Gobang|Trek gowes cross-country kelas olimpiade

Sohib kami yang pernah melibas trek ini memberi julukan trek cross-country kelas olimpiade untuk jalur gowes yang melintasi perbukitan dari ketinggian 100 hinggal 600 mdpl ini. Lebay! Pikir kami, apa sih yang bisa diharapkan dari sebuah trek yang berada di Bogor yang bukan merupakan jalur pegunungan?

Rute gowes Kampung Sawah - Cijambe - Panunggangan - Gobang (Rumpin, Bogor)

Rute gowes Kampung Sawah – Cijambe – Panunggangan – Gobang (Rumpin, Bogor)

Satu2nya kekurangan dari trek yang kami tuju adalah adanya beberapa simpul kemacetan menuju lokasi. Yang paling parah di pasar Parung, selanjutnya di perempatan Alfamart Ciseeng. Andai saja trek ini dekat dengan jalan tol pasti akan sangat populer. Tetapi biarlah. Terlalu banyak pengunjung justru akan mengurangi eksotismenya.

Basecamp kami menempati sebuah lahan kosong di samping sebuah warung. Tepat di depannya ada warung jajanan di mana kami melakukan carboloading dengan beberapa buah gorengan karena merasa bubur yang kami santap di Ciputat tidak cukup mengganjal.

Jam 8:50 kami mulai menggowes. Tanjakan landai mengucapkan selamat datang. Selanjutnya adalah dataran dengan persawahan di kiri kanan-jalan. Lalu kami bertemu perkampungan asri di bantaran sungai. Awas jangan meleng. Banyak godaan dari arah sungai.

Jalan makadam

Jalan makadam

Perkampungan berakhir di sebuah kaki bukit. Lalu jalan menyusuri sisi bukit yang rimbun. Air merembes dari bagian atas bukit sehingga jalan menjadi becek. Rimbunnya pepohonan rupanya membuat perbukitan ini menyimpan curahan air hujan dengan baik. TrekĀ  makadam menyambut kami. Lalu dimulailah petualangan yang sebenarnya.

Jalan makadam becek

Jalan makadam becek

Kami tidak menyangka bahwa kami akan bertemu dengan rimbunnya hutan secepat ini. Mungkin ini salah satu ekosistem hutan dataran rendah yang masih tersisa dan terjaga dengan baik.

Jalan makadam di tengah hutan

Jalan makadam di tengah hutan

Tanjakan curam menghadang di depan. Tiap orang berlomba-lomba menaklukkan tantangan pertama ini. Jalanan yang becek karena hujan dan rembesan air dari bukit menyulitkan kami untuk melibasnya. Saking bersemangatnya melibas tanjakan, crank-arm salah satu sepeda sampai lepas. Kami sudah biasa dengan menu makadam seperti ini. Sejauh ini belum ada kejutan.

Trek makadam berakhir di sebuah kampung. Di sini seolah2 merupakan jalur buntu dan hanya terdapat jalan-jalan kecil denga lebar maksimum 1,5 meter. Ternyata, oh ternyata. That’s the main road whose width is only 1,5 meter. Jadilah kami bermain slalom di antara rumah-rumah penduduk melintasi halaman, samping rumah, samping kamar, samping dapur.

Anak-anak kecil bersorak-sorak menyambut rombongan kami. Macam-macam komentarnya.

“Sepeda! Sepeda balap!”

“Hallo! Hallo!”

“Inggris!” (mungkin maksudnya bule atau orang asing)

Sambil bersorak-sorak mereka melambai-lambaikan tangannya. Ketika lambaian tangan mereka dibalas oleh tangan-tangan kami mereka kegirangan.

Single track. Saat berpapasan salah satu pemakai jalan harus mengalah

Single track. Saat berpapasan salah satu pemakai jalan harus mengalah

Melewati kampung yang sangat padat itu kami bertemu dengan tipikal trek yang sebanarnya. Single track dengan kemiringan yang curam dan panjang. Kami saling menyemangati. Yang tidak kuat langsung minggir agar tidak menghalangi goweser di belakangnya. Putaran crank dibuat serendah mungkin. Power ditransfer ke pedal seperlunya. Semua itu dilakukan untuk menghemat tenaga dan menjaga agar detak jantung stabil.

Di awal tanjakan semua trik di atas masih manjur. Begitu melewati separuh tanjakan maka sampailah kami pada limit dari seorang goweser amatir. Perlahan paru-paru semakin cepat memompa oksigen. Volume udara dari hidung tidak mencukupi sehingga harus memakai turbocharger alias bernafas dari mulut. Detak jantung semakin cepat.

Tanjakan semakin terjal sampai ban depan terangkat-angkat ketika kaki menekan pedal. Telapak tangan hanya ditaruh di atas handlebar untuk mencegah ban depan terangkat. Keseimbangan dijaga karena kecepatan yang sangat rendah rawan untuk kehilangan keseimbangan. Lintasan dipilih yang paling mudah karena kami sadar gundukan atau lubang kecil bisa membuyarkan perjuangan menaklukkan tanjakan ini.

Berjuang di ujung tanjakan

Berjuang di ujung tanjakan

Meski sudah mengerahkan segala kemampuan sampai ngos-ngosan dan kembang kempis akhirnya kami harus mengakui ganasnya tanjakan ini. Satu per satu goweser berguguran di tanjakan. Gowesan terjauh di tanjakan masih dipegang oleh kapten Ecekeble, The Red Giant. Perlahan kami mulai mengakui tantangan dari trek olimpiade ini.

Setelah itu trek menjadi semakin sulit untuk digowes kontinyu. Kemiringannya tidak masuk akal. Hanya bisa ditaklukkan oleh kendaraan bermotor yang titik beratnya rendah sehingga tidak terjengkang ke belakang. Sebagus apapun gaya yang kami pakai dan serendah apapun kami merebahkan diri di handlebar bahkan sampai tidur pulas pun tidak akan bisa melawan kemiringan tanjakan.

Menanjak dan licin pada segmen jalan beton

Menanjak dan licin pada segmen jalan beton

Ditambah lagi lintasannya banyak memiliki belokan tajam yang mengharuskan kami menurunkan kaki untuk mengurangi radius putar. Jika kendaraan bermotor masih bisa berjalan meski kaki pengendaranya turun maka turunnya kaki goweser dari pedal berarti TTB. Stop and Go adalah satu2nya cara melibas tanjakan edan ini. Berhenti dan TTB kala bertemu tanjakan curam dan menggowes lagi ketika tanjakan melandai.

Aksi TTB ini mengundang anak-anak menjadi supporter kami. Mereka menawarkan diri untuk mendorong sepeda atau bahkan menuntunnya untuk kami. Mereka belajar dari beberapa goweser yang menyerah di tanjakan dan minta dibawakan sepedanya. Anak-anak itu berharap imbalan sekedarnya.

Supporter gowes

Supporter gowes

Mereka pantang menyerah. Meski sudah dicegah dan dilarang berkali-kali mereka masih keukeuh dan ngeyel untuk mendorong sepeda kami. Setelah berkali-kali diberi tahu bahwa kami masih kuat dan tidak akan memberi imbalan sebagian dari mereka menyerah. Meski demikian mereka masih mengikuti kami sampai di perbatasan hutan di atas bukit.

Lintasan di dalam hutan yang berada punggung bukit ini lebih gowesable dibanding sebelumnya. Tanah liat yang masih basah justru memberikan grip kepada ban. Kendala melibasnya adalah energi kami sudah terkuras untuk TTB di lereng bukit. Beberapa lintasan yang beralur karena bekas ban motor menambah kesulitan trek ini. Lintasan berpenampang huruf U dan V mudah membuat roda depan selip sehingga menghilangkan keseimbangan.

Jalan tanah licin beralur

Jalan tanah licin beralur

Beberapa lubang menganga yang cukup dalam terdapat di tepi lintasan. Ketika melongok ke lubang tersebut dan menemukan konstruksi tiang-tiang penyangga dari kayu kami menyadari bahwa itu adalah galian dari penambang emas tradisional, gurandil. Beruntung mereka tidak mengusik hutan dan pepohonan di sekitarnya.

Ketika bertemu dengan bunyi gemeretak yang berisik sampailah kami di titik tertinggi dari trip kami hari itu, 560 mdpl. Sebuah perkampungan dari para pendulang emas tradisional. Ribut dan berisiknya kampung itu berasal dari suara puluhan Gelundungan yang memutar tanah dan pasir untuk memisahkan bijih emas.

Meskipun mereka tidak mengusik hutan dan pepohonan tetapi bahan-bahan kimia ataupun logam pengikat bijih emas yang dipakai dalam proses penambangan berpotensi mencemari sungai-sungai dan sumber air di bawahnya. Proses pencemaran itu mungkin sudah terjadi karena saat melintasi perkampungan di bawah kami menjumpai anak-anak dan orang-orang yang memiliki kelainan fisik maupun mental (berdasarkan pengamatan kami).

Lubang gurandil

Lubang gurandil

Gelundungan - Alat pemisah bijih emas pada tambang tradisional

Gelundungan – Alat pemisah bijih emas pada tambang tradisional

Ibarat perlombaan, ketinggian 560 mdpl ini adalah podium bagi para pemenang yang menaklukkan tanjakan. Setelah dzuhur dan carboloading kami bersiap menyongsong hadiah berupa turunan panjang yang mengasyikkan.

Berbekal energi dari semangkok bakso kami mulai menggeber sepeda di sepanjang trek makadam. Masih menantang karena lintasannya merupakan kombinasi dari jalan tanah dan makadam yang becek dan licin. Lumpur- lumpur yang berada di lintasan dilibas tanpa ragu sehingga sepeda pun belepotan.gb10

Setelah mendaki sebuah bukit prosesi bersenang-senang pun dimulai. Kami kembali mendapatkan single track. Lintasan yang berada di tengah-tengah kebun maupun hutan membuat kami melupakan segala penat saat di tanjakan. Semerbak harum bunga kopi banyak tercium di sepanjang lintasan.

Melibas turunan

Melibas turunan

Turunan eksotis dengan rolling di beberapa segemen memberi variasi sehingga tidak membosankan. Seperti halnya tanjakan di awal perjalanan, di beberapa segmen curamnya turunan memakasa kami untuk turun dari sepeda. Lintasan yang basah dan licin membuat nyali semakin ciut. Hasrat ngebut kembali mendapatkan pelampiasan ketika menemukan trek makadam dan tanah di hutan bambu sebelum berakhir di sebuah ranch penggemukan sapi.

Keluar dari kebun durian

Keluar dari kebun durian

Di sebuah jembatan menjelang jalan raya Rumpin-Leuwiliang kami sempatkan untuk berfoto keluarga. Jam 16:10 kami tiba kembali di basecamp. Teh botol dengan es batu menjadi pelepas dahaga plus ubi goreng menjadi pengganjal perut yang belum terisi nasi.

The Ecekeble

The Ecekeble

Silahkan mencoba trek ini. Saya berharap siapapun yang pernah melibas trek ini menyadari ketika lingkungan (hutan) dijaga dan dirawat maka ia akan memberikan balasan setimpal. Mulai dari sumber air, suplai oksigen, hasil hutan (pangan, buah, kayu, obat-obatan, madu, getah) dan tentu saja trek yang menyenangkan bagi mereka yang memiliki hobi bersepeda, lintas alam maupun mendaki.

hutan