CLBK|Polygon Astroz

Kadang ada semacam perasaaan tidak enak ketika memakai X4 untuk bike to work karena seolah-olah memperkuat pendapat umum bahwa bersepeda ke tempat kerja mesti memakai “sepeda gunung bagus”. Walaupun sebenarnya Xtrada 4.0 juga belum bisa dikategorikan sepeda bagus :) .

Perasaan itu merupakan salah satu faktor yang mendorongku membeli citybike, Polygon Sierra. Sayang, citybike-ku sangat boros ban. Sampai saat ini sudah menghabiskan tiga ban dalam. Bannya yang kecil dan tipis rentan tertusuk di sepanjang jalan. Malangnya, sampai saat ini di Rodalink Cikarang belum ada ban dalam ukuran 1 3/8 inci.

Akhirnya pilihanku jatuh pada Polygon Astroz yang lama dikandangkan. Astroz lebih humble dibanding Xtrada 4.0 tetapi lebih cepat dibanding Sierra. Sepeda ini adalah kompromi antara kerendahhatian dan kecepatan.

Gowes, yuukk!

Bike to work dengan Polygon Astroz @ PT LGEIN

Bike to work dengan Polygon Astroz @ PT LGEIN

Polygon Astroz

Ini adalah sepeda merek Polygon kedua yang kumiliki. Aku membelinya setelah Polygon Maverick digondol maling.

Aku membeli Polygon Astroz di Rodalink Lippo Karawaci. Harganya di tahun 2006 sekitar 1.600.000.

Dengan Polygon Astroz aku mengawali aktivitas bike to work semenjak pindah ke Lippo Cikarang. Jarak pabrik yang hanya 13 km memudahkan aku menggowesnya. Ketika temanku membeli sepeda ini di tahun 2009 harganya sudah menjadi 2 juta.

Ini adalah sepeda dengan mileage terjauh yang pernah kumiliki. Sepeda ini sudah menejelajahi berbagai macam medan dan bersaing dengan berbagai macam sepeda. Di kalangan XCer Polygon Astroz termasuk salah satu seri yang melegenda. Framenya terkenal kuat.

Mungkin karena aku memakainya terlalu ekstrim akhirnya as roda belakang patah. Kini aku bermaksud menghibahkan sepeda ini meski sempat terpikir untuk menjadikan sepeda ini menjadi roadbike/hybrid dengan memasang ban yang lebih kecil.

Polygon Astroz melibas trek Cikarang-Curug Cigentis