APD (Alat Perlindungan Diri) saat bersepeda

Helem. Pilih yang bagian dalamnya smooth dan tidak tajam. Beberapa helem bagian dalamnya agak runcing karena proses pembuatan/molding.

Kacamata. Penting sekali untuk melindungi mata dari cipratan air, lumpur dan debu. Terutama yang berasal dari lontaran roda depan.

Sarung tangan. Pagi ini saya benar-benar menyesal tidak memakai sarung tangan. Karena beralasan masih pagi dan matahari belum terik saya tidak memakai sarung tangan. Ketika gowes kecepatan tinggi di hutan jati, roda depan terpeleset dan saya kehilangan kendali sehingga ndlosor di trek gravel. Kedua telapak tangan saya lecet-lecet karena menahan tubuh yang jatuh ke tanah gravel. Sarung tangan ini juga akan membantu kita memegang handlebar lebih kuat. efeknya akan terasa sekali saat telapak tangan kita berkeringat. Tanpa sarung tangan akan menjadi licin.

Jersey/kaos lengan panjang. Melindungi tangan ketika terjadi insiden atau saat melibas medan yang banyak semak dan perdu.

Celana panjang. Beruntung ketika mengalami dua kali insiden terjatuh dari sepeda saya sedang memakai lengan panjang sehingga meminimalisir luka-luka di kaki. Seperti halnya lengan panjang, celana panjang juga sangat membantu ketika kita melewati medan yang banyak semak dan belukar. Jersey lengan panjang dan celana panjang ini banyak membantu saya ketika kemari menggowes di Gunung Ciremai lalu bertemu medan yang penuh semak dan perdu setinggi orang dewasa.

Sepatu. Selain melindungi kaki dari berbagai benda tajam di jalan dan ketika terjadi insiden, sepatu juga membantu efisiensi kayuhan kita. Semakin kaku sol sepatu makan efisiensi kayuhan kita akan semakin bagus dan membuat kaki tidak cepat capek. Jika kita bermain MTB maka sepatu gowes yang kita pakai sebaiknya merupakan perpaduan antara kekakuan dan daya cengkeram/grip, terutama ketika kita bertemu medan yang licin atau sedikit berlumpur.

Jangan lupa membawa persediaan air yang cukup terutama ketika trek gowes jauh dari keramaian.

Ndlosor di hutan jati

Bojongmangu – Surga cross-country di selatan Bekasi

Lebih tepatnya Bojongmangu berada di bagian tenggara Kabupaten Bekasi. Kecamatan Bojongmangu berbatasan dengan kecamatan-kecamatan sbb: Cikarang Pusat, Serang Baru, Cibarusah (Kab. Bekasi), Jonggol, Cariu (Kab. Bogor) dan Telukjambe Barat, Pangkalan (Karawang). Topografi Bojongmangu sebagian besar merupakan perbukitan dengan ketinggian kurang dari 100mdpl.

Bukit-bukit kecil tersebut banyak yang memotong  jalan-jalan antar desa sehingga menciptakan rolling. Bahkan ketika jalan-jalan berada di punggung bukit pun perbedaan ketinggian antar punggung bukit juga menciptakan rolling yang tidak kalah seru.

Bagi goweser Cikarang dan sekitarnya area ini menyajikan medan latihan ataupun medan cross-country yang sangat digemari. Bagi yang bosan gowes dengan suasana perkotaan atau perkampungan padat, Bojongmangu adalah pilihan tepat. Sebagian besar lahan didominasi oleh sawah tadah hujan, perkebunan dan tanaman keras seperti jati.

Topografi Kecamatan Bojongmangu

Rolling di perbukitan

Bukit dan lembah

 

Rolling makadam

Rolling beton

Gowes dari Pancalang ke Stasiun Penelitian Bintangot – Taman Nasional Gunung Ciremai

Gowes kali ini untuk memanfaatkan selang waktu dari pagi sampai siang hari sebelum menengok bocah lanang di Ponpes Husnul Khotimah 2 Pancalang. Tujuan awal sebenarnya adalah Bukit Lambosir, tetapi karena ada halangan di tengah jalan akhirnya tujuan akhir adalah Stasiun Penelitian Bintangot.

Sehari sebelumnya sempat mencicipi trek sepanjang 4km di seputar Desa Pancalang. Kesimpulannya, saya menyesal karena setelah Emil mondok hampir satu setengah tahun di Pancalang baru kali ini diriku membawa sepeda. Pancalang dan sekitarnya adalah tempat paling bagus untuk gowes XC dengan lintasan yang gowesable, kontur yang naik turun, sepanjang trek menghijau dengan rimbun pepohonan buah-buhan maupun tanaman keras, di beberapa lokasi juga terdapat sawah menghijau yang bisa ditanami sepanjang tahun.

Berawal dari Kharisma Homestay, jam 06:05 diriku mulai mengayuh sepeda tua Polygon Xtrada 4.0. Belakang Polsek Pancalang adalah salah satu spot yang wajib dilewati untuk menikmati Gunung Ciremai di pagi hari. Selanjutnya mengarah ke perempatan Pancalang yang mengarah ke Kahyangan/Patalagan untuk mendapatkan lagi spot Gunung Ciremai dengan hamparan sawah menghijau. Spot ini telah kutandai sore hari sebelumnya dan pagi ini kembali menyajikan pemandangan Gunung Ciremai yang indah. Nokia 5.1 dan Canon Powershot G15 pun beraksi.

Sawah di Pancalang dengan latar Gunung Ciremai

Pagi itu udara terasa sejuk sekali dengan sedikit hembusan angin di pagi hari. Sepeda kuarahkan ke Desa Cibeureum sebelum Leuweung Monyet. Berdasarkan analisa Gmaps di perempatan Cibeureum diriku mengambil arah ke kanan. Nah di sini kita akan segera disambut oleh tanjakan yang cukup curam. Lalu setelah bertemu perempatan lagi mengambil arah ke kiri ke Jalan Kehutanan. Ini adalah trek makadam yang seru dengan rindangnya pepohonan di kiri dan kanan.

Menurut Gmaps dari jalan Kehutanan ini terdapat jalan yang langsung menanjak menuju Bukit Lambosir. Jalan ini langsung memotong punggung bukit dengan elevasi yang cukup miring. Di pangkal jalan terlihat bahwa jalan ini jarang dilewati. Meski demikian Xtrada 4.0 kuarahkan ke jalan ini langsung menanjak. Begitu sampai di atas ternyata jalannya makin menyempit oleh semak beluka dan aspal banyak yang rusak. Karena di Gmaps tergambar jelas maka jalurnya tetap kuikuti. Semakain lama jalan besar berubah menjadi single trak dengan semak dan perdu yang semakin tinggi. Di beberapa bagian tampak bekas tebasan parang untuk membuka jalan. Sepertinya ada yang kembali membuka jalan ini. Di kiri dan kanan tampak jalur-jalur kecil yang mungkin merupakan jalur babi hutan.

Single track

Cirebon dan Laut Jawa di kejauhan

Semak dan perdu semakin rapat sehingga tidak mungkin lagi untuk menggowes karena pedal dan handle bar tersangkut-sangkut ranting di kanan dan kiri. Sepeda kudorong sambil sesekali menyibak semak dan perdu. Lalu jalan terputus oleh rimbunnya pepohonan kaliandra dan ranting-ranting dan dahan-dahan yang patang menghalangi jalan sehingga harus memutar. Bekas aspal masih terlihat sehingga membantu orientasi arah. Sampai akhirnya semak dan perdu benar-benar menutup jalan sehingga tidak mungkin lagi bahkan untuk sekedar mendorong sepeda.

Jalan yang tertutup rapat dan bekal air yang hanya dua botol membuatku memutuskan untuk kembali ke bawah. beruntung sekali gowes kali ini diriku memakai celana panjang dan lengan panjang. Begitu kugowes turun ranting-ranting dan dedaunan dari semak-semak dan perdu mulai menggores kaki dan tanganku. Sebagian bahkan mencapai leher. Jersey favoritku dari event Gowes Kolozal 18 pun terkoyak di beberapa bagian lengan membuat serabut benangnya keluar dari tenunan.

jalan buntu

Impact dari turunan dan jalanan  makadam membuat roda belakang kendor. Rupanya ketika memasang QR kurang kencang. Beruntung rodak terlepas saat diriku berhenti menggowes ketika memutar sepeda untuk putar arah. Andai roda copot ketika sedang dinaiki pasti akan jadi bencana.

Membaca Gmaps lagi tampak ada rute kedua untuk mencapai Bukit Lambosir. Penasaran kuikuti lagi jalannya. Ternyata juga buntu. Sepertinya memang belum beruntung. Lalu sepeda kuarahkan untuk turun ke arah Mandirancan melewati perkebunan kopi. Ketika menengok ke kiri mataku tertuju kepada tegakan pohon-pohon pinus di kejauhan. Wahhh.. ini pasti seru.

Batas TNGC

Sepeda kuputar lagi ke arah persimpangan kebun kopi dan mengarah ke hutan pinus. Subhanallah …. ini adalah salah satu hutan pinus paling lebat dan rapat yang pernah kulihat. Hembusan angin menghasilkan suara menderu, khas suara hutan pinus. Diriku pertama kali mendengar deru hutan pinus ketika di Ngadas, Poncokusumo dalam perjalanan menuju Ranu Pani dan Bromo.

Ada plang peringatan “Dilarang Masuk Tanpa Ijin Petugas”. Lalu terdapat sebuah portal terkunci yang dengan mudah diterobos dari sisi kanan dan kirinya. Menurutku plang ini sekedar formalitas untuk memberi tahu pengunjung atau siapapun yang lewat bahwa mereka kini sedang memasuki tanah negara. Rimbun dan rapatnya pepohonan selain mengesankan juga sedikit menakutkan. Hutan mulai ramai dengan suara burung dan serangga. Di pinggi hutan sempat bertemu bapak yang sedang mencari dedaunan untuk pakan kambing.

Track makadam yang hancur dengan batu-batu yang lepas dan basah membuat pedalling dan handling menjadi sulit. Di beberapa segmen terpaksa harus turun dari sadel dan menuntun sepeda. Masih ada sinyal dan lintasan gowes masih tergambar di peta. Ketika sampai di sebuah pertigaan dengan sebuah pohon raksasa, sayup-sayup kudengar suara motor trail. Ternyata ada juga yang mengikuti di belakangku.

Navigasi lagi dengan Gmaps. Di pertigaan ini terdapat dua opsi antara turun ke Seda atau lanjut ke Stasiun Penelitian. Kuputuskan untuk melanjutkan ke Stasiun Penelitian karena menurut Gmaps sudah tidak jauh lagi dan diriku masih memiliki sebotol air.

Setelan berjibaku dengan trek makadam yang licin dan batu-batunya berhamburan akhirnya sampai juga di Stasiun Penelitian Bintangot. Stasiun ini merupakan hasil kerja sama antara Balai Tamana Nasional Gunung Ciremai, Pertaminan Jatibarang dan IPB. Dari Stasiun ini kita bisa memandang ke arah dataran rendah Cirebon. Persis di samping Stasiun Penelitian tampak jalur Downhill yang konon dipakai untuk kejuaraan Enduro.

Sah! @780mdpl

Stasiun Penelitian Bintangot – Taman Nasional Gunung Ciremai

Setelah mengambil foto-foto akhirnya diriku kembali. Begitu sampai di pertigaan pohon besar tadi diriku bertemu dengan rombongan yang kukira motortrail ternyata adalah rombongan Vixion berenam. Di antaranya terdapat satu cewek. Konon katanya hendak ke Bukit Lambosir melalui stasiun penelitian. Memakai motor ternyata tidak lebih ringan daripada bersepeda karena memang jalannya rusak sekali. Sempat ada dua motor yang terjatuh.

Setelah ngobrol sebentar dengan ketua rombongan, Kang Omeng, diriku kembali melanjutkan perjalanan. Dan inilah bonus turunan yang tanpa tanjakan sma sekali. Jalanan mulus sangat gowesable. Rem harus pakem dan harus mengendalikan kecepatan. Di tengah perjalanan diriku bertemu dengan rombongan yang lagi diloading dengan pickup. Selanjutnya bertemu lagi dengan tiga goweser memakai sepeda AM yang hendak ke Lambosir. Saluutt!! Dari Cirebon tanpa loading dan sedang berjuang menaklukkan tanjakan Seda yang terkenal curam. Setelah ngobrol sebentar dengan Om Alvin lanjut menggowes lagi.

Dalam perjalanan balik ke Pancalang via Mandirancan terdapat dua spot menarik. Pertama adalah sawah menghijau dengan latar Gunung Ciremai, Kedua adalah kebun ubi dan sawah dengan latar perbukitan. Sangat ikonik dan mewakili tipikal gambar sawah dan gunung seperti gambar anak-anak SD 🙂

Gunung Ciremai

Ubi jalar dan padi

Sebentar lagi panen

Hauuss..!!! Berharap bisa minum air kelapa muda di tepi sungai Cipager untuk mengembalikan elektrolit yang hilang bersama keringat. Ternyata warungnya tutup meski nampak beberapa tandan kelapa muda diluar warung. Akhirnya meski kehausan dipaksakan untuk melibas tanjakan terakhit antara sungai Cipager dan pertigaan menuju GI Mandirancan.

Puaasss!! Bertemu trek baru yang sangat menarik dan menantang. Lain kali pasti akan membawa sepeda dan gowes lagi di seputar Ciremai.

Strava: Pancalang – Bintangot (PP)

Saturday fullday ride

Saturday fullday ride atau Saturday morning ride?

Saturday morning ride dan Sunday morning ride adalah dua istilah yang lebih dulu populer di kalangan biker. Bagaimana dengan goweser? Secara pribadi saya lebih mennyukai Satfuri alias Saturday fullday ride. Mengapa Saturday dan mengapa bisa sampai fullday?

Tujuan gowes biasanya adalah kawasan wisata. Di hari Sabtu sebagian orang masih bekerja atau bersekolah dan kuliah sehingga kawasan wisata tidak terlalu ramai. Begitu juga jalanan di sekitar kawasan wisata biasanya tidak terlalu ramai dengan kendaraan sehingga udara lebih fresh dan bisa gowes lebih bebas tanpa harus terganggu dengan kendaraan bermotor.

Fullday karena kawasan wisata yang biasanya menjadi tujuan gowes berada di Karawang, Purwakarta atau Bogor. Lokasi-lokasi tersebut cukup jauh dari Cikarang, lebih dari 80km jika PP dan medannya tidak selalu rata. Bagi kami goweser amatir yang bernafsu besar tetapi tenaga kurang, butuh lebih banyak istirahat. Bisa jadi moving time hanya 5-6jam tergantung beratnya medan tetapi total waktu dari pagi sampai sore.

Sebab kedua, karena gowes kecepatannya tidak terlalu tinggi maka lebih mudah menemukan spot-spot cantik untuk narsis. Spot cantik ini ibarat dewa penolong karena artinya kami bisa break dengan otomatis. Kadang malu juga untuk meminta breaktime ke rombongan gowes.

Sebab ketiga, gowes atau bersepeda sangat boros dengan cairan aka minuman. Karena itu kami lebih sering singgah di warung-warung yang berada di sepanjang jalan. Saya pribadi sangat menyukai kondisi ini karena itu artinya terjadi distribusi pendapatan di sepanjang jalan. Apalagi rute gowes biasanya juga tidak lazim atau jarang dilewati oleh kendaraan bermotor artinya distribusi pendapatan itu bisa menjangkau daerah-daerah lebih pelosok. Apalagi jika gowesnya dalam rombongan besar bisa sumringah pemilik warung karena diserbu goweser yang kelaparan atau kehausan 😀

Sebab kelima, selain jarak yang cukup jauh (menurut ukuran saya), seringkali destinasi yang dituju menghasilkan elevation gain di atas 1000meter alias banyak tanjakan. Tanjakan-tanjakan tersebut membuat goweser amatir seperti saya merasa pegal-pegal di betis dan paha. Hari minggu memberi kesempatan untuk beristirahat dan melemaskan otot-otoh kaki.

Saturday fullday ride

Sekali kayuh empat destinasi terlampaui

Tujuan utama gowes kali ini adalah Penangkaran Rusa di Kec Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Sebuah lokasi wisata yang berada di kawasan Kabupaten Bogor paling timur berbatasan dengan Purwakarta dan Cianjur. Analisa rute di Google Maps menunjukkan bahwa ada beberapa destinasi yang sejalur maupun berdekatan di rute tersebut, diantaranya: Green Canyon, Kahyangan Camping Ground, dan Quiling/Heaven Memorial Park.

Agar trek tidak membosankan maka dirancang agar saat berangkat sedikit mungkin melewati jalan raya. Karena itu begitu keluar dari Bojongmangu dan bertemu Pasar Cariu Baru maka rute kami alihkan ke arah jalan-jalan desa yang berada di kaki-kaki perbukitan yang merupakan kepanjangan dari komplek Gunung Sanggabuana.

Rupanya setelah Pasar Baru Cariu kami salah mengambil belokan, Jalanan berupa gang kecil ternyata buntu berakhir di sebuah saluran irigasi dan sawah yang belum ditanami. Alih-alih kembali ke “jalan yang benar” kami memutuskan untuk menerobos pematang sawah dan mencari jalan pintas ke jalan raya. Begitu sampai di seberang sawah yang merupakan komplek makam ternyata pemandangannya sangat bagus. Episode narsis pun dimulai.

Cul de Sac – jalan buntu

Latihan handling di pematang sawah

Pemilihan rute gowes yang menghindari jalan raya ternyata tidak keliru. Bertepatan dengan awal musim hujan maka di sepanjang jalan pemandangan mulai menghijau dengan latar gunung-gunung kecil dan perbukitan yang bentuknya unik-unik. Selain itu karen rutenya berada di perbukitan dan dataran yang agak tinggi maka di sepanjang jalan kami bisa memandang ke lembah-lembah di sepanjang aliran Cibeet.

Heading to Green Cayon

Awalnya Green Canyon adalah opsional karena rutenya sedikit nyempal dari rute utama. Dari pertigaan ke arah Quiling, Green Canyon masih sejauh 5km lagi. Karena itu saya menawarkan kepada teman-teman jika mereka ingin sekalian gowes ke Green Canyon. Semua orang mengambil opsi tersebut dan kami tidak rugi. Pemandangan sepanjang jalan menuju Green Canyon dari arah Cariu sangat bagus. Beberapa titik menyajikan hamparan persawahan dengan latar gunung dan perbukitan.

Selepas dari Green Canyon, kami menuju ke arah Khayangan Camping Ground untuk selanjutnya ke Quilling. Rute ini menyajikan trek rolling yang cukup menguras energi dan keringat kami. Meski demikian kesegaran udara perbukitan dan perkebunan di sepanjang jalan dan pemendangan yang hijau menyejukkan mata sebanding dengan beratnya medan. Menjelang Kahyangan Camping Ground terdapat sebuat spot yang menarik. Berada di ujung tanjakan dan lokasi yang agak tinggi menyajikan pemandangan terbuka ke arah lembah dan perbukitan di belakangnya. Uniknya di lokasi tersebut terdapat sebuah pohon flamboyan yang sedang berbunga lebat. Warna bunganya oranye kontras dengan dedaunan hijau di sekelilingnya.

Flamboyan dan Polygon (Oranye)

Tanjakan panjang juga terdapat sebelum Kahyangan Camping Ground. Sayang begitu sampai di camping ground tersebut ternyata sedang tutup dan tidak ada penjaga yang bisa ditanya-tanya. Antara camping ground dan Quiling terdapat lagi sebuah spot menarik. Di tempat ini saya sempat mengabadikan Xtrada 4.0 dengan latar lembah Cibeet. Sepeda setia ini layak mendapatkan porsi narsis 😀

Xtrada 4.0 (2008)

Cibeet Valley

Tanjakan panjang menjelang Kahyangan Camping Ground

Kahyangan Camping ground

Di mana ada turunan setelahnya pasti ada tanjakan. Dari Quiling kami meluncur sampai bertemu dengan aliran Cibeet. Setelah Cibeet maka tanjakan landai menyambut sampai bertemu Jalan Raya Cariu – Cianjur. Di Jalan Raya Cariu – Cianjur tanjakannya justru lebih berat dibanding sebelumnya, masih ditambah lagi lalu-lintas cukup padat dengan kendaraan besar .

Melibas turunan @ Quiling

Semua terbayar tuntas ketika kami duduk-duduk di bebatuan sambil merendam kaki di aliran Cibeet atau berbaring di balai-balai di bawah naungan rindangnya pepohonan sambil menikmati gemericik air. Puncaknya ketika ikan goreng pecak disajikan bersama dengan nasi liwet berbungkus daun pisang. Menu sedehana yang terasa nikmat sekali karena energi yang terkuras dan suasana yang sangat mendukung. Kapan lagi bisa menikmati makan siang di bawah rimbunnya pepohonan dengan semilir angin dan gemericik air mengalir.

Bermain air di Cibeet @ Penangkaran Rusa

Merendam kaki

Ikan Goreng bumbu pecak

 

Gowes (lagi) ke Ciherang dan Cipamingkis

Terakhir kali bersepeda ke Ciherang adalah di tahun 2013. Saat itu kami menggowes dari Sentul City dengan tujuan akhir Kota Bunga – Cipanas.

Kali ini kami bertiga, saya, Om Bambang dan Om Yoyok, mempunyai misi menaklukkan Tembok Ratapan. Sebuah segmen menanjak dari ketinggian 500m hingga 1000m hanya dalam jarak 5km. Artinya secara rata-rata dalam 1km menanjak setinggi 100m. Di beberapa titik grade tanjakan bisa mencapai 24%. Maka jangan heran jika di titik-titik tanjakan tersebut motor dan mobil mesti didorong karena beberapa tidak kuat menanjak.

The challengers

5:30 kami berangkat dari T.Cibodas Lippocikarang. Agar lebih fresh kami lewat desa Cilangkara langsung tembus ke Cibarusah. Di Cibarusah kami bertemu dengan Om Ismail yang kemudian menemani kami hingga Sukamakmur.

Di Cibarusah, agar tidak bertemu dengan pertigaan Cibucil dan jalan raya Cileungsi – Cariu,kami mengambil jalur melewati komplek TNI AL. Pemilihan jalur ini spontan saja karena sebelumnya sempat melihat di map bahwa jalur ini bisa langsung menuju pasar Jonggol tanpa harus melewati jalan raya. Jalurnya rindang dengan suasana perkampungan yang banyak memiliki halaman dan pekarangan dengan tanaman buah-buahan. Mangga, manggis, durian, kecapi, rambutan dan pisang adalah jenis buah-buahan yang banyak kami temui.

Melewati pasar Jonggol kami menyusuri DAS Cipamingkis yang cukup landai dengan beberapa rolling yang terbentuk karena memotong punggung-punggung perbukitan. Bukit-bukit ini merupakan bagian dari formasi yang memanjang hingga ke Klapanunggal. Tujuan pertama kami adalah jembatan gantung yang ikonik, Jembatan Gantung Sukanegara.

Jembatan ini menghubungkan dua desa yang terpisah oleh aliran Cipamingkis. Sungai di bawahnya sangat lebar tetapi dangkal. Batu padas yang menjadi dasar sungai tampak menyembul di beberapa tempat berpadu dengan kepalan dan bongkahan batu-batu andesit yang terbawa aliran sungai dari gunung-gunung di atasnya. Karena dangkal dan lebar, dasar sungai menjadi tempat yang sangat menyenangkan untuk bermain air. Bahkan kita bisa mengayuh sepeda di sungai.

Jika ingin mendapatkan foto-foto yang bagus sebaiknya ke sini di pagi hari saat masih sepi. Di sore hari biasanya sangat ramai dengan pengunjung sehingga kita akan kesulitan mengambil foto-foto yang bersih.

Setelah pasar Dayeuh dan Jembatan Gantung Sukanegara, tanjakan mulai terasa. Dayeuh – Sukamakmur adalah segmen pemanasan. Sementara Sukamakmur – Jogjogan adalah segmen ujian. Jogjogan – Ciherang adalah segmen pembuktian. Membuktikan apakah kita akan meratap di tanjakan demi tanjakan yang akan mengantarkan kita ke ketinggian 1000mdpl.

Yang unik dari segmen Jogjogan – Ciherang ini adalah dua tanjakan ekstrim yang ada di awal dan di akhir segmen. Di awal segmen grade tanjakan adalah 23% dan di akhir segmen grade tanjakan adalah 24%. Apa artinya tanjakan dengan grade di atas 20%? Saat melibas tanjakan tersebut kita harus benar-benar membungkuk, kedua tangan sekedar handling tidak bisa lagi terlalu mencengkeram handlebar untuk membantu gowesan karena akan membuat roda depan terangkat (sepeda MTB).

Apa yang didapat setelah sampai Ciherang? Ke kanan kita akan menemukan Curug Ciherang, ke kiri kita akan menemukan Curug Cipamingkis, Jika kita sudah malas ke kedua curug tersebut maka kita bisa mendapatkan foto pemandangan ikonik dengan latar Lembah Cipamingkis, Gunung Batu dan tebing-tebing gunung.

Apakah Tembok Ratapan memang ekstrim? Ya. Karena beberapa motor dan mobil bermuatan penuh yang melewati segmen ini harus dibantu dorong atau penumpang diturunkan untuk mengurangi beban. Saat kami turunan, tanjakan curam tadi pun berubah menjadi turunan curam. Gaya pengereman harus ditambah agar sepeda tidak meluncur terlalu cepat. Gaya pengereman yang diatas rata-rata dan durasi yang lama membuat rumah rem dan cakram rem menjadi sangat panas. Saat behenti di Jogjogan, kami tergoda untuk melihat seberapa panas. Kami menuang air ke tutup botol minuman lalu kami teteskan ke cakram rem. Cess…!!! Air langsung menguap saat menyentuh permukaan cakram rem.

Bersepeda Lippocikarang – Jonggol – Sodong

Inginnya berangkat pagi-pagi, apa daya beberapa peserta harus mengatasi berbagai persoalan di pagi hari. Mulai bangun kesiangan, siklus alam, si bocah yang nempel ga mau lepas, dlsb.

Alasan kita ingin berangkat pagi-pagi karena ingin menghemat tenaga, agar di trek tanjakan ga terlalu panas. Apalagi beberapa minggu terakhir ini suhu udara di Cikarang dan sekitarnya bisa mencapai 37 derajad Celcius.

Jalur berangkat dilewatkan Cicau Cilangkara untuk menghindari pertemuan dengan angkot, truk dan dump-truck. Nyatanya karena segmen jalan raya Cikarang- Cibarusah ada yang dicor dan dilakukan buka tutup maka jalur belakan via Cicau ini pun ramai oleh berbagai kendaraan yang menghindari kemacetan. Tidak sesepi yang kita bayangkan sebelumnya dan ngebul karena kemarau.

Hangatnya cuaca mulai terasa saat kami melibas segmen Cibarusah – Mengker via saluran irigasi. Segmen ini minim vegetasi karena memang merupakan persawahan. Separuh segmen masih makadam sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk melibasnya, butuh effort lebih :D. Sengaja dilewatkan segmen ini untuk menghindari ruwetnya pasar Cibarusah.

Selanjutnya segemen Alun-alun Jonggol – Jonggol Garden menawarkan tanjakan yang agak landai tetapi panjang. Beberapa peserta mulai overheat, rehat dan mengisi cairan pendingin pun tak terelakkan. Untungnya di segmen ini vegetasi cukup rapat dan minim kendaraan. Menjelang Jonggol Garden beberapa peserta mengalai kram kaki. Cukup lama kami beristirahat sebelum sampai di Jonggol Garden yang ternyata tidak sekeren yang kami bayangkan.

Jonggol Garden – Sodong adalah segmen hura-hura. Turunan panjang, rimbun, minim kendaraan sehingga kami bebas menggelindingkan sepeda. Menjelang gapura Jonggol Kota Santri kami putuskan untuk mengambil jalan pintas menembus persawahan dengan single track. Benar-benar single jalannya sampai akhirnya kami menemukan jembatan bambu darurat. Benar-benar darurat karena batang-batang bambu digeletakkan begitu saja. Juga  tanpa anyaman/gedek yang memudahkan pejalan kaki. Saat kami melwatinya satu persatu jembatan terasa mentul-mentul, bergoyang-goyang.

Awalnya kami menempuh segmen di atas untuk menghindari tanjakan ternyata menjelang Sodong kami masih harus melahap beberapa tanjakan yang membuat beberapa peserta overheat lagi 🙂 Untungnya track berupa jalan cor beton sehingga effort yang dikeluarkan menjadi lebih ringan. Kami sering bercanda ini adalah goweser yang “nafsu besar tenaga kurang” 😀 Hahaha.. mentertawakan diri sendiri adalah ciri orang sehat (mental).

Sampai mata air Sodong kok ga mandi? Rugi banget!!!

Gowes jangan sampai meninggalkan sholat

Setelah menyeberang jembatan bambu

Sawah menghijau, Sodong

Otw to Jonggol Garden

TTB di tanjakan, Sodong

Warung sticker, Sodong

Gapura Jonggol Kota Santri

Cul de Sac – Jembatan bambu bergoyang, Sodong