Polygon Monarch 24 dan Polygon Sweetie Pink 16

Keluarga Polygon!

Ayah memakai Polygon Astroz, bunda memakai Polygon Sierra AX, Emil memakai Polygon Monarch 24 dan Kamilah memakai Polygon Sweetie Pink 16.

Sebelum memakai Polygon Monarch 24, si Emil memakai sepeda Wimcycle BMX 16. Sepeda tersebut dibeli ketika Emil masih di PAUD. Kini ketika si Emil sudah kelas 3 SD sepeda tersebut menjadi terlalu kecil. Beberapa kali teman-temannya mengolok Emil karena memakai sepeda terlalu kecil.

Awalnya ayah berencana membelikan sepeda BMX 20. Tetapi pada saat ayah sedang mengajari Rafa Kamilah bersepeda, secara tidak sengaja Emil mencoba sepeda bunda, Sierra AX 26, dan bisa!! Lalu si Emil pun mencoba sepeda MTB ayah ukuran 26 ternyata bisa juga! Dari sini si Emil mulai merasakan enaknya memakai sepeda ukuran besar.

Emil dan Polygon Monarch 24

Emil dan Polygon Monarch 24

Ketika diajak ke toko sepeda pilihannya langsung jatuh kepada sepeda MTB ukuran 24. Sepeda BMX tidak menarik perhatiannya. Dan begitu selesai dibayar sepeda itupun langsung dinaiki dari toko sepeda di Lasinrang ke BTN Pondok Indah, Soreang. Kini Polygon Monarch 24 selalu menemani Emil ke sekolah dan saat mengaji di sore hari.

Eforia sepeda baru. Beberapa kali Emil mengajak bersepeda di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Bahkan saat pulang dari sholat Jumat ia antusias ketika rute pulang dibelokkan ke arah jembatan gantung meski saat itu matahari begitu terik.

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Emil dan Polygon Monarch 24 di pematang sawah

Si cantik Rafa Kamilah juga tidak mau ketinggalan. Si nona sudah lama menginginkan sepeda berwarna pink. Di toko sepeda ada dua pilihan Sweeti dan Hello Kitty. Tetapi kondisi si Hello Kitty mulai berkarat di beberapa bagian sehingga pilihannya jatuh kepada Sweetie. Seperti halnya kakaknya, Rafa Kamilah memakai sepeda Polygon Sweetie untuk pergi ke PAUD di sore hari.

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kamilah dan Polygon Sweetie 16 Pink

Kedua sepeda di atas dibeli di toko sepeda Aneka Sepeda, Jl. Lasinrang 229, Parepare (0421-21786). Di toko sepeda  ini juga bunda dulu membeli citybike Polygon Sierra AX.

Kehandalan lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Bertahun-tahun bergaul dengan Polygon Sierra AX saya baru menyadari bahwa lampu sepedanya sangat handal. Semua itu bermula ketika saya meminjam sepeda istri untuk pergi sholat maghrib ke masjid.

Saya yang biasanya memakai sepeda BMX malam itu tergoda untuk memakai citybike. Karena penasaran dengan adanya lampu di bagian depan maka saya menekan tombol generator sehingga generator menekan roda dan ikut berputar.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Lampu sepeda bermerek Sanyo tersebut sangat terang. Jangkauannya sampai 30 meter. Hanya dengan putaran roda yang lambat pun, misalnya saat dituntun, nyala lampu sudah cukup terang untuk menerangi jalan di depan.

Esoknya, ketika saya periksa pada bagian generator terdapat keterangan 6V-2.4W. Pada bagian headlamp terdapat tiga bundaran yang menunjukkan bahwa ia memiliki tiga lampu LED. Ya, lampu LED. Rupanya inilah kunci dari terangnya cahaya lampu Sierra AX.

Lampu sepeda Sanyo - Polygon Sierra AX

Lampu sepeda Sanyo – Polygon Sierra AX

Gowes ke peternakan sapi – Bila River Ranch

Pagi-pagi, 1 Januari 2015, Astroz kugeber menyusuri aspal mulus jalan Bila. Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala saat sepedaku melintasi persawahan.

Karena terlalu pagi dan mungkin jarang melihat orang bersepeda di pagi hari, anjing-anjing penjaga yang banyak dipelihara selalu menggonggong saat aku lewat. Seperti kata pepatah, anjing menggonggong – goweser berlalu. Sempat sprint dengan 3 ekor anjing galak yang mencoba mengejarku. Well, kamu melawan goweser veteran Makassar-Parepare :P

Memasuki desa Bila Riase hari mulai terang tetapi mentari masih tersembunyi di balik awan. Udara terasa segar karena sepanjang jalan penuh dengan pepohonan.

Memasuki kawasan peternakan PT Berdikari United Livestock Indonesia (BULI) angin segar mulai berhembus. Sapi-sapi mulai merumput di padang penggembalaan. Beberapa pintu masuk ke padang rumput sudah ditutup sehingga aku kesulitan mengambil gambar.

Melewati kantor PT BULI terdapat gerbang ke padang rumput yang tertutup tetapi tidak terkunci. Aku memberanikan diri memasuki padang rumput. Rupanya ini jalur penambang pasir yang melewati area penggembalaan.

Wow!! Bukit-bukit berumput di sini mirip sekali dengan bukit Teletubbies. Di seberang bukit terhampar lembah sungai Bila dengan sawah menghijau. Nun jauh di sana pegunungan Rantemario dan Rantekombola menjadi latar bagi padang rumput ini. What a perfect nature composition!

Dua buah puncak bukit yang terbuka sempat kusinggahi untuk mengambil gambar-gambar. Berikut adalah gambar-gambarnya.

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

Sapi-sapi yang terlepas dari padang penggembalaan Bila River Ranch

 

 

Gowes pulang kampung Makassar – Parepare

Tidak ada penerbangan dinihari dari Surabaya ke Makassar. Jam 06:00 pesawat lepas landas dari Bandara Juanda menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Jam 8:30 pesawat mendarat. Jam 09:00 bagasi sampai. Ukurannya yang besar membuat ia tersangkut di ban berjalan. Aku meminta bantuan tukang ojek untuk membawa kardus besar berisi sepeda ke lapangan parkir karena tidak ada jalur trolley ke sana.

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Astroz selesai dirakit di Bandara Sultan Hasanuddin

Satu jam kuperlukan untuk merangkai dan men-setting sepeda. Jam 10:00 Polygon Astroz kunaiki ke arah jalan trans-Sulawesi. Mentari sangat terik siang itu. Aku yang masih memakai celana jeans langsung bermandi keringat. Di sebuah masjid aku berganti pakaian dengan jersey dan celana pendek.

Polygon Astroz kukayuh menyusuri padatnya jalan raya Maros. Susah payah mencari udara segar diantara padatnya kendaraan. Belum seberapa lama mengayuh perutku terasa keroncongan karena tidak sempat sarapan. Untungnya di tasku terdapat bekal untuk 2x makan.

Astros di depan masjid raya Maros

Astros di depan masjid raya Maros

Sambil mengayuh mencari tempat rindang, samar-samar kudengar suara berisik dari sepedaku. Rupanya beban yang terlalu berat membuat pannier tertekan ke arah roda dan bergesekan dengan ban. Pantas gowesan terasa semakin berat.

Di bawah rimbunnya pohon akasia aku beristirahat untuk makan siang dan mencari sesuatu untuk menahan pannier agar menjauh dari roda. Boncengan sepedaku memang tidak dirancang untuk touring. Boncengan tersebut kuambil dari sepeda Polygon Sierra lalukupasangkan di Astroz. Beruntung Astroz memiliki eyelet untuk memasang boncengan.

Dua batang dahan kering yang terdapat di tepi jalan kujadikan horisontal bar untuk menahan pannier. Dahan tersebut kuikat dengan tali rafia pengikat bontot. Kedua dahan tersebut mampu menahan pannier dan menjauhkannya dari roda.

Astroz kembali kukayuh menyusur jalan raya Pangkajene. Teriknya matahari terasa menusuk ubun-ubun dan membuat keringatku semakin bercucuran. Cuaca yang sangat panas menurukan daya tahan dan ritme gowesan. Tiap 30 menit aku mencari-cari tempat beristirahat untuk berteduh dan memulihkan stamina.

Segmen terberat adalah saat berada di areal tambak Pangkajene. Panasnya luar biasa. Karena tidak ada penerbangan dinihari aku kehilangan golden time antara jam 6:00 ~ 10:00. Akibatnya aku berada di areal pertambakan Pangkajene ketika matahari sedang terik. Andai bisa berangkat lebih pagi tentu akan melewati area ini saat mentari tidak terlalu panas.

 

Gowes napak tilas Singosari – Cangar, Batu

Dulu saya pernah melibas trek ini memakai sepeda BMX ketika masih SMP. Dengan sepeda single speed tentu saja sebagian besar tanjakan tidak gowesable karena terlalu curam. Kini aku akan mencoba menapaktilasi rute ini dengan sepeda MTB.

Jam 7:30 berangkat dari Gebyak Purwoasri. Melewati jalan tembus Singosari-Karangploso melalui Tunjungtirto aku sampai di jalan raya ke arah Batu yang sekarang menjadi lebar dan mulus. Sepeda kugeber sampai di Donowarih. Sempat berhenti beberapa kali untuk minum dan mengabadikan pemandangan di gerbang kota Batu dan Jembatan Oranye. Jembatan Oranye ini mengingatkanku kepada jembatan dengan warna serupa di Jatiluhur.

Jembatan Oranye - Bumiaji, Batu

Jembatan Oranye – Bumiaji, Batu

Di pertigaan Bendo, Batu aku mengisi ulang perbekalan dengan memberi minuman dan empat potong roti goreng. Harganya sangat murah. Hanya 1000 rupiah per biji.

Setelah mengisi perut dan memulihkan stamina aku melanjutkan perjalanan ke arah Cangar. Jalanan menanjak. Sedikit sekali jalan rata. Musim liburan mengakibatkan banyak bus yang berlalu lalang menuju kawasan wisata di Batu. Asapnya cukup mengganggu pernafasan.

Menjelang area perkebunan sayur dan apel di Junggo stamina mulai menurun. Istirahat beberapa kali di tanjakan curam. Astroz 7 speed cukup berat untuk menaklukkan tanjakan. Akan tetapi karena putaran tidak terlalu cepat maka ritme jantung selalu terjaga. Semua tanjakan dilibas tanpa TTB karena sangat gowesable.

Jam 11:40, tepat saat adzan Dzuhur sampai di Desa Sumberbrantas Batu. Setelah sholat Dzuhur perjalanan kulanjutkan ke arah Cangar. Mampir sebentar ke Arboretum Sumberbrantas milik Perum Jasatirta.

Mendung semakin tebal dan mulai rintik. Akhirnya kubatalkan target ke Cangar karena cemas dengan hujan deras dan tanah longsor. Musibah tanah longsor di Banjarnegara menciutkan nyaliku. Apalagi di sepanjang jalan setidaknya terdapat dua papan peringatan bahasa longsor.

Sepeda kuputar ke aran kanan dan aku balik ke arah Batu. Bonus turunan sepanjang 28 km kunikmati sampai rumah. Jika saat pergi membutuhkan waktu 4 jam maka baliknya hanya 1 jam 20 menit :D

Jalur ini memang sangat cocok bagi penikmat tanjakan.

Rute gowes Singosari - Batu - Cangar

Rute gowes Singosari – Batu – Cangar

Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB (unofficial trip report)

Awalnya saya agak meremehkan trek gowes Kolozal #13 ini. Cuma 28 kilometer kenapa diberi slot waktu antara jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Mungkin ini salah satu trek gowes kolosal yang paling pendek. Ternyata pemberian slot waktu gowes selama 9 jam tersebut memang beralasan.

Basecamp gowes bertempat di masjid Raudhatul Faizin atau biasa dikenal dengan nama Masjid Kubah Hijau, Cariu. Fyi, Kecamatan Cariu sudah dimekarkan dan masjid tersebut kini berada di Kecamatan Tanjungsari.

Briefing singkat diberikan sebelum acara gowes dimulai. Trek gowes ini dibagi menjadi 4 segmen. Masing-masiing segmen panjangnya 7 kilometer. Tujuh kilometer pertama adalah indikator bagi kemampuan fisik dan semangat. Jika merasa tidak kuat dan kurang bersemangat menyelesaikan, bisa mengambil jalur cepat ke arah kanan, alias separo piring saja.

Dipimpin oleh Captain Atoe , 150+ orang goweser mulai menyusuri jalan raya Cariu – Cikalongkulon lalu berbelok ke arah Quiling. Baru 3 km menggowes kami sudah dihajar oleh tanjakan Quiling. Sebuah tanjakan panjang dari pintu gerbang Heaven Memorial Park (Quiling) sampai dengan pertigaan makadam di bagian belakang atas memorial park ini. Peserta gowes langsung berguguran di segmen ini. Meski demikian trek masih gowesable karena berupa jalan aspal dan paving block.

Heaven Memorial Park aka Taman Makan Quiling

Heaven Memorial Park aka Taman Makan Quiling

Setelah istirahat dan mendapat pembagian jatah makan siang maka gowes dilanjutkan menyusuri trek campuran tanah dan makadam. Jalan yang rusak karena hujan deras hanya menyisakan single track yang bisa dilewati sehingga kadang harus bergantian dengan motor yang datang dari kampung di atas. Harus diakui segmen ini cukup berat dan menguras tenaga. Saya terengah-engah mencoba menaklukkan beberapa tanjakan. Badan kurang fit dan ritme gowesan belum ketemu. Di ujung tanjakan saya KO.

KO

KO

Bertemu dengan jalan beton mestinya merupakan kenikmatan tersendiri akan tetapi kemiringannya yang tidak lumrah membuat kami harus menyerah. Beberapa kali saya harus berhenti untuk menurunkan frekuensi detak jantung. Belum 5 kilometer sudah ngos-ngosan seperti ini. Ketika kembali bertemu dengan tanjakan plus bekas longsoran yang merusak jalan saya harus menyerah. Sambil beristirahat saya memandang ke bawah menyaksikan para goweser rontok dihajar tanjakan dengan latar lembah Cibeet yang terlihat menghijau di kejauhan.

Rontok di tanjakan

Rontok di tanjakan

Setelah bersusah payah menyelesaikan etape pertama sepanjang 7 kilometer, di ujung tanjakan terjal terakhir kami disambut dengan pisang segar dan pisang goreng. Mirip dengan etape Sentul – KM0 :) Karena berpikir pisang segar yang digantung BDD saya langsung mengambil dua buah. Setelah dua pisang mengisi perut saya mengambil pisang segar ketiga. Rupanya pisang ini bagian dari servis yang disediakan panitia alias gratis. Waduhh… saya mengambil jatah orang dong. Merasa bersalah sampai akhirnya saya teringat dua orang rekan kami yang tidak jadi berangkat. Saya menghibur diri, dua pisang itu adalah jatah dua orang rekan yang tidak jadi berangkat.

Pitstop etape 1

Pitstop etape 1

Sementara itu beberapa goweser yang sampai duluan memberi semangat bagi rekan-rekannya yang masih di bawah untuk menaklukkan tanjakan terakhir. Momen ini semakin fun ketika dari atas tiba-tiba muncul gerombolan sapi yang hendak digembalakan. Beberapa sapi yang masih kecil tampak ketakutan dan tidak familiar dengan banyaknya orang dan sepeda di sepanjang jalan. Goweser di bawah tanjakan pun sama kagetnya dengan gerombolan sapi yang agak liar. Beberapa orang harus menepi selain untuk memberi jalan juga takut keseruduk sapi :D

Selah cukup beristirahat Captain Atoe memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalanan. Bonus turunan menjelang perkampungan. Di sebuah pertigaan dipasang rambu penunjuk arah. Selepas kampung kami mulai bertemu dengan single track yang menyusuri perkebunan dan hutan milik Perhutani. We love this segment karena sebagian besar berupa turunan.

Turunan

Turunan

Turunan lagi

Turunan lagi

Merasa sayang melewatkan pemandangan yang menghijau dan rimbun, beberapa kali  saya menyempatkan diri untuk turun dari sepeda dan mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan maupun goweser yang sedang melintas. Akhirnya saya semakin tertinggal dari rombongan terdepan. Turunan masih mendominasi tek ini sampai akhirnya bertemu dengan sebuah sungai kecil. Di seberang sungai tanjakan panjang siap menanti.

Turunan sungai kecil

Turunan sungai kecil

Maskot trek gowes ini adalah segmen antara sungai besar berbatu dengan pondok di hutan pinus. Sembilan puluh persen segmen ini dilalui dengan TTB karena kemiringannya sangat curam dan trek yang sulit digowes. Selain licin karena sisa hujan belum kering akibat rimbunnya pepohonan menghalangi sinar matahari, bekas air hujan yang mengalir membuat trek menjadi rusak menyisakan semacam parit yang tidak bisa digowes. Entah berapa kali saya dan teman-teman seperjalanan beristirahat untuk mengumpulkan dan memulihkan sisa tenaga yang dikuras tanjakan.

Sungai deras berbatu besar

Sungai deras berbatu besar

GGB dan TTB menyeberang sungai

GGB dan TTB menyeberang sungai

GGB dan TTB

GGB dan TTB

Segmen ini merupakan hutan produksi dan lindung milik Perhutani. Vegetasinya cukup rapat. Kadang mengingatkan saya dengan Taman Hutan Raya Juanda di Bandung. Tentu saja kondisinya lebih perawan. Hutan ini berada di sisi selatan dari Gunung Sanggabuana. Bahkan puncak dari segmen ini yaitu pondok hutan pinus tepat berada di sebelah selatan dari Cigentis.

Karena terfokus pada bagaimana melewati tiap tanjakan tidak banyak momen dan pemandangan yang bisa diabadikan di sepanjang trek ini. Mengambil gambar memang merepotkan dan memakan waktu.

Semangat bro!

Semangat bro!

Semangat om!

Semangat om!

Menjelang hutan pinus vegetasi semakin rapat dan rimbun. It’s a truly tropical rain forest. Ternyata tidak seberapa jauh dari Cikarang masih tersisa sepetak hutan hujan tropis yang sebagian besar hanya bisa ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Pulau Jawa ini memang sudah terlalu sumpek. Tidak banyak lagi petak hutan hijau dan rimbun yang tersisa.

Hutan hujan troips

Hutan hujan tropis

Hutan hujan tropis

Hutan hujan tropis

Para pemenang yang berhasil menaklukkan tanjakan panjang berhak mendapatkan reward berupa makan siang yang sangat nikmat di atas hijaunya rerumputan dan rimbunnya hutan pinus yang beraroma segar. Sesekali bau getah pinus yang sedang disadap memberikan aroma spicy.

Jersey yang basah kuyup oleh keringat menjadi tidak nyaman ketika dipakai beristirahat dan makan siang. Saya dan beberapa goweser memilih untuk bertelanjang dada dan menjemur jersey. Beberapa goweser yang membawa jersey cadangan memilih untuk berganti dengan jersey baru yang masih kering. Keputusan yang tepat karena inilah titik tertinggi. Segmen berikutnya pasti tidak seberat dan sesadis ini.

Makan siang

Makan siang

Setelah titik tertinggi 600+ mdpl, segmen berikutnya didominasi oleh turunan dan trek rolling. Kami menyusuri single track yang berada di punggung-punggung bukit. Single track didominasi oleh tanah padat dan tanah berlumpur di beberapa bagian. Lumpur berasal dari sisi hujan di hari sebelumnya yang tidak kering karena rimbunnya pepohonan atau berupa cekungan yang selalu basah.

Asyiknya turunan sering kali memakan korban. Di rombongan saya setidaknya dua orang goweser nyungsep ke semak-semak karena pengereman yang terlalu kuat sehingga roda depan mengunci. Andai tenaga tidak terkuras di segmen sebelumnya kami pasti lebih enjoy di segmen ini. Sebagian besar lintasannya gowesable.

Turunan asyik

Turunan asyik

Salah satu segmen paling menarik berada di sebuah bekas longsoran di lereng bukit. Sebuah single track sempit dibuat di bekas longsoran dengan penahan longsor seadanya. Andai turun hujan deras pasti single track ini akan hilang terkikis oleh air hujan dari atas bukit. Rolling cantik dan landai berujung di puncak bukit yang memberikan akses pemandangan ke sisi selatan Gunung Sanggabuana.

Single track melintasi bekas tanah longsor di lereng bukit

Single track melintasi bekas tanah longsor di lereng bukit

A beautiful rolling track

A beautiful rolling track

Segmen turunan terkahir menjelang kampung Cibeureum ditempuh ketika hujan rintik. Turunan makadam yang curam dan licin oleh lumpur dan air hujan membuat ban sering kehilangan grip. Ngeri-ngeri sedap saat melibas trek ini. Jika tidak pandai-pandai memilih lintasan dan menyesuaikan braking power dengan cengkeraman ban terhadap lintasan pasti akan slip lalu terjatuh dari sepeda. Beberapa goweser yang ciut nyali termasuk saya memilih untuk menuntun sepeda pada beberapa segmen dengan kemiringan yang ekstrim.

Setelah kampung Cibeureum terdapat ujian terakhir berupa tanjakan panjang menjelang Puncak Pass Cikalongkulon. Ambisi untuk melibas tanjakan ini dengan sempurna gagal total karena stamina sudah menurun meski sebelumnya sempat beristirahat. Begitu bertemu dengan jalan raya Cikalongkulon – Cariu maka bonus turunan sepanjang 7 kilometer tersedia di depan mata.

Kacamata yang sebelumnya di lepas kini dipasang lagi. Lampu belakang dinyalakan. Bag cover untuk menahan lumpur dirapikan. Hujan semakin deras membuat jalan menjadi berlumpur karena di sepanjang jalan banyak penambangan batu dan tanah. Sesekali lumpur melewati celah di bagaian bawah kacamata. Kecepatan dijaga tidak melebihi 40 km/jam karena selain jalan licin juga khawatir kehilangan kendali. Bahu, lengan dan jari-jari tangan terasa kaku dan pegal-pegal karena braking dalam jangka waktu yang lama.

Alhamdulillah, jam 15:45 sampai dengan sehat dan selamat di masjid Raudhatul Faizin Tanjungsari, Kab. Bogor. Segera mengambil baju ganti dan mandi untuk membersihkan diri. Ganasnya tek ini membuat peserta terakhir baru sampai di garis finish jam 19:30. Tiga jam empat puluh lima menit di belakang saya. Sementara peserta tercepat di bawah komando Captain Atoe sampai finish jam 14:30. Edan!!

Trek Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB

Trek Gowes Kolozal #13 Cikarang MTB

Epilog

Di kelompok gowes saya, Ecekeble, ada sebuah trek gowes yang dijuluki “trek gowes kelas olimpiade” karena kemiringan dan lintasannya yang berat sehingga sulit digowes yakni trek Gobang, Rumpin, Bogor. Begitu selesai melibas trek gowes Kolozal #13 ini maka saya berani mengatakan bahwa trek gowes Kolozal #13 ini di atas trek kelas olimpiade Gobang. Trek gowes Kolozal #13 ini merupakan gabungan dari trek KM0 Sentul, Gobang dan Kampung Awan.

Terima kasih kepada teman-teman dari komunitas sepeda Cikarang MTB yang rutin menyelenggarakan acara gowes kolosal dan selalu menyajikan trek-trek cross country baru yang menantang, memacu adrenalin dan menyenangkan (menyiksa tetapi membuat ketagihan).

Taman Cibodas – Bendungan Cibeet – Wanakerta

Trip gowes minggu pagi ini serupa dengan trip sebelumnya. Trip kali ini sengaja dibuat loop supaya tidak membosankan. Begitu sampai Cibeet maka sepeda diarahkan menyusuri saluran penyuplai Kalimalang. Pemandangannya lebih hijau, lebih adem dibanding menyusuri jalan raya Teluk Jambe – Pangkalan.

Rute gowes Taman Cibodas - Cibeet - Wanakerta

Rute gowes Taman Cibodas – Cibeet – Wanakerta

Xtrada 4.0 (2011) di atas Jembatan Cipamingkis GIIC

Xtrada 4.0 (2011) di atas Jembatan Cipamingkis GIIC

Bendungan Cibeet dengan saluran penyuplai ke Kalimalang

Bendungan Cibeet dengan saluran penyuplai ke Kalimalang

Single track setelah Bendungan Cibeet

Single track setelah Bendungan Cibeet

Sawah di tepi DAS Cibeet

Sawah di tepi DAS Cibeet

Bunga liar di pematang sawah

Bunga liar di pematang sawah

Menjelang pertemuan saluran Cibeet dan Kalimalang terdapat deretan rumpun bunga liar di sepanjang jalan.

Bunga liar dan goweser - menjelang pertemuan saluran Cibeet dengan Kalimalang

Bunga liar dan goweser – menjelang pertemuan saluran Cibeet dengan Kalimalang

XC track Delta Mas

XC track Delta Mas

Selamat datang di Lippo Cikarang

Selamat datang di Lippo Cikarang