Bersepeda ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta (masih rencana)

Lama gak nge-trip jadi kangen membuat trip report. Karena kesibukan anggotanya, jadwal yang tidak pernah match, beberapa rencana trip jadi tertunda-tunda. Setelah Lebaran nanti ada rencana untuk nge-trip ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta. Tema gowesnya bisa macam-macam. Gowes halah bi halal (momen setelah Lebaran), gowes merah putih (momen Agustus-an), gowes kuliner (makan enak adalah tujuan utama gowes kali ini :D ).

Konon, ini bakal jadi trip Ecekeble “paling bener”. Paling enak makannya. Paling gampang treknya. Intinya paling tidak menantang. Tetapi semoga menjadi trip paling mengakrabkan. Karena treknya full beton (kecuali mo nyempal dikit) maka semua jenis sepeda bakal bisa “bertanding” di trek ini. Mau citybike, rigid, hardtail, fullsuss, bahkan kalau mau membawa sepeda DJ atau DH juga ga masalah.

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Gunung Parang adalah gunung yang terbentuk dari batuan andesit.  Gunung ini terlihat masif berwarna hitam. Sementara lingkungannya yang menghijau dengan kebun dan sawah memberikan kesan kontras. Curamnya gunung ini terlihat dari peta topografi di bawah ini. Garis kontur atau isoline yang padat menunjukkan kecuraman.

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Kalau anda belum paham cara membaca peta topografi, ilustrasi di bawah ini menunjukkan cara membaca topografi/garis kontur. Garis kontur menunjukkan ketinggian yang sama. Semakin padat atau semakin pendek jarak antar garis maka kecuramannya semakin tinggi.

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Jika anda tertarik dan ingin berwisata ke Gunung Parang, pranala berikut ini akan membantu anda menemukan informasi lebih detil dan lengkap:

- http://kampungcihuni.blogspot.com/

- https://id-id.facebook.com/kampungcihuni

Jargon wisata yang selalu saya ulang-ulang, “Berwisata/berlibur tidak harus ke mall”.

Ayo berpetualang!

 

Slalom sepeda bersama Emil

To slalom is to zigzag between obstacles. Obstacle-nya adalah sandal jepit yang berjumlah delapan buah yang digelar di lapangan sepak bola. Permainan ini sangat sederhana tetapi Emil sangat menyukainya. Bahkan Rafa yang belum bisa bersepeda ber-slalom dengan berjalan kaki :)

Slalom sepeda dengan sandal jepit sebagai obstacles

Slalom sepeda dengan sandal jepit sebagai obstacles

Rafa berslalom dengan berjalan kaki

Rafa berslalom dengan berjalan kaki

Bersepeda|Salah satu cara paling benar menikmati sore yang cerah

Sejak Sabtu pagi hingga Minggu siang hari ini hujan rajin mengguyur Cikarang. Beruntung ba’da Dhuhur matahari mulai mengintip dari balik awan. Menjelang sore sinarnya semakin terik dan pas dore hari cuaca benar-benar cerah. Jalan-jalan pun menjadi ramai oleh orang-orang yang gagal keluar pada hari Sabtu.

Sore yang cerah sayang sekali jika dilewatkan hanya dengan duduk-duduk. Ayo bergerak. Jogging, running, skating atau cycling silahkan pilih yang penting metabolisme tubuh meningkat, denyut jantung berpacu, paru-paru mengembang  dan keringat mengucur. Sore ini saya menempuh jarak 12 km dengan sepeda.11

Mungkin olahraga memang belum menjadi budaya kita. Maka jangan heran jika taman-taman dan jalur hijau sepi di pagi hari dari orang yang berolahraga tetapi ramai di sore hari. Ramai di sore hari pun bukan oleh orang yang berolahraga tetapi cangkruk alias duduk-duduk.

Duduk-duduk alias cangkruk

Duduk-duduk alias cangkruk

Gowes Kolozal #12 Pangalengan – Situ Cisanti (unofficial trip report)

Sebelum Kolozal #12 ini titik gowes tertinggi yang pernah saya libas sekitar 1400 mdpl di atas Warung Daweung, Bandung. Tidak tanggung-tanggung Kolozal #12  start dari ketinggian 1400 mdpl di Perkebunan Teh Malabar, Pengalengan.

Dengan ketinggian tersebut cuaca akan terasa sejuk jika hari cerah. Tetapi di bulan Februari jangan berharap cuaca akan cerah sepanjang hari. Bahkan di pagi hari pun seringkali mendung sudah bergelayut. Bersiap-siaplah menghadapi cuaca ekstrim (dingin).

Kebun Teh Malabar, Pembangkit Listrik Panas Bumi dan gunung-gunung yang tetutup awan

Kebun Teh Malabar, Pembangkit Listrik Panas Bumi dan gunung-gunung yang tetutup awan

Jauh-jauh hari Tim Rusuh (panitia gowes kolozal dari Cikarang MTB) sudah woro-woro agar semua peserta kolozal membawa baju ganti sebanyak dua buah dan raincoat. Pengalaman saat survei hujan turun sebelum makan siang dan terus berlanjut sampai sore hari. Harapannya peserta kolozal bisa makan siang dengan kondisi hangat dan menghindari hipotermia.

Jam sembilan pagi rombongan yang berangkat dari Toko Sepeda AA Bike Cikarang Baru sampai di Perkebunan Teh Malabar. Cuaca mendung, puncak-puncak gunung yang mengelilingi perkebunan teh tertutup awan. Sepeda diturunkan dari truk, ketinggian sadel diseting ulang, handlebar diluruskan dan rem dikencangkan. Briefing dilakukan di dekat makam Tuan Boscha yang merupakan pengembang perkebunan teh dan pembangun observatorium di Lembang.

Selesai briefing, Om Antoix mengambil posisi terdepan untuk memandu peserta kolozal. Ratusan sepeda segera melesat membelah perkebunan teh. Jalur gowes penuh dengan sisa potongan rumput, perdu maupun dahan-dahan teh yang dipangkas. Inilah menu pembuka kolozal. Peserta sengaja dibelokkan ke dalam perkebunan teh meski jalur normal lewat jalan beraspal tersedia.

Baru beberapa menit menggowes gerimis yang agak lebat disertai angin kencang tiba-tiba menerpa. Pemandu segera mengomando peserta agar segera memakai raincoat. Rupanya hujan di awal keberangkatan ini hanya beberapa saat. Begitu memasuki jalan raya dan berjumpa dengan tanjakan agak panjang hujan mereda. Peserta kolozal merasa kegerahan. Beberapa orang melepas raincoat sebagian lainnya bertahan karena melihat mendung tebal.

Di sebuah pertigaan kami mengambil rute ke kanan menyusuri pipa geotermal. Pipa geotermal memotong jalan dengan sebuah single track di sampingnya. Dari jarak dekat kami merasakan hangatnya aliran air di dalam pipa yang dipanaskan dapur raksasa dari perut bumi. Di beberapa bagian insulator pipa terlepas sehingga kami bisa merasakan panasnya air/uap di dalam pipa.

Berpose dengan latar pipa geotermal dan kebun teh

Berpose dengan latar pipa geotermal dan kebun teh

Single track berakhir di sebuah tempat terbuka setelah sebelumnya melalui sebuah turunan yang cukup curam. Di segmen ini beberapa peserta mengumpulkan barbuk dengan latar pipa geotermal dan hamparan kebun teh. Setelah melewati sebuah sumur injeksi kami memasuki perkampungan dengan warung terakhir. Beberapa peserta mengisi ulang perbekalannya. Banyak di antara mereka yang memburu jajanan berkabohidrat tinggi.

Lepas dari perkampungan rute gowes mengarah ke single trak di kebun teh. Tanjakan panjang menyambut goweser. Maka dimulailah proses seleksi alam. Beberapa goweser menyerah dihajar tanjakan panjang sementara sebagian lainnya melahap tanjakan pelan-pelan. Ibarat makanan keras maka ia harus dikunyah pelan-pelan sebelum ditelan.

Hujan yang turun sebelumnya membuat track menjadi licin. Track juga beralih fungsi menjadi saluran air yang menyisakan celah kecil di tengah jalur. Celah ini menyulitkan handling dan sering kali menjadi penyebab selipnya ban depan. Beberapa goweser yang cerdik menyiasati hal ini dengan mengambil jalur berumput yang ada di tepi track. Agak berat tetapi bebas dari selip.

Jalur ini mengambil sisi sebuah bukit di mana di sebelah kanan adalah jurang yang dalam. Jika sepeda selip  dan goweser gagal membuang badan ke kiri maka pasti akan meluncur. Di ujung bukit menjelang turunan curam kami bisa menyaksikan asap belerang mengebul dari punggung gunung yang berwarna kuning kecoklatan.

Regrouping dilakukan di bawah kawah yang sayangnya tertutup pepohonan pinus sehingga tidak bisa diambil gambarnya. Sempat menguping beberapa goweser yang memuji aksi penunggang sepeda Federal. Mereka angkat topi karena meski memakai sepeda jadul penunggangnya gesit melibas track. Karena satu tim, saya sempat khawatir jika Federal ini mengalami masalah lalu kami disalahkan karena memakai sepeda di luar pakem. Sejak awal Tim Rusuh merekomendasikan sepeda yang akan berlaga di event Kolozal #12 wajib memakai discbrake. Syukurlah Federal berhasil melibas trek secara keseluruhan tanpa ada insiden ataupun skandal.

Rute gowes selanjutnya melingkari gunung yang kawahnya baru saja kami saksikan. Tanjakan panjang kembali menyambut. Di ujung tanjakan hujan deras kembali mengguyur. Kali ini hujan seolah-olah dituang dari langit. Pada saat menggowes di mana metabolisme tubuh meningkat maka suhu badan akan memanas sehingga dinginnya udara tidak terasa. Begitu berhenti menggowes maka kami segera mnggigil kedinginan.

Antrian menjelang shortcut

Antrian menjelang shortcut

Dari titik ini maka dimulailah prosesi TTB dan DDB. Tanjakan curam yang tidak gowesable mengharuskan kami mendorong sepeda untuk melibasnya. Antrian panjang terjadi. Dari posisi kami kami bisa menyaksikan ekor peserta gowes ternyata masih berada di bukit seberang lembah. Tanjakan dan turunan curam rupanya menyebabkan bottleneck.

Di ujung tanjakan curam yang tidak gowesable ini kebun teh bertemu dengan lereng gunung yang rimbun oleh pepohonan keras. Untuk menuju ke sana kami harus mengangkat sepeda karena rimbunnya pohon teh tidak memungkinkan TTB. Ujian belum berakhir. Setelah berhasil mengangkat sepeda kami berhadapan dengan sebuah pematang yang cukup tinggi dengan vegetasi pohon paitan – Tithonia diversifola (kerabat bunga matahari) yang rapat. Sepeda mesti dilempar ke depan agar kami bisa melewatinya. Beberapa orang gagal menyelesaikan ujian ini secara mandiri sehingga harus dibantu peserta lainnya.

Baru saja kami menurunkan ritme detak jantung dan hembusan nafas sebuah lereng curam dengan kemiringan sekitar 45 derajad menghadang kami. Konon ini adalah shortcut yang harus kami lewati agar rute gowes tidak melambung yang akan menghabiskan banyak waktu. Lelah setelah melewati ujian pertama dan hampir mengerahkan seluruh stamina membuat kami benar-benar kelenger saat melewatinya. Tanahnya yang gembur berpasir ditambah dengan hujan membuatnya setiap kali diinjak akan melorot ke bawah.

Bahu membahu melibas shorcut

Bahu membahu melibas shorcut (diambil dari WA group Cikarang MTB)

Segmen sadis ini rupanya memakan korban. Di sebuah area lapang di tengah kebun teh di mana dilakukan regrouping seorang goweser ngedumel. Sekilas terdengar ia berkata lebih baik dievak saja. Awalnya biasa saja tetapi lama-lama menjadi risih mendengar ocehannya.

Federal jadul di Tim Ecekeble

Federal jadul di Tim Ecekeble

Setelah itu lagi-lagi tim rusuh mengerjai kami. Trek yang mestinya lempeng diputar dulu di dalam kebun teh. Setelah itu kami mendapat bonus turunan beraspal menjelang Situ Cisanti. Hujan rintik, pakaian basah, badan menggigil membuat kami tidak lagi memperdulikan panorama dan keindahan situ. Sholat Dhuhur dan makan siang adalah fokus kami. Baju ganti yang kami persiapkan benar-benar berguna menghangatkan badan meski hanya sebentar.

Seperti umumnya obyek wisata di Indonesia yang kurang profesional dalam pengelolaan, fasilitas MCK di situ ini tergolong jelek. Air dari pancuran hanya gemericik padahal kami harus membersihkan badan yang belepotan lumpur sebelum sholat. Antrian panjang goweser yang hendak berwudu pun terjadi.

Selesai sholat dan maksi beberapa goweser tidak sabar untuk segera melibas segmen berikutnya, Jalur Tumpeng. Dinamai Jalur Tumpeng karena profil treknya pada bikemap tampak seperti tumpeng. Sepertinya sudah menjadi ciri khas gowes kolozal, tanjakan akan disuguhkan setelah makan siang. Konsep yang bagus.

Jalur beraspal segera berganti makadam yang pemasangannya asal-asalan sehingga sulit digowes apalagi dengan kondisi jalan yang becek, banyak kubangan dan lumpur. Jalan makadam kemudian berganti dengan single track yang sebagian besar tidak gowesable. Setelah shortcut 45 derajad inilah tantangan yang paling berat dari Kolozal #12.

Di bawah guyuran hujan deras, udara yang semakin dingin, trek yang licin dan tubuh yang mulai capek beberapa goweser melambat sehingga terpisah dari pemandu. Lintasan yang licin membuat banyak goweser terpeleset di jalur ini meskipun dalam kondidi TTB. Beruntung bagi mereka yang mengikuti anjuran Tim Rusuh agar memakai sepatu bersol kasar untuk mendapatkan grip yang maksimal. Saya tidak bisa membayangkan betapa susahnya beberapa goweser yang memakai sandal ataupun sepatu bersol halus.

Single track licin, berlumpur dan sempit di Jalur Tumpeng

Single track licin, berlumpur dan sempit di Jalur Tumpeng

Single track yang sempit dan seringkali berada di tepi lereng menyulitkan goweser di belakangnya untuk menyalip. Bottle neck. Beberapa goweser yang bermaksud merangsek ke barisan depan pun tertahan. Tanpa pemandu beberapa kelompok goweser kehilangan arah di dalam labirin kebun teh. Beruntung kelompok di belakangnya mengingatkan.

Menjelang Puncak Tumpeng (1825 mdpl) hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Maksud hati hendak menunggu kelompok goweser di belakang yang memiliki pemandu akan tetapi dengan berhenti dan menurunnya metabolisme tubuh membuat badan semakin menggigil. Gigi bergemeretak dan jari-jari tangan menjadi kisut. Menurut beberapa goweser yang memiliki termometer mengatakan suhu udara pada titik tertinggi ini menyentuh 10 derajad Celcius.

Konon di area inilah salah satu tim survei bertemu dengan anak macan tutul. Akan tetapi dinginnya udara dan takut tersesat membuat kami lupa akan hal tersebut. Fokus kami adalah menemukan jalur yang benar dan menghindari hipotermia

Begitu melewati Puncak Tumpeng jalur beraspal menyambut kami. Hilang orientasi kami mengaktifkan fitur MPS – mouth positioning system alias bertanya. Penjaga sumur geotermal memberi petunjuk kepada kami seraya menginformasikan bahwa ada beberapa rombongan di depan kami. Turunan tidak bisa dinikmati dengan maksimal karena salah seorang goweser mengalami masalah dengan rem belakangnya. Karena takut tersesat fitur MPS pun diaktifkan beberapa kali. Sasaran kami bervariasi mulai dari pengendara mobil, motor, tukang ojek hingga tukang tambal ban.

Di ujung jalan kampung yang bertemu Jalan Raya Pengalengan kami bertemu dengan Om Antoix yang sedang mengarahkan goweser agar tidak bablas. Warung bakso yang berada di pertigaan tersebut menjadi tujuan untuk menghangatkan badan. Udara yang sangat dingin membuat kuah bakso panas yang baru keluar dari dandang terasa hangat. Selesai makan bakso baru kami merasa lidah terasa sepah. Perasaan kami mengatakan kuah bakso hangat saja padahal aktualnya memang panas.

Cyclocomp menujukkan angka 24 km artinya tinggal 3 km lagi maka akan sampai di Villa Kebun Teh Malabar. Tanjakan landai beraspal menjadi menu terakhir yang harus dilahap. Begitu sampai di villa, sepatu dan sepeda yang belepotan lumpur dibersihkan di bawah pancuran talang air. Beruntung lumpurnya berpasir dan tidak lengket sehingga mudah dibersihkan.

Selesai membersihkan sepeda dan badan menu makan malam dengan lauk dendeng maknyuss menjadi penghangat badan di sore hari yang dingin di ketinggian 1400 mdpl. Sempat terpikir Jalur Shortcut dan Tumpeng mungkin merupakan trek terberat dalam sejarah gowes kolozal.

Kapok lombok! Tim Ecekeble menantikan gowes kolozal berikutnya :)

Rute Gowes Kolozal #12 Pangalengan - Situ Cisanti

Rute Gowes Kolozal #12 Pangalengan – Situ Cisanti

Emil bersepeda ke sekolah

Hari ini tepat seminggu Emil bersepeda ke sekolah. Kata bunda, sejak bersepeda uang sakunya sisa banyak karena jarang singgah di warung-warung yang terdapat di sepanjang jalan :). Karena bersepeda lebih cepat daripada berjalan kaki maka keinginan untuk mampir ke- dan godaan dari- warung berkurang.

Ayah berharap Emil bisa memecahkan rekor ayah 5,5 tahun bersepeda ke kampus. JIka ayah adalah pengikut gerakan bike to work maka Emil pengikut gerakan bike to school.

Bersepeda ke sekolah

Bersepeda ke sekolah

Gowes pagi bersama Sierra

Lama tidak gowes, kangen dengan trek Delta Mas. Tetapi pagi ini tidak mau ribet dengan gears and accessories maka pilihan jatuh pada Polygon Sierra. Dengan bercelana khaki, poloshirt dan bersandal jepit sepeda kukayuh ke arah Delta Mas.

Dari arah Simpruk ada Om dengan kostum pembalap menyalip. Sierra kugeber untuk mencoba menempel. Terengah-engah dan terbirit-birit tetapi jarak dengan si Om selalu berada pada kisaran 30 meter-an. Begitu memasuki Delta Mas si Om menurunkan tempo kayuhannya. Sierra berhasil menyusulnya di lampu merah perempatan Delta Mas.

Sierra berbelok ke arah banner Delta Mas sementara si Om lurus ke arah kampus ITSB.

Polygon Sierra @ Delta Mas

Polygon Sierra @ Delta Mas

Polygon Sierra @ Kampus ITSB Delta Mas

Polygon Sierra @ Kampus ITSB Delta Mas

Polygon Sierra @ Delta Mas

Polygon Sierra @ Delta Mas

Dalam bahasa Spanyol, sierra berarti pegunungan (mountain range). Jadi tidak salah jika Sierra dipakai melibas trek yang hilly :D

 

Bersepeda untuk hidup|Bike for life

Dalam perjalanan pulang kampung ke Tanrutedong, Sidenreng Rappang di bulan Oktober 2013, mobil yang kutumpangi singgah di sebuah warung di tengah sawah setelah kota Pangkajene, Sidrap. Kesempatan itu kulakukan untuk mengamati dan mengabadikan mobil-mobil angkutan umum yang melintasi Trans-Sulawesi.

Ketika sedang asyik mengamati mobil-mobil yang lalu lalang mataku tertuju kepada sebuah pemandangan menarik. Sebuah becak gerobak yang penuh dengan barang-barang bekas dengan seorang anak kecil di atasnya melintas di depanku dengan dikawal sebuah sepeda butut yang dikayuh seorang perempuan dengan membonceng anak perempuan.

Bike for life - Bersepeda memburu rejeki

Bike for life – Bersepeda memburu rejeki

It’s definitely bike for life. Aktifitas bersepedaku dengan jargon bike to work menjadi tidak ada apa-apanya dibanding kegigihan mereka dalam mengayuh pedal untuk mengumpulkan keping-keping demi keping, lembar demi lembar dan onggok demi onggok barang-barang bekas yang menjadi sumber penghasilan mereka.

Di saat banyak orang memilih jalan pintas dengan bermalas-malasan dengan menadahkan tangan meskipun harus menggadaikan izzah/kehormatan dengan meminta-minta, mereka gigih untuk mengumpulkan rejeki dengan cara yang terhormat. Sungguh aku kagum dengan semangat, kegigihan dan perjuangan mereka dalam menjemput rejeki.

De Javu

Akhir Desember 2013 aku kembali pulang ke Tanrutedong. Malam itu aku mengeluarkan motor dari garasi bergegas ke masjid agar tidak ketinggalan sholat Maghrib berjamaah. Di sebuah tanjakan pendek di pertigaan Bila dalam keremangan senja aku menyaksikan sebuah pemandangan yang mengagetkan.

Seorang anak kecil sedang berjuang mendorong gerobak yang sarat muatan di tanjakan tersebut. Aku kembali terkejut karena mereka adalah keluarga pengumpul barang bekas yang pernah kulihat dua bulan yang lalu. Luar biasa daerah jelajah mereka karena lokasi sekarang berjarak 30 km dengan lokasi ketika aku pertama kali melihat mereka.

Aku benar-benar  terkejut karena bisa melihat kembali aksi kegigihan mereka. Dan yang paling mengejutkan adalah bocah kecil yang duduk kulihat membonceng di atas gerobak kali ini bertukar posisi menjadi si pendorong gerobak. Sementara si ibu dengan setia menjadi pengawal di belakang dengan anak perempuannya.

Sampai di masjid aku masih terbayang-bayang dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Begitu selesai sholat motor kugeber pulang. Sarung kulepas dan kuambil dompet. Motor kupacu untuk menyusul rombongan tersebut. Di depan Puskesmas Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Segera motor kuputar ke arah Alfamidi. Dua buah Sariroti rasa keju dan coklat serta sebungkus Oreo kini berada dalam kantong plastik.

Motor kembali kugeber untuk kembali mengejar rombongan tersebut. Di depan SPBU Tanrutedong aku berhasil menyusul mereka. Si ibu yang berada di belakang kupepet dengan motor. Kantong plastik kuberikan ke si ibu sambil berkata, “Silahkan, Bu”. Si ibu menjawab, “Terima kasih, Pak. Aku menimpali,”Hati-hati, Bu”. Motor kembali kuputar arah dan bergegas pulang.

Dua bungkus roti dan sebungkus Oreo adalah apresiasiku atas kegigihan mereka. Bukan karena kasihan.