Cross Country menyusuri Kalosi – Kampale

Sabtu pagi Emil libur sekolah bertepatan dengan 1 Muharrom 1436 Hijriyah. Sejak lama si Emil menunggu kesempatan untuk kembali berpetualang dengan sepeda.

Jalan desa Kampale sudah diperkeras dengan pasir-batu

Jalan desa Kampale sudah diperkeras dengan pasir-batu

Rute kali ini mengulang rute bersepeda empat bulan yang lalu. Saat itu kami gagal menyelesaikan satu etape penuh karena jalan yang sangat becek. Lumpur menempel di roda sehingga tidak bisa digowes ataupun dituntun.

cross country3

Trek kali ini menyusuri pesawahan yang ada di Kalosi dan Kampale. Sebagian besar trek berupa makadam. Bekas kubangan di sepanjang jalan menjadi cekungan-cekungan kecil yang menarik untuk dilibas.

cross country1

cross country2

Seminggu bersama Polygon Sierra AX

Seminggu kemarin saya berkesempatan mencoba Citybike Polygon Sierra AX. Citybike dari tahun 2011 dengan swan-frame dan internal gear 3 kecepatan ini terbukti sangat cocok untuk medan yang datar beraspal mulus.

Polygon Sierra AX

Polygon Sierra AX di atas jembatan yang melintas Sungai Bila di Taccimpo

Selama 6 hari saya memakai sepeda ini sepanjang jalan beraspal Kalosi – Bila – Taccimpo. Rata-rata saya memakainya selama 40 menit di pagi hari dengan kecepatan penuh. Sepeda ini memang didesain untuk ngebut. Bahkan untuk saya yang tidak asing dengan urusan mengayuh pedal gigi nomer 3 terasa berat meski di medan yang rata.

Dengan model swan-frame, selain terlihat manis sepeda ini juga sangat stabil dikendarai. Ukuran ban 1,7 membuatnya masih terasa empuk meski melintas di atas aspal yang rusak. Berbeda sekali dengan Sierra Lite yang diameter bannya lebih kecil sehingga terasa lebih keras.

Polygon Sierra AX

Polygon Sierra AX

Sierra Lite – citybike favorit anak-anak

Tok.. tok.. tok.. tookk..!

“Oom….”, terdengar suara anak-anak di depan pintu.

“Ada apa, Dik?”, tanyaku sambil membuka pintu.

“Boleh pinjam sepedanya?”, kata si adik perempuan. Usianya sekitar 10 tahun. Anak ini sering kutemui di warung mengantar makanan yang dititipkan di warung.

“Boleh. Om turunkan dulu sadelnya, ya?” quick release kukendorkan. Sadel kubuat mentok sampai frame.

“Silahkan pakai sepedanya. Nanti kalau sudah selesai, taruh di samping motor saja.”

“Makasih, Om.” si adik langsung menggenjot sepeda bergabung dengan teman-temannya.

Polygon Citybike - Sierra Lite

Polygon Citybike – Sierra Lite

Ini adalah kesekian kali si Sierra Lite dipinjam anak-anak di sekitar rumahku. Hari Sabtu-Minggu kemarin total 3x Sierra Lite dipinjam bocah-bocah. Demi memupuk kecintaan anak-anak kepada aktivitas bersepeda, tak ada rasa keberatan sedikitpun. Bahkan ketika keranjang depan penyok tak ada rasa penyesalan ataupun marah. Ketika kecil  dulu juga sempat mematahkan fork sepeda BMX-ku karena terlalu sering kupakai jumping.

Sore itu ketika aku akan memakai Sierra Lite ke masjid pedal terasa loss tak ada beban saat kukayuh. Rupanya rantai terlepas dari crank. Entah dipakai bagaimana sampai ia bisa terlepas. Semoga saja mereka tidak takut dan kapok meminjam sepeda ini karena mungkin merasa telah membuatnya rusak. Padahal tinggal dipasang lagi dengan mudah.

Dua hari bersama citybike

Hari Sabtu-Minggu di minggu pertama September 2014 ini saya selalu hilir mudik dengan citybike dari Polygon, Sierra Lite. Setelah sekian lama citybike ini hanya dipakai ke warung dan ke masjid akhirnya ia bisa keliling Lippo Cikarang.

Kembali merasakan bahwa sepeda ini memang sangat nyaman dan posisi menggowesnya sangat santai. Gigi terbesarnya cukup membantu saat mendaki tanjakan Cibodas ataupun tanjakan Jalan Majapahit.

Dengan 6 tingkat kecepatan sebenarnya sepeda masih agak berat dipakai di tanjakan curam. Tetapi ukuran rodanya yang kecil membantu meringankan beban tersebut. Karena terbiasa ngebut dengan MTB, pada saat di jalan datar sepeda ini masih terasa ngicik meski gigi sudah berada di posisi terkecil. Ukuran crank memang kurang besar.

Sierra memang bukan sepeda gunung maka gigi belakang tidak terlalu besar. Tidak ada suspensi sehingga ketika ada gundukan tidak ada redaman. Sierra juga bukan sepeda balap atau hybrid yang dipakai ngebut sehingga ukuran crank tidak terlalu besar.

Sierra Lite 2013-2014

* Sierra Lite 2013-2014

Sesuai dengan jenisnya, citybike, maka Sierra dirancang untuk berada di perkotaan (jalan datar dan mulus). Maka Sierra cukup memiliki 6 kecepatan saja serta jenis frame dan fork yang rigid. Ban tidak terlalu lebar karena tidak membutuhkan redaman ataupun daya cengkeram yang kuat.

*sumber gambar: http://www.polygonbikes.com/id/bikes/description/2013-sierra-lite-orange

Terpesona pada Sepeda Touring

Saya ingin memiliki sepeda seperti ini dan akan saya pakai di Sulawesi. Impian memiliki sepeda seperti ini lebih mudah terealisasi dibanding mimpi indah memiliki Koga Miyata.

Hanya dibutuhkan kesabaran untuk mendandani dan mengumpulkan komponen yang pas. Bujetnya jauh dibawah tabungan yang diperlukan untuk meminang sepeda touring branded yang melegenda. Sementara penampilannya sekilas tidak bisa dibedakan dengan sepeda touring betulan.

Sepeda Touring made in Indonesia

Sepeda Touring made in Indonesia

Sadel Brooks

Sadel Brooks (the most exclusive part)

Dilarang membonceng (kecuali anak-anak)

Dilarang membonceng (kecuali anak-anak)

Garmin eTrex bertengger di setang

Garmin eTrex bertengger di setang

Sepeda cakep ini milik Om Andre, track builder Ecekeble.

Bersepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang


Jarak secukupnya, nanjak secukupnya, istirahat secukupnya, makan secukupnya. Konon ini akan menjadi acara gowes Ecekeble yang paling pas porsinya. Apalagi ini adalah gowes silaturahim dan pemanasan setelah sekian lama vakum alias tunatrip. Bagi sebagian goweser, trip kali ini juga sebagai ajang ujicoba tunggangan baru.

Basecamp mengambil tempat di area parkir sebuah pasar. Jam 9 pagi acara gowes pun dimulai.

Sprint di tanjakan

Sprint di tanjakan

Lima ratus meter dari basecamp langsung dihajar tanjakan. Dengkul yang lama ga menggowes nanjak masih berusaha mencari ritme yang pas dengan denyut jantung dan helaan nafas. Beruntung trek melipir yang sengaja dirancang untuk menghindari jalur utama yang berdebu, rimbun oleh pepohonan. Sengatan matahari dan panasnya udara di ketinggian 200 mdpl-an menjadi kurang terasa. Ditambah lagi treknya sangat gowesable sehingga semua goweser berlomba-lomba melibas tanjakan demi tanjakan dengan sempurna.

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Mungkin karena terlalu lama vakum. Porsi pas ini masih terasa kebanyakan. Di ujung tiap tanjakan harus diselingi dengan istirahat untuk menurunkan detak jantung. Waktu istirahat menjadi semakin panjang karena kami harus menunggu goweser yang kram memulihkan kondisinya. Ditambah lagi ada yang masuk angin sehingga harus kerokan.

Sayangnya timing acara gowes kali ini kurang pas dengan musim tanam di sana. Sawah terasering berundak-undak nampak gersang hanya menyisakan pangkal rumpun padi berwarna kecoklatan karena sudah dipanen.

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Menjelang tambang batu kami melewati track di bawah bukit dengan tebing sangat terjal. Dari bawah kami mendengar gemuruh suara excavator dan dumptruck yang hilir mudik. Sebuah poster berbunyi, “Awas Hati-Hati!! Bahaya Longsor dan Ledakan Batu!!!”

Matahari terasa menyengat di sekitar tambang batu yang minim vegetasi. Ditambah lagi dengan debu dan pasir yang tumpah dari truk-truk pengangkutnya membuat jalur ini sangat tidak nyaman. Beruntung segmen neraka tersebut tidak seberapa panjang. Selepas tambang batu trek berupa jalan beraspal mulus di pesawahan.

Marshal & track builder Ecekeble

Marshal & track builder Ecekeble

Summit attack dimulai. Kami mendaki ke ketinggian 694 mdpl. Menurut saya ini adalah segemen paling oke dari trek gowes ini. Pepohonan rimbun di sepanjang jalan. Di antara helaan nafas yang tersengal dan denyut jantung yang semakin cepat kami masih sempat menikmati hijaunya lereng-lereng bukit berupa hutan yang rimbun.

Di tepi jalan di antara rimbunnya pepohonan kami melihat banyak rumpun Lengkuas. Mungkin ini tanaman yang ditumpangsarikan. Salah satu metode bertanam yang sustainable. Sementara di kejauhan kami banyak melihat batang-batang pohon aren/sagu menjulang. Ini salah satu jenis pohon yang paling bagus menyimpan dan menyerap air hujan.

Mendekati ketinggian 690 wangi gunung mulai terasa. Saya menyebutnya wangi gunung karena aroma ini biasanya mulai tercium di ketinggian 700 mdpl-an. Jika tidak salah aroma ini berasal dari perdu dan semak yang biasanya tumbuh di pegunungan.

Summit attack 694 mdpl

Summit attack 694 mdpl

Selepas titik tertinggi. Vegetasi didominasi hutan bambu yang monoton. Beruntung karena bertemu turunan maka pemandangan yang agak membosankan tersebut menjadi tidak terasa. Menjelang Badega, Gunung Parang, pemandangan didominasi persawahan yang menghijau. Batu-batu andesit seukuran kerbau sampai sebesar rumah terlihat menyembul di antara hijaunya rumpun pagi.

Sawah-sawah ini memperoleh sumber airnya dari hutan yang berada di pegunungan di sebelah selatan. Semoga saja gunung-gunung tersebut tidak ditambang seperti beberapa gunung di sekitarnya. Mestinya ia tetap menjadi paru-paru dan sumber mata air bagi kawasan sekitarnya.

Sawah dengan latar gunung batu

Sawah dengan latar gunung batu

Akhirnya sampai juga di Badega. Gunung Parang menjulang persis di samping saung-saung bambu yang kami gunakan untuk beristirahat. Gunung yang bentuk dari batu andesit ini terlihat kokoh dan masif. Saat kami tiba, berikutnya menyusul 1 rombongan climber yang akan mendaki tiga tower Gunung Parang.

Cairan elektrolit dari kelapa muda segar mampu mengembalikan kesegaran dan stamina yang sebelumnya terkuras. Aroma wangi tikar pandan, semilir angin yang berhembus plus udara yang lebih sejuk dibanding Cikarang membuat kami menjadi ngantuk.

Kelapa muda

Kelapa muda

Menu makan siang

Menu makan siang

Saung bambu

Saung bambu

mengantuk

Rasa kantuk menjadi sirna begitu hidangan utama dihidangkan. Makan berjamaah dengan alas tampah memang berkah. Satu tampah dirancang untuk porsi 4~5 orang. Lalapannya melimpah. Sambalnya sedap menggigit. Tahu tempe maknyuss. Ikan goreng yummy tetapi porsinya kurang banyak :)

Saung bambu

Saung bambu

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Jam 2:30 kami melanjutkan perjalanan. Karena terlalu lama ngadem matahari terasa lebih menyengat. Kami mengambil jalur melingkar di sisi barat Gunung Parang. Trek merupakan kombinasi dari makadam dan aspal rusak.

???????????????????????????????

Gunung Parang sisi barat

Gunung Parang sisi barat

Ujian terakhir adalah sebuah shorcut yang mengharuskan kami mendaki lagi. Jika menghindari shortcut ini maka kami haru melingkar jauh ke arah Cirata. Trek ini cantik dan menantang akan tetapi karena stamina sudah sisa-sisa maka terasa kurang enjoy. Dari trek ini kami bisa memandang ke arah lembah dan Jatiluhur. Segmen ini kembali memakan korban. Salah satu goweser mengalami kram kaki.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitu shortcut selesai dilibas maka kami mendapatkan turunan panjang sampai basecamp. Beruntung di sore hari sedikit trup pasir yang melintas sehingga jalanan tidak terlalu berdebu. Saat kami melibas jalur neraka ini maka kami menyadari keputusan untuk me-melipirkan jalur keberangkatan ke perbukitan di seberang jalan. Andai kami melibasnya dari bawah bisa-bisa terkena ISPA.

16:34 akhirnya sampai kembali di basecamp.

Bersepeda ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta (masih rencana)

Lama gak nge-trip jadi kangen membuat trip report. Karena kesibukan anggotanya, jadwal yang tidak pernah match, beberapa rencana trip jadi tertunda-tunda. Setelah Lebaran nanti ada rencana untuk nge-trip ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta. Tema gowesnya bisa macam-macam. Gowes halah bi halal (momen setelah Lebaran), gowes merah putih (momen Agustus-an), gowes kuliner (makan enak adalah tujuan utama gowes kali ini :D ).

Konon, ini bakal jadi trip Ecekeble “paling bener”. Paling enak makannya. Paling gampang treknya. Intinya paling tidak menantang. Tetapi semoga menjadi trip paling mengakrabkan. Karena treknya full beton (kecuali mo nyempal dikit) maka semua jenis sepeda bakal bisa “bertanding” di trek ini. Mau citybike, rigid, hardtail, fullsuss, bahkan kalau mau membawa sepeda DJ atau DH juga ga masalah.

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Gunung Parang adalah gunung yang terbentuk dari batuan andesit.  Gunung ini terlihat masif berwarna hitam. Sementara lingkungannya yang menghijau dengan kebun dan sawah memberikan kesan kontras. Curamnya gunung ini terlihat dari peta topografi di bawah ini. Garis kontur atau isoline yang padat menunjukkan kecuraman.

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Kalau anda belum paham cara membaca peta topografi, ilustrasi di bawah ini menunjukkan cara membaca topografi/garis kontur. Garis kontur menunjukkan ketinggian yang sama. Semakin padat atau semakin pendek jarak antar garis maka kecuramannya semakin tinggi.

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Jika anda tertarik dan ingin berwisata ke Gunung Parang, pranala berikut ini akan membantu anda menemukan informasi lebih detil dan lengkap:

- http://kampungcihuni.blogspot.com/

- https://id-id.facebook.com/kampungcihuni

Jargon wisata yang selalu saya ulang-ulang, “Berwisata/berlibur tidak harus ke mall”.

Ayo berpetualang!