Gowes onroad menikmati interkoneksi Lippo Cikarang – Delta Mas

Teringat betapa dulu mesti memutar jauh ke Kalimalang atau Cicau jika ingin ke Delta Mas dari Taman Cibodas Lippo Cikarang. Pernah beberapa kali mencoba main terabas melewati halaman, dapur dan sumur orang lalu tembus ke persawahan dengan sebuah sungai kecil yang untuk menyeberanginya harus meniti sebatang bambu.

Pernah juga main terabas dari arah pertigaan Ruko Deltamas-Jalan Pemda langsung mengarah ke Jalan Mataram. Hasilnya kami harus berputar-putar meniti pematang sawah yang lembek dan akhirnya mau tidak mau harus menceburkan diri ke sawah/rawa karena memang tidak ada jalan akses ketika menyeberangi sungai kecil dan sawah lebar tanpa pematang.

Dengan adanya jalan tembus Lippo Cikarang – Delta Mas maka jarak tempuh menjadi sangat dekat dan singkat. Bahkan dengan bersepeda pun hanya butuh beberapa menit saja untuk mencapai Delta Mas.

Jalan akses Lippo Cikarang - Delta Mas

Jalan akses Lippo Cikarang – Delta Mas

Jika dirangkai dari Jl. MH Thmarin (Citywalk) maka setidaknya ada 12 kilometer jalur yang cukup ramah sepeda sampai kantor pemasaran Delta Mas. Sebuah jarak yang cukup efektif untuk memeras keringat di pagi maupun sore hari. Cukup ramah karena jalan tembus Lippo CIkarang Delta Mas ini tidak terlalu ramai, banyak pepohonan dan lebar. Di Jalan Majapahit terdapat sebuat tanjakan yang cukup panjang mulai dai SPBU hingga tandon air Lippo Cikarang sehingga jalur ini cocok bagi mereka yang ingin melatih power genjotannya.

Di Delta Mas kita bisa memperpanjang rute gowes sampai komplek kantor Pemkab Bekasi atau bahkan bablas hingga GIIC (Greenzone International Industrial Center). Lalu pulangnya bisa melalui Cicau yang memiliki sebuah tanjakan yang cukup curam menjelang perumahan Puri Sentosa.

Atau bisa juga ke arah banner Delta Mas dan kampus ITSB di mana jalannya relatif sepi. Di jalur ini pun terdapat beberapa segmen jalan miring terutama jala menuju banner dan RM Alam Sari.

Jika melihat potensi trek sepeda onroad Lippo Cikarang Delta Mas ini sebuah roadbike flatbar layak dipertimbangkan :)

Akses masuk ke Greenland International Industrial Center

Akses masuk ke Greenland International Industrial Center (GIIC)

Kisah bike to school|Tertolong oleh sepeda

Kisah ini terjadi saat diriku masih kuliah di Universitas Brawijaya. Selain perpustakaan kampus, masjid kampus – masjid Raden Patah, merupakan salah satu tempat favoritku untuk menghabiskan jeda waktu menunggu jadual kuliah berikutnya. Seringkali aku mengerjakan PR mata kuliah Kalkulus di situ.

Waktu itu aku baru saja membeli sepatu baru. Sebuah sepatu semi-formal warna hitam yang agak mengkilat karena memang masih baru. Seperti biasa sepatu kutaruh di atas paving block selasar masjid. Memang ada rak khusus sepatu terbuka tetapi aku jarang menaruh sepatuku di situ. Tokh tempatnya terbuka. Siapapun yang berniat mengambil sepatu orang lain pasti bisa melakukannya.

Ketika aku sudah menyelesaikan aktivitas di masjid dan hendak pulang aku terkejut ketika sepatuku sudah tidak berada di tempatnya lagi. Kucari-cari ke sana kemari siapa tahu aku lupa menaruhnya di tempat lain. Kemungkinan tertukar kecil sekali karena sepatu-sepatu yang ada di sekitar sepatuku tidak ada yang mirip. Rupanya seseorang telah mengambil sepatuku baruku yang baru kupakai tidak berapa lama.

Untungnya saat itu aku sudah selesai kuliah dan membawa sepeda (lima tahun kuliah full memakai sepeda, jarang sekali naik angkot). Well, the show must go on. Tak akan ada orang yang memelototiku. Kalaupun mereka melotot bukan urusanku. Akhirnya dengan bertelanjang kaki aku mengayuh sepeda ke arah Singosari. Untungnya lagi pedal sepeda jengki sangat nyeker friendly. Permukaan pedalnya rata terbuat dari karet keras sehingga tidak sakit di telapak kaki.

Kenapa kita harus menulis trip report gowes?

Pertama sebagai arsip bagi kita sebagai pelaku gowes. Ketika kita menua, salah satu harta terbaik yang bisa menemani kita adalah kenangan. Padahal kita tahu semakin tua semakin lemah ingatan kita sehingga semakin sedikit kenangan yang bisa kita ingat. Arsip tertulis berupa trip report membantu kita untuk mengingat kembali kenangan-kenangan (gowes) kita di masa lalu.

Kedua sebagai portofolio gowes kita. Meskipun bagi saya ini tidak terlalu penting tetapi ada kalanya kita juga perlu untuk memiliki portofolio gowes yang tersusun rapi. Misalnya saja saat kita meracuni seseorang untuk ikutan gowes, jika kita memiliki portofolio gowes maka kita bisa mengarahkan orang tersebut untuk melihat trip report kita. Kasarnya tidak asal ngecep bahwa kita pernah ke sana-sini tetapi bukti otentiknya ada.

Ketiga sebagai referensi bagi orang lain. Saat pertama kali memulai hobi menggowes saya merasa sangat terbantu dengan trip report goweser lain dalam menentukan trip plan. Nawit dan Warung Bondol, Curug Cigentis, Bojongmangu (Situ Abidin) adalah nama-nama lokasi yang saya temukan dan saya libas berkat trip report dari orang lain.

Di Indonesia Book Fair, saya pernah terkagum-kagum melihat trip report dari seorang pelaut Australia yang menjelajah Nusantara bagian timur di akhir tahun 1700-an. Salah satu tempat yang disinggahi pelaut terebut adalah kota Kupang. Pelaut tersebut mendeskripsikan keadaan kota Kupang di akhir tahun 1700-an.

Pelaut ini mewariskan trip reportnya kepada keturunannya dan catatan perjalannya itu masih terjaga dengan baik. Anak cucunya yang mewarisi catatan perjalanan tersebut berinisiatif membuat salinan lalu memberikan salinan tersebut ke perpustakaan-perpustakaan dan salah satunya adalah Perpustakaan Umum Kupang sebagai salah satu lokasi yang dulu ia singgahi. Ketika orang-orang ingin mempelajari sejarah kota Kupang maka catatan perjalanan pelaut tersebut menjadi salah satu referensi.

Bukan tidak mungkin jika catatan-catatan perjalanan para goweser yang bertebaran di berbagai blog di dunia maya itu suatu saat nanti akan menjadi referensi bagai anak cucu kita ketika mereka ingin mempelajari sejarah maupun geografi tempat tinggalnya di masa lalu. Kenapa bisa begitu? Karena biasanya trip report goweser sangat dekat atau menyatu dengan lingkungan sekelilingnya. Kecepatan sepeda yang tidak terlalu tinggi memungkinkan mereka merekam kondisi di sepanjang jalan dengan detil. Plus kesempatan yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan orang-orang di sepanjang jalan.

Menulis, yuukk?!!

 

SKB alias Sentul – Kota Bunga

Konon IPDN menjadikan trek Sentul – Kota Bunga (SKB) ini sebagai mata kuliah wajib mereka. Menurut pendapat saya trek ini memang layak dijadikan mata kuliah wajib spesialis nanjak.

Tidak sekedar nanjak, trek ini memiliki banyak roller coaster pada segmen Karang Tengah – Cibadak. Sementara maskot tanjakannya ada pada segmen pertigaan Jogjogan (Tanjakan BTS) sampai pertigaan Curug Ciherang. Ini adalah tanjakan terpanjang dengan sedikit sekali rerimbunan di sepanjang jalan karena didominasi persawahan dan ladang.

Tanjakan paling adem terdapat pada segmen Ciherang – Kampung Arca – Warung yang terletak di ujung tanjakan menjelang Curug Cibeet. Pada segmen tersebut masih terdapat kerimbunan hutan hujan tropis dengan pepohonan tinggi menjulang.

Jika anda melibas trek ini pada akhir pekan bisa dipastikan anda tidak akan sendiri. Kepopuleran trek ini membuat banyak goweser ingin mencoba melibasnya. Mereka yang melibasnya separuh botol biasanya menjadikan Gunung Batu dan Curug Ciherang/Cipamingkis sebagai tujuan akhir.

Gowes Sentul – Cipanas melalui Karang Tengah – Cibadak – Ciherang – Cipamingkis – Kampung Arca – Batulawang

Judul panjang ini menunjukkan lokasi-lokasi yang kami lewati sepanjang rute ng-uphill ke Cipanas. Trek ini sudah lama masuk dalam kalender gowes Ecekeble sejak 2012 tetapi baru terlaksana kemarin, 16 Februari 2013. Sebagian orang memanfaatkan tertundanya acara gowes ini untuk berlatih (bimbel), baik indoor maupun outdoor, sendiri ataupun berkelompok, diam-diam maupun pasang pengumuman.

Semua tahu bahwa ini akan menjadi gowes yang sangat berat. Beberapa goweser yang lebih dulu melibas trek ini juga me-review demikian. Ada yang berkomentar, sampai Cibadak saja cukup berat apalagi sampai Cipanas (Cianjur). Kami sadar semakin banyak goweser yang mengatakan bahwa ini adalah trek berat maka aktualnya pasti demikian. Setidaknya bagi goweser amatir seperti kami.

Formasi tim gowes Ecekeble di sekitar Gunung Pancar

Formasi tim gowes Ecekeble di sekitar Gunung Pancar

Trek gowes sudah ditarik pada peta, Google Earth sudah dipelototi, segmen-segmen yang memiliki tanjakan ekstrim sudah ditandai. Meski demikian ada satul hal yang luput dari perkiraan kami, yakni resolusi profil elevasi yang sangat kasar. Profil elevasi lintasan tersebut ternyata tidak mampu menyajikan rolling-rolling dalam jarak pendek.

Kami terlalu menganggap enteng segmen Sentul City – Cibadak dan menganggapnya tidak jauh berbeda dengan Sentul City – KM0. Segmen ini ternyata benar-benar bagaikan roller coaster, naik bukit turun lembah karena memotong banyak aliran sungai. Sungai-sungai yang merupakan hulu dari Kali Cileungsi/Kali Bekasi ini memanjang dari Selatan ke Utara sedangkan rute gowes kami dari arah Barat ke Timur.

Nanjak di sekitar Karang Tengah

Nanjak di sekitar Karang Tengah

Sedikit demi sedikit kami semakin menjauhi target waktu yang sudah ditetapkan. Tiba-tiba saja semua orang menjadi lupa bahwa waktu istirahat maksimal 15 menit. Di mana ada warung, lokasi menarik, jembatan, kami berhenti dan menjadikan alasan narsis atau mengisi ulang cadangan energi sebagai kesempatan untuk berisirahat.

Meski demikian beratnya medan sebanding dengan pemandangan yang lebih elok dibanding rute ke KM0. Begitu kita melewati area Gunung Pancar maka kepadatan pemukiman berkurang. Sepanjang jalan didominasi kebun dan sawah yang menghijau dengan latar perbukitan. Sungai-sungai  berair jernih dengan batu-batu andesit berukuran besar banyak terdapat di rute ini. Kecapekan cukup terobati dengan sesi narsis di beberapa jembatan kayu yang memotong sungai-sungai tersebut.

Foto keluarga di jembatan Kayu

Foto keluarga di jembatan Kayu

Dihajar tanjakan makadam menjelang Cibadak

Dihajar tanjakan makadam menjelang Cibadak

 

Menjelang pertigaan Cibadak, salah satu sepeda menglami kerusakan. Freehub menjadi los. Meski sudah diikat ke spoke dengan beberapa kabel kami tidak mau mengambil resiko dan memutuskan untuk mengevakuasi sepeda dan penunggangnya dengan ojek ke Jonggol.

Cuaca yang sebelumnya cukup bersahabat tiba-tiba menjadi sangat menyengat ketika sampai di Cibadak. Terik semakin terasa saat mencapai pertigaan Sukamakmur. Di tempat ini kami mengisi ulang perbekalan sambil menunggu salah satu goweser yang tidak nongol-nongol. Ternyata sepedanya mengalami masalah dengan ban.

Dibawah terik matahari kami melanjutkan perjalanan menuju pertigaan BTS/pertigaan Jogjogan. Dari tempat tersebut kami akan melakukan summit attack menuju Ciherang. Ini adalah segmen terberat dari trek Sentul City – Cipanas via Cipamingkis. Dalam rentang 5,2 km kami akan mendaki dari ketinggian dari ketinggian 400 mdpl menuju ketinggian 1020 mdpl.

Belum sampai di pertigaan BTS/pertigaan Jogjogan, kami sudah beristirahat lagi di pangkalan ojek Wargajaya. Alarm makan siang milik salah satu goweser berbunyi dan langsung dibungkam di sebuah warung. Goweser lainnya mulai sibuk mengoleskan minyak GPU ke betis dan paha.

Segmen pertigaan BTS hingga Ciherang inilah yang banyak dibenci oleh goweser amatir. Ada yang menyebutnya tanjakan jahanam dan tanjakan tembok untuk menggambarkan betapa miringnya jalan. Yang menjengkelkan, beratnya tanjakan ini tidak diimbangi oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Beberapa lahan kosong malah sekarang berpagar tembok. Jauh dari kesan pegunungan yang asri dan sejuk. Hanya ada sedikit point of interest di segmen ini. Itupun seringkali terlewat karena tiap orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing agar lolos dari ganasnya tanjakan.

Nanjak Ciherang

Nanjak Ciherang

Ibarat mengunyah makanan yang keras. Segmen ini dikunyah sedikit demi sedikit. Bisa dipastikan di tiap tanjakan harus diselingi dengan istirahat untuk mengembalikan stamina yang tersedot. Beratnya tanjakan ini bisa dilihat dari waktu tempuh rata-rata goweser amatir yang biasanya membutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Beruntung di ujung tanjakan kita akan disuguhi pemandangan menarik ke arah lembah Cipamingkis dan Gunung Batu. Beberapa goweser mengumpulkan barbuk dengan latar lembah ataupun tebing gunung.

Sebenarnya, segmen berikutnya, yakni Ciherang – Kampung Arca menyajikan lintasan dan pemandangan yang sangat menarik, hanya saja stamina kami sudah terkuras di segmen sebelumnya sehingga fokus kami adalah secepatnya sampai di Cipanas. Rencana untuk mandi dan berendam di Curug Cipamingkis pun di-skip. Selain cuaca tidak mendukung kami sudah kehilangan banyak waktu.

Menung kampung di atas awan - Kampung Arca

Menuju kampung di atas awan – Kampung Arca

Beberapa goweser mulai berpikir rasional dan mengesampingkan gengsi. Evakuasi adalah pilihan terbaik. Akhirnya separo goweser yang tercecer di barisan belakang diangkut dengan mobil bak sampai Kampung Arca.

Beruntung di ketinggian sekitar 1200 mdpl, di tengah kerimbunan hutan pinus kami menemukan warung yang representatif. Kopi hangat, teh hangat, mi instan+telur rebus menjadi pengganjal perut yang keroncongan. Warung ini berada di sebuah lereng bukit dengan pemandangan lepas. Di keremangan senja kami masih menyaksikan keindahan lembah yang terhampar di kejauhan.

Rehat di sebuah warung

Rehat di sebuah warung

Pemandangan dari warung

Pemandangan dari warung

18:10 kami mulai menuruni pegunungan menuju Cipanas. Hujan rintik membuat jalan makadam menjadi becek dan licin. Tubuhpun mulai mengigil. Hari berangsur menjadi gelap. Beberapa orang yang tidak bisa memakai kacamata mengandalkan rear lamp dari goweser di depannya sebagai pemandu. Beruntung tidak ada insiden saat gowes dengan kondisi gelap gulita.

19:30 kami sampai di Cipanas. Badan semakin menggigil karena metabolisme tubuh menurun setelah berhenti menggowes. Bubur kacang hijau menjadi penghangat. Tetapi khasiat bubur kacang hijau hanya sebentar. Hujan deras membuat kami menggigil lagi.

Mengingat hari sudah malam dan stamina sudah menurun akhirnya diputuskan untuk naik angkot sampai Puncak. Sopir angkot dilobi lagi sehingga mereka bersedia membawa kami sampai Gadog.

Meski sudah dievakuasi dengan angkot ternyata tantangan belum berakhir. Pakaian yang basah dan hujan yang semakin deras membuat kami semakin menggigil kedinginan. Masuk angin.

Beruntung ketika sampai di Gadog sopir bisa dilobi agar sekalian mengantarkan kami ke Sentul City. Tak terbayangkan betapa repotnya mencari empat angkot di Gadog yang bersedia membawa kami ke Sentul City. Apalagi saat itu bertepatan dengan penutupan arus lalu lintas dari arah Puncak. Jadilah ini angkot termahal yang pernah kami bayar, 350.000 dari Cipanas ke Sentul City. Tak masalah. Bahkan kami merasa sangat tertolong. Malam itu tak ada yang lebih kami harapkan selain sampai Sentul City secepat mungkin, membasuh badan, berganti pakaian dan pulang.

Kesimpulannya, Sentul – Cipanas via Karangtengah – Cibadak – Cipamingkis adalah rute berat. Badan harus berada dalam kondisi fit untuk melibas trek ini. Siapkan uang kontan dalam jumlah agak besar. Siapa tahu anda memerlukan evakuasi dengan ojek, mobil bak dan angkot. Selain itu anda akan sering-sering mengisi perut di trek ini. Ini adalah trek yang paling boros minuman.

Ah, masak iya?

Penasaran??

Silahkan dicoba ;)

Peserta: Om Rommy, Om Julian, Om Agung, Om Atoe, Om Gunawan, Om Teddy, Om Tjipto, Om Budi, Om Ir, Om Trubus, Om Andre, Om Praka, Om Nyoman (bintang tamu) dan Om Hidayat (bintang tamu)

Rute gowes Sentul - Cipanas melalui Karang Tengah, Sukamakmur, Cipamingkis

Rute gowes Sentul – Cipanas melalui Karang Tengah, Sukamakmur, Cipamingkis (

http://www.bikemap.net/route/1967545#lat=-6.6381456337825&lng=106.94252&zoom=11&maptype=terrain)

Hitam (gosong) separo karena gowes – ATIMA

Di sebuah obrolan ringan tentang bersepeda, seorang teman dari Jogja bertanya, “Kamu dari mana?” Ada yang menjawab, “Sumedang, Depok, Malang.”

Lalu ia menimpali, “Orang Jogja itu dari kecil sampai besar sudah kenyang bersepeda. Ketika jauh-jauh merantau ke Jakarta masak harus bersepeda lagi? Bahkan di Jogja banyak orang-orang yang wajahnya hitam sebelah, yaitu orang-orang Bantul. Ketika berangkat (bekerja di Jogja) pipi kanannya terkena sinar matahari pagi. Saat pulang di sore hari pipi kanannya kembali terkena sinar matahari sore. Akibatnya pipi kanan orang-orang Bantul lebih hitam dari pipi kirinya.”

Sebaliknya saya dulu memiliki pipi kiri lebih hitam dari pipi kanan karena saat berangkat kuliah (Singosari – Malang) pipi kiri terkena sinar matahari pagi dan saat pulang pipi kiri kembali terkena sinar matahari sore. Beruntung kini poros gowes saya berada diarah Timur – Barat. Jadi yang gosong adalah tengkuk saya.

Bagian mana dari tubuh anda yang gosong karena rajin bersepeda? :D

ATIMA – awas tulisan ini mengandung anekdot

rambu sepeda

rambu sepeda

Sabuga – Warban sekali tenggak

Trip report dari salah satu goweser yang mengaku gagal melibas Warban sekali tenggak memotivasiku untuk melibas trek ini sekali jalan. Tanpa turun dari sepeda. Tak ada target waktu yang penting bisa melibas trek ini tanpa TTB.

Di Sabuga kami unloading sepeda. Setelah mengencangkan quick release dan mengetes kepakeman rem kami mulai menggowes melalui pintu belakang. Sebelumnya kami sudah diusir sekuriti agar parking di belakang agar tidak mengganggu ketertiban.

Awalnya rombongan kami masih menggerombol. Aku pun masih santai menggowes di bagian belakang. Begitu lewat Mc D Dago beberapa orang melesat meninggalkan rombongan. Karena khawatir tertinggal aku pun menyusul mereka. Apalagi aku belum tahu trek ini.

Selepas terminal Dago clue menjadi jelas. Maka sepeda kupercepat untuk memperbesar selisih jarak. Begitu melewati ruko sebelum Tahura Juanda akupun gowes sendiri. Jalan semakin miring. Sprocket belakang bermain di gigi 6-8.

Melewati kilometer keenam detak jantung semakin cepat dan paru-paru berjuang keras memompa udara. Aku menjaga putaran crank serendah mungkin agar detak jantung tidak semakin cepat. Nafas kini dilakukan dengan mulut karena lubang hidung tidak mempu mensuplai oksigen dalam jumlah besar.

Di Tanjakan Putus Asa, power kutambah karena sproket sudah mentok di posisi 8. Sudah tidak ada lagi gigi yang lebih ringan. Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga melibas tanjakan ini tanpa TTB. Menjelang Warban ada bonus turunan untuk menurunkan ritme jantung.

Catatan waktuku 49 menit 26 detik :)

Mencatat waktu tempuh @ Warban

Mencatat waktu tempuh @ Warban