Terpesona pada Sepeda Touring

Saya ingin memiliki sepeda seperti ini dan akan saya pakai di Sulawesi. Impian memiliki sepeda seperti ini lebih mudah terealisasi dibanding mimpi indah memiliki Koga Miyata.

Hanya dibutuhkan kesabaran untuk mendandani dan mengumpulkan komponen yang pas. Bujetnya jauh dibawah tabungan yang diperlukan untuk meminang sepeda touring branded yang melegenda. Sementara penampilannya sekilas tidak bisa dibedakan dengan sepeda touring betulan.

Sepeda Touring made in Indonesia

Sepeda Touring made in Indonesia

Sadel Brooks

Sadel Brooks (the most exclusive part)

Dilarang membonceng (kecuali anak-anak)

Dilarang membonceng (kecuali anak-anak)

Garmin eTrex bertengger di setang

Garmin eTrex bertengger di setang

Sepeda cakep ini milik Om Andre, track builder Ecekeble.

Bersepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang

Jalur sepeda ke Gunung Parang


Jarak secukupnya, nanjak secukupnya, istirahat secukupnya, makan secukupnya. Konon ini akan menjadi acara gowes Ecekeble yang paling pas porsinya. Apalagi ini adalah gowes silaturahim dan pemanasan setelah sekian lama vakum alias tunatrip. Bagi sebagian goweser, trip kali ini juga sebagai ajang ujicoba tunggangan baru.

Basecamp mengambil tempat di area parkir sebuah pasar. Jam 9 pagi acara gowes pun dimulai.

Sprint di tanjakan

Sprint di tanjakan

Lima ratus meter dari basecamp langsung dihajar tanjakan. Dengkul yang lama ga menggowes nanjak masih berusaha mencari ritme yang pas dengan denyut jantung dan helaan nafas. Beruntung trek melipir yang sengaja dirancang untuk menghindari jalur utama yang berdebu, rimbun oleh pepohonan. Sengatan matahari dan panasnya udara di ketinggian 200 mdpl-an menjadi kurang terasa. Ditambah lagi treknya sangat gowesable sehingga semua goweser berlomba-lomba melibas tanjakan demi tanjakan dengan sempurna.

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Melibas tanjakan

Mungkin karena terlalu lama vakum. Porsi pas ini masih terasa kebanyakan. Di ujung tiap tanjakan harus diselingi dengan istirahat untuk menurunkan detak jantung. Waktu istirahat menjadi semakin panjang karena kami harus menunggu goweser yang kram memulihkan kondisinya. Ditambah lagi ada yang masuk angin sehingga harus kerokan.

Sayangnya timing acara gowes kali ini kurang pas dengan musim tanam di sana. Sawah terasering berundak-undak nampak gersang hanya menyisakan pangkal rumpun padi berwarna kecoklatan karena sudah dipanen.

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Bahaya Longsor dan Ledakan Batu !!!

Menjelang tambang batu kami melewati track di bawah bukit dengan tebing sangat terjal. Dari bawah kami mendengar gemuruh suara excavator dan dumptruck yang hilir mudik. Sebuah poster berbunyi, “Awas Hati-Hati!! Bahaya Longsor dan Ledakan Batu!!!”

Matahari terasa menyengat di sekitar tambang batu yang minim vegetasi. Ditambah lagi dengan debu dan pasir yang tumpah dari truk-truk pengangkutnya membuat jalur ini sangat tidak nyaman. Beruntung segmen neraka tersebut tidak seberapa panjang. Selepas tambang batu trek berupa jalan beraspal mulus di pesawahan.

Marshal & track builder Ecekeble

Marshal & track builder Ecekeble

Summit attack dimulai. Kami mendaki ke ketinggian 694 mdpl. Menurut saya ini adalah segemen paling oke dari trek gowes ini. Pepohonan rimbun di sepanjang jalan. Di antara helaan nafas yang tersengal dan denyut jantung yang semakin cepat kami masih sempat menikmati hijaunya lereng-lereng bukit berupa hutan yang rimbun.

Di tepi jalan di antara rimbunnya pepohonan kami melihat banyak rumpun Lengkuas. Mungkin ini tanaman yang ditumpangsarikan. Salah satu metode bertanam yang sustainable. Sementara di kejauhan kami banyak melihat batang-batang pohon aren/sagu menjulang. Ini salah satu jenis pohon yang paling bagus menyimpan dan menyerap air hujan.

Mendekati ketinggian 690 wangi gunung mulai terasa. Saya menyebutnya wangi gunung karena aroma ini biasanya mulai tercium di ketinggian 700 mdpl-an. Jika tidak salah aroma ini berasal dari perdu dan semak yang biasanya tumbuh di pegunungan.

Summit attack 694 mdpl

Summit attack 694 mdpl

Selepas titik tertinggi. Vegetasi didominasi hutan bambu yang monoton. Beruntung karena bertemu turunan maka pemandangan yang agak membosankan tersebut menjadi tidak terasa. Menjelang Badega, Gunung Parang, pemandangan didominasi persawahan yang menghijau. Batu-batu andesit seukuran kerbau sampai sebesar rumah terlihat menyembul di antara hijaunya rumpun pagi.

Sawah-sawah ini memperoleh sumber airnya dari hutan yang berada di pegunungan di sebelah selatan. Semoga saja gunung-gunung tersebut tidak ditambang seperti beberapa gunung di sekitarnya. Mestinya ia tetap menjadi paru-paru dan sumber mata air bagi kawasan sekitarnya.

Sawah dengan latar gunung batu

Sawah dengan latar gunung batu

Akhirnya sampai juga di Badega. Gunung Parang menjulang persis di samping saung-saung bambu yang kami gunakan untuk beristirahat. Gunung yang bentuk dari batu andesit ini terlihat kokoh dan masif. Saat kami tiba, berikutnya menyusul 1 rombongan climber yang akan mendaki tiga tower Gunung Parang.

Cairan elektrolit dari kelapa muda segar mampu mengembalikan kesegaran dan stamina yang sebelumnya terkuras. Aroma wangi tikar pandan, semilir angin yang berhembus plus udara yang lebih sejuk dibanding Cikarang membuat kami menjadi ngantuk.

Kelapa muda

Kelapa muda

Menu makan siang

Menu makan siang

Saung bambu

Saung bambu

mengantuk

Rasa kantuk menjadi sirna begitu hidangan utama dihidangkan. Makan berjamaah dengan alas tampah memang berkah. Satu tampah dirancang untuk porsi 4~5 orang. Lalapannya melimpah. Sambalnya sedap menggigit. Tahu tempe maknyuss. Ikan goreng yummy tetapi porsinya kurang banyak :)

Saung bambu

Saung bambu

Foto Keluarga

Foto Keluarga

Jam 2:30 kami melanjutkan perjalanan. Karena terlalu lama ngadem matahari terasa lebih menyengat. Kami mengambil jalur melingkar di sisi barat Gunung Parang. Trek merupakan kombinasi dari makadam dan aspal rusak.

???????????????????????????????

Gunung Parang sisi barat

Gunung Parang sisi barat

Ujian terakhir adalah sebuah shorcut yang mengharuskan kami mendaki lagi. Jika menghindari shortcut ini maka kami haru melingkar jauh ke arah Cirata. Trek ini cantik dan menantang akan tetapi karena stamina sudah sisa-sisa maka terasa kurang enjoy. Dari trek ini kami bisa memandang ke arah lembah dan Jatiluhur. Segmen ini kembali memakan korban. Salah satu goweser mengalami kram kaki.

Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitu shortcut selesai dilibas maka kami mendapatkan turunan panjang sampai basecamp. Beruntung di sore hari sedikit trup pasir yang melintas sehingga jalanan tidak terlalu berdebu. Saat kami melibas jalur neraka ini maka kami menyadari keputusan untuk me-melipirkan jalur keberangkatan ke perbukitan di seberang jalan. Andai kami melibasnya dari bawah bisa-bisa terkena ISPA.

16:34 akhirnya sampai kembali di basecamp.

Bersepeda ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta (masih rencana)

Lama gak nge-trip jadi kangen membuat trip report. Karena kesibukan anggotanya, jadwal yang tidak pernah match, beberapa rencana trip jadi tertunda-tunda. Setelah Lebaran nanti ada rencana untuk nge-trip ke Gunung Parang, Plered, Purwakarta. Tema gowesnya bisa macam-macam. Gowes halah bi halal (momen setelah Lebaran), gowes merah putih (momen Agustus-an), gowes kuliner (makan enak adalah tujuan utama gowes kali ini :D ).

Konon, ini bakal jadi trip Ecekeble “paling bener”. Paling enak makannya. Paling gampang treknya. Intinya paling tidak menantang. Tetapi semoga menjadi trip paling mengakrabkan. Karena treknya full beton (kecuali mo nyempal dikit) maka semua jenis sepeda bakal bisa “bertanding” di trek ini. Mau citybike, rigid, hardtail, fullsuss, bahkan kalau mau membawa sepeda DJ atau DH juga ga masalah.

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Kawasan Wisata Gunung Parang (sumber: https://id-id.facebook.com/kampungcihuni)

Gunung Parang adalah gunung yang terbentuk dari batuan andesit.  Gunung ini terlihat masif berwarna hitam. Sementara lingkungannya yang menghijau dengan kebun dan sawah memberikan kesan kontras. Curamnya gunung ini terlihat dari peta topografi di bawah ini. Garis kontur atau isoline yang padat menunjukkan kecuraman.

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Topografi Gunung Parang, Plered, Purwakarta

Kalau anda belum paham cara membaca peta topografi, ilustrasi di bawah ini menunjukkan cara membaca topografi/garis kontur. Garis kontur menunjukkan ketinggian yang sama. Semakin padat atau semakin pendek jarak antar garis maka kecuramannya semakin tinggi.

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Contourline atau Isoline (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Contour_line)

Jika anda tertarik dan ingin berwisata ke Gunung Parang, pranala berikut ini akan membantu anda menemukan informasi lebih detil dan lengkap:

- http://kampungcihuni.blogspot.com/

- https://id-id.facebook.com/kampungcihuni

Jargon wisata yang selalu saya ulang-ulang, “Berwisata/berlibur tidak harus ke mall”.

Ayo berpetualang!

 

 

Slalom sepeda bersama Emil

To slalom is to zigzag between obstacles. Obstacle-nya adalah sandal jepit yang berjumlah delapan buah yang digelar di lapangan sepak bola. Permainan ini sangat sederhana tetapi Emil sangat menyukainya. Bahkan Rafa yang belum bisa bersepeda ber-slalom dengan berjalan kaki :)

Slalom sepeda dengan sandal jepit sebagai obstacles

Slalom sepeda dengan sandal jepit sebagai obstacles

Rafa berslalom dengan berjalan kaki

Rafa berslalom dengan berjalan kaki

Bersepeda|Salah satu cara paling benar menikmati sore yang cerah

Sejak Sabtu pagi hingga Minggu siang hari ini hujan rajin mengguyur Cikarang. Beruntung ba’da Dhuhur matahari mulai mengintip dari balik awan. Menjelang sore sinarnya semakin terik dan pas dore hari cuaca benar-benar cerah. Jalan-jalan pun menjadi ramai oleh orang-orang yang gagal keluar pada hari Sabtu.

Sore yang cerah sayang sekali jika dilewatkan hanya dengan duduk-duduk. Ayo bergerak. Jogging, running, skating atau cycling silahkan pilih yang penting metabolisme tubuh meningkat, denyut jantung berpacu, paru-paru mengembang  dan keringat mengucur. Sore ini saya menempuh jarak 12 km dengan sepeda.11

Mungkin olahraga memang belum menjadi budaya kita. Maka jangan heran jika taman-taman dan jalur hijau sepi di pagi hari dari orang yang berolahraga tetapi ramai di sore hari. Ramai di sore hari pun bukan oleh orang yang berolahraga tetapi cangkruk alias duduk-duduk.

Duduk-duduk alias cangkruk

Duduk-duduk alias cangkruk

Gowes Kolozal #12 Pangalengan – Situ Cisanti (unofficial trip report)

Sebelum Kolozal #12 ini titik gowes tertinggi yang pernah saya libas sekitar 1400 mdpl di atas Warung Daweung, Bandung. Tidak tanggung-tanggung Kolozal #12  start dari ketinggian 1400 mdpl di Perkebunan Teh Malabar, Pengalengan.

Dengan ketinggian tersebut cuaca akan terasa sejuk jika hari cerah. Tetapi di bulan Februari jangan berharap cuaca akan cerah sepanjang hari. Bahkan di pagi hari pun seringkali mendung sudah bergelayut. Bersiap-siaplah menghadapi cuaca ekstrim (dingin).

Kebun Teh Malabar, Pembangkit Listrik Panas Bumi dan gunung-gunung yang tetutup awan

Kebun Teh Malabar, Pembangkit Listrik Panas Bumi dan gunung-gunung yang tetutup awan

Jauh-jauh hari Tim Rusuh (panitia gowes kolozal dari Cikarang MTB) sudah woro-woro agar semua peserta kolozal membawa baju ganti sebanyak dua buah dan raincoat. Pengalaman saat survei hujan turun sebelum makan siang dan terus berlanjut sampai sore hari. Harapannya peserta kolozal bisa makan siang dengan kondisi hangat dan menghindari hipotermia.

Jam sembilan pagi rombongan yang berangkat dari Toko Sepeda AA Bike Cikarang Baru sampai di Perkebunan Teh Malabar. Cuaca mendung, puncak-puncak gunung yang mengelilingi perkebunan teh tertutup awan. Sepeda diturunkan dari truk, ketinggian sadel diseting ulang, handlebar diluruskan dan rem dikencangkan. Briefing dilakukan di dekat makam Tuan Boscha yang merupakan pengembang perkebunan teh dan pembangun observatorium di Lembang.

Selesai briefing, Om Antoix mengambil posisi terdepan untuk memandu peserta kolozal. Ratusan sepeda segera melesat membelah perkebunan teh. Jalur gowes penuh dengan sisa potongan rumput, perdu maupun dahan-dahan teh yang dipangkas. Inilah menu pembuka kolozal. Peserta sengaja dibelokkan ke dalam perkebunan teh meski jalur normal lewat jalan beraspal tersedia.

Baru beberapa menit menggowes gerimis yang agak lebat disertai angin kencang tiba-tiba menerpa. Pemandu segera mengomando peserta agar segera memakai raincoat. Rupanya hujan di awal keberangkatan ini hanya beberapa saat. Begitu memasuki jalan raya dan berjumpa dengan tanjakan agak panjang hujan mereda. Peserta kolozal merasa kegerahan. Beberapa orang melepas raincoat sebagian lainnya bertahan karena melihat mendung tebal.

Di sebuah pertigaan kami mengambil rute ke kanan menyusuri pipa geotermal. Pipa geotermal memotong jalan dengan sebuah single track di sampingnya. Dari jarak dekat kami merasakan hangatnya aliran air di dalam pipa yang dipanaskan dapur raksasa dari perut bumi. Di beberapa bagian insulator pipa terlepas sehingga kami bisa merasakan panasnya air/uap di dalam pipa.

Berpose dengan latar pipa geotermal dan kebun teh

Berpose dengan latar pipa geotermal dan kebun teh

Single track berakhir di sebuah tempat terbuka setelah sebelumnya melalui sebuah turunan yang cukup curam. Di segmen ini beberapa peserta mengumpulkan barbuk dengan latar pipa geotermal dan hamparan kebun teh. Setelah melewati sebuah sumur injeksi kami memasuki perkampungan dengan warung terakhir. Beberapa peserta mengisi ulang perbekalannya. Banyak di antara mereka yang memburu jajanan berkabohidrat tinggi.

Lepas dari perkampungan rute gowes mengarah ke single trak di kebun teh. Tanjakan panjang menyambut goweser. Maka dimulailah proses seleksi alam. Beberapa goweser menyerah dihajar tanjakan panjang sementara sebagian lainnya melahap tanjakan pelan-pelan. Ibarat makanan keras maka ia harus dikunyah pelan-pelan sebelum ditelan.

Hujan yang turun sebelumnya membuat track menjadi licin. Track juga beralih fungsi menjadi saluran air yang menyisakan celah kecil di tengah jalur. Celah ini menyulitkan handling dan sering kali menjadi penyebab selipnya ban depan. Beberapa goweser yang cerdik menyiasati hal ini dengan mengambil jalur berumput yang ada di tepi track. Agak berat tetapi bebas dari selip.

Jalur ini mengambil sisi sebuah bukit di mana di sebelah kanan adalah jurang yang dalam. Jika sepeda selip  dan goweser gagal membuang badan ke kiri maka pasti akan meluncur. Di ujung bukit menjelang turunan curam kami bisa menyaksikan asap belerang mengebul dari punggung gunung yang berwarna kuning kecoklatan.

Regrouping dilakukan di bawah kawah yang sayangnya tertutup pepohonan pinus sehingga tidak bisa diambil gambarnya. Sempat menguping beberapa goweser yang memuji aksi penunggang sepeda Federal. Mereka angkat topi karena meski memakai sepeda jadul penunggangnya gesit melibas track. Karena satu tim, saya sempat khawatir jika Federal ini mengalami masalah lalu kami disalahkan karena memakai sepeda di luar pakem. Sejak awal Tim Rusuh merekomendasikan sepeda yang akan berlaga di event Kolozal #12 wajib memakai discbrake. Syukurlah Federal berhasil melibas trek secara keseluruhan tanpa ada insiden ataupun skandal.

Rute gowes selanjutnya melingkari gunung yang kawahnya baru saja kami saksikan. Tanjakan panjang kembali menyambut. Di ujung tanjakan hujan deras kembali mengguyur. Kali ini hujan seolah-olah dituang dari langit. Pada saat menggowes di mana metabolisme tubuh meningkat maka suhu badan akan memanas sehingga dinginnya udara tidak terasa. Begitu berhenti menggowes maka kami segera mnggigil kedinginan.

Antrian menjelang shortcut

Antrian menjelang shortcut

Dari titik ini maka dimulailah prosesi TTB dan DDB. Tanjakan curam yang tidak gowesable mengharuskan kami mendorong sepeda untuk melibasnya. Antrian panjang terjadi. Dari posisi kami kami bisa menyaksikan ekor peserta gowes ternyata masih berada di bukit seberang lembah. Tanjakan dan turunan curam rupanya menyebabkan bottleneck.

Di ujung tanjakan curam yang tidak gowesable ini kebun teh bertemu dengan lereng gunung yang rimbun oleh pepohonan keras. Untuk menuju ke sana kami harus mengangkat sepeda karena rimbunnya pohon teh tidak memungkinkan TTB. Ujian belum berakhir. Setelah berhasil mengangkat sepeda kami berhadapan dengan sebuah pematang yang cukup tinggi dengan vegetasi pohon paitan – Tithonia diversifola (kerabat bunga matahari) yang rapat. Sepeda mesti dilempar ke depan agar kami bisa melewatinya. Beberapa orang gagal menyelesaikan ujian ini secara mandiri sehingga harus dibantu peserta lainnya.

Baru saja kami menurunkan ritme detak jantung dan hembusan nafas sebuah lereng curam dengan kemiringan sekitar 45 derajad menghadang kami. Konon ini adalah shortcut yang harus kami lewati agar rute gowes tidak melambung yang akan menghabiskan banyak waktu. Lelah setelah melewati ujian pertama dan hampir mengerahkan seluruh stamina membuat kami benar-benar kelenger saat melewatinya. Tanahnya yang gembur berpasir ditambah dengan hujan membuatnya setiap kali diinjak akan melorot ke bawah.

Bahu membahu melibas shorcut

Bahu membahu melibas shorcut (diambil dari WA group Cikarang MTB)

Segmen sadis ini rupanya memakan korban. Di sebuah area lapang di tengah kebun teh di mana dilakukan regrouping seorang goweser ngedumel. Sekilas terdengar ia berkata lebih baik dievak saja. Awalnya biasa saja tetapi lama-lama menjadi risih mendengar ocehannya.

Federal jadul di Tim Ecekeble

Federal jadul di Tim Ecekeble

Setelah itu lagi-lagi tim rusuh mengerjai kami. Trek yang mestinya lempeng diputar dulu di dalam kebun teh. Setelah itu kami mendapat bonus turunan beraspal menjelang Situ Cisanti. Hujan rintik, pakaian basah, badan menggigil membuat kami tidak lagi memperdulikan panorama dan keindahan situ. Sholat Dhuhur dan makan siang adalah fokus kami. Baju ganti yang kami persiapkan benar-benar berguna menghangatkan badan meski hanya sebentar.

Seperti umumnya obyek wisata di Indonesia yang kurang profesional dalam pengelolaan, fasilitas MCK di situ ini tergolong jelek. Air dari pancuran hanya gemericik padahal kami harus membersihkan badan yang belepotan lumpur sebelum sholat. Antrian panjang goweser yang hendak berwudu pun terjadi.

Selesai sholat dan maksi beberapa goweser tidak sabar untuk segera melibas segmen berikutnya, Jalur Tumpeng. Dinamai Jalur Tumpeng karena profil treknya pada bikemap tampak seperti tumpeng. Sepertinya sudah menjadi ciri khas gowes kolozal, tanjakan akan disuguhkan setelah makan siang. Konsep yang bagus.

Jalur beraspal segera berganti makadam yang pemasangannya asal-asalan sehingga sulit digowes apalagi dengan kondisi jalan yang becek, banyak kubangan dan lumpur. Jalan makadam kemudian berganti dengan single track yang sebagian besar tidak gowesable. Setelah shortcut 45 derajad inilah tantangan yang paling berat dari Kolozal #12.

Di bawah guyuran hujan deras, udara yang semakin dingin, trek yang licin dan tubuh yang mulai capek beberapa goweser melambat sehingga terpisah dari pemandu. Lintasan yang licin membuat banyak goweser terpeleset di jalur ini meskipun dalam kondidi TTB. Beruntung bagi mereka yang mengikuti anjuran Tim Rusuh agar memakai sepatu bersol kasar untuk mendapatkan grip yang maksimal. Saya tidak bisa membayangkan betapa susahnya beberapa goweser yang memakai sandal ataupun sepatu bersol halus.

Single track licin, berlumpur dan sempit di Jalur Tumpeng

Single track licin, berlumpur dan sempit di Jalur Tumpeng

Single track yang sempit dan seringkali berada di tepi lereng menyulitkan goweser di belakangnya untuk menyalip. Bottle neck. Beberapa goweser yang bermaksud merangsek ke barisan depan pun tertahan. Tanpa pemandu beberapa kelompok goweser kehilangan arah di dalam labirin kebun teh. Beruntung kelompok di belakangnya mengingatkan.

Menjelang Puncak Tumpeng (1825 mdpl) hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Maksud hati hendak menunggu kelompok goweser di belakang yang memiliki pemandu akan tetapi dengan berhenti dan menurunnya metabolisme tubuh membuat badan semakin menggigil. Gigi bergemeretak dan jari-jari tangan menjadi kisut. Menurut beberapa goweser yang memiliki termometer mengatakan suhu udara pada titik tertinggi ini menyentuh 10 derajad Celcius.

Konon di area inilah salah satu tim survei bertemu dengan anak macan tutul. Akan tetapi dinginnya udara dan takut tersesat membuat kami lupa akan hal tersebut. Fokus kami adalah menemukan jalur yang benar dan menghindari hipotermia

Begitu melewati Puncak Tumpeng jalur beraspal menyambut kami. Hilang orientasi kami mengaktifkan fitur MPS – mouth positioning system alias bertanya. Penjaga sumur geotermal memberi petunjuk kepada kami seraya menginformasikan bahwa ada beberapa rombongan di depan kami. Turunan tidak bisa dinikmati dengan maksimal karena salah seorang goweser mengalami masalah dengan rem belakangnya. Karena takut tersesat fitur MPS pun diaktifkan beberapa kali. Sasaran kami bervariasi mulai dari pengendara mobil, motor, tukang ojek hingga tukang tambal ban.

Di ujung jalan kampung yang bertemu Jalan Raya Pengalengan kami bertemu dengan Om Antoix yang sedang mengarahkan goweser agar tidak bablas. Warung bakso yang berada di pertigaan tersebut menjadi tujuan untuk menghangatkan badan. Udara yang sangat dingin membuat kuah bakso panas yang baru keluar dari dandang terasa hangat. Selesai makan bakso baru kami merasa lidah terasa sepah. Perasaan kami mengatakan kuah bakso hangat saja padahal aktualnya memang panas.

Cyclocomp menujukkan angka 24 km artinya tinggal 3 km lagi maka akan sampai di Villa Kebun Teh Malabar. Tanjakan landai beraspal menjadi menu terakhir yang harus dilahap. Begitu sampai di villa, sepatu dan sepeda yang belepotan lumpur dibersihkan di bawah pancuran talang air. Beruntung lumpurnya berpasir dan tidak lengket sehingga mudah dibersihkan.

Selesai membersihkan sepeda dan badan menu makan malam dengan lauk dendeng maknyuss menjadi penghangat badan di sore hari yang dingin di ketinggian 1400 mdpl. Sempat terpikir Jalur Shortcut dan Tumpeng mungkin merupakan trek terberat dalam sejarah gowes kolozal.

Kapok lombok! Tim Ecekeble menantikan gowes kolozal berikutnya :)

Rute Gowes Kolozal #12 Pangalengan - Situ Cisanti

Rute Gowes Kolozal #12 Pangalengan – Situ Cisanti

Emil bersepeda ke sekolah

Hari ini tepat seminggu Emil bersepeda ke sekolah. Kata bunda, sejak bersepeda uang sakunya sisa banyak karena jarang singgah di warung-warung yang terdapat di sepanjang jalan :). Karena bersepeda lebih cepat daripada berjalan kaki maka keinginan untuk mampir ke- dan godaan dari- warung berkurang.

Ayah berharap Emil bisa memecahkan rekor ayah 5,5 tahun bersepeda ke kampus. JIka ayah adalah pengikut gerakan bike to work maka Emil pengikut gerakan bike to school.

Bersepeda ke sekolah

Bersepeda ke sekolah