spot pemandangan yang menarik dan tentunya salah satu mata air Cipamingkis.

Cipamingkis dilihat dari ketinggian 700mdpl, terlihat mengular di kejauhan

Gunung Batu (berbentuk runcing) dilihat dari Sukamulya, Sukmakmur

Review Polygon Premier 5 2020

Setelah bersama Xtrada 4 selama kurang lebih 10 tahun dan tidak melakukan upgrade apa pun selain mengganti komponen yang rusak, saya merasa harus memakai sepeda yang setingkat di atasnya. Selain itu, ada rencana gowes bareng si Sulung saat jadwal kunjungan ke Kuningan, jadi butuh satu sepeda lagi.

Alasan lain kenapa harus memakai sepeda yang lebih mumpuni karena area bersepeda kini lebih semakin sering mengarah ke Selatan, yaitu sekitar Jonggol dan Cariu. Area tersebut banyak terdapat tanjakan dan turunan. Di tanjakan membutuhkan rasio gigi yang lebih tinggi agar gowesan lebih ringan. Di turunan membutuhkan rem hidrolik untuk meringankan kerja tangan, sehingga tangan bisa berkonsentrasi untuk handling saja. Yang masih memakai rem cakram mekanik pasti paham betapa capek dan melelahkannya braking dihajar turunan panjang.

Pilihan jatuh pada Polygon Premier 5 edisi 2020. Kenapa memilih Premier 5? Alasan saya sangat simple. Pertama speed-nya 3×9. Ya, saya suka gowesan yang agak berat di trek datar dan turunan. Ngicik is not my thing. Dan sprocket belakang sudah 9 sehingga ringan di tanjakan (Xtrada 4 cuma 8). Kedua, rem sudah hidrolik (Tektro). Ketiga, warnanya dominan hitam. Keempat, harganya di bawah 5 juta. Harga sepeda Polygon Premier 5 ini adalah 4,5 juta rupiah.

Perburuan pun dimulai. Serba Sepeda Lippocikarang tidak ada stok. Inden, tetapi tidak ada kepastian berapa lama barang bisa datang. Langsung menuju Rodalink online. Yes! Ada stock! Setelah barang datang ternyata dikirim dari Rodalink Waru Sidoarjo (free ongkos kirim 🙂 )

Tidak ada kesulitan berarti saat merakit sepeda. Komponen yang masih terurai hanya handlebar, rem hidrolik depan, roda depan, pedal, sadel dan seatpost yang tinggal dipasang dengan mudah.

Satu-satunya kendala adalah handlebar standar terlalu lebar untuk riding style saya, Handlebar yang lebar itu untuk mempermudah dan memperingan handling terutama ketika bermain DH, AM dan XC ekstrim. Akan tetapi handlebar yang lebar akan membuat kita mudah capek ketika gowes jauh atau ngebut di lintasan lurus. Area bermain saya normal-normal saja tidak ada yang terlalu ekstrim, kalaupun terlalu ekstrim biasanya dituntun 🙂 Dengan alasan tersebut akhirnya handlebar saya potong 6cm, masing-masing sisi 3cm. Ini adalah jalan tengah. Masih lebih lebar dibanding X4 untuk handling yang lebih baik tetapi juga tidak terlalu lebar untuk gowes yang dirancang 80km-an.

wp-1592173367332.jpg

Polygon Premier 5 di tengah kebun cengkeh

Sampai saat ini Premier 5 sudah mencicipi singletrack Gunung Kandaga, Curug Citiis, singletrack Curug Mariuk dan singletrack Gunung Sangar/Tenjolaut. Karena ini sepeda biasa, pastinya masih terhitung cukup berat. Itu terasa sekali ketika harus dorong-dorong sepeda saat bertemu tanjakan ekstrim. Bobotnya 11/12 dengan Xtrada 4. Tidak masalah buat saya, modal sabar saja 🙂

Oh ya, saya memilih frame ukuran M karena ingin mendapatkan feel yang lebih rigid dan stabil. Sebenarnya dengan tinggi badan 163cm frame ukuran S lebih cocok.

Butuh penyesuaian dengan kondisi ban yang lebih besar dibanding Xtrada 4. Cengkeraman memang lebih kuat, Lebih empuk saat di makadam. Tetapi juga lebih berat saat digowes. Jika nanti ban bawaan ini habis saya akan ganti dengan ukuran 1.9inch agar lebih ringan.

Awalnya merasa nyaman dengan settingan preload dari fork (Suntour XCM) tetapi setelah dicoba ke Curug Mariuk dan Gunung Sangar/Tenjolaut terasa terlalu empuk sehingga ketika ketemu makadam atau jalan yang tidak rata terasa tenggelam, rebound-nya kurang. Kondisi tersebut mempersulit handling. Akhirnya saya tambah agar lebih keras.

Sampai saat ini saya merasa puas dengan kinerja dan kualitas Polygon Premier 5. Dari pengamatan sekilas sepertinya pedal yang akan segera aus. Penampilannya kurang meyakinkan untuk sebuah komponen yang merupakan titik utama penyaluran tenaga. Tetapi kembali ke prinsip awal, selama belum rusak tidak akan diganti.

Bagi anda yang ingin memperoleh sepeda bagus dengan budget terbatas. Polygon Premier 5 ini sangat cocok untuk anda. Value for money-nya sangat bagus. Kualitas Polygon tidak diragukan lagi. Polygon adalah merek nasional yang memiliki fasilitas produksi, bukan cuma merakit komponen terurai.

” Cintailah produk-produk buatan Indonesia 🙂

wp-1592178173587.jpg

Polygon Premier 5 menuju Curug Mariuk

wp-1592178367022.jpg

Polygon Premier 5 di Curug Mariuk, Sukamakmur, Bogor

 

 

Gowes singletrack Kampung Tenjolaut dan Gunung Sanggar, Sukamakmur, Kab. Bogor

Awalanya saya penasaran, kenapa untuk mencapai Mulyasari harus melewati Kampung Cibakatul? Apakah tidak ada jalan langsung dari Sukamakmur? Lalu saya pelototi Google Maps dengan semua mode: map-satellite-terrain. 

Dari mode map memang tidak ada jalan yang tergambar dari Sukamakmur menuju Mulyasari. Tetapi pada mode satellite ada garis terang yang menunjukkan semacam jalan setapak. Ketika di-crosschek terrain-nya memang ckup terjal kemiringannya. Lebih baik dicek langsung, Kalau tidak ada jalan tembus kan tinggal balik.

Akhirnya pagi itu Premier 5 keluar kandang pas jam 5:25 mengarah ke Sukamakmur. Di tengah jalan bertemu dengan beberapa goweser saat beristirahat di spot foto Kali Cipamingkis setelah Pasar Dayeuh. Asyik ngobrol jadi lupa kalau saya harus buru-buru sampai di Sukmakmur.

Seperti halnya jalur ke Curug Mariuk, setelah melewati pertigaan Sukamakmur, begitu nyempal dari jalan raya langsung disambut tanjakan panjang. Kombinasi jalan aspal dan beton ini hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil kecil. Aspal dan beton mulus rupanya segera berakhir. Di ujung jalan makadam langsung menyambut. Makadam ini ternyata tidak seberap panjang setelahnya jalan beton lagi. Segmen ini menyuguhkan pemandangan indah sawah berlatar gunung berbentuk bundar yang tidak ada namanya. Padahal gunung ini merupakan marka tanah Sukmakmur tetapi pada GMaps tidak ada deskripsi apa pun.

wp-1592102663743.jpg

Sawah dengan latar gunung (bundar) Sukamakmur

Di ujung kampung saya sempat bertanya kepada beberap warga maupun anak-anak apakah ada jalan tembus ke Mulyasari atau Cibakatul. Skornya 2:1, seorang dewasa dan segerombolan anak-anak menjawab ada tetapi hanya bisa ditempuh dengan motor (medannya berat). Seorang lagi yang sedang memanen setandan pisang menjawab tidak ada, harus kembali memutar ke Cibadak.

Karena ada yang mengatakan ada jalur, saya cukup yakin memang ada jalan tembus. Berat ringan medannya harus dicek setelah melaluinya.

Ketika berada di ujung kampung dan mendekati jalan buntuk saya meminta panduan dari anak-anak arah ke jalan setapak/makadam. Rupanya jalan ini menyempit di antara rumah penduduk sehingga tersamar.

Yes!! Makadam runcing dan langsung berhadapan dengan tebing. Nanjaknya ga kira-kira. Bahkan saat mendorong sepeda pun badan sampai miring-miring. Di ujung tanjakan terdapat sebuah spot yang sangat bagus karena kita bisa leluasa memandang Desa Sukamakmur di bawah. Lokasinya berada di antara pohon-pohon cengkeh. Daerah ini merupakan penghasil cengkeh dan batang sereh (lemon grass).

wp-1592173367332.jpg

Cengkeh, sereh dan Premier 5

Setelahnya masih ada tanjakan lagi meski tidak separah sebelumnya. Setelah perkebunan cengkeh rupanya di atas ada juga persawahan. Lokasi sawah berada di Kampung Tenjolaut. Menariknya, di ujung kampung di persimpangan jalan setapak ada musholla yang cukup bersih dengan fasilitas penampungan air. Di sampingnya ada sebuah rumah dengan kandang kambing tetapi nampak sepi. Dua buah motor dengan jenis bebek dan trail nampak bersanding. jika ditilik dari penampakan motornya nampaknya ini bukan berasal dari warga sekitar. Tampangnya agak kota.

Nahh di persimpangan itulah awal N11 kali ini. Berbekal informasi dari perumput bawah jalur yang saya lewati bisa juga ke arah Cikabatul akhirnya saya bablas. Setelah sebelumnya bertemu single track makadam yang hanya bisa mendorong dan mendorong, menuntun dan menuntun, kali ini saya mendapatkan segmen yang gowesable meski beberap kali harus turun karena terlalu curam atau licin.

Single track ini melewati punggung-punggung gunung dengan pemandangan yang sangat indah. Acara merekam dengan B-Pro seringkali terganggu karena saya harus berhenti untuk mengabadikan spot-spot foto yang tiada duanya. Track ini melewati beberapa ceruk (creek) yang memiliki aliran air. Beberapa jembatan bambu darurat dibuat untuk mempermudah motor maupun pejalan kaki.

Khawatir dengan bekal air yang mulai menipis di sebuah ceruk yang memiliki pancuran air saya pun mengisi botol minuman yang sudah kosong. In case air benar-benar habis saya akan meminum air ini ketika kehausan. Dalam kondisi seperti ini, jauh dari perkampungan dan suplai air, saya lebih memilih mencegah dehidrasi dari pada mencegah diare.

wp-1592102318822.jpg

Singletrack menuju kampung Gunung Sanggar

wp-1592101776698.jpg

Singletrack menuju Kampung Gunung Sanggar

Setelah bertemu ceruk air track semakin menurun hingga akhirnya bertemu dengan sebuah jembatan bambu yang melewati sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. Bongkahan batu padas berwarna coklat kemerahan nampak berserak di dasar sungai. Airnya sangat jernih. Sempat turn untuk mengambil foto-foto dasar sungai. Tergoda untuk mandi tetapi karena sendirian jadi agak takut dan kurang seru. Tebing tinggi di sekeliling dasar sungai serta bekas longsoran menurunkan nyali untuk mandi. Padahal sepotong sabun sudah dipersiapkan 🙂

Selepas sungai akhirnya bertemu dengan perkampungan yang berisi belasan rumah saja. Ternyata buntu 😦 Lokasinya benar-benar berada di bawah Kampung Mulyasari tetapi tidak ada jalan menuju ke sana. Menurut penjelasan teteh-teteh, Mulyasari hanya bisa diakses dari Cibakatul. Akhirnya saya kembali.

wp-1592103117202.jpg

Sungai berair deras dan jernih di Gunung Sanggar, Sukamakmur

Di perjalanan kembali saya bertemu akang-akang yang sedang memanggul sekarung padi. Rupanya dia sedang menuju Cibakatul juga. Saya pun menjadikannya penunjuk arah. Akan tetapi selepas perkebunan cengkeh tracknya sangat curam dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Teramat sangat sulit jika sambil membawa sepeda. sarannya saya bisa ke Cikabatul melalui jalur villa biru.

Dari villa biru ke atas bukit rupanya tanjakannya juga sangat curam akan tetapi tidak terlalupanjang. Bocah-bocah tampak bermain bergerombol di halaman villa. Saya mengebel dari kejauhan. Mereka pun berlarian menyongsong saya. Aneh saja melihat pesepeda mendorong-dorong sepeda di jalan setapak yang curam. Mereka menawarkan bantuan tetapi saya tolak. Saya belajar nama-nama lokasi yang saya lewati tadi dari mereka. Mulai dari Kampung Tenjolaut hingga Kampung Gunung Sanggar.

Rupanya ujung jalan setapak nan curam ini adalah sebuah lapangan sepakbola yang berada di atas bukit. Seandainya hari sedang cerah sekali dan di pagi hari, mungkin kita bisa meninjau  laut dari lapangan ini (Tenjolaut).

Sebagai bonus karena sudah berbagi cerita dan menemani saya menaklukkan jalan setapak nan curam saya pun berbagi permen dengan mereka. Hanya tersisa empat permen. Untungnya tadi sempat membeli Fisherman’s Friends. Saya pun membuat challenge, siapa yang berani ngemut permen yang pedas, dingin dan pahit? Bocah-bocah kalau ditantang pasti akan semangat. Fisherman’s Friends ini belum tentu cocok dengan mereka karena agak pahit. Tantangan ini untuk memaksa mereka menyukainya 😀

Trip route analysis - Mulyasari

Trip route analysis – Sukamakmur-Cikabatul

wp-1592101683462.jpg

Supporter di tanjakan edan

 

Indahnya Curug Mariuk dan trek gowesnya yang menguras tenaga

Curug Mariuk berada di Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Curug Mariuk bisa dicapai dari arah Sentul, Gunung Putri maupun Jonggol. Curug Mariuk merupakan curug tertinggi dari deretan curug mulai Curug Leuwihejo, Curug Ciburial, Curug Kembar, Curug Hordeng dan Curug Mariuk. Meski berada dalam satu DAS (Daerah Aliran Sungai) Curug Mariuk dan Curug Leuwihejo terpisah jarak cukup jauh.

Curug Mariuk berada di dalam kawasan Perhutani dengan hutan yang masih rapat diselingi dengan tanaman kopi Robusta. Jalan setapak menuju Curug Mariuk ini banyak ditumbuhi pakis-pakis raksasa sehingga seolah-olah berada di Taman Jurassic 🙂

Pagi itu kami berenam (Om Bambang, Om Amin, Om Yoyok, Om Raden, Om Rubi dan saya) menyusuri Jl. Raya Cikarang-Cibarusah yang mulai padat oleh beragam kendaraan. Tujuan kami adalah sebuah curug yang profilnya kami dapat dari sebuah video singkat. Latar video yang menunjukkan vegetasi rapat ala hutan hujan tropis sangat menggoda kami.

Sebelumnya, berbekal Google Maps kami sudah mengukur jarak dan mengamati profil topografi menuju curug ini. Kesimpulannya, perjalanan menuju curug ini cukup berat. Apalagi kami melibasnya sebotol penuh dari Cikarang, tanpa loading. Perjalanan cukup lancar. Kami sarapan nasi uduk di Pasar Jonggol.

Begitu melewati Pasar Dayeuh kami singgah di Jembatan Gantung Leungsir, Sukanegara, Jonggol. Air sungai yang sedang surut memberi kesempatan pengunjung untuk turun ke dasar sungai. Sebuah spot bagus yang diakses dari seberang sungai memberi kami angle dan komposisi yang bagus sebagi lokasi swafoto.

Cipamingkis di Sukanegara, Jonggol, Bogor

Menjelang Sukamakmur kami bertemu goweser Cibarusah teman dari Om Bambang. Beliau yang sudah pernah melibas trek Curug Mariuk memberi kami beberapa tips dan petunjuk arah. Informasi dari Si Om ini kemudian kami pakai untuk memverifikasi posisi kami di GMaps.

Setelah nyempal dari Jl. Raya Cibadak-Sukamakmur, kami langsung berhadapan dengan tanjakan beton dan rolling-rolling kecil. Kami melewati perkampungan yang berada di lereng bukit. Di beberapa segmen, tebing menjulang berada di sebelah kiri kami. Beberapa area tampak bekas longsoran akibat vegetasi yang kurang rapat tidak mampu mengikat tanah yang kehilangan daya rekatnya akibat jenuh oleh air hujan dan menjadi lembek.

Musim tanam padi di Sukamakmur, Bogor

Energi mulai terkuras di segmen ini. Dan dua tanjakan curam akhirnya memaksa sebagian dari kami untuk TTB. Curamnya tanjakan membuat ban depan terangkat-angkat. Beberapa goweser berusah menaklukkan tanjakan dengan menggenjot sambil berdiri untuk memindahkan massa tubuh ke depan.

Memasuki Kampung Cibakatul kami bisa bernafas lega karena medan relatif datar. Ternyata oh ternyata, tanjakan sadis dan panjang menanti di depan kami. Rombongan pun mulai terpecah menjadi dua kelompok. Dengan sisa-sisa energi yang terkuras sepanjang Cikarang-Cibakatul kami tertatih-tatih menggowes menuju Curug Mariuk. Begitu melewati area parkir dan berhadapan dengan single track hanya dua sepeda yang melanjutkan gowes sampai curug. Sisanya melanjutkan dengan berjalan kaki.

Single track menuju curug cukup menantang karena berada di lereng-lereng tebing. Beruntung vegetasi yang rapat menjadi semacam pagar bagi siapa saja yang melintas. Track yang didominasi oleh bebatuan padas dan gravel menjadi licin ketika sebelumnya turun hujan. Itu yang kami alami ketika kami mencoba membawa sepeda untuk melibas single track. Di beberapa segmen yang cukup curam kami lebih memilih untuk menuntun sepeda.

Capek dan lelah terbayar lunas ketika kami berhasil mencapai curug. Air jernih dan segaarrrr. Bebatuan  dari ukuran biasa hingga raksasa. Vegetasi hutan hujan tropis yang rapat. Kadang masih tidak percaya bahwa kondisi seperti ini berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat peradaban dan industri.

wp-1591937011193.jpg

Curug Mariuk – Menjelang single track dengan tumbuhan pakis raksasa

 

wp-1591937140203.jpg

Single track menuju Curug Mariuk

Karena berada pada ketinggian 920mdpl, air Curug Mariuk terasa sangat dingin. Segarnya berlebihan sehingga dengan cepat tubuh akan menggigil jika berlama-lama berendam dalam air. Jari-jari tangan akan segera menjadi keriput.

Lokasi berfoto yang bagus justru berada di bawah curug di mana bebatuan besar dan aliran air jernih yang tersebar di antara celah-celah batu memberikan latar yang luar biasa indah.

Indahnya Curug Mariuk

Keindahan Curug Mariuk

Bagi yang melibas Curug ini dari arah Sentul ataupun Jonggol, tanjakan-tanjakan menjelang curug dan single track di dalam kawasan curug sangat menguras tenaga. Apalagi jika kita gowesnya dari lokasi yang cukup jauh seperti kami. Kami melibas Curug Mariuk ini dari Cikarang. Total jarak pp adalah 106km.

Curug Mariuk

Empat kesalahan saat memilih dan membeli sepeda

Kesalahan-kesalahan  saat membeli sepeda
Disclaimer: Ini untuk kasus budget cekak dan hanya bisa kebeli satu sepeda. Kalau duit berlebih atau tajir melintir tentu tips ini tidak berguna.

Ikut-ikutan tren
Yang lagi ngetren saat ini adalah sepeda lipat. Berawal dari skandal “Bro***on” yang menjadi iklan gratis dan mempopulerkan jenis sepeda ini.
Kalau anda jarang melipat sepeda, artinya anda jarang bepergian sambil membawa sepeda, anda jarang atau tidak pernah commuting dengan kombinasi sepeda dan moda tansportasi lain maka sepeda lipat kurang cocok untuk anda.

Kelemahan sepeda lipat adalah karena ia memiliki mekanisme lipatan/engsel yang membuatnya menjadi kurang rigid dan ringkih. Karena itu durability atau keawetan sepeda lipat pasti lebih rendah dibanding sepeda lainnya. Apalagi kalau anda style gowesnya brangasan, suka melibas road bump dan polisi tidur, suka medan makadam maka sepeda lipat tidak cocok untuk anda.

Ikut-ikutan teman
Coba dipikir lagi selama ini arena gowes kita lebih sering ke mana? Apakah cuma funbike dan keliling komplek? Apakah mayoritas cross-country?

Teman anda memakai sepeda 10 juta karena ia biasa bersepeda jarak jauh sehingga membutuhkan sepeda yang ringan dan mumpuni. Kalau sepeda 10 juta hanya dipakai untuk funbike tentu overkill.
Kalau anda lebih sering bermain di aspal atau jalan beton dan sesekali ke trek makadam maka sepeda hybrid lebih cocok. Bisa juga memakai MTB dengan ukuran ban yang tidak terlalu besar dan kembangan bannya halus.

Ikut-ikutan gaya
Tidak ada yang lebih bergaya daripada sepeda Downhill dan AM. Seberapa sering kita melihat sepeda jenis tersebut berkeliaran? Jarang sekali, karena memang arena bermain untuk sepeda tersebut sangat terbatas.

Sepeda full-sus apapun jenisnya memang terlihat lebih bergaya dibanding sepeda hardtail. Tapi kalau budget kita cekak, maka sepeda full-sus murahan akan membuat kita mati gaya saat menggowesnya. Full-sus murahan apalagi tidak memiliki mekanisme locking akan membuat gowesan mentul-mentul alias bobbing. Kalau anda gowes lebih dari 20km bobbing ini akan sangat menguras tenaga karena energi gowesan kita tidak sepenuhnya diserap putaran roda belakang tetapi sebagian terserap oleh efek mentul-mentul tersebut.

Asyik mengupgrade sepeda lupa mengupgrade dengkul
Jika diibaratkan mobil, sepeda adalah sistem tansmisi dan penggerak. Engine-nya adalah kita sendiri. Kalau mobil ingin kencang pasti engine-nya yang diupgrade duluan. Dalam banyak kasus bahkan engine saja yang diupgrade, sistem transmisi dan penggerak masih standar.

Bersepeda juga sama, seberapa pun bagus sepedanya kalau badan kita tidak fit, jarang gowes, suka begadang, kurang gizi, kita akan tetap terkewer-kewer di lintasan. Jadi sebelum mengupgrade sepeda sebaiknya kita mengupgade dengkul (badan) kita dulu dengan rajin gowes, cukup istirahat dan makan makanan bergizi.

Kalau anda pernah main ke Puncak atau Tangkubanparahu, anda akan sering melihat goweser-goweser dengan sepeda sultan pada rontok di tanjakan. Beberapa bahkan harus memakai jasa ojek dorong (sepedanya didorong/dibawakan oleh bocah-bocah sampai akhir tanjakan).

Jembatan Gantung Cihoe Balekambang Jonggol

Setelah sempat rusak karena tiang jembatan tergerus air, kini jembatan kali Cihoe yang menghubungkan dua desa yakni Desa Balekambang Kecamatan Jonggol dan Desa Tegalpanjang Kecamatan Cariu dibangun menjadi lebih kokoh dan moderen berupa jembatan gantung.

Jembatan Gantung Cihoe memperpendek dan mempermudah akses dari Balekambang menuju Cariu.

Gowes XC – Pemandangan sawah, dangau dan gunung nan indah di Antajaya Tanjungsari Bogor

Sabtu itu sebenarnya tujuan gowes saya adalah Kahyangan Camping Ground dan Quilling (Heaven Memorial Park). Sendiri karena salah satu rekan gowes harus ke Jakarta di siang hari. Takut waktunya tidak dapat. Di Cariu bertemu dengan om-om dari Jonggol yang sepedanya membuat ngiler. Mudah saja identifikasinya, sprocket sebesar tampah, caliper bersirip (XTR) daannn… frame polos tanpa cat (Titanium)

Setelah berpisah dengan rombongan om-om yang hendak ke Green Canyon, saya berbelok ke kanan menuju Antajaya. Beberapa papan nama penunjuk arah yang disponsori perusahaan rokok menggoda saya untuk berbelok arah. Awalnya adalah papan nama Gunung Kanaga. Ketika berbelok ke arah tersebut rupanya di kaki gunung sedang dilakukan land clearing untuk membangun perumahan dengan konsep villa. Namanya agak aneh, Swiss. Mungkin karena pemandangannya bagus seperti di Swiss. Saya berharap namanya nanti lebih melokal.

Di belakang area villa ini terdapat Gunung Kanaga. Puncaknya yang berupa blok batuan nampak kokoh. Konon, gunung ini merupakan salah satu titik awal penyebaran Agama Islam di daerah ini. Kalau kita mau bersusah payah mendekat ke arah puncak gunung (sebenarnya bukit ya, karena ketinggiannya hanya 280mdpl) maka kita akan mendapatkan beberapa spot foto yang menarik. Di bawah ini contohnya 🙂

Gunung Kanaga, Antajaya Tanjungsari Bogor

Villa Swiss – Antajaya Tanjungsari Bogor

Sebenarnya foto yang lebih menari bisa kita dapatkan sore hari karena gunung-gunung yang ada di sebelah timur villa ini akan tersorot matahari sore. Sementara di pagi hari posisi matahari akan menyebabkan backlight yang membuat kamera tidak mampu menangkap detil keindahan gunung-gunung tersebut.

Setelah puas menangkap pemandangan indah ke dalam kamera, saya pun kembali turun ke arah jalan utama. Belum berapa lama berjalan ada papan nama lagi. Kali ini namanya Wisata Pinus. Penasaran. Belok kiri lagi.

Jalan beton mulus menyambut dengan sawah di kanan kira menyambut Xtrada 4.0. Jalannya tidak terlalu lebar, hanya cukup dilalui satu mobil. Di ujung terdapat perkampungan yang cukup padat akan tetapi banyak memiliki ruang terbuka dengan pepohonan yang rimbun. Jalan beton sampai ke ujung kampung bahkan sampai area sawah dan perkebunan sampai akhirnya harus bertemu dengan makadam.

Jalur makadam ini akan menawarkan pemandangan yang (menurut saya) luar biasa. Ijo royo-royo. Hamparan sawah menghijau, dangau, pohon kelapa dan deretan puncak-puncak gunung di belakangnya. Mooi indie sekali.

Di samping sawah ini terdapat saluran irigasi dengan airnya yang sangat bening sekali. Boleh percaya boleh tidak, karena kehabisan air akhirnya saya mengisi botol air minum dengan air ini. Terbukti akhirnya air dari saluran irigasi ini menjadi penyelamat karena trek di depan rolling-nya gila-gilaan. Sangat menguras energi dan cairan. Di salah satu segmen saya sempat ngasak buah rambutan yang terjatuh di bawah pohonnya. Lapaar banget!!

Sebenarnya saya bisa saja kembali ke trek awal akan tetapi godaan single track makadam dan keinginan membuat loop akhirnya mengantarkan saya kepada track yang hanya bisa dilewati dengan motor trail dan jalan kaki saja. Licin, sangat curam, dua jembatan kayu yang meragukan kekuatannya, agak panas karena sebagaian pohon sudah ditebang.

Sawah, dangau, gunung – Antajaya Tanjungsari Bogor

Antajaya Tanjungsari Bogor

Antajaya Tanjungsari Bogor

Bagi goweser yang biasa main di sekitar Jonggol, Cariu dan Green Canyon bisa mencoba trak ini. Dijamin tidak akan menyesal.

APD (Alat Perlindungan Diri) saat bersepeda

Helem. Pilih yang bagian dalamnya smooth dan tidak tajam. Beberapa helem bagian dalamnya agak runcing karena proses pembuatan/molding.

Kacamata. Penting sekali untuk melindungi mata dari cipratan air, lumpur dan debu. Terutama yang berasal dari lontaran roda depan.

Sarung tangan. Pagi ini saya benar-benar menyesal tidak memakai sarung tangan. Karena beralasan masih pagi dan matahari belum terik saya tidak memakai sarung tangan. Ketika gowes kecepatan tinggi di hutan jati, roda depan terpeleset dan saya kehilangan kendali sehingga ndlosor di trek gravel. Kedua telapak tangan saya lecet-lecet karena menahan tubuh yang jatuh ke tanah gravel. Sarung tangan ini juga akan membantu kita memegang handlebar lebih kuat. efeknya akan terasa sekali saat telapak tangan kita berkeringat. Tanpa sarung tangan akan menjadi licin.

Jersey/kaos lengan panjang. Melindungi tangan ketika terjadi insiden atau saat melibas medan yang banyak semak dan perdu.

Celana panjang. Beruntung ketika mengalami dua kali insiden terjatuh dari sepeda saya sedang memakai lengan panjang sehingga meminimalisir luka-luka di kaki. Seperti halnya lengan panjang, celana panjang juga sangat membantu ketika kita melewati medan yang banyak semak dan belukar. Jersey lengan panjang dan celana panjang ini banyak membantu saya ketika kemari menggowes di Gunung Ciremai lalu bertemu medan yang penuh semak dan perdu setinggi orang dewasa.

Sepatu. Selain melindungi kaki dari berbagai benda tajam di jalan dan ketika terjadi insiden, sepatu juga membantu efisiensi kayuhan kita. Semakin kaku sol sepatu makan efisiensi kayuhan kita akan semakin bagus dan membuat kaki tidak cepat capek. Jika kita bermain MTB maka sepatu gowes yang kita pakai sebaiknya merupakan perpaduan antara kekakuan dan daya cengkeram/grip, terutama ketika kita bertemu medan yang licin atau sedikit berlumpur.

Jangan lupa membawa persediaan air yang cukup terutama ketika trek gowes jauh dari keramaian.

Ndlosor di hutan jati

Bojongmangu – Surga cross-country di selatan Bekasi

Lebih tepatnya Bojongmangu berada di bagian tenggara Kabupaten Bekasi. Kecamatan Bojongmangu berbatasan dengan kecamatan-kecamatan sbb: Cikarang Pusat, Serang Baru, Cibarusah (Kab. Bekasi), Jonggol, Cariu (Kab. Bogor) dan Telukjambe Barat, Pangkalan (Karawang). Topografi Bojongmangu sebagian besar merupakan perbukitan dengan ketinggian kurang dari 100mdpl.

Bukit-bukit kecil tersebut banyak yang memotong  jalan-jalan antar desa sehingga menciptakan rolling. Bahkan ketika jalan-jalan berada di punggung bukit pun perbedaan ketinggian antar punggung bukit juga menciptakan rolling yang tidak kalah seru.

Bagi goweser Cikarang dan sekitarnya area ini menyajikan medan latihan ataupun medan cross-country yang sangat digemari. Bagi yang bosan gowes dengan suasana perkotaan atau perkampungan padat, Bojongmangu adalah pilihan tepat. Sebagian besar lahan didominasi oleh sawah tadah hujan, perkebunan dan tanaman keras seperti jati.

Topografi Kecamatan Bojongmangu

Rolling di perbukitan

Bukit dan lembah

 

Rolling makadam

Rolling beton