Gowes ke Curug Arca, Sukawangi, Sukamakmur

Curug Arca (aka Curug Saridun) berada pada ketinggian sekitar 1200mdpl. Pada ketinggian tersebut membuat air curug menjadi sangat dingin sehingga tidak bisa berlama-lama mandi dengan air curug karena akan membuat badan menggigil.

Ketika kami berkunjung pada 19 September 2020, secara resmi curug sedang ditutup. Entah karena pandemi Corona atau karena sedang dalam tahap perbaikan karena di sekitar curug terdapat beberapa material bangunan.

Terdapat beberapa longsoran di jalan akses menuju curug. Jika diperhatikan tebing-tebing di sekitar curug memang terlihat mudah longsor. Bahkan di dasar curug terdapat longsoran atau material batuan terlihat dibawa aliran air sehingga bagian bawah curug yang seharusnya membentuk kubangan menjadi dangkal. Artinya di hulu curug juga terdapat longsoran.

Mengingat kondisi tersebut, jika ingin berkunjung ke Curug Arca (Curug Saridun) sebaiknya tidak di musim hujan. Khawatir ada longsoran dari atas.

Polygon Premier 5 @ Curug Arca (Curug Saridun)

Kami menuju Curug Arca (Curug Saridun) via Gunung Batu karena ingin menghindari keruwetan jalur Curug Ciherang/Cipamingkis. Jalur ini relatif sepi, pemandangan lebih bagus dan udara lebih segar akibat jarang kendaraan yang lewat.

Tantangan utama dari jalur gowes ini berada pada km 46 – 57 dimana kami harus mendaki dari ketinggian 511mdpl menuju 1180mdpl. Beberapa tanjakan grade-nya bisa mencapai 22%. Mengingat stamina yang sudah turun, tanjakan-tanjakan tersebut harus dilibas selangkah demi selangkah diselingi dengan istirahat.

Seperti halnya jalur pegunungan yang lain yang banyak rolling, meski gowes dari ketinggian 34mdol di Cikarang menuju 1200mdpl di Curug Arca (Curug Saridun) tetapi total elevasi yang kami dapatkan mencapai 2000m.

Menjelang curug dinaungi pohon pinus
Menjelang curug track menjadi rimbun dan menghijau
Kelenger setelah dihajar tanjakan grade 17%
Premier 5 dengan latar tebing gunung
Tim GAS berpose menjelang Gunung Batu
Track dan elevasi Lippocikarang – Curug Arca (Curug Saridun)

Kampus UNJ Cikarang ( 6 Sep 2020)

Berdasarkan cerita warga yang sudah lama bermukim di Taman Cibodas, Lippocikarang, pada tahun 90-an kampus UNJ di Lippocikarang sempat memiliki beberapa bangunan permanen. Ketika saya pindah ke Lippocikarang awal 2007 kondisi area kampus sudah terlantar dan bekas bangunan sudah tidak ada. Di beberapa bagian jalan aspal masih mulus dan sebagian sudah diinvasi oleh semak belukar.

Lama tidak bermain di area tersebut sore tadi saya menyempatkan diri untuk merambah lagi area kampus UNJ Cikarang. Fyi, track ini hanya bisa digowes di musim kemarau. Di musim hujan tanahnya sangat lengket ke roda sepeda. Roda akan berubah menjadi donat yang semakin lama akan semakin besar sehinggal tidak bisa digowes lagi karena mentok ke frame dan fork.

Kampus UNJ Cikarang dengan latar bekas jalan beraspal dan District 1 Meikarta
Kampus UNJ Cikarang. Tanah lio akan berubah menjadi sangat lengket di musim hujan
Kampus UNJ Cikarang. Konturnya berbukit

Jalur inspeksi pipa air Jatiluhur

Ini adalah shortcut menuju bendungan Jatiluhur dari arah Jl. Raya Industri. Sebaliknya jalur ini juga menjadi shortcut balik dari Jatiluhur menuju arah Karawang.

Jalur ini merupakan pelindung sekaligus sarana inspeksi pipa air milik PT South Pacific Viscose. Diawali dari kampung Tali Baju lalu membentang di atas sungai Cikao yang merupakan anak sungai Citarum, jalur ini berakhir di jalur kereta api cepat Jakarta Bandung.

Sunrise di puncak Gunung Kanaga

Demi momen terindah saat matahari terbit, enam goweser dari Tim Gowes Asyik Syahdu (GAS) berusaha melawan rasa capek, kantuk dan dinginnya malam di musim kemarau. Jam satu dini hari kami memlulai perjalanan dari Lippocikarang menuju Gunung Kanaga yang terletak di Desa Antajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Tim GAS (Gowes Asyik Syahdu)

Gunung Kanaga ini termasuk salah satu gunung yang populer bagi orang awam karena tidak terlalu tinggi, mudah didaki dan puncaknya memiliki susunan bebatuan unik yang berada di tiga lokasi berbeda. Kombinasi unik dari susunan bebatuan dan deretan gunung di sekelilingnya memberikan komposisi pemandangan yang indah. Jika ditambah dengan momen matahari yang terbit dari balik gunung-gunung di komplek pegunungan Sanggabuana maka semakin lengkap sudah.

Sepeda digeber melalui jalur klasik Pasir Kupang – Bojongmangu yang terkenal dengan rolling dan beton pecah laksana makadam dengan bogkahan batu besar. Cukup menguras tenaga sehingga ketika sampai Cariu kami membutuhkan suplemen teh hangat.

Tak ingin kehilangan momen sunrise, kecepatan dibuat konstan, istirahat seminimal mungkin. Bahkan di tanjakan menjelang pos pendakian sebagian besar goweser bisa melewatinya padahal di hari biasa sebagian besar lebih memilih untuk menuntun sepeda. Dinginnya malam membuat konsumsi minuman tidak seboros gowes di siang hari. Meski demikian tanpa terasa jersey menjadi basah kuyup begitu sampai di pos pendakian.

Tepat jam 4:05 kami sampai di pos pendakian. Sambil mendinginkan badan dan mengganti jersey yang basah dengan yang kering kami mengunggu waktu Shubuh. Sebagian yang terserang kantuk berbaring-baring di bale-bale bambu. Sebagian lagi memenuhi panggilan alam alias buang muatan. 4:40 adzan Shubuh berkumandang. Empat orang segera melaksanakan sholat berjamaah di musholla bambu.

5:00 saatnya summit attack! Karena masih pagi dan dingin, pendakian lebih cepat dari biasanya. Bisa dibilang kami mencapai puncak tanpa istirahat. Begitu sampai di puncak, langit di sebelah timur mulai berwarna jingga. Pagi itu sedikit mendung. Kami sempat was-was jika mendung terlalu tebal maka momen sunrise akan hilang.

Kehawatiran tidak terjadi. Meski kami tidak mendapat momen sunrise secara penuh karena terhalan mendung, matahari masih memberikan sebagian cahanyanya dari celah-celah mendung yang tidak terlalu tebal. Kondisi tersebut bahkan memberikan kesan unik yang terlihat bagaikan lukisan abstrak. Pada beberapa momen terlihat seperti dalam film-film fantasy yang biasanya terkesan dark.

Tidak ada perjalanan yang sia-sia. Ke mana pun kita melangkahkan kaki dan mengayuh pedal ada banyak hal yang bisa kita kagumi dan kita pelajari. Termasuk trip kali ini. Menyaksikan kemegahan lukisan alam membuat kita menyadari betapa lemah dan kecilnya manusia.

Sunrise di Gunung Kanaga
Sunrise di Gunung Kanaga
Tim GAS

Wisata Liang Maung, Kutamaneuh, Tegalwaru, Karawang

Liang Maung merupakan obyek wisata yang terletak di Kutamaneuh, Tegalwaru, Karawang.

Liang Maung berasal dari legenda setempat di mana batu raksasa yang membentuk gua dahulu merupakan sarang harimau. Batu raksasa yang menjadi bagian utama gua/liang/sarang berukuran sekitar 3 x 6 meter.

Di sekeliling Liang Maung juga terdapat batu-batu yang berukuran lebih kecil. Melihat posisinya yan berada tepat di kaki Gunung Cengkik, besar kemunkinan batu-batu ini merupakan longsoran dari Gunung Cengkik di masa lalu. Menurut salah satu warga, sebuah batu yang tampak menonjol dati taman batu ukurannya jauh lebih besar dari batu Liang Maung dengan bentuk seperti perahu.

Lokasi Liang Maung bisa dicek di Google Maps dengan Plus Codes berikut ini F7R7+Q2 Kutamaneuh, Karawang Regency, West Java

Jembatan Gantung Ridogalih Cibarusah

Jembaran Gantung Ridogalih berada di Desa Ridogalih Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi. Dari Pasar Cibarusah jaraknya sekitar 8,5km. Lokasinya berada tidak jauh dari poros jalan Cibarusah-Sukabungah atau jalan akses menuju Buper Karangkitri.

Salah satu sisi jembatan ini buntu, tidak ada jalan yang bisa dilewati kendaraan bermotor roda dua tau empat. Sisi yang buntuk merupakan area persawahan. Bisa diduga pembangunannya adalah untuk memberi kemudahan akses bagi petani saat menggarap dan memanen hasil sawah.

Daya tarik Jembatan Gantung Ridogalih adalah lingkungan sekitarnya masih asri dan rimbun. Sangat instagramable. Momen terbaik untuk mengunjunginya adalah saat pagi hari dan ketika musim tanam sampai menjelang panen.

Di pagi hari, sinar matahari akan mewarnai pepohonan dan rumpun bambu yang menaungi jembatan ini. Beberapa liana dan epifit yang menempel di pohon selain menambah kesan alami juga memberikan aksen merah dan kecoklatan. Di musin tanam kita akan mendapatkan backgroun atau foregound menghijau semntara menjelang musim panan kita akan mendapatkan latar kuning keemasan.

wp-1593292338936.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih

wp-1593292679849.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih dan sawah dengan padi yang menguning siap panen

wp-1593292413563.jpg

Jembatan Gantung Ridogalih dengan rumpun bambu dan pepohonan yang menaunginya

Lokasi Jbt Ridogalih

Lokasi Jembatan Gantung Ridogalih dari Pasar Cibarusah

Gowes dengan misi menemukan jalur ke Mulyasari

Setelah gagal menuju Mulyasari dari arah Tenjolaut, kali ini saya mencoba menuju Mulyasari dari arah Kb. Danas. Track-nya mengambil jalur ke Curug Ciherang melalui pertigaan Sukamakmur. Clue-nya setelah SMA negeri Sukamakmur belok kanan ke jalur jalan beton yang tidak seberapa lebar. Berbeda dengan jalur Tenjolaut yang segera menemukan persawahan, jalur ini melalui perkampungan yang cukup padat dengan jalan-jalan sempit. Pemandangan bagus baru kita dapatkan di ujung kampung. Dari sini kita akan mendapatkan pemandangan ke arah Gunung Batu.

Setelah melewati kebun-kebung cengkeh/kopi/durian kita akan sampai di sebuah tempat yang agak datar dengan beberapa poon pinus di sekelilingnya. Dari lokasi ini kita akan mendapatpan pemandangan yang bebas ke Selatan, Timur dan Barat. Masing-masing akan memberikan background yang cakep. Ke Selatan akan bertemu punggung gunung, ke Timur akan bertemu Gunung Batu dan ke Barat akan bertemu Gunung “Sukamakamur”. Entah apa nama resmi dari Gunung “Sukamakmur” ini. Saya namakan demikian karena gunung ini merupakan marka tanah dari Sukamakmur.

Gunung “Sukamakmur”

Setelah melewati jalan setapak persawahan kita akanmendapatkan apa yang disebut Jalur Beko. Dinamakan demikian karena dulu jalan ini dibuat dengan Beko (Backhoe) alias Ekskavator. Awalnya jalan ini akan dijadikan sebagai jalan alternatif ke Puncak akan tetapi kemudian tidak ada pembangunan lebih lanjut sehingga mejadi terlantar dan rusak. Di beberapa ruas terjadi longsor dan tergerus oleh aliran air. Jalan ini sudah dimakadam tetapi banyak yang tertutupi oleh semak dan perdu.

Saya pun mampir ke sebuah dangau dimana ada suami-isteri sedang mengikat sayur-sayuran yang ternyata adalah poh-pohan (Pilea Melastomoides). Ini adalah sayuran atau tepatnya lalapan yang agak langka. Jika beruntung kita akan mendapatkannya di warung Sunda. Yang membuatnya agak jarang adalah karena ia tumbuh subur di tempat yang dingin pada ketinggian 600mdpl ke atas.

Petani sedang panen sayur poh-pohan (pilea melastomoides) dan kopi

Saya mengobrol dengan suami-isteri tersebut tentang jalus distribusi sayuran dan kopi yang sedang panen. Untuk sayuran kebanyakan dijual ke Cileungsi sementara kopi dijual ke Jonggol. Masing-masing sudah ada pedagang pengepulnya. Yang disayangkan, kopi yang dipanen tidak benar-benar dipetik yang masak. Bahkan yang berwarna hijau pun ikut dipanen. Mungkin mereka menghemat tenaga karena lokasi kebun kopi ini tidak mudah sehingga memanennya pun memerlukan usaha yang lebih.

Bapak tersebut menginformasikan bawah jalur ke Mulyasari hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam. Awalnya masih pede untuk mengikuti jalur makadam ini tetapi setelah ketemu segmen yang rusak parah dan mengharuskan menggotong sepeda saya putuskan untuk balik kanan saja. Minimal sudah terkonfirmasi bahwa jalur ini memang ada akan tetapi untuk digowes cukup berat dan mengharuskan waktu dan stamina yang ekstra.

Jalan tembus ke Mulyasari. Rusak parah

Setelah kembali ke tempat datar ada perasaan mengganjal dan penasaran. Penasaran dengan Jalur Beko sepeda saya titipkan di seuah dangau. Saya menginspeksi Jalur Beko dengan berjalan kaki karena single track sempit melalui pemaang sawah tidak memungkinkan digowes maupun dituntun. Setelah sampai di atas, saluran air mengalihkan tujuan dari Jalur Beko. Saluran ini sudah diperkeras dengan beton sehingga memudahkan untuk melintasinya. Rupanya di atas ada pintu air tepat di kaki sebuah tebing. Di sampingnya ada jalur trekking.

Jalur trekking di samping mata air

Saya mencoba untuk mengikuti jalur trekking yang sangat menguras tenaga karena sangat miring dan melewati punggung tebing. Dari atas tebing ini kita akan mendapakan pemandangan lepas ke arah lembah Cipamingkis. Dari atas tebing kita bisa melihat alur Cipamingkis yang terlihat mengular.

Tidak ada yang sia-sia. Meski gagal melibas jalur ke Mulyasari setidaknya sat mendapatkan spot pemandangan yang menarik dan tentunya salah satu mata air Cipamingkis.

Cipamingkis dilihat dari ketinggian 700mdpl, terlihat mengular di kejauhan

Gunung Batu (berbentuk runcing) dilihat dari Sukamulya, Sukmakmur

Review Polygon Premier 5 2020

Setelah bersama Xtrada 4 selama kurang lebih 10 tahun dan tidak melakukan upgrade apa pun selain mengganti komponen yang rusak, saya merasa harus memakai sepeda yang setingkat di atasnya. Selain itu, ada rencana gowes bareng si Sulung saat jadwal kunjungan ke Kuningan, jadi butuh satu sepeda lagi.

Alasan lain kenapa harus memakai sepeda yang lebih mumpuni karena area bersepeda kini lebih semakin sering mengarah ke Selatan, yaitu sekitar Jonggol dan Cariu. Area tersebut banyak terdapat tanjakan dan turunan. Di tanjakan membutuhkan rasio gigi yang lebih tinggi agar gowesan lebih ringan. Di turunan membutuhkan rem hidrolik untuk meringankan kerja tangan, sehingga tangan bisa berkonsentrasi untuk handling saja. Yang masih memakai rem cakram mekanik pasti paham betapa capek dan melelahkannya braking dihajar turunan panjang.

Pilihan jatuh pada Polygon Premier 5 edisi 2020. Kenapa memilih Premier 5? Alasan saya sangat simple. Pertama speed-nya 3×9. Ya, saya suka gowesan yang agak berat di trek datar dan turunan. Ngicik is not my thing. Dan sprocket belakang sudah 9 sehingga ringan di tanjakan (Xtrada 4 cuma 8). Kedua, rem sudah hidrolik (Tektro). Ketiga, warnanya dominan hitam. Keempat, harganya di bawah 5 juta. Harga sepeda Polygon Premier 5 ini adalah 4,5 juta rupiah.

Perburuan pun dimulai. Serba Sepeda Lippocikarang tidak ada stok. Inden, tetapi tidak ada kepastian berapa lama barang bisa datang. Langsung menuju Rodalink online. Yes! Ada stock! Setelah barang datang ternyata dikirim dari Rodalink Waru Sidoarjo (free ongkos kirim πŸ™‚ )

Tidak ada kesulitan berarti saat merakit sepeda. Komponen yang masih terurai hanya handlebar, rem hidrolik depan, roda depan, pedal, sadel dan seatpost yang tinggal dipasang dengan mudah.

Satu-satunya kendala adalah handlebar standar terlalu lebar untuk riding style saya, Handlebar yang lebar itu untuk mempermudah dan memperingan handling terutama ketika bermain DH, AM dan XC ekstrim. Akan tetapi handlebar yang lebar akan membuat kita mudah capek ketika gowes jauh atau ngebut di lintasan lurus. Area bermain saya normal-normal saja tidak ada yang terlalu ekstrim, kalaupun terlalu ekstrim biasanya dituntun πŸ™‚ Dengan alasan tersebut akhirnya handlebar saya potong 6cm, masing-masing sisi 3cm. Ini adalah jalan tengah. Masih lebih lebar dibanding X4 untuk handling yang lebih baik tetapi juga tidak terlalu lebar untuk gowes yang dirancang 80km-an.

wp-1592173367332.jpg

Polygon Premier 5 di tengah kebun cengkeh

Sampai saat ini Premier 5 sudah mencicipi singletrack Gunung Kandaga, Curug Citiis, singletrack Curug Mariuk dan singletrack Gunung Sangar/Tenjolaut. Karena ini sepeda biasa, pastinya masih terhitung cukup berat. Itu terasa sekali ketika harus dorong-dorong sepeda saat bertemu tanjakan ekstrim. Bobotnya 11/12 dengan Xtrada 4. Tidak masalah buat saya, modal sabar saja πŸ™‚

Oh ya, saya memilih frame ukuran M karena ingin mendapatkan feel yang lebih rigid dan stabil. Sebenarnya dengan tinggi badan 163cm frame ukuran S lebih cocok.

Butuh penyesuaian dengan kondisi ban yang lebih besar dibanding Xtrada 4. Cengkeraman memang lebih kuat, Lebih empuk saat di makadam. Tetapi juga lebih berat saat digowes. Jika nanti ban bawaan ini habis saya akan ganti dengan ukuran 1.9inch agar lebih ringan.

Awalnya merasa nyaman dengan settingan preload dari fork (Suntour XCM) tetapi setelah dicoba ke Curug Mariuk dan Gunung Sangar/Tenjolaut terasa terlalu empuk sehingga ketika ketemu makadam atau jalan yang tidak rata terasa tenggelam, rebound-nya kurang. Kondisi tersebut mempersulit handling. Akhirnya saya tambah agar lebih keras.

Sampai saat ini saya merasa puas dengan kinerja dan kualitas Polygon Premier 5. Dari pengamatan sekilas sepertinya pedal yang akan segera aus. Penampilannya kurang meyakinkan untuk sebuah komponen yang merupakan titik utama penyaluran tenaga. Tetapi kembali ke prinsip awal, selama belum rusak tidak akan diganti.

Bagi anda yang ingin memperoleh sepeda bagus dengan budget terbatas. Polygon Premier 5 ini sangat cocok untuk anda. Value for money-nya sangat bagus. Kualitas Polygon tidak diragukan lagi. Polygon adalah merek nasional yang memiliki fasilitas produksi, bukan cuma merakit komponen terurai.

” Cintailah produk-produk buatan Indonesia πŸ™‚

wp-1592178173587.jpg

Polygon Premier 5 menuju Curug Mariuk

wp-1592178367022.jpg

Polygon Premier 5 di Curug Mariuk, Sukamakmur, Bogor

 

 

Gowes singletrack Kampung Tenjolaut dan Gunung Sanggar, Sukamakmur, Kab. Bogor

Awalanya saya penasaran, kenapa untuk mencapai Mulyasari harus melewati Kampung Cibakatul? Apakah tidak ada jalan langsung dari Sukamakmur? Lalu saya pelototi Google Maps dengan semua mode: map-satellite-terrain.Β 

Dari mode map memang tidak ada jalan yang tergambar dari Sukamakmur menuju Mulyasari. Tetapi pada mode satellite ada garis terang yang menunjukkan semacam jalan setapak. Ketika di-crosschek terrain-nya memang ckup terjal kemiringannya. Lebih baik dicek langsung, Kalau tidak ada jalan tembus kan tinggal balik.

Akhirnya pagi itu Premier 5 keluar kandang pas jam 5:25 mengarah ke Sukamakmur. Di tengah jalan bertemu dengan beberapa goweser saat beristirahat di spot foto Kali Cipamingkis setelah Pasar Dayeuh. Asyik ngobrol jadi lupa kalau saya harus buru-buru sampai di Sukmakmur.

Seperti halnya jalur ke Curug Mariuk, setelah melewati pertigaan Sukamakmur, begitu nyempal dari jalan raya langsung disambut tanjakan panjang. Kombinasi jalan aspal dan beton ini hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil kecil. Aspal dan beton mulus rupanya segera berakhir. Di ujung jalan makadam langsung menyambut. Makadam ini ternyata tidak seberap panjang setelahnya jalan beton lagi. Segmen ini menyuguhkan pemandangan indah sawah berlatar gunung berbentuk bundar yang tidak ada namanya. Padahal gunung ini merupakan marka tanah Sukmakmur tetapi pada GMaps tidak ada deskripsi apa pun.

wp-1592102663743.jpg

Sawah dengan latar gunung (bundar) Sukamakmur

Di ujung kampung saya sempat bertanya kepada beberap warga maupun anak-anak apakah ada jalan tembus ke Mulyasari atau Cibakatul. Skornya 2:1, seorang dewasa dan segerombolan anak-anak menjawab ada tetapi hanya bisa ditempuh dengan motor (medannya berat). Seorang lagi yang sedang memanen setandan pisang menjawab tidak ada, harus kembali memutar ke Cibadak.

Karena ada yang mengatakan ada jalur, saya cukup yakin memang ada jalan tembus. Berat ringan medannya harus dicek setelah melaluinya.

Ketika berada di ujung kampung dan mendekati jalan buntuk saya meminta panduan dari anak-anak arah ke jalan setapak/makadam. Rupanya jalan ini menyempit di antara rumah penduduk sehingga tersamar.

Yes!! Makadam runcing dan langsung berhadapan dengan tebing. Nanjaknya ga kira-kira. Bahkan saat mendorong sepeda pun badan sampai miring-miring. Di ujung tanjakan terdapat sebuah spot yang sangat bagus karena kita bisa leluasa memandang Desa Sukamakmur di bawah. Lokasinya berada di antara pohon-pohon cengkeh. Daerah ini merupakan penghasil cengkeh dan batang sereh (lemon grass).

wp-1592173367332.jpg

Cengkeh, sereh dan Premier 5

Setelahnya masih ada tanjakan lagi meski tidak separah sebelumnya. Setelah perkebunan cengkeh rupanya di atas ada juga persawahan. Lokasi sawah berada di Kampung Tenjolaut. Menariknya, di ujung kampung di persimpangan jalan setapak ada musholla yang cukup bersih dengan fasilitas penampungan air. Di sampingnya ada sebuah rumah dengan kandang kambing tetapi nampak sepi. Dua buah motor dengan jenis bebek dan trail nampak bersanding. jika ditilik dari penampakan motornya nampaknya ini bukan berasal dari warga sekitar. Tampangnya agak kota.

Nahh di persimpangan itulah awal N11 kali ini. Berbekal informasi dari perumput bawah jalur yang saya lewati bisa juga ke arah Cikabatul akhirnya saya bablas. Setelah sebelumnya bertemu single track makadam yang hanya bisa mendorong dan mendorong, menuntun dan menuntun, kali ini saya mendapatkan segmen yang gowesable meski beberap kali harus turun karena terlalu curam atau licin.

Single track ini melewati punggung-punggung gunung dengan pemandangan yang sangat indah. Acara merekam dengan B-Pro seringkali terganggu karena saya harus berhenti untuk mengabadikan spot-spot foto yang tiada duanya. Track ini melewati beberapa ceruk (creek) yang memiliki aliran air. Beberapa jembatan bambu darurat dibuat untuk mempermudah motor maupun pejalan kaki.

Khawatir dengan bekal air yang mulai menipis di sebuah ceruk yang memiliki pancuran air saya pun mengisi botol minuman yang sudah kosong. In case air benar-benar habis saya akan meminum air ini ketika kehausan. Dalam kondisi seperti ini, jauh dari perkampungan dan suplai air, saya lebih memilih mencegah dehidrasi dari pada mencegah diare.

wp-1592102318822.jpg

Singletrack menuju kampung Gunung Sanggar

wp-1592101776698.jpg

Singletrack menuju Kampung Gunung Sanggar

Setelah bertemu ceruk air track semakin menurun hingga akhirnya bertemu dengan sebuah jembatan bambu yang melewati sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. Bongkahan batu padas berwarna coklat kemerahan nampak berserak di dasar sungai. Airnya sangat jernih. Sempat turn untuk mengambil foto-foto dasar sungai. Tergoda untuk mandi tetapi karena sendirian jadi agak takut dan kurang seru. Tebing tinggi di sekeliling dasar sungai serta bekas longsoran menurunkan nyali untuk mandi. Padahal sepotong sabun sudah dipersiapkan πŸ™‚

Selepas sungai akhirnya bertemu dengan perkampungan yang berisi belasan rumah saja. Ternyata buntu 😦 Lokasinya benar-benar berada di bawah Kampung Mulyasari tetapi tidak ada jalan menuju ke sana. Menurut penjelasan teteh-teteh, Mulyasari hanya bisa diakses dari Cibakatul. Akhirnya saya kembali.

wp-1592103117202.jpg

Sungai berair deras dan jernih di Gunung Sanggar, Sukamakmur

Di perjalanan kembali saya bertemu akang-akang yang sedang memanggul sekarung padi. Rupanya dia sedang menuju Cibakatul juga. Saya pun menjadikannya penunjuk arah. Akan tetapi selepas perkebunan cengkeh tracknya sangat curam dan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Teramat sangat sulit jika sambil membawa sepeda. sarannya saya bisa ke Cikabatul melalui jalur villa biru.

Dari villa biru ke atas bukit rupanya tanjakannya juga sangat curam akan tetapi tidak terlalupanjang. Bocah-bocah tampak bermain bergerombol di halaman villa. Saya mengebel dari kejauhan. Mereka pun berlarian menyongsong saya. Aneh saja melihat pesepeda mendorong-dorong sepeda di jalan setapak yang curam. Mereka menawarkan bantuan tetapi saya tolak. Saya belajar nama-nama lokasi yang saya lewati tadi dari mereka. Mulai dari Kampung Tenjolaut hingga Kampung Gunung Sanggar.

Rupanya ujung jalan setapak nan curam ini adalah sebuah lapangan sepakbola yang berada di atas bukit. Seandainya hari sedang cerah sekali dan di pagi hari, mungkin kita bisa meninjauΒ  laut dari lapangan ini (Tenjolaut).

Sebagai bonus karena sudah berbagi cerita dan menemani saya menaklukkan jalan setapak nan curam saya pun berbagi permen dengan mereka. Hanya tersisa empat permen. Untungnya tadi sempat membeli Fisherman’s Friends. Saya pun membuat challenge, siapa yang berani ngemut permen yang pedas, dingin dan pahit? Bocah-bocah kalau ditantang pasti akan semangat. Fisherman’s Friends ini belum tentu cocok dengan mereka karena agak pahit. Tantangan ini untuk memaksa mereka menyukainya πŸ˜€

Trip route analysis - Mulyasari

Trip route analysis – Sukamakmur-Cikabatul

wp-1592101683462.jpg

Supporter di tanjakan edan