Polygon merek sepeda Indonesia perkasa di pentas dunia

Saat mampir ke gerai Books & Beyond di Mall Lippo Cikarang, aku tertarik dengan sebuah buku berjudul Global Chaser – Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia. Buku tersebut menampilkan dan mengulas secara singkat profil 20 perusahaan Indonesia yang mendunia dengan merek sendiri.

Ada dua merek yang memiliki ikatan emosional. Pertama MAK sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan kesehatan untuk rumah sakit yang berasal dari Kalasan, Yogyakarta. Kedua Insera Sena sebuah perusahaan yang memproduksi sepeda dengan merek Polygon yang berasal dari Sidoarjo.polygon

Banyak yang belum mengetahui bahwa Polygon, salah satu merek sepeda yang paling terkenal di Indonesia juga merambah pasar sepeda di berbagai negara. Hebatnya pasar yang dimasuki bukanlah pasar sepeda di negara-negara dunia ketiga. Polygon yang mengawali pasar ekspor sepeda dari wilayah ASEAN kemudian bersain dengan merek-mereka ternama yang lebih dulu hadir di Jepang, Korea Selatan dan Eropa.

Polygon unggul dan mampu bersaing di pentas global karena mementingkan kualitas, teknologi dan craftmanship. Beberapa media internasional seperti World of MTB Germany dan Decline USA menilai Polygon memiliki orisinalitas desain. Desain-desain Polygon bukan asal comot dari merek lain. Desain Polygon otentik.

Selain dibuktikan dengan sertifikasi SNI, kualitas sepeda Polygon juga lulus sertifikasi standar Jepang (JIS) dan Eropa (EN).

 

Memanfaatkan shampoo mobil untuk mencuci sepeda

Selama ini saya selalu mencuci sepeda dengan bahan seadanya. Biasanya memakai Sunlight atau Mama-lime. Beberapa waktu lalu terbetik ide untuk memanfaatkan shampoo mobil untuk mencuci sepeda. Produk yang saya pakai adalah KIT Wash & Glow.

Setelah larutan pencuci dipakai mencuci mobil maka saya memanfaatkan sisa larutan pencuci untuk mencuci sepeda. Hasilnya, sepeda memang terlihat mengkilat (glowing). Setelah melihat hasil tersebut, kini saya selalu memanfaatkan sisa larutan pencuci mobil untuk mencuci motor dan sepeda. Sepeda dan motor terlihat lebih kinclong dibanding sebelum memakai shampoo.

kit wash & glow

Polygon Monarch 24 dan Polygon Sweetie Pink 16

Keluarga Polygon!

Ayah memakai Polygon Astroz, bunda memakai Polygon Sierra AX, Emil memakai Polygon Monarch 24 dan Kamilah memakai Polygon Sweetie Pink 16.

Sebelum memakai Polygon Monarch 24, si Emil memakai sepeda Wimcycle BMX 16. Sepeda tersebut dibeli ketika Emil masih di PAUD. Kini ketika si Emil sudah kelas 3 SD sepeda tersebut menjadi terlalu kecil. Beberapa kali teman-temannya mengolok Emil karena memakai sepeda terlalu kecil.

Awalnya ayah berencana membelikan sepeda BMX 20. Tetapi pada saat ayah sedang mengajari Rafa Kamilah bersepeda, secara tidak sengaja Emil mencoba sepeda bunda, Sierra AX 26, dan bisa!! Lalu si Emil pun mencoba sepeda MTB ayah ukuran 26 ternyata bisa juga! Dari sini si Emil mulai merasakan enaknya memakai sepeda ukuran besar.

Emil dan Polygon Monarch 24

Emil dan Polygon Monarch 24

Ketika diajak ke toko sepeda pilihannya langsung jatuh kepada sepeda MTB ukuran 24. Sepeda BMX tidak menarik perhatiannya. Dan begitu selesai dibayar sepeda itupun langsung dinaiki dari toko sepeda di Lasinrang ke BTN Pondok Indah, Soreang. Kini Polygon Monarch 24 selalu menemani Emil ke sekolah dan saat mengaji di sore hari.

Eforia sepeda baru. Beberapa kali Emil mengajak bersepeda di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Bahkan saat pulang dari sholat Jumat ia antusias ketika rute pulang dibelokkan ke arah jembatan gantung meski saat itu matahari begitu terik.

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Si cantik Rafa Kamilah juga tidak mau ketinggalan. Si nona sudah lama menginginkan sepeda berwarna pink. Di toko sepeda ada dua pilihan Sweeti dan Hello Kitty. Tetapi kondisi si Hello Kitty mulai berkarat di beberapa bagian sehingga pilihannya jatuh kepada Sweetie. Seperti halnya kakaknya, Rafa Kamilah memakai sepeda Polygon Sweetie untuk pergi ke PAUD di sore hari.

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kedua sepeda di atas dibeli di toko sepeda Aneka Sepeda, Jl. Lasinrang 229, Parepare (0421-21786). Di toko sepeda  ini juga bunda dulu membeli citybike Polygon Sierra AX.

Kehandalan lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Bertahun-tahun bergaul dengan Polygon Sierra AX saya baru menyadari bahwa lampu sepedanya sangat handal. Semua itu bermula ketika saya meminjam sepeda istri untuk pergi sholat maghrib ke masjid.

Saya yang biasanya memakai sepeda BMX malam itu tergoda untuk memakai citybike. Karena penasaran dengan adanya lampu di bagian depan maka saya menekan tombol generator sehingga generator menekan roda dan ikut berputar.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Lampu sepeda bermerek Sanyo tersebut sangat terang. Jangkauannya sampai 30 meter. Hanya dengan putaran roda yang lambat pun, misalnya saat dituntun, nyala lampu sudah cukup terang untuk menerangi jalan di depan.

Esoknya, ketika saya periksa pada bagian generator terdapat keterangan 6V-2.4W. Pada bagian headlamp terdapat tiga bundaran yang menunjukkan bahwa ia memiliki tiga lampu LED. Ya, lampu LED. Rupanya inilah kunci dari terangnya cahaya lampu Sierra AX.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Gowes ke peternakan sapi – Bila River Ranch

Pagi-pagi, 1 Januari 2015, Astroz kugeber menyusuri aspal mulus jalan Bila. Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala saat sepedaku melintasi persawahan.

Karena terlalu pagi dan mungkin jarang melihat orang bersepeda di pagi hari, anjing-anjing penjaga yang banyak dipelihara selalu menggonggong saat aku lewat. Seperti kata pepatah, anjing menggonggong – goweser berlalu. Sempat sprint dengan 3 ekor anjing galak yang mencoba mengejarku. Well, kamu melawan goweser veteran Makassar-Parepare :P

Memasuki desa Bila Riase hari mulai terang tetapi mentari masih tersembunyi di balik awan. Udara terasa segar karena sepanjang jalan penuh dengan pepohonan.

Memasuki kawasan peternakan PT Berdikari United Livestock Indonesia (BULI) angin segar mulai berhembus. Sapi-sapi mulai merumput di padang penggembalaan. Beberapa pintu masuk ke padang rumput sudah ditutup sehingga aku kesulitan mengambil gambar.

Melewati kantor PT BULI terdapat gerbang ke padang rumput yang tertutup tetapi tidak terkunci. Aku memberanikan diri memasuki padang rumput. Rupanya ini jalur penambang pasir yang melewati area penggembalaan.

Wow!! Bukit-bukit berumput di sini mirip sekali dengan bukit Teletubbies. Di seberang bukit terhampar lembah sungai Bila dengan sawah menghijau. Nun jauh di sana pegunungan Rantemario dan Rantekombola menjadi latar bagi padang rumput ini. What a perfect nature composition!

Dua buah puncak bukit yang terbuka sempat kusinggahi untuk mengambil gambar-gambar. Berikut adalah gambar-gambarnya.

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

 

 

Gowes pulang kampung Makassar – Parepare

Tidak ada penerbangan dinihari dari Surabaya ke Makassar. Jam 06:00 pesawat lepas landas dari Bandara Juanda menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Jam 8:30 pesawat mendarat. Jam 09:00 bagasi sampai. Ukurannya yang besar membuat ia tersangkut di ban berjalan. Aku meminta bantuan tukang ojek untuk membawa kardus besar berisi sepeda ke lapangan parkir karena tidak ada jalur trolley ke sana.

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Satu jam kuperlukan untuk merangkai dan men-setting sepeda. Jam 10:00 Polygon Astroz kunaiki ke arah jalan trans-Sulawesi. Mentari sangat terik siang itu. Aku yang masih memakai celana jeans langsung bermandi keringat. Di sebuah masjid aku berganti pakaian dengan jersey dan celana pendek.

Polygon Astroz kukayuh menyusuri padatnya jalan raya Maros. Susah payah mencari udara segar diantara padatnya kendaraan. Belum seberapa lama mengayuh perutku terasa keroncongan karena tidak sempat sarapan. Untungnya di tasku terdapat bekal untuk 2x makan.

Astros di depan masjid raya Maros

Astros di depan masjid raya Maros

Sambil mengayuh mencari tempat rindang, samar-samar kudengar suara berisik dari sepedaku. Rupanya beban yang terlalu berat membuat pannier tertekan ke arah roda dan bergesekan dengan ban. Pantas gowesan terasa semakin berat.

Di bawah rimbunnya pohon akasia aku beristirahat untuk makan siang dan mencari sesuatu untuk menahan pannier agar menjauh dari roda. Boncengan sepedaku memang tidak dirancang untuk touring. Boncengan tersebut kuambil dari sepeda Polygon Sierra lalukupasangkan di Astroz. Beruntung Astroz memiliki eyelet untuk memasang boncengan.

Dua batang dahan kering yang terdapat di tepi jalan kujadikan horisontal bar untuk menahan pannier. Dahan tersebut kuikat dengan tali rafia pengikat bontot. Kedua dahan tersebut mampu menahan pannier dan menjauhkannya dari roda.

Astroz kembali kukayuh menyusur jalan raya Pangkajene. Teriknya matahari terasa menusuk ubun-ubun dan membuat keringatku semakin bercucuran. Cuaca yang sangat panas menurukan daya tahan dan ritme gowesan. Tiap 30 menit aku mencari-cari tempat beristirahat untuk berteduh dan memulihkan stamina.

Segmen terberat adalah saat berada di areal tambak Pangkajene. Panasnya luar biasa. Karena tidak ada penerbangan dinihari aku kehilangan golden time antara jam 6:00 ~ 10:00. Akibatnya aku berada di areal pertambakan Pangkajene ketika matahari sedang terik. Andai bisa berangkat lebih pagi tentu akan melewati area ini saat mentari tidak terlalu panas.

 

Gowes napak tilas Singosari – Cangar, Batu

Dulu saya pernah melibas trek ini memakai sepeda BMX ketika masih SMP. Dengan sepeda single speed tentu saja sebagian besar tanjakan tidak gowesable karena terlalu curam. Kini aku akan mencoba menapaktilasi rute ini dengan sepeda MTB.

Jam 7:30 berangkat dari Gebyak Purwoasri. Melewati jalan tembus Singosari-Karangploso melalui Tunjungtirto aku sampai di jalan raya ke arah Batu yang sekarang menjadi lebar dan mulus. Sepeda kugeber sampai di Donowarih. Sempat berhenti beberapa kali untuk minum dan mengabadikan pemandangan di gerbang kota Batu dan Jembatan Oranye. Jembatan Oranye ini mengingatkanku kepada jembatan dengan warna serupa di Jatiluhur.

Jembatan Oranye - Bumiaji, Batu

Jembatan Oranye – Bumiaji, Batu

Di pertigaan Bendo, Batu aku mengisi ulang perbekalan dengan memberi minuman dan empat potong roti goreng. Harganya sangat murah. Hanya 1000 rupiah per biji.

Setelah mengisi perut dan memulihkan stamina aku melanjutkan perjalanan ke arah Cangar. Jalanan menanjak. Sedikit sekali jalan rata. Musim liburan mengakibatkan banyak bus yang berlalu lalang menuju kawasan wisata di Batu. Asapnya cukup mengganggu pernafasan.

Menjelang area perkebunan sayur dan apel di Junggo stamina mulai menurun. Istirahat beberapa kali di tanjakan curam. Astroz 7 speed cukup berat untuk menaklukkan tanjakan. Akan tetapi karena putaran tidak terlalu cepat maka ritme jantung selalu terjaga. Semua tanjakan dilibas tanpa TTB karena sangat gowesable.

Jam 11:40, tepat saat adzan Dzuhur sampai di Desa Sumberbrantas Batu. Setelah sholat Dzuhur perjalanan kulanjutkan ke arah Cangar. Mampir sebentar ke Arboretum Sumberbrantas milik Perum Jasatirta.

Mendung semakin tebal dan mulai rintik. Akhirnya kubatalkan target ke Cangar karena cemas dengan hujan deras dan tanah longsor. Musibah tanah longsor di Banjarnegara menciutkan nyaliku. Apalagi di sepanjang jalan setidaknya terdapat dua papan peringatan bahasa longsor.

Sepeda kuputar ke aran kanan dan aku balik ke arah Batu. Bonus turunan sepanjang 28 km kunikmati sampai rumah. Jika saat pergi membutuhkan waktu 4 jam maka baliknya hanya 1 jam 20 menit :D

Jalur ini memang sangat cocok bagi penikmat tanjakan.

Rute gowes Singosari - Batu - Cangar

Rute gowes Singosari – Batu – Cangar